
"Apa kamu lega sekarang?" Tanya Rio setelah tenaga nya terkumpul.
"Ya, Aku lega sekali, terimakasih udah gendong Aku sampai kamar." Jawab Bunga datar. Namun wajah nya terlihat manyun. "Oh iya, Aku masih penasaran soal kamu tahu keberadaanku di caffe itu, siapa yang sudah memberitahumu?"
"Tidak ada." Rio mengangkat sebelah alisnya.
"Lalu?"
"Tanya kan sendiri pada diri mu."
"Maksud mu apa Rio?"
"Apa perlu aku menjawabnya dengan jujur? Aku kan sudah bilang bahwa kau adalah perempuan bodoh."
"Apa-apaan kamu ini ! Dasar angkuh." Bunga menampakan kemarahan di wajah nya, namun lelaki itu cuma tersenyum sinis.
"Kenapa kamu menjadi marah? seharusnya Aku yang marah, karena kamu telah menemui si Reza tanpa seizinku."
"Kamu cemburu, kukatakan sekali lagi Aku dan Reza hanya berteman, kami juga tidak memiliki hubungan apa-apa. Kenapa kamu harus merasa cemburu?"
"Aku hanya takut kamu akan jatuh hati kepada nya."
"Oh ya, kenapa tiba- tiba kamu merasa takut?"
"Suami mana yang tidak takut jika isteri nya dekat dengan lelaki lain. Kamu ini seperti anak kecil. Sekarang Aku ingin bertanya pada mu, dengarkan baik - baik, Apa kamu pernah jatuh cinta?" Tanya Rio bernada suara pelan.
"Kenapa kamu ingin tahu? kamu mencoba mengungkit masa lalukan? Dan Aku tidak akan mengatakan apa pun."
"Hei... Apa salahnya jujur, apakah dengan kejujuran ini, hatimu tersakiti? kenapa? masa lalu memang masa lalu, jika itu pahit kau tak perlu mengenang nya atau menyalahkan hidupmu terus menerus." Bantah Rio panjang lebar.
"Aku tidak ingin mengingat nya. Aku ingin hidup pada masa depanku." Bunga menjawab dengan mata berkaca-kaca. Rio Xen Zhin kini menatap tajam kearah Bunga. Kenapa ia semakin penasaran akan masa lalu Bunga.
"Kamu menangis, ah kenapa begitu cengengnya dirimu?" Rio mendekati Bunga, dan mengangkat dagu itu dengan pelan. "Apa kamu sedih? Sekarang masa lalu itu sudah tertinggal jauh. Katakan good bye untuk masa lalu mu."
"Jika begitu kenapa kamu sangat ingin tahu masa lalu ku?"
Rio tersenyum.
__ADS_1
"Baiklah jika kamu keberatan, Aku tidak akan bertanya. Sekarang tidurlah." Rio langsung mengecup bibir Bunga dengan hangat. Kali ini tak ada penolakan dari Bunga, seperti nya Bunga semakin terbiasa mengimbangi setiap kecupan yang di berikan Rio. Rio Xen Zhin melepaskan kecupan itu dan berkata. "Good night dear, Sweet dream." Dia pun bangkit menanggalkan pakaian yang ia kenakan. Dan ikut membaringkan tubuhnya.
Suasana malam itu terasa dingin serta sunyi. yang terdengar hanyalah suara jangkrik. Bernyanyi-nyanyi dengan bahasa nya sendiri.
Rio masih merasa gelisah, dia tidak bisa tidur malam ini. 'Apa yang sebenarnya Bunga sembunyikan dariku, kenapa Aku merasa bahwa dia bukan sekedar berteman dengan Reza. Lalu apa? mantan? tapi tidak kutemukan inbok pribadi nya berbalas chat menggunakan kata-kata mesra layaknya kekasih? Uh... Aku melupakan sesuatu. Harus nya tadi kubaca lebih banyak inbok di facebook Bunga. Ah Rio kau bodoh! Aku tidak habis pikir. Ada apa dengan diriku? Aku hanya tidak rela jika Bunga berdekat-dekatsn dengan pria itu. Reza, wajahnya juga tak kalah tampan.' Batin Rio terus berperang dengan perasaan nya sendiri. Lalu dia pun mencoba untuk memejamkan mata nya.
