DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 16. Selamat Tinggal


__ADS_3

Beberapa hari kemudian, Bunga masih belum sadar dari pingsannya. Dan bahkan dia tak menyaksikan pemakaman satria waktu itu. Mama Tia bertambah sangat sedih, melihat kondisi buruk yang di alami Bunga. Kini mentari pagi masuk melalui pentilasi jendela kamarnya dan memberikan seribu kehangatan yang tak terhingga. Daun-daun kering di depan rumah Bunga tampak berserakan, berguguran dan jatuh bergantian, mungkin karena Mang jali tukang kebun yang bekerja di rumah Bunga, pulang kampung jadi tak ada yang mengurus halamannya. Tapi pada kenyataannya hidup ini hanya milik sang pencipta. Takdir hidup serta mati DIA lah yang mengaturnya sementara manusia hanya bisa berencana dan menjalani.


Mama Tia, duduk di samping anak semata wayang yang dia miliki, harta terindah yang dia punya. Tatapannya kian hampa, sedih namun dia harus bagaimana? tak lama kemudian jari jemari bunga bergerak, Bibirnya berkata lirih.


"Satria.." Ucapnya kecil.


Mendengar ada reaksi dari Bunga, Mama Tia tidak akan menyia-nyiakan waktu.


"Sayang, Kamu sudah sadar." Mama Tia menatap wajah Bunga senang.


"Ma, Kemana satriaku. Apa yang terjadi pada bunga ma?" tanyanya kemudian, sambil membuka mata, Bunga seolah lupa dengan apa yang sudah terjadi. Mama Tia terdiam sejenak.


"Ma, dimana satria?" masih terus bertanya.


"Sayang, Kamu ngak akan bisa menemui Satria lagi karena satria sudah benar-benar meninggal dunia sayang. Dia sudah di makamkan. Dan Kamu sudah tiga hari ngak sadarkan diri." Mama Tia berusaha untuk memulihkan ingatan Bunga.


Bunga tak menjawab, hanya terdiam, namun tiba-tiba saja air mata Bunga jatuh, menetes di tiap lekuk pipi mulusnya. Dia sangat menyesal.

__ADS_1


"Mama yakin kamu pasti kuat sayang." Ucap mama Tia, berusaha menyemangati.


"Bunga tidak yakin ma. Ini berat ma, Ini sakit." Dia terus menangis. Mama Tia terus menenangkannya.


***


Sehari setelah bangun dari pingsan.


Bunga berjalan menelusuri jalan setapak di area pemakaman. Dan langkahnya berhenti tepat, di depan sebuah batu nisan yang belum lama di makamkan. Siapa lagi pemilik makam itu, kalau bukan Satria. Yang kini benar-benar meninggalkannya, meninggalkan atas nama cinta yang telah mereka bina, namun terpaksa harus kandas karena dipisahkan oleh jarak dan waktu yang terlalu jauh. Bahkan batasnya pun tak bisa di gapai. Dia duduk bersimpuh, pandangannya sangat sakit dia sadar bahwa satria tak akan pernah kembali. Pelan dia letakan karangan bunga di atas nisan satria airmatanya pun menetes lagi.


"Sayang seandainya kamu menyadari betapa hancurnya hati ini, yang melihat sebuah kenyataan seperti mimpi buruk bahkan rasanya tak ingin membuatku tertidur walaupun sedetik saja. Kepergianmu, menempatkan luka terdalam, yang mungkin tak kan pernah bisa terobati dengan apapun Sayang." Lirih Bunga pelan. Dia tertunduk sedih. Tiba-tiba saja, bahu nya serasa ada yang memegang dengan sentuhan lembut.


"Reza." Sebut Bunga datar, Bunga terpaku.


"Iya ini Aku bung." Jawab cowok itu tegas. Seakan tak percaya dengan apa yang Bunga lihat sehingga dia berpikir apakah dia berhalusinasi?


"Apakah aku sedang bermimpi?" tanyanya.

__ADS_1


"Ngak Bung Kamu beneran ngeliat Aku." Reza Pratama mencoba untuk menyakinkan keraguan Bunga. Seketika bunga menangis tersedu-sedu membuat perasaan Reza sangat iba padanya. Cowok itupun memeluknya dan menepuk-nepuk pundaknya. 


