DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 12. Jepang


__ADS_3

Bunga terbangun dari tidurnya,


Jam sudah menunjukan pukul 04.20 wib.


Sebagai orang muslim dia akan melaksanakan kewajibannya. Ya itu adalah rutinitasnya setiap hari. Dia ingin bercerita banyak hal pada Tuhan_Nya tentang hidupnya dan tentang kesedihannya.


 


Hampir beberapa menit dia menangis- nangis, di depan selembaran sajadah kuningnya, yang terbentang lebar. Dia masih tak mengerti dengan keadaan yang sulit di jelaskan ini. Apakah ini bisa di bilang seperti sebuah akhir cinta atau sebuah kasih yang tak kan sampai? Mencintai lalu pergi, Menyayangi lalu hilang, bersama lalu berpisah


 


Tak lama setelah itu handphone nya berbunyi yaitu, sebuah notifikasi whatsapp masuk.


Dia sudah selesai sholat, kemudian meraih handphone nya. Membaca dalam hati, di situ ada satu chat whatsapp dari Alfin temen sekelasnya. Dia berencana untuk menemuinya pukul 09.00 WIB nanti, tepatnya di sebuah caffe.


 


Oke, Alfin mengadakan sebuah janji.


dia akan berbicara tentang perasaannya.


 


***


 


Pukul 09.00 wib


 


Setelah izin dengan Mama nya.


Dia pun pergi menuju sebuah caffe yang tepat berada di pinggiran kota. Hanya 15 menit.


Bunga sudah sampai, tempat itu lumayan besar, di depan caffe ada berbagai macam dekorasi. cukup unik dan terbilang cantik para pengunjung di jamin tidak akan kecewa. Bangunan itu juga berdinding bambu yang, di beri warna cream lembut, yang bisa membuat mata sejuk berada di situ. Di atasnya tampak berjejer jenis lampu-lampu hias.


 


Bunga turun dari Taxi.


Di lihatnya Alfin sudah duduk menunggu nya. Dia berjalan setelah jaraknya dekat diapun menyapa.


 


"Selamat pagi fin."


"Pagi bunga, eh silahkan duduk bung." Dia tersenyum sangat manis. Dan mempersilahkan cewek itu duduk berhadapan dengannya.


 


Bunga membalas senyuman itu dan bertanya-tanya dalam hati 'sebenernya Alfin pengen bicara apa ya?'


 


"Mbak kesini!" Alfin memanggil seorang pelayan caffe. Mbak itu berjalan mendekati mereka.

__ADS_1


"Ada menu apa aja mbak?" tanyanya. Pelayan itu langsung saja menyerahkan kertas daftar menu yang bisa di pesan.


 


"Kamu duluan bung." Alfin mempersilahkan bunga. Bunga kemudian mengambil kertas itu dan membacanya.


"Pesan Green Tea Choco sama pancake ini mbak."


"Oke," jawab mbaknya sambil nyatet pesanannya. Sekarang giliran Alfin.


"Sudah mbak sama juga." Ucap Alfin kemudian, bunga tersenyum. Dan setelah itu mbaknya pergi.


"Kok." Bunga heran.


"Pengen ngerasain kesukaan kamu aja!" Jawabnya. Bunga jadi tambah bingung, bisa-bisanya Alfin bertingkah seperti ini. sebenarnya ada apa dengan Alfin? Tapi, baiklah mari kita jawab kebingungan ini.


"Oh ya bung, rencananya mau ngelanjutin kuliah di mana?" tanya Alfin membuka percakapan.


"Di jepang fin."


"Ouh jauh juga kenapa enggak di sini aja tau kuliah di kedokteran seperti kedua Orangtua kamu."


"Enggak fin pengennya di jepang."


"Ouh ya ide bagus." Alfin masih tersenyum.


Itu adalah keinginan bunga sejak kecil, apa lagi sekarang Satria juga di sana mungkin itu akan tambah menjadi pendukung plus.


 


Alfin masih saja menatapnya, hal seperti ini bikin perasaan bunga enggak enak, salah tingkah atau apalah Dia pura-pura enggak ngelihat, padahal sebenarnya dia sangat-sangat gerogi. Ketika dia melihat ke jalan Raya, tiba-tiba ada pemandangan tak biasa kali ini sungguh tak terbayangkan.


