DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 69. Perasaan Cinta


__ADS_3

Rio akhirnya berinisiatif untuk keluar saja, ia kembali membopong tubuh lemah milik isterinya dan berlari semampunya. Rintik-rintik salju turun menghiasai kota itu, Rio tak perduli seberapa dingin dan sakitnya ia bahkan jika kakinya harus patahpun Rio akan tetap melangkah.


"Ku mohon bertahanlah sayang, Aku akan berusaha menyelamatkan mu." Air mata Rio tumpah membasahi kedua pelupuk mata indahnya.


Nafas Rio semakin terasa berat, naik dan turun tak beraturan, sebenarnya dia sudah tak mampu untuk terus bertahan melanjutkan langkah kakinya. Tapi kenapa dia harus menyerah begitu mudahnya? memiliki tekad yang kuat adalah tujuannya, maka dari itu dia harus segera sampai dan tak boleh terlambat.


Tiba- tiba saja.


Sesuatu yang cair merembes keluar dari hidung Rio. Dia sudah bisa menebaknya, itu pasti darah. Lutut Rio seketika melemas, akhirnya dia pun terduduk di pinggir jalan, kepalanya berdenyut berat, pandangan nya mulai buram dan tak jelas.


BRUUUKKK...


Rio ambruk. "Sayang maafkan Aku, ternyata Aku tak bisa menyelamatkan mu. Jika Tuhan ingin mencabut nyawa kita bersama, itu tidak masalah, Aku sangat bahagia karena Aku bisa mati bersamamu." Rio membatin dalam hati. Dunia seolah gelap, mata Rio tertutup dengan sempurna. Sementara salju yang turun terus bertebaran, menempel pelan di baju keduanya.


"RUMAH SAKIT"


Pukul 19:05 waktu Osaka jepang.


Nyonya Kazumi duduk lesu di samping ranjang pasien. Entah sudah berapa lama ia menangis di sisi puteranya. Dia masih bingung dan sangat merasa bersalah, karena dia lah penyebab dari kecelakaan ini. Jika saja tadi sore ia tidak lancang mengusir Bunga dari rumahnya, semua kemungkinan ini pasti tidak akan terjadi. Nafasnya berat, berkali-kali ia coba menghirup oksigen namun sepertinya masih terasa sesak. Rio belum sadarkan diri, begitu juga Bunga. Nyonya Kazumi melirik kearah Bunga yang sengaja di tempatkan dalam satu ruangan dengan Rio.


CEKLEK...


Terdengar pintu terbuka, seorang dokter dan satu perawat muncul bersamaan.


"Selamat malam Nyonya." Dokter menyapa.


"Ya." Nyonya Kazumi sambil menoleh kearah sang dokter.


"Ada yang ingin saya bicarakan pada Nyonya."

__ADS_1


"Silahkan Dok." Nyonya Kazumi Memandangi dokter dengan wajah serius.


"Baiklah, begini nyonya, pasien bernama Bunga mengalami gegar otak ringan, akibat benturan pada tangga. Namun, ini bukan masalah serius, dengan memperbanyak istirahat kemungkinan besar dia sudah bisa pulih kembali, kita akan mamantaunya selama 48 jam. Akan tetapi pasien bunga banyak kehilangan darah sehingga kita butuh pendonor, mengingat akhir- akhir ini begitu banyaknya pasien memerlukan darah, sehingga rumah sakit sering kehabisan stok darah." Dokter menjelaskan.


"Apa golongan darah Bunga dok? jika cocok, saya sendiri yang akan jadi pendonornya."


"Baiklah Anda bisa ikut saya ke ruang dokter." Jawab Dokter pelan, dia sudah bersiap melangkah.


"Tunggu dokter!"


"Ada apa Nyonya?"


"Bagaimana kondisi kesehatan pasien Rio, apakah dia baik- baik saja." Tanya Nyonya kazumi dengan wajah sendu. Sambil menatap lagi kearah puteranya.


Dokter tersenyum..


Nyonya Kazumi mengangguk dan mengikuti langkah kaki dokter dari belakang.


Kini mereka berjalan melewati koridor rumah sakit yang panjang dan luas.


Ini adalah salah satu rumah sakit kebanggaan keluarga Xen Zhin. Mereka menanamkan begitu banyaknya saham di sini.


Sementara di ruang VVIP kedua pasangan suami isteri itu masih terbuai di dalam mimpi-mimpi mereka yang panjang. Suasana sepi dan sunyi.


Rintik-rintik di luar sana salju masih turun, seolah mengiringi kesedihan mereka hari ini. Dan tentu saja musim ini adalah musim salju pertama bagi bunga.


