DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 53. Debaran Di Dada


__ADS_3

"Nona, permisi saya harus mengangkat telpon." Ucap nya sopan.


"He'em."


Bunga mengangguk sambil memperhatikan punggung lelaki itu yang semakin menjauh.


"Bunga, apa kamu mengenalnya?" Tanya Reza pelan.


Bunga menggeleng, sambil membuka kotak p3k dan segera membersihkan darah yang menempel di wajah Reza.


"Aku yakin dia pasti bukan orang jahat." Bunga perlahan menempelkan sebuah kapas di wajah Reza.


"Auuwh pedih." Reza meringis seperti anak kecil.


"Diamlah Rez."


"Tapi ini sakit Bung."


"Iya Aku tahu."


Bunga lebih serius lagi. Akhirnya Reza terdiam, menikmati setiap sentuhan dari tangan Bunga.


'Ya ampun Bung jantungku bisa saja berhenti mendadak karena melihat pesona di wajah cantik mu.' Reza membatin dalam hati.


Dia benar-benar jatuh cinta pada perempuan itu. Sayang nya kenapa harus Rio yang memiliki serta berada di dekatnya.


"Reza kenapa kamu memperhatikan wajahku sampai segitu nya?" Tanya Bunga pelan, ia masih serius pada pekerjaannya. Lamunan Reza ambyar.


"Eeh tidak apa-apa, maafkan Aku jika kamu merasa tidak nyaman dengan pandanganku." Jawab Reza panik.


"Hem." Hanya jawaban itu yang keluar dari bibir manis milik Bunga.


"Oke selesai, kamu bisa istirahat sekarang," ujarnya lagi.


Reza tersenyum sambil mengangguk. "Terima kasih."


Bunga membalas senyum nya dan kemudian beranjak bangun, berjalan, hendak melihat Pria tadi.

__ADS_1


"Aku sudah membereskannya."


Pria itu bersandar pada sebuah dinding yang ada di luar apartemen sembari menempelkan ponselnya di telinga. Matanya mengawasi di sekeliling.


"Ya Aku akan pulang sekarang." Lanjutnya datar.


Tak sengaja mendengar percakapan itu langkah Bunga langsung terhenti di balik pintu. Ada sejuta keraguan di dalam hatinya. Dia diam terpaku, mencoba mencerna pembicaraan yang baru saja ia dengar. Pria itu tiba-tiba saja masuk kembali, serta mendorong pintu yang sedikit terbuka, Bunga terkejut. Namun respon lelaki di hadapan nya sungguh tak terduga, dia malah tersenyum, melirik arloji di tangan kanan nya.


"Nona, ini sudah larut malam, saya harus pulang." Dia membungkukkan badan.


"Eeh tunggu dulu."


"Ada apa Nona?" Dia menatap wajah Bunga sekilas.


"Siapa nama kamu?"


"Aku Alex Nona, rumahku tak jauh dari sini dan kebetulan Aku hanya lewat. Permisi Nona." Jelas nya. Dia langsung memutar langkah untuk pergi.


"Terima kasih."


Bunga balik membungkuk kan badan. Alex mengangguk, lalu menghilang.


Bunga mengambil ponsel di atas nakas, membuka aplikasi galeri, jari-jari lembutnya menggeser dengan lihai nya. Dia hanya merasa rindu dengan wanita yang ia panggil Mama, mendengar suaranya dan bahkan menangis di pelukan nya. Dia berusaha mempositifkan pikiran nya. Hatinya kesal dan marah, selama hampir beberapa hari mereka berpisah namun Rio tak pernah menghubungi nya, apakah Rio si hati es itu benar-benar marah? Aah... Dia pikir Rio itu lelaki macam apa. Lebih tepatnya tak bertanggung jawab menurutnya.


Bunga mengkerutkan kening nya sedikit, tiba-tiba perutnya terasa sakit dan semakin lama semakin mual saja, ia pun buru-buru berlari ke toilet.


"Hoeekk... Hoeek..."


Dia seperti ingin sekali muntah akan tetapi tidak ada sedikit pun makanan yang keluar. Bunga menarik nafasnya panjang, tangan nya memutar kran washtafel. Terlihatlah air yang mengalir deras, Bunga menadah tangan, air itu terasa sejuk menusuk-nusuk kulit, lalu ia basuhkan pada wajah lelahnya. Di pandangi lekat gambar wajahnya di cermin. Ia pejamkan mata nya sejenak, mencoba menenangkan keadaan. otaknya melayang-layang pada kenangan masa lalu nya.


