
"Rio."
Bunga tercengang memandangi nya.
"Bukan, tapi suamimu."
Rio menjawab sambil ikut menatapnya. Tanpa harus basa-basi lagi Rio tiba-tiba saja menarik tangannya dan membawa Bunga pergi dari keramaian itu. Rio memilih halaman depan di rumah sakit, agar mereka lebih leluasa untuk berbicara.
"Apa yang kamu lakukan di sini?" Tanya Rio pelan, menatap tajam ke arah wajah cantik sang isteri.
"Apa penting Aku menjawabnya?"
"Tentu saja penting."
"Sejak kapan Aku begitu penting bagimu."
"Sejak kita menikah."
Bunga langsung menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.
"Tapi euummm..."
Tiba-tiba Bunga merasa perutnya mual, aroma parfum yang di pakai Rio berhasil membuat perutnya di aduk-aduk. Ia segera menutup mulutnya. Rio jadi heran melihatnya.
"Hemm kamu kenapa Bung? Apa aku bau?" Tanya nya sambil mengkerutkan kening.
"Huueeekkk."
Bunga bergegas memutar langkah kakinya menuju tempat yang sedikit jauh dari keramaian nya. Ah dia benar-benar tidak tahan ingin mengeluarkan unek-unek di perutnya, tapi karena sejak pagi ia belum menyentuh sarapan jadi nya tidak ada makanan yang keluar. Rio berjalan mendekatinya. Sementara di kejauhan Benikno tersenyum geli, melihat tingkah laku tuan nya.
"Bung, are you oke?" Rio merasa sangat khawatir. Di tatap nya lekat wajah isterinya yang kini tampak pucat. Bunga masih belum menjawab, ia meringis sambil memegangi perutnya yang terus mual menggunakan tangan kanan nya.
Rio menyentuh pundaknya pelan.
"Sepertinya kamu memang sakit, Ayolah ku gendong." Rio menawarinya dengan perhatian.
"Apaan sih." Bunga cemberut, bibirnya terlihat semakin imut serta pipinya merah merona.
Rio tersenyum.
"Jangan terus menatapku, imanku terlalu tipis jika melihat rona wajahmu seperti itu, Aku tak perduli walaupun sekarang sedang di tempat umum. Aku akan tetap menciummu."
"Dasar mesum!" Maki Bunga kesal. Rio selalu membuatnya bingung, kemaren dia marah-marah tidak jelas. Kenapa sekarang sikap nya menjadi manis begini. Bunga perlahan melangkahkan kakinya, Tapi Rio menariknya.
"Aku tak bisa membiarkanmu berjalan."
Dengan tenaga yang ia punya, Rio langsung menggendong nya ala bridal style.
"Hei Rio apa-apa kau ini, lepaskan Aku Rio!" Bunga terkejut bukan main, wajahnya semakin memerah karena malu.
Rio tak menjawab, cukup tenang, berwibawa dan perduli. Ia melangkah dengan cepat menuju ruang IGD. Semua perawat serta beberapa dokter yang bertugas di situ tercegang-cengang melihat kemesraan mereka.
__ADS_1
"Tuan baringkan Nona di sini." Ujar seorang dokter. Rio mengikuti perintahnya. "Apa yang terjadi tuan, kelihatan nya Nona baik-baik saja?" Dokter perempuan itu sedikit heran.
"Bukan kah Anda seorang Dokter, kalau dia baik-baik saja tidak mungkin Aku membawanya kesini!" Jawab Rio datar.
"Iya Tuan maafkan Aku."
"Ya sudah sekarang lakukan tugas Anda." Jawab Rio lagi. Dokter itu mengangguk sambil membenarkan posisinya.
"Ada keluhan apa Nona?" Tanya nya pelan.
"Beberapa hari ini Aku merasakan gejala yang aneh dok." Bunga mulai menjelaskan keluhan yang selalu ia rasakan setiap pagi.
"Hmm, gejala seperti apa?"
"Kepalaku terasa pusing dan perutku juga sangat mual, seperti ingin sekali muntah akan tetapi tak pernah ada satu pun makanan yang keluar."
"Sudah beberapa hari anda mengalami keluhan itu?"
"Sekitar seminggu."
"Oke. Apa hanya itu saja Nona."
"Ada lagi Dok."
"Apa?"
"Nafsu makan ku turun, Aku juga tidak bisa makan dan setiap mencium sesuatu yang berlebihan mualku datang lagi."
Keduanya jadi heran.
"Kenapa dokter tersenyum?" Tanya mereka serempak. Dokter itu malah senyam senyum tidak jelas.
"Apa penyakitku ini aneh dok?" Bunga menimpali. Tak memperdulikan pertanyaan mereka yang serempak, menurutnya itu adalah kebetulan.