CEKLEK...


Terdengar lagi pintu di buka. Via muncul dari arah luar, dia berjalan melangkahkan kakinya pelan, menatap kedua pasangan suami isteri yang sama sekali tak berdaya. Dia mendekati ranjang Rio, hatinya tiba- tiba merasakan sakit yang perih. Via meneteskan air mata, dia sangat mencintai lelaki itu tapi, Via bukanlah perempuan beruntung, karena Rio sedikitpun tak pernah memiliki hati padanya. Rio terlalu pelit untuk memberikan hatinya pada perempuan lain, selain Bunga, sang isteri tercinta. Via mengambil jemari Rio lalu menggenggam nya. Dia tahu bahwa perasaan nya tak mungkin terbalas.

__ADS_1


Setelah beberapa menit kini kunjungan nya beralih pada Bunga. Seorang perempuan berwajah cantik yang selalu membuatnya iri setengah mati. Via memperhatikan pemandangan menyedihkan itu. Wajah bunga tertutup oleh sungkup oksigen yang menghubungkan oksigen masuk lewat hidung. Mengapa ketika melihat paras cantik Bunga, panas hatinya kian membara. Via menggerakan tangannya dengan gemetar ingin sekali ia lepas selang penghubung itu dan mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya pada Bunga.


CEKLEK..


Pintu tiba- tiba saja terbuka dengan cepat.


"Via! Apa yang kamu lakukan, apakah penderitaan yang telah kamu berikan padanya belum cukup? sekarang kamu juga akan membunuhnya. iya, katakan Via!" Teriak Briyan bernada tinggi.


Ketika di lihatnya Via tengah memegangi selang oksigen Bunga, dia sudah bersiap akan melepaskan nya, akan tetapi sayang nya gagal, karena Briyan telah memergokinya lebih dulu.


Via kembali mengurungkan niatnya dan menatap Briyan dengan tatapan acuh. Dia tersenyum sumringah...


"Briyan... apa yang kamu katakan? Aku hanya ingin memastikan bahwa oksigen yang masuk kedalam hidung, sudah cukup membuat bunga nyaman."


"Pembohong...! Aku melihatnya sendiri ekspresi di wajahmu lebih domain oleh rasa dendam, kamu juga bukan seorang dokter. Bagaimana mungkin Aku bisa mempercayai." Briyan membantahnya.


"Emm.... Ku rasa kamu salah menilaiku Briyan." Via memutar langkahnya menghadap Briyan.


"Kamu pikir Aku ini bodoh, jangan pernah sakiti dia atau menyentuhnya, jika kedua itu kamu lakukan Aku tidak akan segan menyiksamu juga. Ingat itu Via, Aku tidak sedang bercanda atau main-main dengan ucapanku." Briyan mengancamnya.


Sehingga menyudutkan pemikiran perempuan licik itu. "Aku tidak perduli sekali pun statusmu adalah isteriku, Aku akan tetap memukulmu dengan tanganku sendiri!"


Via tak berkedip menatapnya.


"Haha kamu mengancamku Briyan? dan seperti nya Aku semakin tertarik untuk bersaing dengan nya. Ya semoga saja Tuhan masih memberinya waktu untuk hidup. Aah, Aku sungguh kasihan padanya betapa ngenes hidup Bunga bahkan sekarang ada seseorang yang sok ingin menjadi pahlawan di depan nya," ucap Via menyindir. Briyan tak menjawab.


Mereka menikah. Namun, tak seperti halnya pasangan lain. Benar- benar pernikahan dingin yang terjadi di antara Via dan Briyan. Mungkin bisa di katakan begitu. Pemicu utama nya adalah jauhnya perasaan yang mereka miliki. Mereka malah lebih menyukai sesuatu yang telah menjadi milik orang lain. Contohnya Briyan mati-matian mengejar cintanya Bunga. padahal dia tahu bahwa Bunga jelas- jelas milik saudaranya Rio. Namun itu seperti angin yang di anggap berlalu.


Lalu bagaimana perasaan Via sendiri? Katakan saja sama. Mereka tidak memiliki rasa malu dan terlalu percaya diri. Bukan kah itu aneh? Tentu saja. Kenapa cinta yang hanya berlaku sebelah pihak masih sanggup mereka pertahankan. Sekali pun harus mencabik- cabik harga diri mereka, tampaknya itu tidak berpengaruh sama sekali. Tak ada ruang Untuk membebaskan kedua pasangan suami isteri itu untuk berbahagia. Egois dan sungguh kejam. Keduanya kini saling diam tak ada yang ingin berbicara.

__ADS_1


__ADS_2