DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 4. Hari Itu


__ADS_3

Masih pagi, Bunga sudah sampai di sekolahnya seperti biasa sebelum masuk ke kelas dia selalu menyimpan beberapa barangnya di loker. Dan lagi lagi dia menemukan sebuah kado istimewa, mungkin di bilang hampir setiap hari berbagai macam kado selalu ada di lokernya. Kali ini si pengirim yang selalu menandai dirinya dengan inisial R, mengirimkan sesuatu yang tak pernah terduga olehnya, responnya cuma tersenyum lalu menutup kembali lokernya. Di dalam benaknya si R itu Reza. Apa mungkin itu benar?


Semangat bangetlah karena pagi-pagi sudah di sambut sama kado dia masuk kelas. Anak-anak sudah banyak yang datang termasuk Rina yang sekarang sudah jadi sahabat dia. Bisa di bilang mama kedua, bawel, peduli dan sayang banget sama dia, Rina menyapanya. 


"Hai Bung. Udah senyum aja kamu pagi-pagi gini."


"Iyalah Rin semangat dong kalau pagi-pagi."


"Eh ada apa? cerita dong pasti habis di tembak Reza ya?" godanya.


"Apaan sih Rin ngak lucu, lagian ngak mungkin juga kan Reza suka sama Aku, dia itu udah punya Veli Rin!"


Rina berbisik mendekatinya.


"Kamu harus percaya diri kalau Reza itu diem-diem suka sama kamu.'


"Rina, Reza itu udah jadi jodoh orang tak mungkinlah, udah ah males."


Rina langsung tertawa.


"Terus kenapa hari ini kayaknya kamu senang banget gitu?"


"Ntar pulang sekolah aku ceritaiin Rin."


"Okey kalau gitu." Sahabatnya itu cuma punya dua ekspresi kalau tak ketawa ya nangis, 


Ada-ada sajakan?


"Eh Bung udah hampir masuk kok kayaknya Reza tak muncul-muncul ya." Matanya terus melihat kearah pintu.


"Terus kenapa?"


"Paling enggaknya bertanyalah."


"Bukan pacar."


"Bener sih."


Dan tak lama kemudian Veli dan kawan-kawan masuk. Tapi beneran Reza tak ada. Udah jam 07.30 wib, Ketika guru bahasa inggris masuk dan ngabsen nama Reza, Veli langsung maju dan ngasiin sebuah amplop. Seperti sejenis surat keterangan dari dokter. Ooh yaa Reza sakit.


Bunga membatin 'Reza sakit apa?'


Jadi selama pelajaran di mulai bunga seperti kehilangan konsentrasi.


Itu dia akui karena rasa sukanya pada cowok itu.


Meski begitu dia selalu merahasiakannya. Walaupun pada Rina sahabatnya sendiri, dia tetap tak pernah mengakuinya. Terkecuali Tuhan dan Mama tersayangnya.


Jam pelajaran sudah berlalu. Rina tiba-tiba beranjak dari tempat duduknya. Bunga hanya memandangnya, sepertinya dia mendekati meja Alfin.


"Fin boleh aku tanya sesuatu?"


Alfin yang kebetulan lagi sibuk beresin buku, langsung berhenti dan menatapnya.


"Boleh Rin mau tanya apa?"


"Reza mana?"


"Eemm jadi ceritanya gini pas kemaren latihan Reza tiba-tiba pingsan terus langsung dibawa kerumah sakit tapi dokter tak bilang dia sakit apa."


"Ooo ada yang perduli ya sama Reza, sejak kapan ya." Veli yang kebetulan agak duduk berjauhan langsung merapat saja. Rina menyeringit.


"Sejak kamu tak pernah sadar kalau Reza itu sepertinya tak suka sama kamu!"

__ADS_1


Veli tersenyum dingin menanggapinya.


"Bilang sama sahabat kamu, jangan pernah mimpi bisa dapetin cintanya Reza tau kamu!" Veli mendorong Rina dengan telunjuk jarinya.


"Udah Vel lagian dia cuma tanyain keadaan Reza aja kok." Alfin mencoba untuk menenangkan keadaan. Bunga yang udah dari tadi ngelihatin kejadian itu ikut mendekat.


"Rin kekantin yuk." Bunga langsung saja pegang tangan Rina dan membawanya keluar.


"Veli itu sok cantik bangets!" Rina ngedumel.


"Rin tak usah di layanin lah cewek begituan."


"Hufff sok perdulilah." Mereka berjalan menuju kantin.


Di kantin sekolah. 


Setelah pesan beberapa snack dan minuman Merekapun duduk di pojok ruangan.


"Bung kamu tak jengguk Reza?"


"Emm kayaknya nanti saja deh Rin."


"Kenapa?"


"Ya hari ini Aku lagi sibuk!"


"Tumben banget Bunga punya jadwal sibuk sejak kapan ya?!"


