
Mereka berdua segera melepaskan ciuman itu dan menoleh buru-buru seorang pelayan bersujud di kaki Rio.
"Maafkan saya Tuan, jangan pecat saya Tuan," ucap pelayan wanita di rumah Rio memohon-mohon. Rio beranjak bangun dari tempat duduk nya.
"Bangunlah." Perintah Rio datar dan secara perlahan-lahan pelayan menegak kan badan nya.
"Apa kamu melihatnya dengan jelas?"
"Ya Tuan."
"Simpanlah untuk dirimu sendiri lalu bersihkan serpihan kaca itu."
"Baik tuan, terima kasih." Pelayan memberi hormat serta bergegas membersihkan pecahan beling di lantai.
"Ya." Jawab Rio singkat, sambil menarik lengan Bunga pelan. "Ayo sayang Ku antar kamu ke kamar," ucap Rio pada Bunga.
Bunga hanya mengangguk. Mereka berdua kemudian berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. Briyan yang sejak tadi melihatnya di ujung ruangan langsung tersenyum sinis.
"Aku benci kemesraan itu, lihat saja kak Aku tidak akan pernah berhenti untuk menganggu mu!" Ucap nya kesal bercampur ancaman.
Sementara di atas sana, Rio dan Bunga sudah sampai di kamar mereka.
"Sayang, ku lihat hari ini kamu sangat berbeda." tanya Rio tak luput memperhatikan gerak-gerik Bunga.
"Kenapa Kamu bertanya seperti itu?" Bunga pun menatapnya.
"Apa yang terjadi. Mata mu seperti habis menangis?"
"Tidak ada apa-apa Rio, semua berjalan dengan baik, mataku ini hanya sisa menangis tadi malam."
"Maafkan Aku, jika membuatmu sedih." Rio memeluknya, Bunga tak menjawab, ia benamkan saja wajahnya pada dada Rio. Dia sedih karena sikap Briyan yang telah melecehkan nya namun dia juga tidak mungkin jujur.
"Pergilah bekerja, Aku baik-baik saja Rio. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan Aku." Jelas Bunga terdengar manja. Rio tersenyum.
"Baiklah Aku akan pergi jika kamu mengusir ku, tapi kamu perlu tahu, sepulang kerja nanti Aku tidak akan melepaskan mu!"
"Apa maksudmu!"
"Tentu saja menganggu isteri cantik ku tanpa henti." Jawabnya serius.
"Ahh.... kamu ini."
Rio tertawa. "Ya sudah Aku ke kantor dulu ya." Rio mengelus kepala bunga dan melepaskan pelukan nya.
"Iya hati-hati." Bunga ikut tersenyum, Rio mengangguk lalu pergi.
Bunga merasa kepalanya berdenyut sakit. Dia duduk di tepi sprimbed dengan membawa sejuta luka yang pedih. Memegangi bibirnya, ia berpikir bagaimana mungkin pria lain ikut menikmati bibirnya. Dia merasa sangat tidak rela jika Briyan menyentuhnya. Satu hal yang selalu ia prinsipkan dia bukan wanita murahan. Entah mengapa tiba-tiba saja air matanya kembali menetes. Jika saja waktu itu Reza tidak datang tepat waktu, kemungkinan besar Briyan sudah pasti memperkosa nya.
"Reza! sejak kapan dia datang kemari? Apa yang dia lakukan di jepang, bukan kan di indonesia dia sudah mendapatkan posisi pekerjaan yang baik?" Ucap Bunga penasaran, berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Bunga kemudian teringat akan ponselnya. Segera ia ambil tas dan menemukan ponsel genggam nya, Briyan sudah memberikan nya sebelum mereka turun dari mobil. Dia menatap lekat layar ponselnya. Ada beberapa panggilan tak terjawab dan beberapa pesan masuk.
Tok Tok
Tiba-tiba pintu kamar terketuk.
"Nona, ini barang-barang milik Nona."
Bunga beranjak bangun dan segera membuka pintu. Di lihat nya seorang pelayan membawakan belanjaan nya. Pelayan itu menyerahkan.
"Ini Nona barang Nona."
"Terima kasih." Bunga tersenyum menatap pelayan itu, sambil menerima barangnya.
"Sama-sama Nona, dan satu hal lagi Nona."
"Apa?"
"Tuan muda Briyan memerintahkan Nona agar menemui nya di ruang tengah."
