
"Tentu saja itu tidak mungkin sayang." Mama Tia tersenyum dengan jawaban yang keluar seenaknya dari bibir milik Bunga. Kedua pengantin baru itu hanya bisa saling menatap.
"Mama rasa cukup di sini pembicaraan kita, Mama akan masuk kerja sekarang, dan kamu bunga bawa Rio Xen Zhin ke kamar, mungkin saja Rio ingin beristirahat, bukankah begitu Rio?" Tanya Mama Tia pelan. Rio menanggapinya dengan tersenyum serta mengangguk pelan.
Mama Tia kemudian beranjak bangun dan meninggalkan mereka.
"Apa kamu ingin kekamarku?" Tanya Bunga pelan, sambil menatap lekat lelaki yang duduk di sampingnya.
"Aku selalu tak punya alasan untuk menolak ajakan mu." Rio Xen Zhin menjawab, sambil menebarkan senyum manis yang dia punya.
"Baiklah, ikuti Aku." Bunga beranjak bangun. Rio mengikutinya.
"Oh... Iya Benikno kamu tunggu saja di sini, Aku akan ke kamar sebentar." Ujar Rio Xen Xhin pada asisten pribadinya.
"Siap Tuan." Benikno mengangguk.
Kedua pasangan suami isteri itu kini berjalan memasuki sebuah kamar yang berada di sisi ruang keluarga.
Ceklek...
Bunga membuka pintu nya lebih dulu. Dan Rio Xen Zhin masih setia di belakangnya. Namun seketika Rio Xen Zhin terbengong untuk sesaat.
"Wow, ini kamar kamu?" Tanyanya bernada tinggi sambil tersenyum mengejek.
"Iya, emang kenapa? Mungkin kamarku terlihat tak menarik sama sekali di mata mu, karena kita berdua memang berbeda."
"Tentu saja sayang, kita memang berbeda dan kamarmu ini adalah kamar anak perempuan yang sesungguhnya, lihatlah kamarmu di penuhi dengan boneka-boneka. Apa yang ada di pikiran mu, bukan nya kamu sudah beranjak dewasakan." Rio Xen Zhin menertawainya.
"Kenapa kamu tertawa? Apanya yang lucu. Ku rasa tidak ada yang lucu sama sekali, jangan bilang kamu sedang membandingkan kamar mewah milikmu, tentu saja kamarku ini tidak ada apa-apanya." Jawab Bunga kesal, karena Rio Xen Zhin baru saja membanggakan harta yang ia miliki.
Hal Itu membuat perasaan Bunga jengkel setengah mati. Rio Xen Zhin menatapnya dalam, kemudian melangkah mendekati Bunga.
"Kenapa Kamu sangat sensitif terhadapku, apa Aku sangat menyakitimu? Katakan saja dengan sejujurnya, kamu membenciku?" Tanya Rio semakin dekat.
"Ya, Aku sangat membencimu." Jawab bunga tegas.
"Membenciku? Apa alasan mu membenciku? Apa Aku pernah melakukan kekerasan padamu?" Tanya Rio Xen Zhin bertubi-tubi. Kini tangan kanan nya bergerak memegangi dagu Bunga serta menariknya ke atas.
__ADS_1
Dan terlihat lah bibir merah delima milik bunga yang sangat menggairahkan. Rio Xen Zhin berusaha untuk menelan air liurnya dengan susah payah dan sepertinya bibir merah Bunga membangunkan miliknya. Ooh tentu saja, setiap kali dia memikirkan bibir menggoda itu, Senjata milik Rio Xen Zhin selalu berdiri tegak.
"Tak pernah."
"Lalu kenapa kamu membenciku? Atau karena sikap angkuhku kepadamu sayang. Ayo katakan Aku ingin mendengarnya." Rio semakin mendekati wajah bunga. Terasa hangat hembusan nafasnya, Bunga yang awalnya santai, sekarang terlihat lebih tegang, sejak tadi dadanya berdetak tak beraturan.
"Oouh... Kenapa Kamu terdiam sayang? Aku sangat gelisah jika kamu tak juga menjawab." Ujar Rio lagi.
Bunga masih terus menatap, berdiri seperti tubuhnya membeku. Dan keadaan itu membuat Rio leluasa melakukan apa pun yang ia suka.
"Baiklah kamu tak perlu mengatakannya, bagaimana kalau kita coba duduk di tempat tidurmu, sepertinya, lebih nyaman berbicara di situ." Rio mencairkan suasana, ia lepas pegangan nya pada dagu Bunga.
Bunga tak menjawab, dia hanya melakukannya dengan tindakan fisik. Kini mereka telah duduk bersebelahan di atas ranjang berseprai kuning.
Rio tersenyum lagi. "Apakah kamu tahu, seumur hidupku selama 20 tahun di bumi ini Aku tak pernah punya rasa cinta kepada wanita mana pun. Tapi setelah Aku berjumpa dengan mu dan kita menikah, seakan semuanya berbeda."
"Jadi apa maksud dan tujuan mu Rio, ah... Sudahlah pasti kamu ingin mengatakan bahwa kamu mencintaiku kan?" bantah Bunga datar.
