
"Anda mau Dokter? ambil lah untukmu. Namun, Aku tak memberinya secara gratis. Anda harus melakukan sesuatu untuk Aku tentunya." Via tersenyum sinis, sambil terus menatap tajam kearah Dokter Andi.
"Apa yang harus Aku lakukan?" Tanya Dokter itu penasaran.
Dengan gaya santai Via kemudian beranjak dari tempat duduknya hendak melangkah mendekati Dokter Andi. Setelah posisi mereka berdekatan, Via langsung berbisik kecil di telinga dokter Andi.
"Aahh... Apa Anda sedang bercanda Nona?" Dokter Andi terkejut sembari menatapnya tak percaya.
"Itu terserah pada Anda dokter Andi, jika Anda menginginkan uang ini, Anda harus bersedia melakukan perintah yang ku bisik kan tadi dan uang ini hanya uang muka, Aku akan menambah dua kali lipat dari ini." Via melangkah pelan, sambil mendudukan pantatnya di kursi.
"Baiklah Aku akan memikirkan nya." Jawab dokter Andi tak kalah pelan.
"Oke, pikirkan dengan baik- baik, Aku akan menunggu keputusan mu selama 24 jam dari sekarang." Via menghela nafasnya panjang, lalu beranjak dari kursi.
Dokter Andi menatapnya terheran, seolah- olah memikirkan sesuatu. Perempuan berbaju casual itu kini tersenyum, ia berjalan dengan gemulai dan tetap meninggalkan uang di atas meja dokter Andi.
Via membuka pintu seakan tak pernah ada rencana busuk yang ia pikirkan. Ia menyusuri koridor di rumah sakit, jejaknya pun menghilang di persimpangan.
Setelah kepergian Via, Briyan yang tengah terpojok di dinding segera menampakan wujudnya.
CEKLEK...
Pintu ruangan dokter Andi terbuka lagi. Lelaki berwajah setengah baya kini terkejut dan buru- buru menyembunyikan amplop cokelat dari atas meja.
"Selamat Pagi dokter Andi?" Tanya Briyan pelan.
"Pa..Pagi Tuan Briyan." Jawabnya sedikit gugup.
"Ada apa dengan wajahmu dok? kenapa seperti orang yang habis di kejar- kejar hantu? Aahh... Apakah Anda sakit dok? kenapa terlihat pucat?" Briyan bertanya sambil mengerutkan dahi nya kecil.
Dokter Andi tak menjawab, ada rasa gugup yang ia sembunyikan sejak tadi. Langkah kaki Briyan terus mendekatinya.
"Kenapa Anda tak menjawab dokter? Apakah dugaanku benar? Atau Anda sariawan?"
"Tidak ada apa-apa Tuan." Dokter Andi menatapnya takut- takut.
__ADS_1
"Oke. Lalu apa yang baru saja Anda sembunyikan? bolehkah Aku melihatnya?" Briyan semakin membuatnya tertekan.
"Sudah ku katakan pada Anda Tuan, tidak ada apa- apa." Jawabnya penuh percaya diri meski hatinya di selimuti ketakutan yang luar biasa.
"Berikan amplop itu ! Briyan langsung membentaknya.
"Tidak ada."
"Apakah Anda ingin Rio memecatmu, ingatlah dok, Anda adalah salah satu staff di rumah sakit ini yang di gaji besar. Apakah Anda ingin pekerjaan mulia Anda berakhir sia- sia?"
"Apa maksud Anda Tuan, Aku tidak melakukan apa pun bertentangan dengan pihak rumah sakit, apakah Anda memfitnahku? Dokter Andi tersenyum sinis.
"Jangan bohong dok. Jika Anda tidak ingin menyerahkan amplop itu, Aku akan benar- benar melaporkan mu pada Rio. Bahwa Anda telah menerima uang suap!"
"Astaga..." Dokter Andi pura- pura terkejut.
"Di saat seperti ini Anda masih ingin berbohong, Aku sudah tahu apa yang kalian rencana kan."
"Tuan Anda jangan salah paham dulu." Dokter Andi berusaha menyakinkan nya. Namun Briyan tetap teguh pada pendirian nya.
"Ya, aku tidak mengatakan bahwa Anda gila."
"Sudahlah jangan banyak basa- basi, cepat serahkan amplop cokelat tadi."
"Tuan..."
