DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 3. Masih Bingung


__ADS_3

Hari itu adalah hari dimana Bunga merasakan kegalauan yang sedikit mengganggu. Ada perasaan tak percaya, ada kegundahan di setiap ujung sesak dadanya.


Tok Tok Tok


Terdengar suara ketukan di kamarnya yang mungil.


"Sayaaang boleh mama masuk?" Tanya Mamanya dari luar kamar. 


"Ya Ma." Wanita baya itupun masuk, terlihat puteri kesayangannya itu sedang terbaring, raut wajahnya sendu, naluri seorang ibu mungkin tahu kalau puteri semata wayangnya itu sedang sedih.


"Sayang." Mama duduk, sambil mengelus lembut rambut bunga. "Akhir-akhir ini ada yang berubah sama kamu ada apa? Cerita kalau ada masalah sayang."


"Ngak ma Bunga baik-baik aja kok, ngak ada apa-apa." Jawabnya pelan.


"Mama tau Kamu bohong, sayang didunia ini begitu banyak pilihan semua itu adalah sebuah pengalaman yang semakin membuat kita dewasa." Bunga langsung menatap mamanya.


Kedua mata indahnya berkaca- kaca.


"Ma apakah cinta itu ngak harus memiliki?"


Mamanya tersenyum. "Kenapa sayang? Kamu jatuh cinta?"


"Jawab dulu ma!"


"Ya bisa dibilang begitu!"


"Itu ngak adil Ma!"


"Looh."


"Iya kan ngak adil buat seseorang yang baru pertama kali jatuh cinta!"


"Itu namanya egois sayang."


Bunga pun langsung tersedu, bulu mata lentiknya basah oleh airmata. Dia bangun dan memeluk mamanya erat.


"Ma salah ngak kalau Bunga ada perasaan cinta sama Reza."


"Kamu suka sama Reza?" Mamanya setengah terkejut.


"Iya Ma Bunga jatuh cinta pada pandangan pertama."


"Terus masalahnya apa?"


"Ternyata Reza udah di jodohin sama Veli sobat dia sejak kecil!"


Mamanya tersenyum lagii . .


"Bunga ngak perlu sedih, baru di jodohin itu ngak musti positif menikah, kita cuma manusia sayang Tuhan yang menentukan. Hari ini kita bisa berencana eeh besoknya Tuhan nakdirin lain."


"Terus."


"Ya kalau emang Reza itu udah di jodohin sama cewek lain, kamu harus lapang dada. Dan kalau memang Tuhan membalikkan keadaan Reza bisa saja jadi jodoh kamu." Mama masih mengelus rambutnya.


"Makasih Ma perasaan bunga udah dikit lega."


"Udah sekarang kamu mandi gih Mama mau ngajakin kamu pergi undangan kerumah temennya mama." Bunga langsung melepas pelukannya sembari mengangguk yakin.


30 menit kemudian Bunga sudah mandi. 

__ADS_1


Dia memakai baju berwarna hijau muda dan rok hijau terang selutut serasi dengan kulit putihnya.


Rambutnya lurus panjang di hiasi dengan pita kuning. Riasannya sederhana feminim. Mama sudah menunggunya di ruang tamu.


"Sayang udah siap belum?" Teriaknya.


"Udah kok ma." Dia muncul


"Oke yuk kita berangkat." Mereka berduapun berjalan menuju garasi dan masuk kedalam BMW berwarna pink terang.


SESAMPAINYA Di SEBUAH BANGUNAN MEGAH.


Mamanya memparkirkan mobilnya dengan rapi, keduanya turun. Tampaklah halaman rumah itu luas dan indah ada taman dengan berbagai macam desain yang unik. Tamu-tamu undangan sepertinya sudah banyak yang datang. Mereka masuk, di situ mereka sudah di sambut hangat oleh pemilik rumah megah itu. Ada sesosok wanita berumur kurang lebih 38 tahun dan di sampingnya ada suami tercintanya.


"Selamat yabMbak semoga tambah langgeng deh sama suami dan diberi kesehatan." Mama Tia langsung memeluk wanita itu.


"Makasih Tia, ini Bunga?"


"Iya mbak!"


"Ya ampun dia sekarang semakin cantik." Wanita yang di panggil dengan nama mbak itu tersenyum kagum, melihat kecantikan anak semata wayang milik mama Tia.


"Kira-kira sudah berapa lama ya Aku ngak ngeliat dia?"


