
Setelah selesai berdandan ala dirinya sendiri, Bunga pun keluar dari kamarnya, menuju ke ruang tamu. Yang mana di situ, Tante Yuni telah menunggunya.
"Tante...." Sapa Bunga pelan, dia telah siap merentangkan kedua tangannya untuk memeluk rindu seorang wanita berumur 35 tahun yang berada tepat di hadapannya. Tante Yuni tersenyum menatap kearah Bunga datang. Serta merta dia balas pelukan dari Bunga.
"Tante, apa kabar? Bunga kangen banget sama Tante." Ucapnya lirih. Semenjak meninggalnya Satria ibu beranak satu ini, pergi mengasingkan diri entah kemana.
"Tante baik-baik aja kok, terus kamu sendiri gimana?"
"Bunga juga baik Tante." Masih memeluk sangat erat, Tante Yuni kini mengelus rambut halus milik Bunga. Dia hanya belum mengerti atas perasaan sedihnya. Ketika berada di dalam pelukan Bunga dia selalu mengingat bahwa Satria pernah di sini.
Mereka larut dalam pelukan itu, sampai pada akhirnya Bunga melepaskannya sendiri.
"Tante duduk." Bunga mempersilahkan, Tante Yuni cuma mengangguk dan mendudukan pantat bak gitar spanyolnya di sofa.
"Oh.. Iya keadaan Mama Tia gimana? sehat aja kan? maafin Tante ya, udah lama banget Tante ngak pernah kasi kabar ke kalian." Tanya nya lagi, sambil terus menatap wajah baby face bunga.
Bunga menjawab sambil tersenyum.
"Ngak apa-apa kok Tante dan Mama juga alhamdulillah dalam keadaan sehat walafiat. Iya Tante kemana aja selama beberapa minggu ngak pernah telpon bunga. Bunga selalu khawatir Tante." Raut wajah Bunga seketika berubah menjadi manyun. Tante Yuni langsung tersenyum, merespon perubahan wajah itu dia sudah menganggap Bunga seperti anaknya sendiri.
"Kan Tante tadi udah bilang minta maaf, Tante cuma pengen ngasingin diri Tante, Tante masih kelewat sedih kalau harus tinggal di kota ini, jadi Tante berinisiatif pergi menghibur diri."
"Oouh... Tapi ngak musti harus ngak aktifin handphone kan Tante."
"Iya sih sekali lagi maafin Tante ya, Tante terlalu baper, sampai harus bertindak bodoh seperti ini."
"Eem... Iya deh Bunga maafin, tapi lain kali jangan ngak ada kabar lagi ya Tante."
"Oke Tante janji." Jawab Tante Yuni mantap, sambil jari kelingkingnya. Bunga sangat peka untuk merespon, dia pun menautkan jari kelingking nya.
Keduanya sama-sama tersenyum.
"Tante." Ucap Bunga pelan.
__ADS_1
"Ya."
"Ada yang pengen Bunga ceritain sama Tante." Bunga menatap Tante Yuni dengan serius.
"Apa? Ayo berbagi cerita, Tante juga sudah kangen sama celoteh dari kamu." Masih menampilkan wajah tersenyum.
"Bunga sudah menikah Tante."
"Apa..! kamu sudah menikah? wah Tante ketinggalan informasi dong kalau begitu. Terus mana suami kamu? dia seperti apa? cakep? Oh, Tante seneng banget mendengarnya." Tanya Tante Yuni bertubi - tubi.
Bunga menjadi sedikit terbengong karena pertanyaannya itu.
"Kok, malah bengong sih Bung. Ayo ceritakan sekarang." Pinta Tante Yuni polos.
"Sebenarnya kemaren waktu lamaran Bunga telpon Tante, tapi ternyata nomor ponsel Tante ngak aktif, Bunga juga dateng ke restoran Tante tapi karyawan di restoran Tante bilang, kalau Tante pergi ke singapura." Cerita Bunga sedikit sedih.
"Duh... Maafin Tante ya. Tante terlalu ceroboh, tapi walaupun tanpa Tante tapi Tante yakin, kalau suami kamu itu pasti orang nya baik. Ayo kenalkan pada Tante siapa lelaki beruntung itu Bunga."