Keesokan hari nya.
Bunga bangun lebih awal, dia langsung menuju ke dapur.
"Good morning bi." Sapanya penuh semangat.
"Eh pagi Non, udah cantik aja pagi-pagi begini Non."
"Iya lah Bi, pengantin baru kan harusnya begitu, pas suami cium langsung nempel deh bibirnya."
"Wah bahasa Non sekarang udah lebih hot's ya. hehe." Tawa Bi inah memecah keheningan pagi itu.
"Ahh . . Bibi apaan sih, jadi malu Bunga." Posisi Bunga semakin dekat dengan asisten di rumah nya itu.
"Alahhh... Non biasa aja, emang nya bibi siapa? kayak orang lain aja." Jawab Bi ina lugu.
"Kenapa tanyain Mama? Rindu ya? kan udah ada pengganti Mama tuh."
"Ah Mama apaan sih." wajah Bunga seketika memerah. "ngak sama tau Ma." Bunga berjalan mendekati Mama Tia, serta memeluknya.
"Ngak sama gimana? malahan lebih enak sama Rio kan. Ngak cuma hanya sekedar pelukan tapi wik. . . wik juga." Mama Tia terkekeh mengguraui anak semata wayang nya.
"Ah Mama, ikutan mesum." Bunga manyun.
"Apa nya sih yang mesum? itu hal yang sudah lumrah loh, ngak ada yang bisa mempungkiri. Semua orang normal jika menikah memang harus begitu." Bantah Mama Tia pelan.
"Iya Non, betul kata nyonya. Bibi saja, pengen kembali ke masa lalu lagi Non. he he. . Tapi ya lagi-lagi itu hanya kenangan, lagian suami bibi juga sudah lama pergi menghadap sang Kuasa." Bibi tiba-tiba curahin isi hati. di sampul sedikit senyum.
"Ya udah Bi, ngak usah sedih, bibi kan bisa menikah, kalau mau." Bunga memberi saran.
"Ngak deh Non, bibi kan orang nya setia. Lagian ni ya Non, siapa juga yang mau sama bibi."
__ADS_1
"Loh kok gitu bi, ngak usah merendah diri lah Bi, Bibi masih cantik kok. Iya kan Ma." Tanya Bunga menoleh wajah muda milik Mama Tia.
"Iya, betul."
"Tu kan Bi, betulan Bunga ngak salah."
"Iya, Non Bunga memang ngak salah, Bibi cantik tapi Bibi mandul Non."
"Mandul?"
"Iya Non, selama 20 tahun Bibi menikah Bibi sama sekali ngak punya anak, tapi suami Bibi di suruh nikah ngak mau, sampai meninggal."
"Oh gitu, Maafin Bunga ya Bi kalau udah ngingetin ke masa lalu nya bibi."
"Ngak apa kok Non, Bibi malahan seneng bisa berbagi cerita." jawab Bi inah merasa senang.
Bunga dan Mama Tia hanya tersenyum...
setelah itu, mereka duduk di meja makan.
"Rio mana Bung?"
"Tadi udah Bunga bangunin sih, lagi mandi kali." Bunga menjawab pelan.
Mama Tia masih tersenyum.
"kamu bahagia ajakan menikah sama Rio?"
"Sedikit."
"Kok sedikit sih." Mama Tia mengkerutkan kening nya karena heran. Selama ini dia sudah sangat senang, karena Bunga menikah dengan seorang lelaki yang 99% mirip Satria.
"Iya, Soalnya kan Bunga baru beberapa hari kenal sama dia, lagian kita juga ngak pakai acara pacaran juga. Jadi nya pelan-pelan deh."
"Iya sih, rencana nya kalian mau honey moon ke mana?"
"Ngak tau mah Rio." Jawab Bunga sambil menuangkan teh ke dalam gelas.
__ADS_1
Tiba-tiba yang di omongin datang. Mama Tia pun menyapa menantu satu-satunya itu.
"Eh, panjang umur. Di omongin langsung muncul, ayo Rio sarapan dulu." Ujarnya pelan. Rio pun tersenyum sambil menggeser kursi makan.