DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 21. Telpon Dari Mamah


__ADS_3

"Eh.... Bung siapa yang telpon?" tanya Rina kemudian.


"Mamah Aku Rin,, Aku di suruh pulang besok."


"Dih... Kok cepet banget bung, Ada apa emang?"


tanya Rina penasaran. Bunga terdiam sejenak, sambil menghela nafasnya panjang. Ada ketakutan dalam dirinya yang tak terlihat. Berat, namun sudah pasti itu menyesakan dadanya, entah sampai berapa lama.


"Bung... Kok diem sih? Ada masalah ya? verita aja, siapa tahu Aku bisa bantu, yah paling ngak nya kasi saran deh." Rina berjalan mendekatinya.


Gadis bermata bening itu, akhirnya membuka bibirnya untuk berbicara.


"Aku sedih Rin!"


"Sedih?"


"Iya kayaknya Mamah berharap banget, agar Aku segera menikah."


"Me.. Menikah." Rina tergugup mendengarnya, dan respon bunga hanya mengangguk. "Ya bagus dong.'


"Kok kamu bilang bagus sih? Kamu kan tahu Aku belum sepenuhnya move on dari Satria."


"Yakin aja deh, apa yang menjadi harapan Mamah Kamu pasti itu terbaik." Rina duduk di sampingnya, memberikan sedikit harapan baru buat masa depan sahabatnya itu.


"Iya deh."


"Gitu dong." Rina baru tersenyum.


Jam menunjukan pukul 08.00 pagi. 


Bunga sudah bersiap-siap dengan tas ranselnya.


Dan Rina sendiri yang akan mengantarkannya ke bandara. Setelah berpamitan dengan Aunty jolie mereka pun pergi, kebetulan juga ini adalah hari sabtu, jadi Aunty jolie libur dari kantornya.


Tak sampai 1 jam mereka sudah berada di bandara. Mereka tampak saling berpelukan.


"Hati-hati bung. Jangan lupa undang ya kalau nikah."


"Iya Rin, makasih. Dan pastinya Aku undang lah."


Setelah itu bunga bergegas masuk. Sementara Rina memandanginya yang semakin menjauh.

__ADS_1


Di dalam pesawat. Bunga duduk dengan tenang, sambil meletakan tas kecilnya. Tiba-tiba.. datang seorang lelaki duduk di sampingnya. Dan aroma parfum nya tercium, sangat harum.


Bunga yang kebetulan masih sibuk dengan barang nya membatin dalam hati. 'Gila ini parfum harum banget bikin hidung sakit aja siapa sih?' tanyanya dalam hati. Bunga langsung menoleh, rupanya seorang lelaki berpakaian sangat rapi. Dia menutupi wajahnya dengan sebuah buku tipis.


Sepertinya juga, dia sedang tertidur mungkin.


Bunga mendengus saja. Sebenarnya hatinya sangat kesal, bagaimana mungkin dia akan merasa betah di kursinya itu. Bunga berdiam diri saja, sambil menutup hidung nya dengan sehelai switer ungu nya. Perjalanan sudah di mulai sejak beberapa jam tadi, tapi mata bunga masih belum terasa mengantuk. Karena terlalu nyenyak dalam buai-buai mimpinya di siang bolong, seorang yang berada di samping bunga sampai tidak sadar, bahwa kepalanya sudah terjatuh di luar jalur.


'Ealah Ini orang keenakan banget. Emang dia pikir bahuku bantal apa?' Bunga ingin sekali marah.


"Eh Mas... Mas bangun Mas, bahuku bukan bantal Mas." Ucap bunga pada akhirnya.


Lelaki itu perlahan tersadar, sambil membuka penutup wajahnya.


"Kamu!" Ujar Dia terkejut, begitu juga dengan respon bunga, bunga tak bisa menyembunyikan rona wajahnya yang seketika memerah. "Kamu lagi... Kamu lagi!" Desahnya, menampakan kekesalan. 'Kenapa Aku selalu bertemu perempuan ini, ah Benikno kamu benar-benar membuatku pusing.' Pikirnya dalam hati karena Benikno selaku asisten pribadinya salah membelikannya tiket. 


"Emang kenapa!" Bantah bunga ikutan kesal.


Rio tak menjawab, kemudian dia memalingkan wajahnya ke lain arah.


'Cuek banget,


Sok cakep ni orang.'


Gerutu bunga kesal.


Tapi keadaan sunyi lagi. Bunga sedikit mencuri pandang kearahnya duduk, yaa... sesosok tubuh tinggi itu mengingatkan nya pada Satria. Bahkan dalam diri bunga terus bertanya, Apakah lelaki di samping nya ini, memiliki hubungan dekat dengan Satria? kenapa wajah itu benar-benar mirip sekali, seperti hal nya orang kembar. Tak terasa waktu penerbangan sudah berlalu sangat lama... Pesawat pun tiba di bandar udara indonesia, tempat di mana seorang Bunga berasal dan di lahirkan. Setelah keluar dari dalam pesawat Bunga bergegas mencari keberadaan ibunya yang menjemput. Dia sudah melupakan lelaki itu.


