DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 57. Rindu Bercinta Denganmu


__ADS_3

Rio langsung mendekat dan duduk di samping Bunga.


"Kamu yakin akan menunggu sampai besok, Aku hanya takut calon bayi kita akan ngiler karena kamu menahannya sayang."


"Tidak apa-apa Rio, Aku masih bisa menahannya."


"Benarkah?"


"He'em."


Bunga mengangguk yakin, sambil fokus menatap pria penuh pesona itu. Rio segera meraih lembut tangan Bunga. mereka saling menggenggam dengan erat, layaknya sepasang kekasih yang tak ingin jauh.


"Tidak sopan, kamu terus saja memanggil namaku. Bukankah umur kita berbeda 2 tahun." Rio balas menatapnya.


"Oouh maafkan Aku, apa perlu aku menggantinya?" Bunga mengkerutkan kening.


"Iya, Aku ingin kamu juga memanggilku sayang." Rio baru tersenyum, sebuah senyuman yang lebih terlihat tulus. Dia benar-benar merasakan jatuh cinta. Sebuah rasa yang memiliki sejuta harapan.


"Baiklah sayang, Apa kamu akan memberiku hadiah karena telah memanggilmu dengan sebutan yang lebih mesra ini."


"Eeumm." Rio menunjuk bibirnya. "Ini hadiahnya, Katakan, Kamu tidak akan menolaknya sayang?"


Bunga seketika tersenyum.


"Jika Aku menolaknya bagaimana?"


"Jangan, karena bibirku ini hanya milikmu, tapi."


Tiba-tiba saja Rio menghentikan pembicaraan nya. Dia jadi teringat peristiwa di kantornya waktu itu, ketika Via datang mengunjunginya dan secara kasar mengecup bibirnya.


"Tapi apa sayang?"

__ADS_1


"Aah tidak, Tapi maafkan Aku." Rio mengalihkan perkataan nya seolah menyembunyikan sesuatu.


"Kalau hanya ingin membuatku kecewa lebih baik kamu simpan saja ucapanmu, karena Aku sudah pasti tidak akan mendengarkan nya." Jawab Bunga lirih, sambil menggeserkan posisinya.


"Sensi banget, belum juga Aku lanjutkan kata-katanya, Ayo dong senyum dulu, sedikiitt aja enggak banyak kok." Rio mencubit gemas pucuk hidung Bunga. Wajah perempuan itu seketika memerah bak tomat.


"Lain kali, jangan buat Aku penasaran. Kamu pikir hanya kamu saja yang bisa minta cium, Aku juga ingin kamu menciumku." Ujar bunga manja, panjang lebar tanpa menjeda pembicaraan nya.


"Ooh.. Good women, sejak kapan seorang Bunga memiliki pikiran yang mesum sepertiku."


Rio masih tersenyum heran, sambil meletak kan kepalanya dengan pelan di atas kedua paha milik Bunga. Rio baring di pangkuan nya, Bunga yang saat itu posisinya tengah berselunjur menjadi sedikit terkejut. Ini adalah pertama kalinya Rio membaringkan kepalanya sangat pasrah. Bunga refleks menyentuh dan mengelus-ngelus rambut di kepala Rio.


"Kamu harus tahu, hal yang paling membuatku tenang adalah ketika Aku mulai merasa nyaman meletak kan kepalaku di atas pangkuanmu. Sayang maukah kamu berjanji padaku?"


"Apa sayang, jika itu membuat perasaanmu senang Aku akan berusaha mengabulkan nya."


"Berjanjilah Akan selalu mendampingiku apa pun yang terjadi, karena hanya satu yang ku takutkan, Aku takut di tinggalkan aku takut kesendirian, Aku takut kesepian."


"Kamu betul sayang, satu hal lagi yang harus kamu ingat, jangan pernah berpikir untuk selingkuh dariku. Kamu tahu kan artinya sakit?"


Bunga hanya mengangguk.


"Kalau kamu tahu artinya sakit, maka jangan nakal ya. Awas Aku ngancam kayak pyshicopat!"


"Iich... apaan sih. Menakutkan banget ancamannya!" Bunga cemberut. Rio buru-buru tertawa ala dia, tanpa eksprasi dan kaku.


Rio sontak bangun dari pembaringan nya, sejenak mereka saling menatap.