"Tidak aneh, hanya saja menurut gejala yang anda alami sepertinya Anda hamil Nona."
"Apa ! Hamil." ujar mereka serempak lagi. Keduanya saling berpandangan tak percaya.
"Iya betul, tapi untuk lebih akuratnya kita bisa melakukan tes."
"Baiklah Dokter." Bunga menjawab. Tetap fokus pada perasaan nya sendiri, entahlah jika Rio berpikir hal lain. Bunga masih menyimpan sakit hati nya pada Rio karena telah memperlakukan nya begini.
"Ayo kemarilah Nona." ajak dokter itu, membuyarkan lamunan singkatnya.
Bunga langsung beranjak bangun, sementara Rio membantunya. Ia berjalan mengikuti dokter.
5 menit kemudian.
Pengetesan sudah selesai, Dokter sekarang duduk di sebuah kursi serta di depan nya ada meja.
"Eehm garis nya belum terlalu jelas ya, tapi Nona positif hamil." Dokter berkata sambil membolak-balik kan testpack bergaris dua.
__ADS_1
Kedua suami isteri itu malah saling terdiam, bukan nya senyum atau berlonjak kegirangan sehingga menimbulkan tanda tanya di hati sang dokter.
"Kenapa kalian terdiam?" Tanyanya pelan, dia mengkerutkan dahi.
Bunga baru tersenyum, ketika mendengar kecuringaan sang dokter yang menganggap bahwa kabar itu tidak menggembirakan mereka, Bunga atau pun Rio sebenarnya tak mengerti bagaimana mengungkapkan kabar baik itu.
"Terima kasih Dok, kami sangat senang mendengarnya, apa ada lagi yang ingin Anda sampaikan dok? Bunga berusaha menepis keraguan di dalam hati sang dokter.
"Ku pikir kalian tidak senang."
"Itu salah dokter dan kami sangat menantikan kabar ini, bukan begitu sayang?" Jawab Bunga pelan tak pula di polesin senyum polos nya, sambil menatap Rio yang berada di samping nya.
"Eeh iya Dok." Jawab Rio spontan, terkejut, karena tiba-tiba saja Bunga menginjak kakinya dengan keras. Dia tadi sedang melamun.
Dokter tersenyum lagi ketika melihat reaksi Rio yang terlihat panik itu. "Aku hanya akan memberi Anda Obat dan beberapa Vitamin, jika ada keluhan yang lain, Anda bisa langsung menelponku Nona." Dokter kini beranjak dari tempat duduknya, ia tampak sibuk mengambil obat-obatan yang sudah tersedia di situ.
"Baik dok."
"Di atas meja itu ada nama berserta nomor kontakku, bawa saja Nona."
Bunga mengangguk, mulai mengamati seluruh permukaan meja dan dia melihat sebuah kartu berwarna putih tersusun rapi di dalam box kecil, bunga mengambilnya satu setelah itu dia masukan kedalam tas. Rio memandangi nya saja. Dokter berjalan mendekati mereka, serta meletak kan beberapa obat-obatan.
"Ini." Ujarnya.
Bunga mengambilnya dan melihat beberapa obat yang telah terbungkus rapi.
"Terima kasih Dok, kalau begitu kami permisi dulu ya Dok." Bunga tersenyum ramah, ia berdiri di ikuti Rio.
"Sama-sama." Dokter menjawab.
Mereka kini berjalan beriringan keluar ruangan, selama dalam perjalanan tak ada yang memulai pembicaraan. Mereka berperang dengan pikiran mereka sendiri. Sementara di kejauhan tampaklah Benikno berserta Reza tengah duduk di kursi halaman rumah sakit. Mungkin saja mereka tidak bertemu secara tak sengaja.
Rio menatap arloji di pergelangan tangan nya.
"Kau membuatku terlambat." celetuk Rio datar.
Bunga menoleh.
"maksudmu apa?"
"Ini sudah jam 10:30 pagi, pernikahan Briyan sedang berlangsung dan Aku terlambat."
"Oh... Jadi menurutmu menemaniku periksa adalah hal yang merugikan mu? Itukan mau mu, Aku sudah menolaknya tadi." Jawab Bunga kesal, bagaimana mungkin Rio akan mengatakan hal semacam itu. Benar-benar seorang lelaki yang tak berperasaan.
"Tidak juga."
"Lalu apa?"
"Benarkan Aku tidak penting bagimu, sudahlah lupakan. Aku tak sudi merepotkan mu." tandas Bunga sedih.
Rio menghela nafasnya panjang.
__ADS_1
"Terserah padamu." Jawabnya singkat. Bunga langsung menatapnya spontan. Aah, Rio sangat menyakiti hatinya, namun Bunga hanya terdiam. Terus melanjutkan langkahnya.