
Semua orang saling diam.
Bingung dengan apa yang terjadi. Sementara Via yang juga berada di situ tampak tersenyum tak percaya, ternyata Rio benar-benar pria yang pemarah. Tapi itu adalah kabar gembira menurutnya. Dia tidak akan menyia-nyia kan kesempatan ini.
"Briyan!" Sebut Nyonya Kazumi tiba-tiba, tatapan nya lebih dalam dan serius.
Briyan menoleh." Iya Mom."
"Kamu tahu, ada permasalahan apa di antara mereka?"
Lelaki tampan itu terdiam sejenak. Haruskah dia mengatakan nya? Dia takut Mommypun akan ikut mengusir Bunga. Lalu Bunga akan pergi selamanya dari rumah ini. Tidak, Briyan tidak ingin hal itu terjadi. Dia sudah mengakui pada dirinya sendiri, bahwa Dia menyukai Bunga. Bunga telah membuatnya mabuk kepayang.
"Briyan." Sebut Nyonya Kazumi lagi, membuyarkan lamunan singkatnya.
"Eem memangnya Aku ini siapa Mom, bukannya Mommy tahu Kak Rio itu lelaki seperti apa? dia tak pernah berbicara apapun jika menurutnya tidak penting, bagaimana mungkin Aku tahu permasalahan di antara mereka." Ungkap Briyan pelan, mencoba mengalihkan perhatian sang Mommy.
"Benarkah Briyan?" Via ikut bertanya.
"Iya." Jawab Briyan singkat.
"Kamu sedang tidak berbohongkan?" Via terus menatapnya tajam.
"Te-tentu saja."
Via lalu tersenyum. "Hei Briyan kenapa kamu terdengar gugup seperti itu?"
"Aku hanya tidak nyaman dengan pandanganmu, baiklah Aku ada urusan sedikit." Briyan akan memutar langkahnya, namun Via segera menahannya. "Ada apa Via?"
"Kamu mau kemana?"
"Aku punya janji dengan temanku dan mereka sudah menungguku sekarang."
"Boleh Aku ikut?"
"Aah, apakah kamu sedang bercanda Via, bagaimana mungkin ini terjadi."
"Heum bukankah sekarang Aku adalah calon isterimu dan besok lusa kita akan menikah." Via terus menatapnya curiga.
"Iya Via, Aku belum pikun untuk melupakan pernikahan kita, tapi ini adalah urusanku dan teman-temanku."
"Briyan, apa salahnya jika Via ingin ikut, apa itu merepotkanmu?" Sambung Nyonya Kazumi heran.
"Ku rasa Aku batal untuk pergi dan perutku tiba-tiba terasa sakit, Ak-aku harus ke toilet. Permisi." Briyan langsung berlari. Kedua wanita itu saling berpandangan.
Via membatin. 'Apa yang sebenarnya Briyan sembunyikan? Ku rasa dia mengetahui sesuatu, ah Briyan kamu bodoh." Pikirnya curiga.
SEMENTARA didalam mobil.
Kedua pasangan suami isteri itu saling diam, hanya tangis pilu dari bibir Bunga yang terdengar. Entahlah apa yang ada didalam pikiran mereka. Mobil melaju dengan kecepatan tinggi, berkali-kali juga Rio mengerem mendadak. Dia sepertinya sudah kehilangan akal sehat.
CIITTTT
Mobil berderit keras di dalam parkiran sebuah apartemen. Rio segera turun membukakan pintu untuk Bunga, sebelum turun, keduanya saling berpandangan sejenak. Rio tak kuasa menatap wajah itu lama. Dia hanya tidak tega melihat air mata Bunga yang terus membanjiri pipi mulusnya, tapi hatinya juga kesal, kenapa harus Reza dan Reza. Rio kemudian melangkah mendekati bagasi belakang untuk mengambil koper milik Bunga.
__ADS_1
Beberapa menit kemudian mereka telah sampai di karidor apartemen milik Reza. Rio mencari-cari nomor yang cocok pada kartunya. Dan Rio menemukannya, tanpa berpikir panjang Rio langsung menekan tombol bel hijau, keluarlah wajah khas yang dimiliki Reza. Dia sedikit kebingungan menatap kedua anak manusia itu.
"Maaf Rez, jangan bingung Aku hanya ingin mengembalikan sesuatu yang sangat berharga milikmu," ucap Rio menepis kebingungan Reza.
"Maaf Tuan Rio, Aku tidak paham maksud anda. Masuklah kita bisa bicara didalam."
Rio mengangguk, sambil menyeret koper.
aroma pewangi dari dalam apartemen tercium segar, fasilitas didalamnya juga cukup lengkap, suasananya nyaman dan bersih. Mereka duduk di sofa. Sesekali berpandangan tak enak hati.
"Aku masih bingung dengan pernyataan yang Anda bicarakan tadi tuan."
"Aku sudah menduganya pasti kamu bingung, tapi Aku tidak mungkin memenjarakan seorang isteri yang membenciku, Kamu tahu penyebabnya?"
Reza hanya menggeleng.
"Apalagi kalau buka hadirnya orang ketiga!" lanjutnya sinis.
"Maksud Tuan?" Reza masih bingung.
"Jujurlah apa yang terjadi pada kalian, Aku hanya merasa sedikit bodoh karena menikahi wanita yang tidak pernah mencintaiku, bagaimana mungkin dia akan bahagia jika Aku terus saja memaksanya!" Lanjut Rio berapi-api.
"Tenanglah Tuan. Aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan isteri Anda Tuan, Bunga hanya teman terbaikku waktu di bangku sekolah menengah atas. Tak lebih dari itu Tuan."
