DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 49.Dasar Rio


__ADS_3

Rio mematung beberapa detik. "Apa yang Via inginkan, Apakah dia tidak tahu bahwa saat ini Aku sedang kesal?" Ucap nya lirih, yang mungkin terdengar di telinganya sendiri. Rio melangkah membukakan pintu.


Dia tak berbicara, hanya memandangi Via dengan tatapan dingin seperti menusuk. Via berusaha memalingkan wajahnya ke lain arah, sebenarnya dia pun sangat takut jika ekspresi sanggar itu tiba-tiba muncul di wajah tampan Rio.


"Mo-Mommy sedang menunggumu untuk makan malam," ucap Via tergugup.


"Katakan pada Mommy Aku tak ingin makan!"


"Tapi..."


"Ku rasa itu sudah jelas, Aku tidak suka akan kata pengulangan!" Jawab Rio tegas. Membuat jantung Via berdetak lebih kencang.


"Iya, Aku tahu itu."


"Lalu? kenapa kamu tidak segera angkat kaki dari kamarku!"


"Rio, Aku paham suasana hatimu tidak baik sekarang, paling tidaknya kamu turun saja untuk menghargai permintaan ibumu."


"Via, Aku tidak suka diatur, jika Aku bilang tidak ya tidak!"


BRUUUKK!!


Rio langsung membanting daun pintu kamarnya. Via terlonjak kaget, serta mengelus dadanya pelan.


"Dasar manusia keras kepala, Kamu pikir Aku akan menyerah?" Via berkata pelan, sambil mengkernyitkan dahinya kecil. Setelah itu diapun melangkah pergi.


Di ruang makan.


Semua anggota keluarga Xen Zhin tampak berkumpul rapi, posisi mereka menghadap kepada meja makan, semuanya sedang menikmati acara makan malam bersama keluarga Tuan Hikosi Isamu. Karena besok adalah pernikahan antara Briyan dan Via Hana. Jamuan ini hanya pesta kecil menurut mereka. Via berjalan dengan langkah yang menampakan kekecewaan karena ia tidak berhasil membujuk Rio Xen Zhin untuk turun.


"Bagaimana Via, Apa Rio bersedia?" tanya Nyonya Kazumi penuh harap.


"Tidak." Jawab Via singkat sambil menggeleng.


Beberapa orang terdiam, mereka sudah tahu jawabannya, Rio itu memang si kepala batu yang pemarah. Briyan tersenyum tipis melihat ekspresi di wajah Via, Briyan tahu bahwa Via belum sepenuhnya melupakan Rio.


"Ya sudah biarkan saja jika begitu." Jawab Nyonya kazumi akhirnya, nadanya seperti menyerah.


15 menit kemudian.


Rio tampak berjalan melewati mereka. Tak ada yang berani menatapnya secara fokus, mereka hanya sedikit mencuri-curi pandang. Entah mengapa karena sikap kakunya itu, orang-orang begitu segan padanya.

__ADS_1


"Rio."


Panggil Tuan Xen Zhin memberanikan diri. Rio hanya menoleh serta menghentikan langkah kakinya.


"Mau kemana?"


"Aku ingin pergi ke apartemennya Benikno."


"Apakah kamu tidak ingin menikmati makan malam bersama kami?"


"Maafkan Aku Daddy, tapi sepertinya Aku tak bisa." Jawab Rio pelan, sambil membungkukkan badan, sebagai permintaan maafnya.


Tuan Xen Zhin mengangguk.


"Paman Hikosi Aku juga minta maaf, karena tidak bisa menemani Anda menyantap hidangan pada malam hari ini." Rio membungkukkan badannya lagi untuk meminta maaf pada Tuan Hikosi.


Lelaki separuh baya itu tersenyum menanggapi permintaan maaf Rio padanya dan ia berkata. 


"Tidak masalah Rio."


Rio balas tersenyum tipis, setelah itu berlalu dari hadapan mereka.


Rio melangkah keluar dari lift ketika angka menunjukan 20. Dia berjalan pelan melewati setiap pintu di apartemen mewah itu. Dan ketika ia sampai di depan pintu kamar Benikno. Rio menekan bel, tak lama kemudian muncul wajah Benikno, Asisten Pribadinya.


