
Jam mata pelajaran bu Dina sudah berakhir Bunga dan Rina langsung beranjak keluar,
terlihat Alfin sedang berdiri terpaku di tiang bendera. Bu Dina menghampirinya.
Dan setelah itu pergi berlalu dari pandangan mereka. Buru-buru kedua gadis itu mendekati Alfin. Alfin hanya tersenyum.
"Wah wah udah kayak security aja kamu di situ fin!" Rina nyeletuk memandangnya lucu.
"Yaa bagus dong siap banget kalau bisa jadi security di rumahnya Nona cantik." Senyumnya menggoda.
"Ya elah!" Rina mengejek. "Sempet banget nge_bela diri kek gitu udah jelas-jelas malu karena dihukum!" Rina terkekek menertawai nya. Reaksi bunga hanya tersenyum denger pembicaraan mereka.
"Oh ya tadi kan kamu mau tanya sesuatu sama Aku kan Bung, Jadi enggak nih?" Alfin mengalihkan pembicaraan.
"Jadi sih tapi kayaknya lain kali aja Fin, sorry banget!" Bunga tampak menatapnya.
"Ini nih sifatnya si Bunga cakep banget udah jelas-jelas si Alfin sampe di hukum gara-gara kepikiran sama pertanyaan dia, eeh langsung di batalin. Enggak ngehargai banget sih kamu Bung." Rina belain Alfin. Seolah tahu bahwa Alfin dari tadi mikirin sesuatu yang mau di tanyaiin ke dia.
Bunga hanya meresponnya dengan isyarat peace di kedua jarinya.
"Ya udah kalau gitu enggak apa kok, biasa aja kali." Jawab Alfin kemudian. Sebenarnya dia merasa kecewa tapi si bunga enggak ngerti. Sejak saat itu mungkin perasaan Alfin mulai berbeda. Tiap kali di kelas dia hampir enggak pernah absen mandangin si Bunga. Iyalah Bunga itu cantik dan dia punya beribu pesona. Itu di karenakan dia juga memiliki daya tarik tersendiri. Jadinya kayak primadona kelas kali ya? enggak tahu juga deh rata-rata yang suka sama dia pasti mukanya cakep-cakep.
***
Kegiatan di sekolah udah berlalu
Mereka pulang kerumah masing-masing. Bunga sampai dirumahnya, wajahnya sedikit lelah dan tentu saja dia memiliki seorang ibu yang sangat ramah padanya. Selama ini mama nya telah menjadi ibu yang baik, penuh semangat. Tak pernah mengeluh, dan sesulit apapun keadaan atau ada beribu masalah yang datang mendera mereka. Akan tetapi Mamanya selalu memperlihatkan senyum ketulusannya. Dan itulah alasannya kenapa bunga sangat-sangat menyayangi wanita itu.
"Eh kesayangan Mama udah pulang ya?" Tanyanya pelan.
"Iya ma." Jawabnya dia berjalan mendekati Mama kemudian bersalam, sambil mencium tangannya.
"Ayo makan dulu." Ajaknya lagi. Sambil berjalan menuju ruang makan dan bunga membuntutinya dari belakang. Hanya beberapa menit saja mereka sudah menyelesaikan makan sore itu.
Setelah itu Mama mengeluarkan sebuah amplop berwarna merah, Mama mengatakan amplop itu Mama temukan di depan Rumah, tepatnya di bawah pintu gerbang. Dan itu tentunya buat dia.
Bunga masih bingung namun akhirnya dia buka juga isi Amplop itu.
Dan ternyata sebuah surat :
Hai pujaanku
Bayanganmu
Yang selalu menyertaiku
Senyummu tak mampu lagi ku tahan
Tuk tak lagi tersipu malu
Mengagumimu melewati pikiranku
__ADS_1
Aku memang buka pujangga cinta
Bukan pula seorang yang mahir membuat puisi cinta
Aku hanya manusia biasa
Manusia yang hanya tergoda oleh cinta
Cinta yang ada di ujung sana
Bukan dia menantiku di sana
Tapi mata dan hati ini
Seolah untuk mengajakku kesana
Tak mampu lagi
Kaki ini menahan
Untuk terdiam di tempatnya
Tali cinta ini telah
Menghubungkanku dengan dirimu
Di sana
Langkah yang terpijak
Aku telah bertemu
Dengan pujaanku
Dan aku selalu berharap
Di dalam hati kecil ku
Bahwa engkau kan menerima
Sebentuk Rinduku
Yang begitu sulit tuk
Ku ungkap
Dan begitu dalam
Ku rasa
Semoga engkau juga
__ADS_1
Mengerti dengan perasaan cintaku ini.
