
Mereka saling melepaskan hasrat yang terpendam. Briyan melempar pakaian Via ke sembarang arah. Seperti nya dia sudah tidak sabar ingin berlabuh. Nafsunya telah sampai di ubun-ubun.
drett... drett...
Ponsel milik Briyan tiba-tiba bergetar. kefokusan Briyan berhasil di alihkan oleh sebuah alat komunikasi. Dia segera memungut kembali celana panjang miliknya, yang belum lama ia lemparkan. Briyan langsung mengambil ponsel dan menekan tombol lambang hijau pada layar smartphone nya.
Tersambung.
.........
Ya, Aku akan segera kesana.
Tut... Tut...
Telpon di matikan dari sebelah pihak. Via yang sudah polos tanpa sehelai pakaian menatapnya bingung. Lelaki itu tersenyum sinis, sembari memakai baju kaosnya.
Dia berbisik di telinga Via. "Sorry Aku harus pergi, Aku tak mungkin menuntaskan nya, karena telpon ini lebih penting menurutku."
"Briyan!" Via menarik tangan itu. "Kamu jahat banget sih, Aku udah terlanjur pengen loh, tiba-tiba di gantung kayak gini, sakit tau Briyan!"
Briyan malah tertawa mengejeknya, dia menunjuk jari-jari Via. "Tuntaskan dengan jari milikmu. Aku harus pergi maafkan Aku sayang bye." Briyan melangkah keluar setengah berlari.
"Aaaaahhhh." Via mendesah kesal. "Sialan udah bikin enak malah kabur!" Gerutu nya.
Via bergeser menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya. Malam ini dia mendapatkan kesialan dua kali, Rio yang menolaknya dan Briyan yang meninggalkan nya begitu saja. Bahkan Briyan pun belum sempat memasukan aset berharga miliknya, mereka hanya sekedar berkecupan, red.
BEBERAPA MENIT KEMUDIAN,
Mobil mewah yang Briyan kendarai melaju dengan kecepatan tinggi, menuju lokasi yang telah di rencanakan nya sejak awal.
CIIITTTT.
Briyan mengerem secara mendadak. Dia menghentikan mobilnya di depan sebuah tempat parkir yang luas. Empat orang lelaki telah menunggu. Briyan melangkah kan kakinya hendak turun dengan menggunakan gaya sok keren nya. Dia memberi kode untuk segera memasuki sebuah gedung berlantai lima.
__ADS_1
Tap
Tap
Langkah kaki mereka terdengar serempak, berjalan memecah keheningan koridor apartemen. Mereka masuk kedalam lift, menekan angka tujuan dan menikmati perjalanan ke atas.
TING SREETTTT
Pintu lift terbuka, mereka kembali melangkahkan kaki menuju kamar bernomor 232. Setelah sampai Briyan langsung menekan tombol bel. Beberapa detik kemudian seorang perempuan muncul dari balik pintu besi. Dia terkejut bukan main, seperti melihat hantu.
"Selamat malam kakak Ipar, maaf kalau Aku sedikit mengganggu. Apakah kakak ipar terkejut karena melihatku kedatanganku bersama empat bodyguard ini? Jangan khawatir kak, Aku tidak akan menyakitimu."
Bunga menelan saliva dengan susah payah, dia masih memegang daun pintu. Tak menggrubis pembicaraan Briyan. Dia terlalu takut karena melihat deretan empat lelaki yang memiliki tubuh kekar-kekar itu. Bunga seperti di hujani beribu tumpukan salju, badannya membeku, di luar kesadaran nya ia sedikit menggeserkan tangan nya. Namun, Briyan cukup pandai menanggapi pergerakan bunga, Briyan segera menahan tangannya, serta tersenyum tipis. Jantung Bunga berdebar tak karuan.
"Boleh Aku masuk kak?" Tanya Briyan pelan. Sambil terus memperhatikan tanpa berkedip.
"Ak-Aku bukan Tu-Tuan di rumah ini, Tu-Tunggulah di situ, sampai Reza datang." Jawab Bunga tergugup-gugup. Sejak tadi dia tak berani menatap wajah lelaki di hadapan nya.
Briyan masih tersenyum. "Kamu gugup kak, tenanglah Aku tak bermaksud untuk mengintrogasimu seperti polisi, paling tidak izinkan Aku untuk masuk, Aku juga ingin duduk dan minum," ucap Briyan panjang.