"Serahkan dokter!"
Dokter Andi terdiam.
"Ooh... Baiklah jika Anda tidak ingin menyerahkan nya, jangan sampai Anda menyesal nantinya...!! Briyan semakin bringas dan akan pergi meninggalkan dokter Andi yang masih terpaku.
"Tuan... Baiklah Aku akan menyerahkan nya tapi ku mohon rahasiakan hal ini dengan Tuan Rio."
"Ya, aku akan bungkam jika Anda ingin mengatakan yang sebenarnya." Briyan tetap diam pada tempat nya, sambil memutar badan nya menatap dokter Andi kembali.
__ADS_1
"ini Tuan..." Dokter Andi menyerahkan amplop berwarna cokelat dari saku baju nya. Briyan langsung mengambil nya dengan cepat dan tersenyum kecut ketika melihat tumpukan Uang.
"Via memerintahkan mu untuk melakukan apa dokter? apa dia punya rencana buruk pada Bunga, apa itu katakan." Tanya Briyan bernada datar.
Dokter andi tertunduk serta terdiam, apa yang harus ia katakan? dia sangat bingung. Namun Briyan terus menerus mendesak nya.
"Nona Via ingin Aku menggugurkan kandungan Nona Bunga."
"Aah.. Apakah Anda mau?"
Dokter Andi mengangguk.
"Dokter... Dokter, Anda di perkerjakan selama bertahun- tahun agar mengabdi di rumah sakit ini tapi pada kenyataan nya Anda mengkhianati nya sendiri. Apakah dengan uang sebanyak ini mata mu bisa menjadi buta secara mendadak? Anda tidak tahu membalas jasa Dokter. Jika saja Aku tak membuntuti Via, entahlah sudah pasti Anda akan membunuh pewaris dari keluarga Xen Zhin. Anda bisa di pecat secara tidak hormat dan di permalukan!" Jelas Briyan panjang lebar, mata nya tampak merah berkaca- kaca.
Dokter Andi serasa tak bisa mengeluarkan kata- kata untuk membantahnya atau hanya sekedar membela diri.
"Ba..Baik Tuan Ak..Aku mengerti atas peringatan Anda, maafkan kesalahan ku Tuan, Ak... aku ti..tidak akan mengulanginya lagi." Jawab Dokter Andi masih dengan kata- kata yang terdengar gugup serta gemetar.
"Anda tak perlu meminta maaf padaku, tapi minta maaflah pada Tuan Rio. Karena ini menyangkut isteri tersayangnya." Briyan bernada tegas.
"Ba..Bagaimana Tuan, itu tidak mungkin Aku lakukan.."
"Berusaha lah untuk menjadi seorang yang bertanggung jawab, itu adalah kesalahan mu sendiri maka Anda Juga musti menebus nya sendiri."
"Tapi tuan..."
"Apa lagi Dokter, apakah perkataan ku belum membuatmu jelas? bukan kah Anda seorang dokter? dan Aku yakin Anda memiliki IQ di atas rata- rata, bagaimana mungkin Anda akan ketakutan seperti ini? Hah... Menjengkelkan." Briyan mengkerutkan kening. Dia sangat tak percaya. Di dunia ini masih saja ada orang seperti dokter Andi.
"Aku takut kehilangan pekerjaanku, sangat takut Tuan, di karena kan di jepang belum ada rumah sakit yang mampu memberi gaji sebesar gajiku sekarang."
"Ya, Aku akan memberikan mu pilihan. Jadi, sekarang Anda tinggal memilih salah satu dari penawaran yang ku berikan. Anda tidak akan kehilangan gaji tinggi dengan mengatakan kejujuran atau Anda di pecat secara tidak hormat karena merencanakan kejahatan pada pewaris keluarga Xen Zhin, Ayo pikirkan baik- baik dokter Andi. Jika Anda butuh uang karena suatu hal Aku akan memberikan 3 kali lipat dari uang ini, bagaimana Dokter?"
"Baiklah jika itu inginmu Tuan, Aku akan mengatakannya pada Tuan Rio."
"Bagus, Aku sangat setuju dan Aku memberi nilai seratus untuk keberanian mu Dokter, tolong jadilah dokter yang konsisten, itu harga dirimu." Briyan baru tersenyum sambil menepuk- nepuk pundak dokter Andi.
__ADS_1