
KEESOKAN HARINYA.
Rio ataupun Bunga sudah mengenakan pakaian yang rapi, saat itu jam menunjukan pukul 06:30pm. Hari ini Bunga telah berjanji akan menemui Tante Yuni di sebuah restoran. Sudah lama sekali ia tak pernah mengabari semenjak Bunga berada di Jepang. Dia tak bisa menjelaskan secara detail. Yang dia tahu, Bunga telah menganggap Tante Yuni sebagai ibu nomor dua. Dia merasa sangat nyaman, aman, tenang dan penuh kehangatan. Bunga hampir tak bisa membedakan antara Mama Tia dan Tante Yuni.
Rio serta Bunga turun dari tangga kamarnya, mereka berdua langsung melihat kedua wanita yang sangat menikmati hidup mereka. Itu adalah Via dan Oma Naomi mereka tengah berbincang- bincang, Riopun mendengus pelan. Sementara Bunga menatapnya saja.
"Hei, Kalian sudah kembali?" Via menoleh.
"Iya."
"Ouh.. Ku pikir kamu tidak akan pulih secepat ini." Via tersenyum sinis.
Namun tiba-tiba saja Rio segera menarik tangan Bunga dan membawanya keluar ruangan. Sekarang mereka telah berada di teras, hati Rio hanya gusar. Bahkan rasanya dia tak ingin melihat perempuan licik itu.
"Rio, apa yang telah kamu lakukan? kamu sangat tidak sopan, bukankah Via sedang berbicara dengan kita."
"Aku tidak suka kamu meladeni perempuan licik itu." Rio menatapnya tajam.
"Kenapa?"
"Ya Aku tidak suka saja, kulihat dia benar- benar tidak tulus berbicara denganmu. Aku juga tidak mau dia mencelakaimu lagi!"
"Ah sayang cobalah untuk selalu berpikir positif pada tingkah laku orang lain, Aku tahu Via tidak benar- benar ingin mencelakaiku."
"Kamu masih percaya padanya, bahkan kamu hampir saja mati tenggelam karena dia."
__ADS_1
"Sayang itu salahku sendiri, malam itu Aku terlalu tidak berhati-hati sehingga tanpa sengaja kakiku terpeleset."
"Benarkah? Lalu kenapa dia hanya terdiam memperhatikanmu? Padahal setahuku Via itu bisa berenang."
"Sudahlah sayang lupakan, itu sudah berlalu."
"Apa kamu lebih percaya dia dari pada Aku?"
Rio terus menatapnya intens.
"Sayang sudahlah Aku tidak ingin berdebat, itu hanya perasaanmu saja." Bunga mengalihkan pandangannya ke lain arah.
Rio semakin menggenggam erat tangan Bunga.
"Sayang kamu terlalu egois. Sehingga membuatmu mengalami ketakutan yang berlebihan."
"Katakan padaku dengan jujur, apa kamu benar-benar mencintaiku?"
"Kenapa pertanyaanmu lucu sekali?"
"Jawab saja."
"Lain kali akan ku jawab. "
"Aku menginginkannya sekarang."
__ADS_1
"Tanyakan pada hatimu sendiri jika begitu, menurutmu perasaanku bagaimana?" Bunga tertunduk, ia tak memiliki keberanian untuk terus menatap pria dihadapannya. Terlalu sulit.
Cuuuppp
Tanpa basa- basi Rio langsung menangkup kedua belah pipi merah Bunga dan menciumnya dengan lembut. Kedua mata Bunga seketika melebar. Rio tak perduli di mana saat ini mereka berada, dia hanya merasa kesal pada pemikiran polos Bunga. Jelas- jelas Via itu bukan perempuan baik-baik masih saja ia membantahnya.
"Rio... Lepaskan Aku!" Buru- buru Bunga mendorongnya. "Kamu selalu saja mencuri ciuman, kita sedang berada di tempat umum Rio, para pelayan bisa saja melihat tingkah kita seperti ini." Bunga mengkerutkan dahinya.
"Siapa yang berani membantahku?" Celetuknya sinis.
"Kamu pikir tidak akan ada orang yang berani membantahmu?"
"Tentu saja tidak ada."
"Sombong!" Bunga langsung melangkah, namun Rio menariknya.
"Kamu mau kemana?" Tanyanya datar. Bunga tak menjawab. "Kamu lupa bahwa kamu memiliki janji dengan ibu angkatmu. Kenapa kita tidak pergi sekarang saja, lagi pula tempat yang akan kamu datangi adalah restoran, kita bisa membeli sarapan di sana kan?"
"Baiklah," ucap bunga akhirnya.
"Tunggu di sini, aku akan mengambil mobil."
Riopun melangkah meninggalkan isterinya, Bunga hanya mengangguk sambil mendudukan pantatnya di sofa teras.
Tak lama kemudian, Rio datang dengan membawa mobil putih miliknya. Bunga bergegas masuk. Pagi ini terasa sejuk, walaupun matahari sedikit menampakan cahaya kuningnya namun masih saja dingin. Bunga merapatkan kedua tangannya, Rio yang melihatnya menjadi penasaran.
__ADS_1