Ya, kenangan bersama seorang lelaki yang teramat ia cintai, siapa lagi jika bukan lelaki bernama Satria. Tenggorokan nya serasa kering karena menahan sesuatu yang ingin sekali keluar dari ujung matanya. Buliran air itu kini jatuh, menetes sangat deras. Ia tak bisa menghentikan nya. Menangislah ia sendiri.. sesuguk-kan pilu.


"Sat kenapa kamu tinggalin Aku, hidupku, cintaku, masa-masa indah bersama mu. Semua nya hanya mimpi kenapa?" Bunga mengusap airmatanya pelan.


"Kamu tahu sekarang? Aku benar-benar sudah menikah. menikah dengan pria yang sangat mirip dengan wajahmu, tapi dia menelantarkan Aku seperti ini, dia tak perduli padaku, apakah cinta itu hanya kebohongan besar jika ia, tolong bunuh rasa cintaku, agar cintaku ikut mati terkubur bersama jasadmu."


Air matanya menetes lagi.

__ADS_1


"Aku lelah sat lelah bahkan sekarang hidupku sangat tak berharga di matanya. Dia pikir dia itu siapa? Aku bukan perempuan murahan yang bisa di beli dengan uang, Aku isteri nya tapi dia membayarku karena telah tidur bersama nya, apakah Rio itu bodoh!" Bunga menangis sambil berpura-pura kuat untuk tertawa.


KEESOKAN HARI NYA.


Suasana di dalam kamar Rio masih sunyi, tak seperti biasa Rio bermalas-malasan seperti ini, padahal sekarang adalah hari pernikahan Briyan. Namun rasa nya ia tidak ingin bangun melihat dunia.


"Sayaangg," ucap Rio lirih sambil meraba-raba tempat tidurnya yang kosong. "Sayang kondisi tidurku sangat buruk, apa kamu tak merindukan Aku?" Racau nya memelas. Rio bergerak memiringkan tubuhnya kesamping.


LALU..


GEDUBRAKKK.


Tubuh tegap nya terjatuh di atas lantai dengan kerasnya. "Auuwh... Sial, Aku hanya bermimpi ! Desahnya meringis menahan sakit di badan nya.


Cckk Cckk 


Terdengar suara kikik-kan dari seseorang. Rio langsung menoleh keatas.


"Kamu Benikno!" Tegasnya panik.


"Selamat pagi Tuan." Sapa Asisten Pribadinya penuh hormat, sambil membungkukkan badan. Benikno masih menahan tawa.


"Aah sejak kapan kamu berada di kamarku, lalu bagaimana kamu bisa masuk?" Tanya Rio keheranan.


"Anda tidak mengunci pintunya Tuan."


"Dasar kamu tak punya sopan santun." Bentak Rio datar, seperti biasa wajahnya selalu dingin. "Aku bisa saja memecatmu!"


"Ah jangan Tuan, maafkan Aku, jika Anda memecatku bagaimana nasibku selanjutnya tuan, Aku adalah sebatang kara yang menggantungkan hidupku pada tuan, Aku bisa menjelaskan nya Tuan, tadi Aku sudah mengetuk pintu, Akan tetapi Anda tak juga menjawab, Aku menjadi sangat khawatir pada Anda Tuan."


Rio beranjak bangun dari lantai dan duduk di tepi sprimbed.


"Aku tidak apa-apa benikno." Jawab Rio tenang. Namun belum lama ia berucap begitu. tiba-tiba saja keluar darah segar dari dalam hidung nya.


"Tuan."


Rio buru-buru menutup hidungnya dengan telapak tangan, sementara Benikno bergegas mengambilkan Tuan muda nya Tissue. Rio perlahan mengelapnya.

__ADS_1


"Sudahku duga Tuan, Anda terlalu banyak minum bir tadi malam. Akibat nya hidung anda mengeluarkan darah, bukankah Anda benar-benar alergi terhadap bir, tapi Anda memaksakan diri untuk meminumnya." Omel Benikno pelan.


Wajah Rio tak pernah berubah meski baru bangun tidur, masih terlihat sangat tampan dan sangat mempesona. Wajar saja jika Via terus saja mengejar-ngejarnya.


__ADS_2