Reza mencoba menjelaskan kesalahpahaman itu, namun lagi-lagi karena api cemburu telah membakar hati Rio, dia tetap beranggapan salah.
"Bisakah Aku percaya itu, tapi di kedua mata kalian Aku melihat ada cinta. Di manapun Bunga berada kamu selalu mengikutinya!"
"Lalu kebenarannya apa Reza. Aku sudah begitu muak melihat wajahmu, kamu pikir kamu siapa? Kamu hanya sampah busuk di antara Aku dan Bunga. Kamu sangat tak berguna!"
"Rio, apa yang kamu katakan? Jaga mulutmu Rio." Bunga menengahi pembicaraan.
"Oh I'm Grazy tentu saja kamu akan membelanya."
Rio menjambak rambutnya sendiri lalu merogoh saku celana panjangnya. Rio tiba-tiba mengeluarkan 5 buah Kartu Kredit dari dalam dompetnya dan melemparkan dengan kasar.
"Ini bayaran untukmu karena sudah tidur dengan ku setiap malam terima kasih untuk servis-an mu yang sangat menyenangkan." Rio mencibir, menampakan senyuman sinisnya.
"Aku tidak butuh uang, kamu pikir dengan uang semuanya akan selesai, kamu tak hanya angkuh Rio akan tetapi, kamu juga tidak punya perasaan!" Jawab Bunga keras.
Rio memejamkan matanya sejenak, menarik nafas sedalam-dalam. Ia sedang mencoba meredamkan amarahnya.
"Maaf Tuan Rio, Aku tak bermaksud mencampuri urusan Anda, Aku hanya perduli. Pikirkan baik-baik Tuan, apakah Anda yakin dengan keputusan ini. Anda adalah suami dan Anda berkewajiban melindunginya." Reza menasehati.
Dia tak merasa sakit hati sama sekali, dengan makian Rio. Dia hanya berpikir positif.
"Tutup mulutmu!" Bentaknya. Reza terdiam, Rio lalu menatap Bunga. "Kamu tak ingin mengambil uang ini?" tanyanya, pandangan Rio sangat tajam. Bunga menggeleng.
"Baiklah Aku lelah dan Aku ingin istirahat, selamat menikmati hidupmu!" Rio langsung mengambil kartu itu serta memutar langkahnya menuju ke luar.
"Tunggu Tuan Rio, Aku bisa menjelaskannya lebih detail, Anda jangan salah paham Tuan." Teriak Reza cukup lantang, Namun Rio tetap tak memperdulikan nya.
Reza atau pun Bunga hanya memperhatikan punggung Rio yang kini berlalu meninggalkan mereka. Bunga tertunduk, sebenarnya Diapun merasa lelah, karena menangis selama berjam-jam, perutnya terasa lapar.
__ADS_1
"Bunga." Panggil Reza pelan. "Aku tak tahu harus bilang apa ke kamu, semua ini gara-gara Akukan?" tanyanya melirih.
"Udahlah Rez, jangan menyalahkan dirimu, biarkan semuanya berjalan seperti apa yang Rio mau." Jawab Bunga pelan.
"Apa setelah kejadian ini, kamu akan membenciku?"
"Reza, kenapa Aku harus membencimu, Rio itu cuma egois. Dan karena keegoisan nya dia tak pernah memiliki toleransi kepada orang lain, dia menciptakan penderitaannya sendiri." Bunga menatap Reza kalem.
Lelaki itu menanggapinya dengan tersenyum. Sejak dulu Bunga memang perempuan yang kuat, begitu menurut Reza.
"Mamu bisa tinggal di kamarku."
"Maksudmu? Apa kamu tidak memiliki kamar lain?"
"Iya kamarku hanya satu."
"Aku jadi merepotkanmu, terima kasih sebelumnya tapi Aku bisa tinggal di ruangan ini saja."
"Bunga, tidak mungkin Aku tega menelantarkanmu, kita bertukar posisi ya, Aku yang akan tinggal di sini, sekarang beristirahatlah sebentar, tenangkan pikiran mu."
"Tapi Rez." Bunga menatapnya.
"Ada apa?"
"Aku lapar sekali, kamu punya makanan tidak?" Tanya Bunga sedikit memelas.
"Ya ampun, tunggulah sebentar Aku akan memasak untukmu." Reza tersenyum.
Bunga mengangguk, sambil terus memandangi wajah itu lekat. Dari dulu Reza tidak pernah berubah wajahnya masih sama, tampan dan sungguh mempesona. Bunga hanya duduk sambil melihat-lihat berbagai macam pernak-pernik yang ada didalam apartemen Reza. Semua tampak tersusun rapi.
Beberapa menit kemudian.
Reza datang membawakan semangkuk makanan untuk Bunga. Dia meletakannya di atas meja.
"Mie Ramen," ujar Bunga melebarkan matanya. Sambil mengaduk Mie itu dengan sendok, aroma nya segar, enak, asapnya juga masih mengepul.
Mie ramen menjadi salah satu makanan yang paling di gemari oleh penduduk jepang, selain harga nya terjangkau, pembuatan nya juga mudah, hanya butuh beberapa campuran bahan. Mie, kuah kaldu, daging, ikan, atau pun miso. Reza tersenyum dan mengangguk.
"Makanlah kamu pasti suka, apa perlu ku ambilkan nasi?"
"Ehh tidak usah, Aku makan ini saja, kamu tidak makan Rez?"
"Masih kenyang."
"Oke." Bunga segera mencicipi Kuahnya. "Eemm Enak, ternyata kamu pintar masak juga." Bunga tampak bersemangat.
"Jika enak habiskan saja."
Bunga mulai menikmati Mie itu. Namun,
"Uuummgh."
Buru-buru Bunga menutup mulutnya.
__ADS_1