
Ceklek...
Tiba- tiba pintu terbuka, Rio menoleh. Terlihatlah wajah jutek Nyonya Kazumi dan Via. Mereka masuk secara bersamaan.
"Selamat Pagi Rio, Apakah kondisi kesehatan mu lebih baik?" Tanya Nyonya Kazumi heran. Karena di lihatnya Rio baik- baik saja.
"Pagi, seperti yang Anda lihat Mom." Rio menjawab sambil melangkah mendekati Ibu nya dan mengulurkan tangan untuk bersalaman.
"Sejak kapan? Apakah setelah Aku pergi tadi malam ya?"
"Tidak, Akupun baru bangun 20 menit yang lalu Mom." Setelah selesai bersalaman mereka langsung duduk di sofa.
"Dan bagaimana dengan isterimu, apakah dia sudah sadar?"
"Aku juga tidak tahu Mom." Jawab Rio lirih, mukanya menunduk kebawah. "Apakah Mom sudah berkonsultasi tentang keadaan Bunga? Aku akan menemui dokter sekarang." Rio sudah ingin bersiap- siap akan beranjak, namun Nyonya Kazumi segera menahannya.
"Duduklah dulu." Ucap Nyonya Kazumi di sela larangan nya. Rio akhirnya menurutinya saja. "Ya, Mom semalam telah membicarakan nya dengan dokter Andi."
"Lalu apa kata Dokter Andi?" Rio semakin penasaran, itu di karenakan rasa khawatirnya pada isteri tersayang nya.
"Bunga mengalami gegar otak ringan, jadi hanya ada dua kemungkinan, jika ia bangun bisa saja ia Amnesia atau menjadi orang kurang waras."
"Aah... Bagaimana mungkin dokter akan mengatakan seperti itu, apakah mereka tak punya cara lain untuk memulihkan Bunga kembali? dokter seperti apa itu...!" Rio kesal.
"Apakah ini artinya Mom hanya mengada- ada?" Nyonya Kazumi memperhatikannya, sementara Via tersenyum geli sambil menutup mulutnya dengan tangan kiri. "Aah... Ini sangat menarik, Aku berharap Bunga akan terbangun dalam keadaan linglung seperti orang yang tidak waras tentunya." Batin Via dalam hati.
"Bukan begitu maksudnya Mom, Aku hanya kecewa pada Dokter..!"
"Rio, Dokter juga manusia, jadi bisa saja dokter hanya berusaha dan endingnya Tuhan yang menentukan, apakah kamu bermaksud menyalahkan takdir." Via baru menyambung.
Rio langsung menoleh kearahnya duduk.
"Via, diamlah Aku sedang tak bicara denganmu. Lagi pula perkataanmu hanya akan menambah bebanku saja." Jawab Rio dengan nada suara menekan.
Kedua wanita itu lalu saling diam. Tak berjeda lama Rio tiba- tiba bergerak dari posisi tempat duduknya.
"Rio, kau mau kemana?" Nyonya kazumi mendanggak memperhatikan nya yang tampak berdiri tegap.
"Aku akan berkonsultasi dengan Dokter sendiri." Rio menghela nafasnya sejenak sebelum kemudian melangkah meninggalkan Nyonya Kazumi dan Via.
"Tuan..." Panggil Benikno tiba- tiba, ia baru saja keluar dari kamar mandi.
"Aku ingin menemui Dokter Andi, jadi tolong jaga isteriku." Jawabnya tegas.
"Baik Tuan." Benikno membungkuk kan badan.
__ADS_1
Tanpa rasa ragu, Rio melangkahkan kaki nya kembali, setelah terhenti sejenak.
Rio membuka Pintu bangsal, tampaklah lorong bangunan itu berwarna putih cerah, ada banyak tanaman kaktus yang berjejer di setiap sudut ruangan nya. Rio pun melangkah dengan durasi cepat, dia hanya tak ingin menyepelekan kesehatan Bunga. Bunga nya tak boleh cacat, dia harus sembuh dengan sempurna.
Tap... Tap...
Suara sandal Rio bergema memecah keheningan di pagi hari. Ia terus berjalan menyusuri lorong- lorong rumah sakit sampai pada akhirnya langkah Rio mentok di sebuah ruangan yang bertulis "Dokter Andi hikaru" Rio segera mengetuk pintunya.
TOK... TOK...
Terdengar ketukan dua kali.
"Masuk"
Jawab seseorang dari dalam. Rio membuka pintunya, setelah terbuka Seorang lelaki tengah duduk di kursi sambil menulis sesuatu. Dokter Andi menoleh lalu tersenyum.
"Hai, selamat pagi Tuan Rio." Sapanya sedikit heran karena di lihatnya Rio tampak baik- baik saja dan seingat dia tadi malam Rio belum sadar. "Apa yang telah membawamu kemari Tuan? bukan kan kesehatan Anda belum sepenuhnya pulih? Jika ada yang ingin di bicarakan denganku Anda bisa menekan tombol darurat." Jelas Dokter Andi panjang.
"Aku baik- baik saja Dok, Anda tak perlu mengkhawatirkan keadaanku." Rio masih berdiri.