"Selamat malam Tuan," ucap nya penuh hormat.


"Selamat malam." Jawab Rio serius.


"Silahkan masuk Tuan."


Benikno segera memberinya jalan. Rio masuk dengan langkahnya yang tegap, Dia langsung duduk di sofa ruang tengah milik Asistennya. Serta meletakan plastik ukuran sedang di atas meja. Benikno yang melihat tingkah aneh Bosnya itu bertanya-tanya dalam hati. Tak seperti biasanya Bos nya begini, namun dia hanya diam, tak memiliki keberanian untuk bertanya.


"Benikno, bisakah Aku pinjam gelasmu?" Tanya Rio lagi.


"Tentu saja Tuan, Saya akan segera mengambilkannya untuk Anda." Benikno segera menuju ke dapur.


Di dalam apartemen ini, Benikno hanya sendiri, karena memang ia tidak memiliki keluarga.


Dua tahun yang lalu semua keluarganya meninggal dalam tragedi kecelakaan. Termasuk, isteri serta anaknya dan tentu saja tak menyisakan satu orangpun terkecuali dia. Ayahnya yang bernama Miyusuki telah lama mengabdi pada keluarga Xen Zhin, Dan setelah Ayahnya meninggalkan, dialah yang menggantikan posisinya itu.


"Ini Tuan."

__ADS_1


Benikno meletakan sebuah gelas kaca, berbentuk kecil di atas meja. Rio mengambilnya serta menumpahkan sebotol Anggur ke dalam gelas.


"Tuan, Apakah Tuan akan minum wine?"


Rio langsung menatap Asisten nya. "Kamu melihatnyakan?"


"Iya Tuan, bukankah Anda dilarang oleh dokter agar tidak meminum wine Tuan, itu akan membuat badan Anda tidak sehat."


"Betul katamu Benikno, tapi sekarang Aku sangat frustasi!"


"Anda bisa mengerjakan hal lain Tuan, tapi bukan dengan minum wine."


"Diamlah Benikno Aku sudah tidak perduli akan hidupku!" Bentaknya tinggi.


Benikno akhirnya mengalah, ia pandangi saja Tuannya itu. Seketika Rio meneguknya hingga habis dia menuangnya lagi, lagi dan lagi. Benikno menjadi sangat khawatir.


"Tuan, Saya mohon berhentilah. Anda akan sakit Tuan."


Benikno berusaha untuk mencegah, namun Tuan Mudanya seperti tak perduli. Alhasil Benikno tinggal menonton. Rio mengerjapkan matanya sejenak.


"Benikno, apakah kamu tahu bagaimana perasaanku sekarang?"


Benikno hanya menggeleng.


"Haha tentu saja perasaanku sedang tidak baik, kenapa Aku sangat bodoh, Aku tak bisa jauh darinya Benikno, Aku telah mengusir isteriku sendiri dan melepaskannya ke dalam pelukan lelaki lain." Rio sudah setengah mabuk. Dia menambahkan lagi wine ke dalam gelasnya.


"Aku merindukan nya Benikno."


Rio langsung menangis sekuat-sekuatnya, membuat Benikno kebingungan. Matanya terbelalak selebar-lebarnya.


"Aiissh Tu-Tuaan apa yang Tuan lakukan? astaga Anda benar-benar seperti anak kecil Tuan."


Benikno menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Bagaimana mungkin Bos besar yang selalu tampil dingin dan tegas dihadapan semua orang tiba-tiba berkelakuan aneh seperti anak kecil. Cengeng serta rapuh.


'Anda sungguh memalukan Tuan, untung saja hanya Aku yang melihat.' Benikno membatin di dalam hati, antara ingin ikut menangis dan menertawainya.


"Tuan apa yang bisa kulakukan untukmu?" Tanya Benikno menahan tawa.


"Tidak ada." Rio menjawab sambil terus menangis. Dan kepalanya menyender di atas sofa.


"Tuan, Anda sudah terlalu mabuk, Aku akan mengantar Tuan pulang," ucap Benikno lagi, dia bersiap memapah tubuh Rio.

__ADS_1


__ADS_2