DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 72. Masih Yang Dulu


__ADS_3

Awalnya Via sangat terkejut, melihat reaksi Ukimaru yang berbeda dari biasanya. Lelaki itu terus mengecupnya penuh nafsu. Via segera mendorongnya, namun tubuh ukimaru hanya bergeser sedikit. Via menolaknya.


"Ukimaru, apa yang kamu lakukan?" Tanya Via setengah kesal, kecupan ini adalah pertama kalinya ia rasakan. Karena berpacaran selama bertahun- tahun Ukimaru tak pernah mengecup bibirnya. Dia hanya menunjukan rasa sayangnya dengan ciuman lembut di kening serta pipi tak lebih dari itu.


Via menitikan air mata antara takut dan bingung.


"Bebi, kenapa kamu menolaknya?


"Ad..Ada apa dengan mu Ukimaru? bukan kah sebelumnya kamu tak pernah memperlakukan Aku seperti ini?" Jawab Via sedih.


"Apa kamu mencintaiku? jika iya turuti apa yang ku mau dan jika tidak kita bisa mengakhiri hubungan ini secepatnya." Ukimaru berkata serius, dia seperti tak perduli kesakitan Via saat itu.


"Katakan Via...!"


Via langsung menatapnya ragu- ragu. "Oke, jika kamu tak mau mengatakannya Aku akan pergi." Ukimaru tiba- tiba beranjak dari tempat duduknya.


"Ukimaru..! Via segera menyekal lengannya. "Baiklah Aku akan melakukan apa yang kamu mau, tapi ku mohon jangan tinggalkan Aku... Aku tidak akan sanggup hidup tanpa kamu." Via masih terus menatapnya. Lelaki itu tak menjawab, dia kembali duduk.


Suasana hening sejenak. Sementara Via memainkan jari- jarinya penuh kecanggungan.


"Apakah kamu serius akan melakukan apa yang ku mau Via? Ukimaru balas menatapnya, yang hanya di jawab dengan anggukan lesu dari Via. Ukimaru menggeser posisinya duduk semakin merapat ke tubuh Via, sehingga Via bisa merasakan hangatnya suhu tubuh kekasihnya. "Ayo kita tidur." Ukimaru meraih tangan Via dan mengajaknya untuk berdiri. Via mengikutinya saja.


Sesampainya di dalam kamar, Ukimaru langsung menanggalkan pakaian nya. Via semakin gemetar di buatnya, namun Ukimaru berusaha menghilangkan sedikit demi sedikit ketakutan yang Via alami.


"Baringkan badan mu Via, Aku ingin ke kamar mandi sebentar." Perintah Ukimaru datar. Via kini membaringkan tubuhnya pelan, sementara Ukimaru berjalan menuju ke toilet yang sengaja di desain begitu.


Via memejamkan matanya, sayangnya itu terlalu sulit. Via memegangi bibir miliknya sambil membayangkan kejadian yang telah terjadi beberapa menit yang lalu.


CEKLEK..


Ukimaru membuka pintu toilet, dia keluar dengan wajah sedikit basah dia mengelapnya hingga kering, sambil melangkahkan kedua kakinya mendekati Via.


Tanpa izin terlebih dahulu, Ukimaru langsung melingkarkan tangan kirinya di pinggang Via. Namun Via tak menaruh curiga apa pun, ia tak menolaknya, Via justru berbalik arah dan balas memeluknya. Mereka berdua berpelukan dengan erat. Menjadikan suasana hangat, Ukimaru mengulangi kemesraan yang sempat tertunda tadi. Dia mengecup bibir Via lembut, Via menerimanya saja serta membukakan bibirnya sedikit untuk Ukimaru, sehingga mempermudah Ukimaru melahapnya hingga habis.

__ADS_1


Walaupun itu adalah kecupan pertama yang Via lakukan namun Via seakan sudah lihai serta paham apa- apa saja yang harus ia lakukan.


Bibir mereka saling berpagutan penuh nafsu, sesekali terdengar decapan nikmat dari bibir keduanya. Ukimaru memainkan lidahnya di dalam sana, menekan nya tanpa jeda, menghisapnya tanpa ampun.


Dia benar- benar membuat tubuh gadis itu kepanasan. Kecupan nafsu ukimaru turun menjelajahi leher jenjang milik Via, decapan- decapan indah terus terdengar.