Bunga berkidik seram. Dia tak mungkin memberi Briyan celah atau pun kesempatan, apalagi Briyan tidak sendiri. Ada empat orang Pria yang selalu di sampingnya dengan berbagai tampang yang cukup mengerikan.
"Aku kesini hanya ingin bertemu kamu kak, bukan Reza, Aku merindukan mu." Ucapnya sambil mendekatkan wajahnya.
Bunga segera berpaling.
"Apa kamu tak ingin pulang kak? Heemm?" tanya Briyan lagi. Semakin lama semakin dekat hingga jarak mereka hanya berkisar 10 senti saja. Hangat deru nafas Briyan mulai Bunga rasakan, hingga memaksanya terus bergeser ke belakang. Briyan pun berhasil masuk dengan mudahnya.
"Itu adalah masalahku dan Rio, ja..jadi kamu tak perlu ikut campur, lagian Rio juga sudah mengusirku." Jawab Bunga masih di selimuti rasa gugup tingkat dewa. Tubuhnya bergetar hebat sejak tadi, peluh terus membasahi pelipisnya. Ia sampai tak menyadari bahwa Briyan sudah benar-benar masuk ke dalam apartemen itu.
BRUKK
Pintu langsung tertutup, Bunga semakin terlihat sangat panik.
__ADS_1
"Bi-bisakah kamu tak membuatku ketakutan Briyan!"
"Apa maksudmu kak, tenanglah Aku tidak akan berbuat macam-macam." Jawab Briyan tenang. Kedua matanya tak berhenti menatap tajam.
Bunga merasa trauma jika melihat sosok itu, dia takut Briyan akan mengulangi perbuatan nya waktu di mobil. Bunga seperti sedang menjadi target suatu pembunuhan, dia tetap tak bisa merilekskan tubuhnya dengan sempurna. Briyan seakan menciutkan nyali nya 99%. Dia mundur, mundur, dan terus mundur, mencoba untuk menghindari tatapan Briyan.
Sialnya langkah Bunga mendadak terhenti di tepi dinding.
"Briyan bisakah kamu tak menatapku terlalu lama? Aku seperti menjadi santapanmu saja." Bunga pelan-pelan mengatur nafasnya.
Anehnya Briyan seakan tak mendengarnya. Dia termenung untuk waktu yang terbilang lama. Asyik pada lamunan nya sendiri. 'kak Aku tak bisa melupakan bibir manis itu, tetaplah berada di sampingku kak, Aku akan mengisi kegundahan mu.' Batin nya dalam hati.
Bunga terheran. 'Ada apa dengan Briyan, sejak tadi tatapan nya kosong. Apa yang tengah ia pikirkan?' Bunga sesekali mencuri pandang padanya.
"Bri-Briyan. Kamu mendengarku kan?"
"Eeh ad-ada apa kak?" tanyanya baru terdengar gugup. "Kakak bicara apa padaku?" tanyanya lagi. Bunga mengkerutkan kening.
"Ooh, Kamu sungguh serius tak mendengarnya?"
"Iya, Aku melamun tadi." Briyan memperbaiki posisinya berdiri. Bunga akhirnya bisa bernafas lega sekarang Briyan tak lagi mengunci ruang batasnya untuk bergerak, Briyan kini melangkah dan duduk manis di atas sofa.
Sementara Bunga tetap berdiri.
"Kak, kenapa kamu masih berdiri di situ, duduklah di sampingku." Briyan menepuk-nepuk sofa kosong di samping nya. Sebenarnya ia sangat enggan jika berurusan dengan Briyan.
Tapi sialnya Briyan selalu mengikutinya layaknya seorang penguntit. Bunga menoleh kesamping berjalan pelan mendekati Briyan duduk.
"Pulanglah bersamaku kak, selama kakak ipar pergi Kak Rio sangat kehilangan separuh hidupnya."
"Dia sudah mengusirku, Aku sadar siapa Aku, jadi Aku tak perlu detail menjelaskan nya!"
Briyan tersenyum.
__ADS_1
"Jika Kak Rio tak menerimamu kembali kerumah itu kakak ipar bisa menumpang di kamarku!"
"Gila! Ku dengar katanya kamu akan menikah besok, kenapa berkelakuan aneh begini? Ini sudah kelewat larut, kamu harus pulang Briyan." Jelasnya panjang. Lelaki di sampingnya itu hanya tersenyum, mengerutkan kening dan menatapnya penuh makna.