
Perasaan suka dan Cinta itu sangat tipis jaraknya.
Reza menatap Bunga teduh. Sejak tadi jantung nya serasa ingin sekali copot. Tentu saja Reza merasa gugup.
Jika ingin berkata jujur. BUNGA ADALAH CINTA PERTAMA REZA. Reza masih memegangi secangkir kopi di hadapannya. "Oh iya Bung, kamu bisa jelasin sekarang, apa yang terjadi sama veli waktu itu. Takutnya kalau kita lama-lama di sini Pak Rio bakalan mergokin kita." Reza tak ingin bertele-tele dan membuat permasalahan baru dengan Bos besarnya.
Dia hanya sedikit perduli akan temen 1 kelasnya, sebut saja dia Veli. Seorang cewek kurus bermata belok bak biskuit roma. Veli dulu pernah menyimpan rasa suka kepada Reza, namun dia menolak mentah-mentah, di karenakan Reza Suka sama Bunga. Bagaimana mungkin dia akan menerima cintanya gadis yang lain, sementara di hati Reza sudah ada nama Bunga, yang telah terlukis indah.
"Oke, Aku akan ceritain semuanya ke kamu." Bunga menjawab dengan pelan. Mata Bunga seakan menerawang jauh. Mencoba untuk mengingat kejadian 2 tahun yang lalu.
Bunga menceritakan kejadian yang sampai kini masih terus menghantuinya. Terdengar lebih jelas dan sekarang Reza mengerti.
"Ya udah Bung lupain masa lalu itu. kamu ngak perlu mengingatnya lagi. Semua adalah takdir, terjadi tanpa kita duga." Reza memberinya sedikit semangat.
"Kamu betul Rez, Aku cuma menyayangkan sikap ceroboh almarhumah Veli. Ya semoga saja dia tenang di sana." Lirih Bunga pelan.
"Hem, amiin." Respon Reza pelan. Lelaki itu kemudian melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan miliknya.
"Eh Bung udah jam 9 aja nih, balik yuk." Ajak Reza perhatian. Bunga sedikit terkejut sambil menatapnya.
"Jam berapa?"
"Udah jam 9. Ayo pulang, entar kalau Pak Rio pulang gimana? Pasti kamu bakalan di marahin sama dia."
"Aku ngak perduli."
"Widiw, kamu berani ngebantah Pak Rio." Reza terkekeh mendengarnya.
"Iya, karena pada dasarnya Aku ngak suka sama Rio." Terlihatlah wajah mayun Bunga, dia sudah mengerucutkan bibirnya. Sangat seksi dan imut.
Reza tersenyum membayangkan bibir basah itu. 'Eh ya ampun Aku mikirin apa sih?' Reza mendesah dalam hati berusaha menepis pikiran kotor yang bersemayam di dalam otak mesumnya.
"Ke-kenapa? bukan nya Pak Rio itu tampan?" Entah mengapa Reza menjadi tergugup-gugup begitu.
__ADS_1
"Itukan menurutmu, atau mungkin menurut seluruh perempuan yang melihatnya. iish...Aku benci harus menikah sama dia, kenal ngak, angkuh juga iya dan sok kaya pula. Tapi ya sebenernya ngak ada alasan juga sih Aku benci pak Rio." Omelnya panjang lebar, udah kayak kereta api yang lewat. Di tungguin ngak habis-habis.
Bunga mengigit bibir atasnya sejenak, dia terpikir hal gila yang sudah di lakukan Rio kepada dirinya ya tepatnya subuh pertama dia dan Rio Xen Zhin menikah, jujur saja itu membuatnya merasa di manjakan. 'What.... Aku mikirin apa? aduh jangan bilang Aku jadi kepikiran mesum sama dia.' Bunga diam berkata-kata di dalam hatinya sendiri.
Reza yang berada di hadapan nya menjadi sedikit terheran. "Udah Bung ngomelnya?" Tanya Reza pelan.
"Eeh... Udah sih, kalau aja Rio denger kira-kira apa ya respon dia. Wah so pasti dia marah banget tuh. Dasar muka curut, Haha....." Bunga tertawa lepas, sampai pada akhirnya dia merasa ada seseorang yang menepuk-nepuk bahu nya.
"Iich... Apaan sih." Gerutu Bunga sensi, karena tepukan itu sangat mengganggu tawa lepasnya. Dia pun menoleh ke belakang. Dan....
Spontan tuh, mata bulat milik Bunga hampir saja lepas. Untungnya dia masih manusia utuh, kalau dia makhluk astral paling-paling beneran langsung lepas biji matanya.
"Hehe...." Dia cengengesan ngak jelas, ketika tahu siapa orang yang telah menepuk bahu nya tadi.
"Ohh.... Gitu, coba ulangi lagi, muka ku muka apa?"
"Oh... Bukan ap-apa-apa, muka tampan maksudku." Jawabnya susah payah, Bunga berusaha menenangkan jiwanya yang seperti tersengat listrik beribu-ribu watt. Bisa-bisa mendadak jantungan tuh.
