DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 17. Duplikat


__ADS_3

Pukul 21.00 WIB


Malam itu hujan turun sangat deras. Bunga berada di depan sebuah minimarket, dia baru saja membeli berbagai macam makanan snack. Hujan-hujan begini memang seru banget kalau di buat ngemil. Bukan dia tak bisa pesan makanan lewat aplikasi online, akan tetapi dia ingin berjalan-jalan saja. Menghirup udara malam yang dingin dan melihat hujan yang turun. Dia berjalan pelan di derasnya hujan sambil memegang erat payung kuningnya yang terlihat menarik bermotifkan bunga-bunga ungu.


Dia menikmati setiap langkah yang dia pijak, kebetulan juga keadaan sangat sepi dari lalu lalang kendaraan yang lewat. Tentu saja karena hujan yang turun. Berjalan di setiap lorong jalanan yang sempit, itu adalah alternatif jalan pintas, agar cepat sampai kerumah. Di tengah perjalanan tiba-tiba dia berpapasan dengan empat orang lelaki berjaket hitam-hitam. Sebenarnya dia sedikit takut, untungnya mereka hanya lewat saja. Bunga melanjutkan langkahnya lagi sambil menghela nafas lega, namun samar-samar dia mendengar suara orang minta tolong.


Dia mencari sumber suara itu, maju dan terus maju. Alangkah terkejutnya dia saat itu karena dia melihat pemandangan yang sangat menyedihkan.


Ada seorang lelaki dengan wajah berlumuran darah dan memar. Matanya terlihat sayu-sayu seperti orang yang sedang mangantuk. Bunga bergegas mendekatinya.


"Hei apakah kamu baik-baik saja?" tanya bunga sedikit gugup. Tak ada jawaban, lelaki itu pun pingsan. Dalam kondisi hujan deras begini dia harus meminta tolong siapa tak ada satu orang pun yang lewat, benar -benar sepi. Bunga mendengus kesal.


"Huff mana lagi handphoneku ketinggalan." Desahnya kecewa, namun pada akhirnya dia memapah lelaki itu berdiri dan dia tuntun berjalan dengan mengaitkan tangan lelaki itu pada pundaknya, berat sih sesekali dia terjatuh dan bangun lagi. Dan akhirnya dia sampai di depan teras rumahnya. Segera dia pencet bel yang berada di samping pintu rumah. Hanya beberapa detik mamanya sudah muncul.


"Ya ampun bung apa yang terjadi?" Mamanya keheranan.


"Nanti Bunga ceritain ma tapi sekarang bantuin bunga berat banget cowok ini ma."


"Yaya." Segera mama meraih tangan kanan lelaki itu dan membawanya masuk kedalam. Lelaki itu sudah di letakan di atas sofa empuk, Bunga segera mengambil p3k yang berada di rumahnya, dia perlahan membersihkan darah yang menempel di wajah lelaki itu.


Seketika tangannya terhenti, matanya langsung berkaca-kaca. Mama Tia meresponnya cukup baik, buru-buru ia mengelus pundak puterinya dengan lembut. Bunga jadi sedih, terkejut dan serasa tak percaya atas apa yang di lihatnya saat ini. Wajah itu ya wajah itu sangat mirip dengan seseorang yang telah pergi meninggalkan dia selama-lamanya. Bunga tak bisa lagi menahan air matanya, dia pun menangis tersedu Mama Tia ikut sedih.


"Bung Mama tahu itu sangat berat tapi kamu harus ingat bahwa Tuhan ngak akan pernah kasi ujian kepada hamba-Nya melebihi batas kemampuan hamba-Nya itu sendiri."


"Iya Ma Bunga percaya, tapi entah kenapa rasanya bunga....." Ucapannya terhenti. "Bunga masih sangat sedih kalau inget alm Satria Ma." Dia langsung memeluk tubuh mamanya.


"Sayang yang sabar ya." Mama balas memeluknya kemudian Bunga menceritakan apa yang telah di lihatnya tadi.


PAGI ITU


Bunga sudah bangun dari tidurnya, kemudian dia berjalan untuk menjengguk cowok itu lagi dan sepertinya dia masih tak sadarkan diri. Di tatapnya lekat wajah tampan itu, dia perhatikan ada tahi lalat kecil menempel di bawah bibir merahnya. Sayangnya lelaki itu tak memiliki identitas, Bunga tak menemukan apapun di kantong celana ataupun di kocek baju lelaki malang itu. Entahlah dia itu korban pemukulan atau perampokan. Tak lama setelah itu mama Tia datang menghampirinya.