 


 


"Eh iya itu beneran Reza!" Alfin spontan beranjak dari tempat duduknya. Dia akan mendekati seorang cowok yang tampak sedang berada di pas di depan mobil merah cowok itu benar-benar mirip dengan Reza.


 


Namun terlambat cowok itu lebih dulu masuk kedalam mobilnya. Langkah Alfin mendadak berhenti. Dia menghela nafas pendek dan setelah itu mendekati bunga lagi.


"Aduh telat Aku bung!" Lirihnya.


"Atau kah itu cuma orang yang mirip aja." Jawab bunga kemudian.


"Yaa mungkin aja, kalau Reza udah pastilah Dia ngabarin Aku, udah lama banget dia enggak pernah ngasih kabar. Kangen juga sih sama dia! enggak ngerti juga apa alasan dia menghilang kayak gitu!"


 


Bunga hanya diam. Seolah tak mendengar apa yang di bicarakan Alfin kepadanya.


"Bung Bunga, kok diem aja sih."


"Ooh iya sorry." Dia agak terkejut.


"Kenapa sih bung?"

__ADS_1


"Emmpp enggak ada apa-apa kok fin, eh bentar ya aku mau ke toilet dulu ? Jawabnya kemudian. Alfin mengangguk, bungapun berlalu dari hadapannya.


 


Tak lama setelah bunga pergi pelayan caffe pun datang dan membawakan pesanan mereka. Di toilet bunga langsung menangis. Dia tak tau harus bagaimana? Ada Rindu yang tersimpan buat Reza. Tapi seakan rindunya salah. 


 


Sedih sedih sedih dan sangat sedih.


 


Tak semestinya dia merindukan cowok itu lagi. Dia harus move on luka itu sudah hampir sembuh karena Cintanya yang tak memihak tapi sekarang harus berdarah lagi. Benarkah itu Reza ?


seorang cowok yang memiliki nama lengkap REZA PRATAMA ADITYA. Atau kah hanya orang yang mirip saja? Tapi Alfin juga melihatnya? bingung Dia terjebak di antara dua lelaki. 


 


10 menit kemudian dia keluar, di lihatnya Alfin sedang minum. Wajahnya sendu, Alfin yang melihat Raut wajah bunga langsung bertanya.


"Bung kamu baik-baik aja kan?"


"Sorry fin kepalaku sedikit pusing, sepertinya aku harus pulang dan soal kamu mau ngomong apa, nanti kita bahas lain waktu aja ya, maaf fin kalau aku udah ngecewain kamu hari ini." Lirihnya panjang. Alfin tersenyum. 


"Udahlah bung enggak apa kok. Kalau gitu gue antar ya."


"Makasih fin, aku jadi enggak enak karena udah ngerepotin kamu."


"Biasa aja bung!"


Setelah membayar Alfin langsung saja mengantarkan bunga pulang.


 


***


 


Sejak kejadian itu bunga semakin tak bahagia tapi Dia bisa apa. Dan hari ini dia akan berangkat kejepang. Ada Rina juga yang mengantarnya. Tentu karena mereka adalah sahabat.


 


Persahabatan yang sangat erat jaraknya sama seperti urat nadi. Walaupun jauh, mereka akan selalu saling merindukan. Air mata nya jatuh tak tertahan Dia akan meninggalkan negeri kelahirannya ini, untuk sekian lama nya. Dia pun tidak akan pernah melupakan, kenangan yang pernah, menemani hari-harinya.


 


Dia berangkat bersama Mama nya. karena kebetulan juga masa kontrak kerja dengan pihak Rumah sakit Mama nya sudah selesai. Jadi mereka bisa pergi bersama.


"Bung jaga diri kamu baik- baik bung jangan lupain aku ya." Rina berkata, sambil memeluk tubuhnya.


"Iya Rin, kamu juga gitu ya Aku akan selalu kangenin kamu!' Tak terasa pipinya basah oleh air mata yang terus mengalir dari kedua pelupuk mata cantiknya itu. Lama mereka berpelukan namun akhirnya mereka melepaskannya juga.


Karena pesawat sebentar lagi akan berangkat.


 


Terima kasih bagi yang udah baca ceritaku.

__ADS_1


maaf kalau bahasanya masih celepotan.


soalnya pemula dan belum banyak pengalaman.


__ADS_2