DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 37. Sikap Briyan


__ADS_3

Sarapan pagi telah selesai sejak beberapa menit yang lalu.


"Kak, Apakah hari ini kamu akan masuk kerja?" Tanya Briyan, ketika Rio memposisikan dirinya untuk berdiri menuju pintu luar. Sementara di belakang ada Bunga dan Benikno.


"Iya, Aku harus menunda honey moon ku terlebih dahulu, karena hari ini ada meeting penting." Rio menjawab dengan tegas.


"Penting? Apakah itu sangat penting sekali? harusnya kamu mengenyampingkan pekerjaan kantor mu dulu kak, Karena honey moon ini hanya sekali saja Kak."


"Ku rasa honey moon itu, tidak hanya di lakukan untuk pertama menjadi pengantin baru saja. Ada begitu banyak waktu untuk memulainya."


"Ah Kak itu pemikiran yang selalu monoton, pergilah berbulan madu, kamu bisa memerintahkan asisten pribadi mu untuk menyelesaikan segala urusan kantor. Bukan kah begitu Benikno?"


Yang di tanyai hanya mengangguk.


"Aku tidak bisa Briyan. Pekerjaanku benar-benar penting."


"Ya sudah jika memang itu keinginan Kakak." Jawab Briyan mengalah, dia tak ingin berdebat terlalu lama dengan Kakak tampan nya ini, sudah pasti dia tidak akan memenangi perdebatan.


"Bunga Aku pergi dulu, 2 jam lagi Aku akan menelpon mu. Ingat pesanku jangan pergi tanpa seizinku, jika kamu menentangnya Kamu akan tahu sendiri akibatnya." Rio memandangi isterinya dan meninggalkan beberapa pesan yang harus Bunga patuhi, Serta Kecupan singkat mendarat pas pada kening Bunga.


Perempuan itu hanya mengangguk. Memandangi Rio yang sudah melangkah meninggalkan nya, di ikuti Benikno.


"Hah. Menyebalkan. Ku pikir itu adalah keromantisan yang kaku, Apakah Rio membuat dirimu senang kakak ipar?" Briyan tiba-tiba memandang sinis kearah Bunga yang tengah berdiri.


"Apa urusan mu."


"Haha.... Tentu saja Aku harus tahu." Briyan tersenyum lebar.


Dengan raut wajah yang tak suka, Bunga melangkah hendak meninggal kan Briyan.


Namun.... 


"Tunggu kakak ipar, pembicaraanku masih belum selesai. Duduk lah sebentar, temani Aku." Briyan menarik tangan Bunga.


"Lepaskan Aku Briyan. Tidak ada yang harus kita bicarakan!" Bunga berusaha menarik pergelangan tangan nya, akan tetapi Briyan menggengam nya sangat erat.


Lelaki itu tersenyum bringas.


"Wajah mu cantik sekali kak, sayang nya kamu tak memiliki tubuh yang seksi."


"kamu sangat kelewatan Briyan. Lepaskan Aku, jika kamu berani macam-macam Aku tidak akan memaafkan mu." Ancam Bunga tegas.


Dia tak pernah menyangka bahwa Briyan akan bertindak tidak sopan kepadanya.


"Oo... Sungguh lemah sekali tangan mu kak. Apa selama ini Bang Rio selalu memanjakan mu atau mengasari mu?"


"Jaga mulut mu Briyan, Kamu terlihat sangat menjijik kan!"


"Huem...benarkah? Selama ini belum pernah ada satu wanita pun yang menolak pesona seorang Briyan. Dan kamu berbeda, aah Aku jadi penasaran, Aku ingin sekali menggigit bibir mu itu dan memberimu sedikit pelajaran. Bahwa makian mu itu salah." Jawab Briyan pelan.

__ADS_1


"Tutup mulutmu Briyan kamu tidak sopan kepada kakak iparmu!" Bentak Bunga tinggi, sambil terus menyentak tangan nya agar lepas dari genggaman Briyan.


"Berapa umur mu? Aku menghargai Kamu karena kamu adalah isteri Kak Rio."


"Ngak ada untungnya Aku memberi tahu umurku. Jadi jangan berpikir kamu akan menindasku seenaknya, sekarang juga lepaskan tangan ku Briyan." Nada suara Bunga terdengar meninggi.


Tapi siapa yang perduli, semua pelayan di sini sangat takut kepada tuannya. Tentu saja jika mereka melihat sesuatu yang menentang, mereka tidak akan berani mencegah. Dunia ini memang terasa kejam, jika nyawa tak memiliki harga sama sekali di mata orang-orang berkuasa atas harta yang melimpah.


Briyan langsung melepaskan nya.


"Aku tidak akan melepaskan mu begitu saja. Sebelum Aku menidurimu." Ancam Briyan kejam.