"Duduklah Tuan, kita bisa membicarakan nya sekarang." Perintah Dokter Andi pelan, Rio menurutinya saja, ia pun duduk di depan Dokter Andi.
"Ada yang ingin ku tanyakan padamu."
"Tolong jelaskan kondisi yang terjadi pada isteriku sekarang."
"Baiklah, Isteri Anda gegar otak ringan Tuan bisa saja ketika ia sadar Nona Bunga menjadi orang yang kebingungan dan ia sedikit melupakan memori yang ada di otaknya." Dokter Andi mulai menjelaskan.
"Pembohong...!!
BRAAKKK....
Tangan Rio menggertak meja dengan keras, sehingga membuat Dokter Andi terkejut.
"Apakah kau di bayar mahal hanya ingin mengatakan hal tak berguna seperti ini? Apa guna mu belajar selama bertahun- tahun jika kau tak bisa menangani kasus isteriku...!! Bentak Rio keras.
Dokter Andi gemetaran, Dia tahu bahwa Predir rumah sakit ini sedang marah dan meluapkan segala emosi.
"Te..Tenanglah dulu Tuan." Ucap Dokter Andi tergugup- gugup. "Aku akan berusaha melakukan yang terbaik untuk pengobatan isteri Anda."
"Lakukan...!! Jika tidak Aku akan segera memecatmu dari pekerjaan yang kau senangi ini...!
"Ba... Baik Tuan, Aku akan melakukan yang terbaik, Anda jangan khawatir." Dokter Andi masih gugup dan sejak tadi juga jantung berdegup- degup tak karuan. Ia sangat takut akan ancaman Bos pemilik saham di rumah sakit ini.
Jika saja ia di pecat, ia sudah bisa membayangkan betapa sialnya masa depan pekerjaan nya nanti. Karena rumah sakit ini termaksud rumah sakit terbaik yang berani menjamin gaji tinggi untuk para staff- staff nya.
__ADS_1
"Baiklah Aku akan memberimu waktu. Lalu bagaimana dengan kandungan isteriku? Apakah kau juga akan mengatakan hal buruk? Suara Rio baru terdengar halus.
"tidak Tuan, ini adalah kabar baik untuk Anda, Aku juga sempat bingung dan serasa tak percaya. Janin yang bersemayam di dalam rahim Nona Bunga menempel dengan sangat kuat jadi, janin Anda baik- baik saja Tuan dan kehamilan Isteri Anda sudah memasuki bulan keempat, biasanya kehamilan pada bulan- bulan seperti ini cukup rawan serta beberapa persen ibu hamil yang terjatuh akan banyak mengalami keguguran." Dokter Andi menjelaskan sejelas- jelasnya.
"Terima kasih, ku rasa pembicaraanku sudah cukup, Aku harus kembali ke kamar." Rio bergeser dan beranjak bangun dari tempat duduknya.
"Sama- sama Tuan." Dokter Andi menjawab dengan raut di buat seramah mungkin. Rio memutar langkahnya menuju pintu, sementara Dokter Andi duduk memandangi punggung Bosnya.
Di luar ruangan...
Rio bertemu Via, namun tak ada senyum di wajah tampannya, tatapan nya terlihat dingin serta menusuk.
"Rio." Sebut Via pelan. Rio tak perduli dia tetap saja melangkah, Rio benar- benar mengacuhkan nya.
Via menjadi kesal dan jengkel.
"Dasar pria kejam...!! Celetuk Via lirih, namun Rio tetap saja berlenggang meninggalkan nya. Buru- buru Via membuka pintu ruangan dokter Andi.
"Selamat Pagi Dokter...." Sapa Via ramah.
"Pagi." Doktet Andi sedikit mengkerutkan kening.
"Boleh Aku duduk Dokter." Ujarnya lagi ketika ia sudah berada di dekat kursi.
"Silahkan..."
"Terimakasih Dok."
"Apakah ada yang bisa Ku bantu Nona?" Tanya Dokter Andi pelan. Via tersenyum sebelum melanjutkan pembicaraan.
"Dokter, semalam Anda membicarakan nya tentang kandungan Nona Bunga bersama Ibu mertua ku bahwa janin Nona Bunga menempel dengan kuat." Via memulai percakapan yang lebih serius.
"Iya, lalu ada apa?" Tanya Dokter tak kalah serius. Via tak menjawab, dia malah sibuk membuka resleting tas nya dan mengeluarkan sebuah amplop berwarna cokelat yang tebal.
"Ini ambillah Dok.." Via menyodorkan amplop itu ke hadapan Dokter Andi.
"Apa ini Nona?" Dahi Dokter Andi mengkerut bingung.
"Bukalah isinya jika Anda ingin tahu." Via masih tersenyum. Dokter Andi mengambil dan membukanya, seketika mata Dokter Andi terbelalak lebar. "UANG" lirihnya bingung.
"Bukan kah Uang itu jumlahnya banyak Dokter Andi?"
"Ya, sangat banyak."
"Anda mau Dokter? ambil lah untuk Anda dokter, namun Aku tak memberinya secara gratis. Anda harus melakukan sesuatu untukku tentunya." Via tersenyum sinis, terus memandangi Dokter Andi.
__ADS_1