
Rio tak berkedip menatap Asisten pribadi nya, wajah Benikno sedikit lumayan. Tidak tampan, namun tidak juga jelek. Ia mempunyai bentuk tubuh yang cukup membanggakan. Tentu saja idaman sebagian wanita di muka bumi ini, dada bidang serta perut yang sick pack.
"Apa omelan sudah selesai Benikno, jadi sekarang katakan apa tujuan mu kesini? Bukan kah Aku belum menelpon mu?" Tanya Rio sambil menatap nya tajam.
"Tentu saja mengkhawatirkan keadaan Anda Tuan. Aku sudah antisipasi membawakan Anda obat untuk menghentikan darah di hidung Anda tuan." Jawab Benikno jelas, ia memang selalu memperhatikan kesehatan Tuan mudanya itu. Sekecil apa pun.
"Terima kasih Benikno, letak kan saja di atas meja, Aku akan pergi mandi."
"Baik Tuan, eeh tunggu Tuan." Cegah Benikno tegas ketika Rio akan memasuki kamar mandi. "Tepat pukul 08:30 pagi adalah jadwal Anda kontrol mengenai kestabilan jantung dan liver Anda dengan dokter Azura. Hanya itu saja tuan."
"Baiklah, Kamu bisa menungguku di luar." Rio melanjutkan kembali langkah nya yang sempat terhenti.
"Siap Tuan." Benikno kini memutar langkah kakinya untuk keluar kamar.
30 menit kemudian.
Rio telah berpenampilan rapi, ia menggunakan jas abu-abu dengan dasi berwarna merah maron. Dia berjalan menuruni tangan putar dari kamar mewahnya. Benikno menunggunya di ruang tamu.
"Rio, apa kamu bangun kesiangan hari ini?" Tanya Nyonya Kazumi datar, ia muncul dari ruang tengah.
"Sedikit kesiangan Mom."
"Benarkah? ini sudah pukul 08:00. Kamu akan pergi kemana? tepat pukul 10:00 nanti Pernikahan Briyan akan segera di mulai." Nyonya kazumi berbicara sambil berkacak pinggang.
"Baiklah, Aku mengerti Mom, Aku akan datang tepat waktu." Rio membungkuk kan badan dan kembali melangkah.
Wanita setengah baya itu hanya terdengar menghela nafas. Rio sudah sampai di ruang tamu, Benikno langsung berdiri.
"Apa anda siap tuan."
Rio menjawab dengan angkatan sebelah alis tebalnya. Kini mereka jalan beriringan menuju ke luar.
"Benikno."
"Ya tuan."
"Ada berita penting apa untukku hari ini?" Tanya nya pelan.
"Tadi malam telah terjadi kekacauan di apartemen milik Reza Tuan."
"Maksudmu? Ah, kenapa kamu tak segera memberitahu ku?" Rio seketika panik mendengarnya, tentu saja karena di situ ada isteri kesayangan nya yaitu Bunga.
"Bagaimana mungkin Aku bisa memberitahu Anda Tuan, Anda sedang mabuk tadi malam. Akan tetapi Alex telah membereskan nya, Anda tak perlu merasa khawatir. Dia hanya sedikit terlambat, hampir saja Nona berhasil di bawa pergi."
Rio spontan mengkernyitkan dahi "Siapa pembuat kekacauan itu?" tanyanya semakin penasaran.
Benikno tiba-tiba merapatkan tubuhnya serta berbisik di telinga Rio. "Dia adalah Briyan, Adik anda Tuan."
"Aah sial, dia mencoba bermain api denganku rupanya."
"Ya, tepat sekali tuan."
"Apa sebenarnya yang dia mau?"
"Mungkin saja dia merencanakan sesuatu Tuan." Sambung Benikno pelan.
__ADS_1
"Menusuk tapi tak berdarah. Seharusnya dari awal Aku tak pernah mempercayai nya." Rio mendengus kesal. "Benikno!"
"Ya tuan."
"Apakah Alex orang yang bisa di andalkan?"
"Tentu saja tuan dia tidak akan mengecewakan Anda, Alex memiliki banyak prestasi gemilang. Dan dia adalah." Benikno menghentikan pembicaraan nya.
Mereka sudah berada di dalam mobil.
"Aah dan dia adalah apa Benikno, berani sekali kamu membuatku penasaran!"
Benikno malah tersenyum. Dia mulai menjalankan mobilnya.
"Dan dia adalah pembunuh bayaran yang sudah profesional Tuan. Aku sengaja memilih Alex untuk menjaga Nona Bunga, bukan kah pilihanku tepat tuan."
"Aah menakutkan!" Rio membuang muka kesamping. "Bisakah Aku bertemu dengannya?"
"Tentu saja bisa Tuan."
"Lalu bagaimana kamu bisa merekrutnya? bukan kah perlu negosiasi yang sulit?"
"Uang tuan uang. Jarang sekali ada orang yang menolak dengan nama nya uang. Dan Alex sangat membutuhkan uang itu." Jelas Benikno lagi.