Dan menumbuhkan rasa ketakutan di dalam hatinya. 'Apa salahku, kenapa dia menginginkan tubuhku ini. Bukan kah itu menjijikan.' Bunga membatin.


Briyan berlalu dari hadapan Bunga.


Lelaki itu berwajah rupawan, berhidung mancung, kedua matanya tajam, bertubuh tinggi besar. Sama sekali tidak memiliki kemiripan dengan wajah dingin Rio.


Dikantor.


Mobil yang biasa di gunakan oleh Rio tersusun rapi di sebuah area parkir di gedung perusahaan nya. Plang besar bertuliskan huruf jepang terpampang di atas gedung itu.


"PT XEN ZHIN GROUP"


Sebuah Perusahaan yang bergerak pada bidang pembangunan. Jam menunjukan pukul 07:30 waktu setempat. Para Karyawan mulai absen kehadiran dengan alat yang di sediakan oleh kantor. Ruangan kantor mulai ramai, karena karyawan-karyawan memasuki ruangan dan terdengar suara bergemuruh. Sekelompok pekerja yang telah datang, lebih memilih bersenda gurau dengan beberapa teman. Sambil menunggu jam masuk kerja.


RUANGAN KANTOR seketika menghening dan para karyawan menempati tempat duduk nya masing-masing karena Rio Xen Zhin pimpinan PT. Xen Zhin Group telah datang. Semua wanita terpesona akan ketampanan yang terpancar jelas di wajah Rio.


Sapa mereka berbarengan.


"Pagi!"


Jawab Rio singkat.


"Asuka apakah Oishin sudah datang? kenapa Saya tak melihatnya?" Tanya Rio tegas ketika langkahnya terhenti di depan sekretaris Asuka.


"Belum Pak."


"Jika dia datang perintahkan dia keruangan saya."


"Baik Pak." Jawab Sekretaris Asuka sambil menundukan pandangan. Dia tak berani menatap wajah tampan Rio, itu terlalu menggetarkan nya.


Rio Xen Zhin Pun berlalu dari hadapan mereka semua.


30 menit kemudian.


Seorang Karyawan tergesa-gesa memasuki ruangan, dia menghentikan langkah kaki nya dan mencoba mengatur nafas.


"Ya ampun Oishin kamu terlambat lagi?" Tanya Sekretaris Asuka melototi nya.

__ADS_1


"Iya tadi ban mobilku bocor." Jawabnya sambil mengatur nafas.


"Kamu di panggil pak Rio keruangan nya."


"A-Aku?"


"Iyalah, kok kamu kayak gugup gitu sih. Tenangin dulu nafasnya."


Huff....


Oishin menghirup nafas dengan sangat panjang.


"Aduhhh... Sial banget Aku. Bisa mati mendadak nih karena di omelin Pak Rio." Ucap nya tegang.


Kemudian Oishin berjalan menuju ke ruangan Direktur. Ketika telah sampai di depan pintu dia mengetuk dengan ragu-ragu.


Tok. . Tok. .


Akhirnya pintu di ketuk juga.


"Masuk!" Jawab Rio dari dalam.


"Permisi Pak, bapak memanggil saya?" Tanya nya sambil tersenyum manis.


"Iya silahkan duduk ! hari ini kamu terlambat berapa menit?" Tanya Rio sambil terus menatap nya tajam.


"30 menit Pak." Jawab Oishin pelan.


"Sudah berapa kali dalam seminggu ini kamu terlambat. Kamu tidak punya jam di rumah !


"Punya Pak dan saya 2 kali terlambat."


"Kamu tahu ini hari apa?"


"Selasa."


"Ini baru hari selasa tapi kamu sudah terlambat 2 kali. Mau terlambat berapa kali memang?"


"Eum Maaf Pak, tadi saya sudah berangkat pagi tapi tiba-tiba saja ban mobil saya bocor, dan akhirnya saya terlambat." Jawabnya membela diri.


"Oke saya maafkan, besok dan seterusnya jangan terlambat lagi. Sekarang mana laporan yang saya minta minggu lalu, sudah selesai ?


"Sudah Pak tinggal di print out saja."


"Baik, satu jam lagi serahkan kepada Saya. Sore ini akan ada rapat dadakan."


"Iya Pak, Saya permisi dulu." Oishin beranjak bangun dari tempat duduknya. Dan keluar ruangan.


Rio tampak memijit kening nya pelan. Entah mengapa akhir-akhir ini dia merasa pusing karena memikirkan pekerjaan kantor yang terus menuntut nya untuk bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar lain. Dia seperti kehilangan sesuatu yang berharga tapi Rio tak mengerti kegelisahan apa itu.

__ADS_1


TOK. . TOK. .


Ketukan keras mengejutkan nya.


__ADS_2