"Nama nya Rio Xen Zhin Tante."
"Iya Tante Rio orang jepang, tapi dia memiliki perusahaan di indonesia dan dia juga pandai berbahasa indonesia."
"Wah... Bagus dong kalau begitu, dimana dia sekarang? Tante bolehkan ketemu sama dia."
"Boleh sih Tante tapi sekarang Rio lagi di rumah sakit, karena setelah pernikahan itu tiba-tiba saja kesehatan Daddy Leo Xen Zhin menurun dan harus di rawat di rumah sakit."
"Oh, ya sudah deh lain kali ajak suami kamu mampir ke restoran Tante ya." Ujar Tante datar.
Tak lama kemudian datang Bi inah membawakan mereka minuman dan beberapa cemilan, sebagai penghidang.
"Silahkan Nyonya, Nona di minum dulu jus nya dan jangan lupa cemilan nya di cicipi." Bi inah berucap mempersilahkan mereka, sambil meletakan jamuan itu di atas meja.
"Iya Bi makasih." Bunga menjawab dan melemparkan senyum kearah pembantu nya.
__ADS_1
"Sama - sama Non, Bibi tinggal ke dalam dulu ya Nyonya Nona." Bi inah tersenyum menundukan kepala nya dengan sangat sopan.
Bunga hanya tersenyum, kemudian Asisten rumah tangga itu berlalu.
"Tante di minum jus nya, pasti Tante haus kan? Bunga menatap lagi wanita itu.
"Iya." Tante menjawab sembari mengambil satu gelas jus di atas meja dan menyedot pipet yang telah tertempel pada gelas kaca itu.
"Oh iya Bung Tante ngelupain sesuatu." Ucap Tante Yuni tiba - tiba.
"Apa Tante." Tanya Bunga penasaran.
Namun wanita itu malah sibuk membuka tas mahal miliknya. Dia menarik selembar map dari dalam tas nya.
"Nah ini." Tante sudah menemukan apa yang dia cari. serta meletakan map berwarna kuning di atas meja, map itu masih seperti baru. Lalu menyerahkan pada Bunga.
"Ini buat kamu sayang. Hadiah pernikahan dari Tante." Jelas Tante Yuni menyodorkan Map kuning pada Bunga.
"Apa ini Tante? Tanya Bunga keheranan.
"Buka saja."
Bunga mengambil map itu dan segera membuka lembaran yang tersusun rapi. Seketika kedua mata bening nya membesar layaknya telur ayam.
"Tante, ini kan sertifikat."
"Iya, betul sayang. Itu buat kamu, hadiah yang Tante simpan sebagai kado pernikahan kamu dengan Satria, tapi sayangnya Satria tidak berumur panjang. Ini adalah Sertifikat restoran Tante yang ada di jepang, Sekarang kamulah yang akan melanjutkan nya, kebetulan sekali suami kamu orang jepang. Ya sebenarnya hanya untuk mengisi kesepian kamu ketika di sana. Tante sudah mempersiapkan dengan baik." Jelas Tante Yuni panjang.
Sejenak kedua nya saling berdiam, mereka seolah sibuk akan pemikiran mereka sendiri.
Memang Tante Yuni merencanakan pengalihan warisan itu untuk mempermudah atau hanya sekedar mengisi waktu luang bunga. Di sela - sela menunggu study Satria selesai. Itu rencana setahun yang lalu, sebelum Satria meninggal dunia. Tapi ternyata semua seolah sirna, harapan tinggallah harapan.
"Tante makasih ya? hadiah ini terlalu mewah, Bunga jadi ngak enak banget sama Tante. Lagian sekarang Bunga bukan siapa - siapa lagi bagi Tante."
__ADS_1
"Ya sama - sama, itu cuma hadiah kecil kok, Siapa yang bilang kamu bukan siapa -siapa nya Tante. kamu masih anak Tante Bunga." Jawab Tante Yuni kalem. Kini posisi nya sangat dekat dengan bunga, dia angkat tangan kanannya lalu mengelus pelan rambut panjang tergerai milik bunga.
"Jadi Tante mohon terima ya hadiah Tante, Tante seneng banget kalau Bunga bisa menerimanya." Ucap Tante Yuni lagi.