"Sejak Bunga berumur 10 tahun kayaknya mbak."


"Wah anak gadis kamu sudah benar-benar beranjak remaja sekarang!" Sambung Suami mbak Yuni. Bunga dan mamanya tampak tersenyum malu.


"Iya Mas sekarangkan umur Bunga udah 16 tahun." Jawab mama. Mereka sama-sama tertawa.


"Lalu anak bujang mbak mana?"


"Mi cari Aku ya?" Tiba-tiba terdengar suara seseorang dari arah belakang. Keempatnya menoleh.


"Sayang kemana saja sih Mimi cariin kamu."


"Maaf Mi tadi kebelet mau pipis." Jawabnya.


"Sudah sini nih kenalin Tante Tia temen Mimi."


Cowok itu segera menyalami mama tia. Sementara itu Bunga terpaku menatapnya.


Dia tahu siapa cowok itu dan dia pernah melihat sebelumnya.


"Aku Satria tante."


"Tante Tia." Mereka berjabat tangan. "Kenalin ini Bunga anak tante." Mama memperkenalkan Bunga dengan cowok itu. Mereka saling menatap dan berjabat tangan.


"Satria sudah kelas berapa sekarang?" Tanya mama kemudian.


"kelas dua belas tante."


"Oh berarti bentar lagi lulus dong."


Dia hanya mengangguk dan tersenyum, sebuah senyuman yang hangat. Bunga tau kalau dia adalah teman satu sekolahnya yang baru saja di lihatnya waktu pertandingan futsal tempo lalu.


Tapi seolah-olah dia baru melihat dengan jelas.


Kemudian mereka jalan beriringan menuju sebuah meja yang sudah di letakan berbagai macam menu hidangan. Mereka berbincang- bincang asyik. Tak terasa waktu hampir saja berlalu. Ketika jam dinding menunjukkan pukul 18.00 Wib.

__ADS_1


Mama dan bunga sudah pulang. Pertemuan dengan temen mamanya sudah sedikit membuat hati bunga terhibur.


Setelah menunaikan kewajibannya sebagai seorang muslim Bunga berbaring di sprimbed dalam ruang kamarnya. Dia meraih handphone nya. 


Ada Whatsapp masuk dari Rina


"Hai Bung lagi ngapain?"


"Lagi tiduran Rin."


"Kenapa sih akhir-akhir ini kamu keliatan sedih? Kamu baik-baik ajakan?"


"Iya Rin Aku baik-baik aja."


"Bener ya Bung Aku cuma khawatir."


"Iya makasih perhatiannya."


"Aku masih ngak percaya sejak kejadian tempo lalu pas Veli ngancam Kamu, Kamu jadi sedikit murung, jujur bung Kamu suka Reza?"


"Kamu kok bilang gitu sih?"


"Aku curiga kamu suka dia."


Bunga tak membalas.


"Bung kok diem sih?"


"Ayo jujur."


"Pliss deh."


"Kenapa sih Bung?"


"Salah ya aku tanya."


"Bung balas."


"Nanti aku pasti cerita." Bunga baru membalas.


"Oke."


Chat pun terhenti.


Bunga menghela nafas pendek tiba-tiba handphone nya bergetar lagi.


Chat dari Reza.


"Good night inces, bagaimana hari ini apakah menyenangkan?"


Bunga hanya membacanya dan kemudian meletakkan handphonenya di atas meja lampu.


Keadaan sunyi sejenak. Reza akan selalu ada di setiap hembusan nafasnya. Tapi dia tidak tahu sampai kapan, didalam hati dia berharap pada cowok tampan itu bahwa dia kan selalu mencintai mesti sejujurnya itu tak pantas. Biarlah dia akan menyimpan nama Reza rapat-rapat di sisi hatinya yang paling dalam. Hanya itu yang bisa dia lakukan. 


Masih pagi, Bunga sudah sampai di sekolahnya seperti biasa sebelum masuk kelas dia selalu menyimpan beberapa barangnya di loker.


Dan lagi lagi dia menemukan sebuah kado istimewa, mungkin di bilang hampir setiap hari berbagai macam kado selalu ada di lokernya.


Kali ini si pengirim yang selalu menandai dirinya dengan inisial R, mengirimkan sesuatu yang tak pernah terduga olehnya. Responnya cuma tersenyum terus nutup lagi lokernya.

__ADS_1


 


__ADS_2