"Sejak saat ini!" Bunga menjawab sambil tersenyum. "Kamu sendiri gimana?"


"Pengennya nanti sore sih tapi sama kamu."


"Aduh gimana ya."


"Eemm . . Oke deh."


"Nah gitu dong." Pesanan merekapun datang.


Setelah berbincang asyik dan cemilan juga sudah habis mereka akan membayar di kasir.


"Mbak berapa?"


"Di meja nomor 33 ya?"


"Iya Mbak!" Mbaknya tersenyum dan bilang.


"Tadi udah dibayarin."


"Apa?" Rina kayak shock gitu.


"Iya sudah dibayar cash."


"Sama siapa mbak?"


"Dia pesan mbaknya tak boleh beri tahu."


"Yah, Mbak." Langsung saling berpandangan sama bunga.


Sore yang cerah, bunga duduk di teras Rumah. Terlihat Halaman rumahnya tampak indah, di hiasi berbagai macam tanaman bunga yang sedang bermekaran. Semerbak tercium bau harum dan dedaunan seakan tumbuh dengan Riang.


Di dalam hati Bunga berharap hari ini akan berjalan tanpa rasa bosan.


Ceeekleek

__ADS_1


Terdengar pintu di buka, Mama sudah terlihat dari luar. Dia menggunakan baju berwarna pink dan Rok hitam panjang. Tersenyum pada Anak remajanya.


"Bunga."


"Eh, Ma."


"Kamu ngapain di situ?"


"Lagi bosen di dalem, Mama mau shif malam lagi?" Tanyanya


"Iya sayang Kamu tak apakan mama tinggal sendirian."


Bunga hanya mengangguk.  Begitulah Resiko menjadi dokter. Tiba-tiba handphone bunga berdering Rina memanggil.


Tiga puluh menit kemudian. Hujan rintik-rintik membasahi kota itu, mereka berdua sudah sampai di Rumah sakit dan berpisah di jalan yang berbeda. Bunga menuju keruang pasien.


Dia mengintip di kaca pintu Ruang VIP


NAMUN tiba-tiba darahnya berdesir hebat, seketika persendian lututnya lemah. Tangannya sudah memegang gagang pintu. Dia melihat Veli sedang menyuapi Reza sepertinya Reza juga tampak senang. Bunga langsung berbalik arah.


Malam harinya Reza udah dibolehin dokter pulang, tapi sebelum pulang dia bertanya pada perawat yang berjaga pada sore itu.


"Sus boleh tanya?"


"Iya dek mau tanya apa?"


"Daftar yang membesuk saya apa ada nama nya bunga?"


"Ioh ada dek tadi sore sekitar jam 17.00 gitu lah.


"Ooh gitu ya sus makasih ya sus."


Reza berjalan keluar papanya sudah menunggu di dalam mobil. Dalam hati Reza senang akan tetapi dia juga bertanya kenapa bunga tak masuk kedalam ruangnya.


KEESOKAN HARI


Reza sudah kembali untuk bersekolah


Tapi sepertinya bunga mengabaikannya dia cuek seakan tak perduli. Tak menegur ataupun menyapa. Reza seakan tahu kalau bunga tersinggung padanya. Ketika berada didalam kelas Reza menyobek sedikit kertas dan setelah itu menulis sesuatu, kemudian dia lemparkan ke meja bunga. Menyadari hal itu bunga sepertinya benar tak perduli dia buang kertas itu di tempat sampah. Dan waktu pulang sekolah tiba


Biasanya setiap hari mereka selalu pulang bersama tapi kali ini Bunga pergi duluan. Dia sedang berjalan bersama Rina.


"Bunga!" Panggil Reza


Tapi bunga tak merespon. "Temuin aku di taman belakang." Ucapnya lagi.


"Udah sana pergi bung." Rina menyenggol bahunya. Awalnya bunga diem saja tapi akhirnya pergi juga.


DI TAMAN.


Suasana sejenak sunyi. Tapi Reza mencairkannya.


"Ooh iya sorry kemaren aku tak beri tahu kalau aku masuk rumah sakit."


Bunga masih diam. Reza tiba-tiba mengeluarkan bunga mawar dari saku celana nya.


"Ini special buat tuan putri, Mohon di terima." Dia mengulurkan mawar itu tak lupa senyum manisnya. Jujur bunga tak bisa marah tiap kali cowok itu tersenyum. Senyum yang terlalu sulit buat dilupaiin. "Ini tanda maaf aku ke temen terbaik aku.' Ucapnya lagi.


Bunga membatin. 'Rez jujur waktu itu aku beneran cemburu tapi aku sadar siapa aku di mata kamu.'


"Oke, Aku terima ya."


"Makasih, jangan lupa senyumnya." Jawab cowok itu. Tak terasa hari sudah sore mereka akhirnya pulang bersama. 

__ADS_1


__ADS_2