__ADS_1


"Bung." Sebut mama nya pelan.


"Eh Ma." Dia tersenyum. "Sepertinya cowok ini belum sadar ma, apa sebaiknya kita bawa aja dia kerumah sakit."


"Ide bagus, Mama takut dia mengalami luka yang serius! Oke mama akan telpon ambulance dulu." Jawab Mama Tia pelan, setelah itu dia beranjak untuk berjalan dan mengambil handphone di kamar.


Bunga mengangguk serta memandanginya saja, iseng-iseng dia nyalakan TV. Dia menonton sekilas berita terbaru Pada pagi itu, namun alangkah terkejutnya dia bahwa mereka mencari seorang pria yang percis sekali dengan lelaki yang berada di sampingnya ini.


"Selamat pagi pemirsa berita hangat pada pagi ini adalah seorang pengusaha dari Jepang di nyatakan hilang." 


Penyiar berita itu menjelaskan dan layar televisi tampak menampilkan beberapa foto-foto beserta nomor kontak orang tersebut. 


"Maa." Panggilnya kemudian, buru-buru dia beranjak dari tempat duduknya dan melangkah mendatangi mamanya di kamar.


"Ada apa sayang? sebentar lagi ambulance akan datang kok, Mama sudah telpon."


"Bunga cuma mau bilang kalau ada berita penting!" Ujarnya


"Maksud kamu?"


"Apakah seperti penjahat?"


"Bukan?"


"Lalu?"


"Dia pengusaha dari jepang."


"Baiklah, kita harus segera membawanya kerumah sakit, sebelum terjadi hal-hal buruk pada lelaki itu." Keduanya saling menatap. Tak lama kemudian terdengar bunyi mesin mobil di depan rumah mereka. Mama mengintip dari tirai kamarnya.


"Ambulance sudah datang, ayo sayang?" ajaknya Bunga pun mengikuti. Terdengar seseorang membunyikan bel rumah miliknya, Mama Tia dan Bunga segera membukakan pintu. Ternyata itu adalah beberapa staf medis yang datang, Mama segera mempersilahkan mereka untuk masuk membawa lelaki malang itu. Mama Tia dan Bunga mengikuti mereka sampai kerumah sakit. Dari pihak rumah sakit segera mengambil tindakan dan segera menangani. Lelaki malang itu kini sudah di periksa oleh dokter yang bertugas pada hari itu.

__ADS_1


"Sayang apakah tadi kamu sempat mencatat nomor kontak dari mereka?" Tanya Mama Tia datar, ketika di rasa keadaan cukup tenang sambil duduk di sebuah kursi yang berderet rapi di pinggir ruangan.


"Ada kok ma."


"Berikan kontak itu pada mama." 


Bunga membuka handphonenya dan segera memberikan kepada mama Tia. Mama Tia kini menelpon seseorang.


15 menit berlalu


Dua orang berpakaian rapi tiba-tiba datang menghampiri mereka berdua.


"Selamat siang Nyonya, apakah tadi Anda yang sudah menelpon?" Tanya seorang pria setengah baya.


"Ya." Mama bunga menjawab


"Terimakasih Nyonya Anda sudah membantu menemukan tuan kami Rio."


"Sama-sama pak."


Pria itu menyalami Mama Tia dan memberikan sebuah kartu nama dari saku bajunya. Mama Tia menerima nya saja dan kemudian kedua pria itu pergi. Mama Tia tersenyum sambil mengelus lembut rambut puteri yang berada di sampingnya itu.


"Bunga ayo kita pulang."


"Tapi ma."


"Ada apa? Apakah kamu masih mengkhawatirkan lelaki itu sayang?"


Bunga terdiam sejenak namun setelah itu ia menggelengkan kepala. Sejujurnya dia enggan untuk pergi entah seperti ada sesuatu yang mengganjal di pemikirannya.


"Ayo." Mama Tia langsung menggandeng pergelangan tangannya.

__ADS_1


"Bung pria itu cuma mirip, ngak mungkinkan Satria yang sudah benar-benar meninggal tiba-tiba hidup lagi." Mama Tia menatapnya.


"Iyalah ma ngak mungkin emangnya Satria bisa hidup lagi." Jawab bunga pelan, sambil balas tersenyum.


__ADS_2