"Sayang lihat mataku." perintah Rio pelan. Dengan ragu-ragu Bunga menatapnya. "Apa kamu melihat ada cinta di mataku?" Tanya nya lagi. "Setiap detik, setiap jam, setiap hari hanya ada nama kamu di mataku, bahkan ketika memejamkan mata pun nama mu masih tetap terlihat. Akan ku katakan dengan jujur, bahwa aku sangat mencintai kamu." Rio langsung menarik tangan Bunga serta menempelkan nya di dada.


Ya, Bunga bisa merasakan detak jantung atau denyutan yang tak beraturan itu. Sejak kapan Rio benar-benar jatuh hati padanya? Jawabannya simple, sejak mereka saling mengikat perjanjian di hari pernikahan itu. Rio melepaskan tangan Bunga pelan, ia berpindah mengangkat dagu oval milik Bunga menggunakan jari telunjuknya. Terlihat jelas kecantikan yang terpancar dari raut wajah isterinya.

__ADS_1


Rio membelai bibir itu dengan pelan. Secara spontan sistem kerja tubuh bunga menjadi tegang. Entahlah, walaupun mereka sudah melakukan kecupan berulang kali namun rasanya masih selalu mendebarkan.


"Kamu gugup?" ucap Rio setengah tersenyum, karena mendapati wajah Bunga yang di penuhi peluh dan keringat, padahal di luar sana hawanya jelas sekali dingin.


"Ak-Aku hanya merasa serba salah saja jika matamu tak berkedip menatapku." Jawab Bunga pelan, di sela-sela tangan Rio yang masih menyentuhnya lembut.


"Eemh berusahalah untuk menghadapinya dengan tenang, Atur nafasmu." Rio Xen Zhin perlahan-lahan mendekatkan wajahnya. Bunga pun semakin merasa deg-deg kan, ingin sekali rasanya ia beranjak pergi karena rasa malu di dalam dirinya.


Sampai kapan dia bisa rileks berhadapan dengan pria penuh pesona ini. Ini aneh akan tetapi begini lah kenyataan yang ada.


"Pejamkan matamu sayang dan nikmatilah sentuhan yang akan ku berikan." Perintah Rio pelan. Hembusan, deruan nafas Rio terasa hangat. Bunga mengikuti apa yang telah Rio perintahkan, dia pun segera menutup kedua matanya.


Tak menunggu lama, bibir merah Rio berhasil menyentuh permukaan bibir Bunga. Terasa lebih hangat. Sedetik kemudian Rio mulai menikmatinya dan Bunga pasrah sekarang. Ia meletakkan kedua tangan kecilnya di pundak Rio.


Mereka saling melepaskan hasrat kerinduan mereka, setelah berpisah selama beberapa hari. Rio memain-mainkan lidahnya di dalam sana, membuat Bunga sedikit kesulitan untuk menarik nafas. Rio memberinya jeda sejenak, setelah itu mengulanginya lagi, hingga membuat bibir mereka bertambah merah.


Deru nafas keduanya saling berkejaran kencang, mengotomatiskan hasrat mereka muncul dan menggebu-gebu dengan sendirinya. Rio, tiba-tiba saja melepaskan bibir itu, ia tersenyum menatap wanita di hadapannya.


"Apakah kamu sudah siap untuk memulai permainan panas denganku?" Tanya nya lirih.


"Aku adalah milikmu seutuhnya dan Aku juga wajib memenuhi kebutuhan biologismu sayang." Bunga menaik kan sebelah alisnya.


"Aku hanya minta persetujuanmu saja, karena Aku tidak suka memaksa seorang perempuan jika dia merasa enggan dan tidak siap." Jawab Rio lirih. "Aku tidak ingin memperkosa kamu."


"Lakukan lah sesuai kemauan mu." Bunga perlahan melonggarkan dasi yang terpasang rapi di leher Rio, ia menanggalkan nya. Setelah itu melepas kancing kemeje Rio satu persatu. Namun, Ketika Bunga akan menanggalkan ikat pinggang Rio.


Rio segera menghentikan nya.


"Tunggu dulu, biar terkesan adil sekarang giliranku yang bekerja melepaskan pakaianmu seluruhnya." Dia tampak tersenyum sangat menggairahkan.


"Dengan senang hati." Bunga mengizinkan nya dan membalas senyuman yang melekat di bibir manis milik Rio.

__ADS_1


__ADS_2