"Bunga." Ucap Mamanya girang, ketika di lihatnya anak gadisnya itu sudah berdiri tegak dihadapannya.


"Ma, Bunga kangen deh." Serta merta Bunga langsung memeluknya.


"Ya sudah, mari kita pulang." Ajak Mama bunga datar, hanya beberapa menit saja mereka saling melepas rindu. Bunga tersenyum, menanggapi ajakan datar yang keluar dari bibir Mamanya.


Sesampainya di rumah...


Bunga bisa bernafas lega sekarang, karena dia sudah kembali merebahkan tubuh lelahnya di sprim bed empuk, yang dia miliki, mata nya menerawang jauh. Wajah cowok tadi tiba-tiba saja bermain-main di kepalanya. "Aiih... Kenapa Aku jadi keinget dia sih,' Bunga memaki dirinya sendiri


sambil tersenyum dengan raut wajah yang terlihat tidak jelas.


Tok... Tok... Tok

__ADS_1


Tiba-tiba terdengar ketukan pintu yang mengejutkan lamunan semu nya. Dia menoleh.


"Bung..." Panggil Mama dari luar.


"Iya Ma, masuk aja ma, ngak di kunci pintunya." Jawab bunga sedikit keras. Setelah bunga menghentikan sahutannya, pintu pun, Mama buka. Dia menampakan senyum termanis, yang selalu ada.


"Kamu sudah mandi?" tanya Mamanya lembut, kali ini langkahnya semakin mendekat. "Mandi dulu gih!" Perintah Mamanya lagi.


"Ya." Bunga bangkit dari tempat tidurnya lalu mengambil handuk, yang bersangkut di depan pintu toilet kamarnya.


"Mama tunggu di ruang tengah ya, Mama sudah masakin sesuatu buat kamu."


"Makasih Mama, Bunga makin sayang deh sama Mama." Jawabnya, sebelum masuk ke toilet. Wanita berwajah muda itu hanya tersenyum menanggapinya.


***


Udara malam itu terasa dingin angin berhembus sedikit kencang. Di sebuah Apartemen mewah berdiri tegap seorang Pria memakai jacket biru.


"Apa mau kamu! Setelah kamu hancurin kepercayaanku." Reza menatap tajam wanita di hadapannya.


"Aku minta maaf za, Aku salah tapi Aku mau kita kayak dulu lagi. Aku menyesal udah selingkuh di belakang kamu." Angel berusaha meyakinkan Reza, yang kini telah menjadi mantan suami nya.


"Maaf, Gel tapi hati Aku udah bener-bener tertutup buat kamu!" Reza akan pergi, namun tangan halus itu langsung mencekalnya.


"Aku mohon Za, oke jika demi Aku kamu pasti ngak akan terima, tapi jika demi Tasya anak kita, apa kamu akan menolaknya juga?" tutur Angel pelan, rona wajah wanita itu sedikit memelas. Namun itu tidak berpengaruh sama sekali untuk Reza, dia sudah muak dengan semua permainan licik Angel.


Tentu saja Reza tak memiliki perasaan apa-apa terhadap wanita yang telah dia nikahi beberapa tahun silam. Kalau bukan karena saja Papa nya yang terus memohon agar Reza segera menikahi. Reza tak tak akan pernah mau menikahinya tapi sayangnya dia tak bisa menolaknya. Di sebabkan desakan sang Papa di akhir hidupnya yang terlalu singkat itu. Reza terpaksa menurutinya, padahal


rasa cinta yang dia miliki buat gadis di SMA nya dulu, sampai kini belum juga memudar walaupun waktu terus bergulir tanpa lelah.


Reza menghela nafasnya sejenak.


"Biar Tasya Aku yang urus."


Jawabnya tegas. Dia tidak ingin berbasa-basi dengan waktu yang lama.


"Bukan itu permasalahannya, jika hanya mengurus Tasya sendiri, Aku bisa, tapi... Dia butuh sosok Ayah."


"Angel kita bisa mengurusnya bersama, akan tetapi tidak harus bersatu. Kita jalani saja masa depan kita masing-masing! Sekarang tinggalkan apartemenku, lagi pula Aku sudah tak mau melihat muka licikmu itu!" Reza melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti.


Dan Ekspresi wajah cantik wanita itu, berubah menjadi merah. Ya, jelas sekali Reza mengusirnya, betapa tak berharga nya dia di mata Reza. Angel langsung menghentak kan kaki nya dengan langkah yang kesal. Berlalu, meninggalkan apartemen milik Reza.

__ADS_1


__ADS_2