"Wanita cerdas, perasaan berbeda itu apakah bisa di katakan cinta?" Tanya Rio masih kebingungan.
"Rio... Apa yang ingin kamu lakukan. Bukan kah Pak Benikno telah menunggu mu di bawah?" Bunga sedikit kerepotan bingung.
"Benikno akan setia menungguku, berapa jam pun Aku mau keluar, itu terserah padaku." jawabnya lirih.
Lima menit kemudian.
Rio kembali dari kamar mandi, wajahnya terlihat sangat putih dan segar. Dia sedang menggosok gosok rambutnya dengan handuk kecil. Bunga hanya menjadi penyimak untuk saat itu.
"Oh... Iya sayang seperti janjiku tadi, Aku akan menyuruhmu tidur bersama ibu tersayangmu malam ini, karena mungkin Aku tidak kembali. Aku masih harus menjaga Ayahku. Kamu mengerti kan." Ucap Rio memberinya kalimat perintah.
"Baiklah." jawab Bunga pelan, sambil bangkit dari tempat tidurnya, dia pun ingin mandi. Rio segera memakai pakaiannya dan mendatangi benikno di depan, sepertinya dia meninggalkan Benikno sedikit agak lama.
Di ruang tengah.
Rio berjalan dengan langkah yang gagah. Dia menatap tak percaya pada Asisten pribadinya. Bagaimana mungkin Benikno sempat-sempatnya mencuri waktu untuk tidur.
"Benikno..!" panggil Rio datar, namun belum ada jawaban, Rio mengulanginya lagi.
__ADS_1
"Benikno...!" Nada nya sedikit tinggi, hingga lelaki itu berlonjak kaget.
"Eh Tuan Rio, Anda benar-benar mengejutkan ku Tuan Rio. Maafkan Aku." Benikno langsung berdiri dengan tegak, ketika dia tahu, Tuan nya sudah hadir.
"Oke tidak masalah, Ayo kita kerumah sakit." Ajak Rio, Benikno hanya menunduk, serta mengangguk mereka berdua berjalan mendekati mobil dan setelah itu berlalu.
Bunga menutup kembali pintu kamar mandinya. Berjalan mendekati lemari pakaian dan setelah itu mengambil beberapa baju serta rok selutut. Setelan baju yang ia pakai sangat membuat kecantikan di dalam dirinya terpancar. Bunga mendudukan pantatnya di depan sebuah cermin besar yang ada di dalam kamar. Lebih tepat meja rias. ketika wajah ayu Bunga terpantul di situ, dia pun tersenyum tipis. Bunga mencoba mengingat hal-hal yang sudah terjadi.
Perasaan Bunga menjadi sedih, bahagia, keduanya berkumpul menjadi satu. Siapa sebenarnya Rio Xen Zhin? hati Bunga di hujam dengan beribu pertanyaan. Ada keraguan tersirat. Bertemu tidak sengaja lalu menikah, bukan kah kenyataan ini tak bisa di percaya. Rio Xen Zhin.
Panggil saja ia Rio, lelaki berwajah tampan, berbibir seksi, bertubuh atletis, bermata tajam, berkulit putih dan memiliki banyak uang. Semua kesempurnaan Rio bukanlah tujuan utama seorang Bunga untuk setuju di nikahi lelaki itu.
Tapi...
Ya, lebih mendasar adalah karena wajah Rio Xen Zhin 99% memiliki kesamaan dengan wajah Satria. Tunangan nya yang telah meninggalkan Bunga untuk selama lama nya. Kini pandangan Bunga menerawang jauh dia mencoba untuk mengingat segalanya, segala tentang Satria yang sampai kini masih tetap hidup di dalam hati kecil.
Mungkin kah jika Rio itu adalah saudara kembar Satria? Bunga mendeskripsikan. Bukan, yang dia tahu Tante Yuni hanya memiliki anak satu saja yaitu Satria lalu bagaimana dengan Rio Xen Zhin, benarkah Rio itu anak kandung Tuan Xen Zhin? Aah... Pertanyaan itu terus berkelibat di dalam pikiran nya. Bunga mencoba menepis pikiran itu, dia baru mengenal Rio Xen Zhin, dia pun sebenarnya tidak tahu seperti apa kepribadian Rio yang sebenarnya.
Lelaki baik kah dia?
Lelaki seperti apa dia?
Tok... Tok... Tok...
Tiba-tiba saja pintu kamarnya terketuk. Dan cukup membuat lamunan nya memudar.
"Siapa?"
"Saya Non, Bi Inah." Sahut Pembantu di rumahnya. Bi inah baru saja bekerja beberapa hari yang lalu, namun wanita itu cukup rajin dan sangat ulet.
"Oh... Bi inah, ada apa bi?" tanya Bunga datar. Sambil menyapukan bedak di wajahnya.
"Ada Bu Yuni di ruang tamu Non."
"Oh, iya Bi bentar lagi Bunga keluar, bilangin aja Bunga masih ganti baju."
"Baik Non. Bibi permisi dulu ya." Jawab Bi Inah penuh hormat.
__ADS_1