Rio Xen Zhin terus memperhatikan nya dengan tatapan yang tajam, setajam silent, Eh ngak ding. Pandangan mata Rio lebih tepatnya mirip elang yang lagi ngincer anak ayam. Karena pandangan itu 100% membuat Bunga harus berdiri kaku, suasana saat ini bak terdampar di gunung es, sungguh dingin dan menakutkan.
"I...iya Aku pulang, Reza Aku pulang dulu." Jawab Bunga terbata-bata, udah kayak lagi pidato di depan presiden saja, mungkin karena saking gugup plus takut, cemas serta membingungkan.
Wajah Rio menampakan kedinginan yang khas. Dia segera menarik tangan wanita nya dengan sentakan yang sedikit kasar.
"Pelan... Pelan kenapa Rio. Sakit tahu! kamu pikir tangan ku besi apa, main sentak saja."
"Sakit? Biarkan saja... Itu cuma kamu nya yang banyak alasan." Rio meliriknya.
Sementara Bunga sedikit meringgis. Dengan langkah marah Rio seakan menyeret Bunga agar segera keluar dari caffe ini. Tidak perduli jika orang-orang menatap mereka dengan tatapan jijik. Reza membisu. Ingin ikut campur? Namun siapa dia? yang ada bakalan pekerjaan nya terancam karena mempermainkan perasaan Bos besarnya. Reza tak bisa mengatakan apa pun, dia hanya menyalahkan dirinya sendiri. Serta merta memaki kebodohan nya.
Rio, Bunga dan Asisten pribadinya sudah menghilang dari pandangan kesal Reza. Reza mendengus. Kemudian ikut beranjak dari tempat duduk, pergi ke meja kasir untuk membayar minuman kopi yang sudah di pesan nya tadi.
***
__ADS_1
MOBIL sport berwarna merah melaju dengan kecepatan sedang, sejak beberapa menit yang lalu. Tak ada suara dari dalam mobil itu, kedua penumpang dan satu supir seolah terhanyut dalam lamunan mereka. Yang terdengar hanya deruan mesin mobil, bunyi klason serta kebisingan hiru pikuk dari keramaian kota malam hari ini. Bunga sedikit canggung menghadapi suasana seperti ini, dia teramat tegang, bibir merahnya sejak tadi berkomat kamit melafazkan sesuatu. Dia takut, takut akan kedinginan lelaki di sampingnya ini. Jika Rio benar - benar marah, apa yang harus dia lakukan? apakah dia harus perduli? atau mengabaikan nya saja. Ah Rio membuatnya seperti mati kutu.
"Rio." Panggil Bunga pada akhirnya. Namun suara itu terdengar hambar sedikit bergetar. Lelaki berwajah yang memiliki segala kesempurnaan nya hanya menoleh, tak ada ekspresi sama sekali.
"Ap.. Ap kamu mendengar seluruh pembicaraanku sejak tadi?" Tanyanya Bunga ragu. Dia tak juga menatap wajah Rio Xen Zhin dengan jelas. Karena ia tidak memiliki keberaniaan untuk menatap dengan pandangan meneliti. Terlalu sulit.
Sejak tadi dia hanya merasa seperti seogok debu tanpa rupa. Rio Xen zhin terdengar menghela nafasnya dalam sedalam pandangan kedua mata nya.
"Kenapa memang jika Aku mendengarnya?' Ucap Rio Xen Zhin balik bertanya.
"Ya, Ak..Aku hanya bertanya."
"Sudahlah kalau begitu, berarti kamu tidak memiliki rasa penasaran pada pertanyaan konyol mu itu. Jadi apa perlu Aku menjawab nya?" Pandangan Rio berubah menatap ke arah jalanan.
Bunga menunduk sejenak. Menyebalkan...! batin Bunga dalam hati.
"Lalu bagaimana kamu tahu bahwa Aku ada di caffe?"
"Menyebalkan...!" Ucap Rio Xen Zhin kesal. Sejak tadi dia berusaha menahan emosi namun Bunga seakan memancingnya. "Kamu tak cukup pintar untuk misimu yang bodoh itu." Ujar Rio lagi.
Seketika Bunga menegak kan pandangan nya.
"Apa maksud mu....!?" bertanya dengan nada bergetar-getar.
"Ya Ku bilang Kamu bodoh...!"
Bunga memejamkan mata, darahnya mendidih mendengar makian Rio, bagaimana mungkin mulut Rio tidak bisa berbicara lebih halus lagi. Apakah begitu caranya memperlakukan orang.
"Kenapa? Apa Kamu marah? Tentu saja Kamu marah. Coba untuk membantahku lagi. Akan ku belah dada mu, serta mengambil hatimu lalu ku cincang dan memasaknya di paci."
Wajah Bunga mendadak pucat.
'Sadis... Ini sadis ! Oh... Tuhan Aku masih muda dan biarkan dulu Aku hidup untuk menebus dosa-dosaku.' Bunga membatin. Dia sangat ketakutan dengan ancaman Rio.
__ADS_1
Dia menatap lagi kearah lelaki di sampingnya. Sama sekali tidak berperasaan, jauh dengan ketampanan yang dia miliki dan Rio lebih mirip pembunuh berdarah dingin. Bunga mengkidik seram membayangkan nya.