* FLASH OFF *


Via menggigit pelan bibirnya, masa lalu itu masih tersimpan rapi di dalam memori otaknya. Bagaimana caranya Ukimaru merenggut keperawanan yang gagal ia pelihara hingga sampai pada akhirnya dia menikah dengan Briyan. Itu bukan kecelakaan atau pemerkosaan akan tetapi Via menyerahkan nya sendiri dengan senang hati. Via menyeka sedikit air matanya yang jatuh membasahi pipi putihnya. Dia melirik sejenak kearah Briyan, Sepertinya Briyan sudah tertidur beberapa menit yang lalu. Via pun memposisikan tubuhnya untuk tidur.


KEESOKAN HARINYA....


Jarum jam menunjuk kan pukul 06:00 tepat. Benikno masih tertidur pulas di atas sofa ruang rawat. karena kelewat lelap sampai- sampai ia tak sadar jika dunia sudah berganti pagi dan Tuan nya Rio pun sudah terbangun dari pingsan nya.


Ia menatap kesekeliling pusing tak lagi bersarang di kepala Rio. Kemudian ia bergerak menekan tombol yang berada di atas ranjangnya.


Tak lama kemudian perawat datang, sambil tersenyum ramah kearah Rio.


"Bisakah Anda melepaskan selang infusku, ini sangat mengganggu sus." Celetuk Rio memaksa.


"Tapi Tuan...."


"Aku merasa sudah kembali bugar sus dan Aku tidak membutuhkan infus ini lagi."


"Ba.. Baiklah." Perawat menurutinya, dia tertunduk karena sedikit terpesona melihat ketampanan Rio sehabis tidur.


Beberapa detik kemudian, Rio tak lagi di repotkan dengan selang- selang berwarna putih itu.


"Apa lagi yang anda buruhkan Tuan?" Tanya perawat lagi.


"Tidak ada, terima kasih."


"Jika begitu saya permisi dulu Tuan." Perawat membungkukkan badan dan segera berlalu dari hadapan Rio.

__ADS_1


Rio bangun serta duduk di atas ranjang dia memperhatikan Benikno dan Bunga secara bergantian, lalu mengerisut dari ranjang hendak melangkah menuju toilet.


10 menit berlalu...


Rio telah kembali dari toilet, dia melangkah mendekati Bunga, mengambil jemari itu untuk ia genggam.


Rio tak mengatakan apa pun, bibirnya masih terasa malas. Perlahan- lahan Rio mengangkat jemari Bunga yang sedang ia genggam dan mengecupnya lembut.


"Aaaahhh... Tuan. Apa yang anda lakukan bukan kah Anda semalam belum sadarkan diri!" Buru- buru Benikno berlari mendekatinya.


"Tidurmu terlalu pulas Benikno, jadi mana mungkin kamu akan melihatnya." Jawab Rio datar.


"Aah Maafkan Aku tuan, Aku kelelahan." Benikno menggaruk- garuk kepalanya yang tidak gatal.


"Aku tahu itu, sekarang pergilah ke toilet untuk membersihkan tubuhmu, jika saja ada perempuan yang lewat sudah pasti dia tidak mau menatapmu."


"Ahh... Apa maksud Anda Tuan? apakah Anda sedang meremehkan wajah dewaku ini?" Benikno mengerutkan kening nya.


"Tidak, tapi kamu terlalu buruk...! celetuk Rio pelan.


Seketika mata Benikno terbelalak besar sambil mengusap lembut wajahnya. Bos nya ini sangat keterlaluan dia bahkan tak perduli orang lain merasa tersinggung dengan ucapan nya.


"Ya.. Ya Tuan, Aku memang kalah tampan dengan Anda Tuan, tapi bukan kah wajahku ini sangat imut Tuan?"


"Bagaimana bisa kamu berpikir segampang itu. Ahh... Periksa sajalah wajahmu sendiri di depan cermin..." Nada Rio masih terdengar serius.


"Siappp Tuan...!"


Buru- buru Benikno menuju ke toilet, sementara Rio mendengus pelan dan secepat mungkin menghirup oksigen kembali.


Dia mengusap pelan rambutnya sendiri, sambil menatap wajah Bunga dengan mimik bersalah.


Rio menyesalkan kejadian kemaren, dia sebenarnya sangat mengkhawatirkan keadaan Bunga, diapun sangat takut akan kehilangan Bunga, entahlah yang dia rasakan sekarang adalah rasa bersalah yang tiada henti-henti.

__ADS_1


__ADS_2