"Oh menarik." Rio menjawab sambil memperbaiki posisi rambut nya.
Keadaan kini sunyi sejenak, yang terdengar hanya deru mesin dari lalu lalang kendaraan yang lewat.
20 menit sudah berlalu.
Rio melangkah turun, menjejak kan kaki nya pada tanah dan berdiri sambil memperbaiki posisi kaca mata nya yang berwarna hitam.
Mereka berjalan beriringan melewati koridor di rumah sakit.
Setiap staff atau pun dokter yang secara tak sengaja berpapasan dengan nya pasti memberi hormat serta menyapa sopan.
Mereka berdua memasuki sebuah ruangan praktek dokter Azura.
TOK TOK
Benikno mengetuk pintu.
"MASUK!" Jawab dari dalam. Mereka langsung membuka pintu, di situ telah duduk seorang dokter berjenis kelamin lelaki, umur nya setengah baya.
"Selamat datang Tuan Rio, Ayo silahkan duduk." Ujarnya sopan. Rio hanya mengangguk dan mulai duduk. "Bagaimana keadaan Anda sekarang Tuan, Aku baru saja kembali dari luar negeri."
"Sedikit tidak baik Dok."
"Aah bukan kah Anda tidak pernah menentang laranganku kan?" Dokter Azura terus memperhatikan nya.
"Hidungku mengeluarkan darah pagi ini karena tadi malam Aku minum Wine."
"Oouh tuan kenapa Anda benar-benar keras kepala? Baiklah Aku akan mencoba memeriksa nya." Dokter Azura segera beranjak dari tempat duduknya. Berjalan mendekati alat pendeteksi jantung. "Tuan kemarilah." Pinta nya halus.
Rio menoleh dan mendekati nya. Dia naik di atas mesin yang mirip sekali dengan robot, di hadapan nya ada layar. Dokter Azura menekan tombol hijau alat itu bekerja dengan sempurna.
__ADS_1
"Baik Tuan, Anda boleh turun."
Rio turun dan kembali duduk di kursinya.
"Bagaimana Dokter, apakah kondisiku baik-baik saja?" Tanya nya datar.
"Aku tak bisa memastikan nya Tuan, jantung Anda bekerja dengan baik, akan tetapi ada masalah pada liver Anda."
"Apa." Rio terkejut setengah mati.
"Aah tuan, Ku lihat Anda sangat terkejut, apa perlu Ku ambilkan air?" Tanya Benikno ikutan terkejut.
"Tidak perlu Benikno!"
"Tenanglah Tuan aku akan coba mengatasi nya." Dokter Azura menyambung.
"Apakah ini bisa di katakan penyakit yang berbahaya dokter?" Rio jadi merasa was-was.
"Untuk masalah ini, Aku tak bisa mengatakannya Tuan. Aku akan membicarakan nya pada Asisten pribadi Anda. Bisakah Aku berbicara empat mata dengan nya?" Jawab Dokter Azura tenang.
"Ya, Aku akan menunggu di luar."
"Maafkan Aku Tuan, Aku tidak bermaksud merahasiakannya dari Anda, Aku hanya khawatir jika Anda mendengarnya, Anda akan merasa tak punya semangat untuk hidup." Dokter Azura menjelaskan.
"Baiklah, Aku percaya padamu Dokter." Jawab Rio tegas, sambil melangkah pergi, meninggalkan Dokter Azura dan Benikno.
TING.
10 menit berlalu.
Benikno muncul dari balik pintu, ruang praktek Dokter Azura.
"Tuan." Panggilnya. Rio hanya menoleh, kemudian beranjak bangun dari tempat duduknya. "Apakah Anda merasa haus Tuan, Aku akan membelikan air mineral untuk Anda."
"Tidak Benikno, mari kita pergi." Jawab Rio pelan sambil melirik arloji di pergelangan tangannya. "Sekarang sudah pukul 09:30 tak lama lagi pernikahan Briyan akan di mulai." Lanjutnya.
"Baiklah Tuan."
Mereka berjalan menelusuri koridor rumah sakit. Ketika hampir sampai di pintu EXIT tiba-tiba saja Benikno menghentikan langkahnya.
"Tuan, berhentilah sebentar."
"Ada apa Benikno?"
"Bukankah itu Nona Bunga," ucapnya sedikit heran.
"Apa kamu tak salah melihat orang Benikno. Jika kamu salah Aku akan menjahit mulutmu."
"Aku tidak akan salah Tuan, wanita itu benar-benar Nona Bunga." Benikno menunjuk seorang perempuan berbaju merah sedang duduk mengantri di ruang pendaftaran. Rio mengamatinya dengan jelas.
"Apa yang terjadi dengan nya? apakah dia sakit?" ujar Rio lirih. Rio langsung berjalan mendekatinya, setelah sampai dia pun duduk di samping perempuan itu. Kebetulan masih ada bangku yang kosong, sementara Benikno mengikutinya saja.
"Ehem."
Rio berdehem, Bunga menoleh.
__ADS_1