"Katakan pada Tuan Muda, A-Aku sedang tidak enak badan dan ingin beristirahat." Jawab Bunga sedikit gugup. Kejadian di dalam mobil itu sudah membuatnya takut, jadi ketika mendengar nama Briyan di sebut jantung nya seperti ingin lepas.
"Baik Nona akan saya sampaikan." Pelayan memberinya hormat, kemudian pergi.
"Huff... ! Kamu pikir kamu siapa? dasar lelaki tidak tahu malu." Celetuk Bunga kesal. Dia pun menutup pintu.
Sore itu.
Mata Bunga melihat ke luar jendela, tampaklah sebuah halaman luas yang indah. Taman itu memiliki desain unik, elegan serta romantis. Pepohonan menguning, rumput yang menghijau segala jenis bunga di tanam secara rapi. Dia melirik jam tangan nya berkali-kali. Dia tidak akan keluar kamar sebelum Rio pulang.
Tok.. Tok..
Pintu kamar terketuk.
"Ah... Itu pasti Rio." Lirihnya pelan. Bunga melangkah membukakan pintu, Namun.
"Briyan!"
Lelaki di hadapan Bunga hanya tersenyum.
"Apa maumu Briyan! Kamu tak perlu repot-repot menjengguk ku ke sini, melihat muka mu saja perutku sudah mual." Bunga memarahi nya. Dia tidak akan mungkin memberikan kesempatan apa-apa untuk Briyan.
"Aku tidak akan menyakiti mu kok. Turun lah sebentar."
"Ada apa?"
"Turun lah dulu, kamu akan tahu."
"Tidak! memang nya siapa kamu dan Aku akan keluar ketika Rio sudah pulang."
__ADS_1
Briyan tersenyum lalu menghela nafas nya panjang.
"Ayolah kak, Kamu akan menyesal jika tidak menuruti perintahku!"
"Ku bilang tidak ya tidak Briyan!"
"Keras kepala sekali kamu kak!" Briyan langsung menarik pergelangan tangan Bunga.
"Apa-apaan kamu ini briyan, lepaskan tangan ku. Aku bersumpah Aku akan membunuhmu Briyan!" Jawab Bunga kesal sambil berusaha melepaskan cenggkraman tangan Briyan.
"Bunuhlah jika kakak tidak punya hati. Lagian Aku juga tidak mau hidup."
"Maksudmu?"
"Tak perlu penasaran karena hidupku tak penting bagi mu kak."
"Huff, ya sudah Aku pun tak ingin mendengarnya. Sekarang lepaskan tangan ku Briyan, Aku tak mau!"
"Turuti saja kak."
Mereka saling tarik menarik. Sampai pada akhirnya.
"Ehemm."
Terdengar suara berdehem dari ujung tangga. Briyan segera melepaskan tangan Bunga. Dan mereka saling berpandangan.
"Apa mau mu Briyan?" Tanya Rio ketus. "Kamu sudah tak memiliki sopan santun terhadap kakak iparmu, kamu juga tak menghargai Aku sebagai saudaramu ada apa ini?"
"Kak Rio jangan salah paham dulu, Aku hanya ingin mengajaknya turun, seseorang mencari nya."
"Apa kamu bilang seseorang mencariku?" Bunga menyela.
"Iya, Kamu mau tahu siapa dia? Dia Reza mu."
"Apa, Reza?" Bunga berkata terputus dan panik seolah tak percaya dengan perkataan Briyan.
"Huff Briyan Aku marah terhadapmu Kenapa kamu berani menyentuh isteriku!"
"Kak, Aku tahu Aku salah tapi ini bukan saatnya kita untuk berdebat. Tapi omong-omong apakah Kak Rio melihat seorang lelaki telah menunggu nya dibawah ah apakah kakak juga tidak ingin tahu siapa itu Reza?"
"Aku sudah tahu dia adalah salah satu karyawan yang bekerja di salah satu cabang perusahaan ku di indonesia."
Briyan tersenyum sinis.
"Apa Kakak juga tahu hubungan di antara mereka?"
"Apa maksudmu Briyan!"
"Ya maksudku, Aku tidak ingin Kakak tersayangku ini dipermainkan dari belakang."
__ADS_1
"Apa Aku tidak salah dengar? Dasar kamu ini rubah!" Jawab Bunga ketus tak terima pembicaraan yang di katakan Briyan. Bunga buru-buru melangkahkan kakinya untuk turun.
"Kamu mau kemana?" Rio menarik tangan nya kasar. "Apa kamu tak melihat ada Aku di sini?" Aku baru saja datang," ucap Rio marah, wajahnya memerah, nada bicaranya pun mulai bergetar aneh.