"Bunga." Reza memanggil namanya dan semakin mempererat dekapannya. Namun masih belum ada reaksi apa-apa dari Bunga, gadis itu masih asyik tenggelam dalam buaian air mata. Reza melanjutkan ucapannya.


"Ku harap kamu ngak akan sedih lagi, karena umur Satria udah di batasin sama Allah segini, mungkin rencana Tuhan lebih indah nantinya Tuhan akan ganti dengan Satria yang lain."


Bunga hanya terdiam. Kenapa tiba-tiba dia merasa sangat tenang di samping cowok ini.


"Sekarang kita pulang ya, kita doaiin aja semoga amal baik satria di terima sama Allah. Karena dengan air mata, tidak cukup meringankan bebannya di akhirat sana." Ucap Reza panjang Bunga mengangguk. Kemudian mereka berjalan meninggalkan pemakaman itu.


Setelah beberapa menit, mereka pun sampai di depan rumah Bunga. Reza mengantarnya pulang lelaki yang memiliki wajah tampan itu tampak menebar senyum. Namun entahlah kenapa Bunga merasa canggung dengan cowok di hadapannya ini. Seakan-seakan dia masih bersama Satria di sini.


Mobil terparkir di depan halaman. Reza telah menceritakan banyak hal kepada Bunga. Dia berkata jujur dan mengungkapkan segala isi hatinya ketika pertama kali mereka bertemu tapi dia tahu bahwa Satria sahabatnya lebih penting.


"Bung maafin aku, karena udah pergi ninggalin kamu." Ungkap Reza pelan. "Tapi jujur sebenarnya waktu itu aku juga cinta sama kamu. Tapi alangkah baiknya aku harus mengalah untuk jauhin kamu demi Satria. Terus maaf Aku ngak ngabari keberadaan ku saat itu, karena Satria adalah sahabatku sejak kecil bung Aku sangat takut melukai hatinya." Reza menghentikan sejenak ceritanya, dia tampak menghela nafas sedalam dalamnya.


"Setiap pulang dari sekolah dia selalu bercerita banyak hal tentang kamu, padahal sebenarnya hatiku sangat sakit mendengarnya tapi, untuk sisa hidupnya yang singkat, Aku berharap dia bahagia, bersama seorang gadis yang sangat dia cintai itu di karenakan dia sedang mengidap penyakit kanker darah. Maaf Aku merahasiakannya darimu Bung. Di tambah lagi kedua orangtua Satria sangat baik padaku. Aku semakin ngak tega buat nyakitin dia." Reza terdiam. Sementara Bunga masih tetap diam mendengar cerita Reza.

__ADS_1


Jadi selama ini Reza telah mengorbankan cintanya hanya untuk seorang sahabatnya RIO SATRIA PRATAMA. Baiklah cinta itu terkadang memang tak harus saling memiliki. Reza tak banyak berpikir, dia ambil tangan Bunga untuk dia genggam dan gadis itu sedikit risih beberapa tahun yang lalu, dia pernah jatuh cinta pada teman satu kelasnya ini, sewaktu ia masih berstatus siswi SMA di sebuah sekolah ternama, dia memang lebih dulu mengenal Reza. Dari pada Satria yang sekarang telah menjadi kekasih, Ah bukan tepatnya calon suami, bukan juga tetapi sebut saja mantan. Karena Mereka sudah di pisahkan oleh dua alam yang berbeda. Namun, takdir cintanya kala itu, Satria lah pemenangnya Satria telah berhasil menjadikan Bunga Pacar. Bunga menepiskan tangan Reza pelan. 


"Maaf za." tolaknya pelan, Bunga tak ingin Reza tersinggung akan sikapnya. "Dulu, Aku juga memang pernah suka sama kamu, tapi itu satu tahun yang lalu. Sekarang Aku hanya ingin ketenangan, bukankah kamu tahu, bahwa sekarang waktu nya tidak tepat untuk mengungkapkan perasaan kita, Aku sedang berduka." Bunga menjawab tegas. Jangan sampai dia memberi harapan pada Reza, ya Bunga merasa dia butuh udara untuk bernafas. Dia baru saja kehilangan, Reza mengangguk.


__ADS_2