Serta bermimpi lah
Ketika angin malam menyapa mu dalam diam
Ttd : Orang yang Mencintaimu
Setelah membacanya bunga tersenyum tak percaya. ini sangat lucu, mama jadi penasaran juga.
"Surat apa sih Bung? Kok kayaknya kamu serius amat bacanya?" tanya mama nya penasaran.
"Ini loh Ma isinya puisi."
"Wah pengagum rahasia lagi ya."
"Enggak kok ma, mungkin seseorang itu lagi salah kirim, lagian siapa juga sih Ma yang jadi pengagum rahasia bunga." Gerutunya
Dia tak begitu meresponnya.
Mama nya tersenyum,
"Kalau gitu bunga mandi dulu ya ma, udah gerah bangets." Dia beranjak dari tempat duduknya dan berjalan menuju kamar mungilnya.
Terkadang perasaan cinta itu tak seindah kembang di taman. Ya sudah hampir beberapa hari ini, Satria tak pernah lagi memberinya kabar. Sedikit tak mengerti dengan keadaan, itu di karenakan dia mulai sedikit demi sedikit menyukai cowok itu. Tapi lagi-lagi sepertinya kandas. Tak ada kabar, nomor tak pernah aktif lagi, seperti kehilangan jejak. Bahkan dia sampai nekat mendatangi rumah Satria.Tapi ternyata hasilnya mengejutkan rumah itu sudah di jual dan ketika dia mengecek di tiap Restoran Papinya Satria, karyawannya bilang bahwa mereka ke luar negeri.
Dia simpan sendiri perasaan galau nya.
Berharap semuanya tak berakhir sia-sia.
hanya satu impian cintanya.
dia ingin hidup bahagia seperti di cerita-cerita dongeng. Tapi nyatanya dia tak bahagia saat ini
ataukah mungkin dia menyesal karena mengenal
cinta? Bunga menghela nafas kecil.
kemudian pergi mandi.
***
Hari itu. Adalah hari terakhirnya sekolah.
karena sekolahnya telah melaksanakan ujian.
dan tentu dia sudah punya cita-cita. Setelah lulus sekolah bunga berniat akan melanjutkan study nya di luar negeri tepatnya di jepang.
Siapa yang tak tahu Le Cordon Bleu? Bagi yang sangat mencintai dunia kuliner pasti tahu tentang universitas khusus masak-memasak yang telah mencetak chef-chef terkenal yang tersebar di seluruh dunia, termasuk Indonesia. Kampus Le Cordon Bleu berpusat di Paris, Prancis namun gak perlu jauh-jauhlah ke Paris karena Le Cordon Bleu juga udah ada di negara benua Asia seperti Korea Selatan, Jepang, Thailand, Australia dan yang lebih terbaru lagiada di Malaysia.
Pilihan konsentrasi jurusan juga bisa di pilih, yaitu Cuisine atau Patisserie. Waktu untuk menempuh pendidikan di Le Cordon Bleu memakan waktu hingga 9 bulan dan ditambah 6 bulan untuk magang khusus di Australia. Ada tiga tingkatan yang harus di tempuh, basic - intermediate - superior. Dan juga akan diajari teknik memasak mulai dari teknik dasar sampai teknik yang rumit. Biaya yang harus dikeluarkan untuk bisa bersekolah di kampus favorit ini sekitar US$ 33,000 atau Rp 330 juta per 15 bulan (Le Cordon Bleu Australia).
__ADS_1
Bagi yang ingin belajar menjadi foodpreneur, Le Cordon Bleu juga menghadirkan jurusan bisnis khusus bidang kuliner. Dia ingin mempunyai bisnis sendiri. Dan tentunya menjadi seorang cheff terhandallah. Itulah sebagian harapan dan mimpinya. Dia hanya berharap jika Tuhan berkehendak lain, dia bisa apa? Dia seakan merasakan kebahagiaan nya sendiri.