
Briyan dan Reza saling berpandangan dan sama-sama melangkah mendekati Bunga.
Reza menarik tangan Bunga, begitu juga dengan Briyan.
"Ayo kak kita pulang," ucap Briyan datar.
"Lepaskan Aku Briy, Aku enggak mau pulang sama kamu."
"Apa kakak ipar akan menghancurkan semua nya? setelah, apa yang terjadi pada kita hari ini."
"Apa maksudmu!"
"Kakak ipar tidak hanya menyakiti perasaan saudaraku, tapi kakak ipar memulai masalah baru! jika ingin hidup tenang di keluarga Xen Zhin maka diam lah, tutup mulut mu!"
"Brengsek! Kamu terus saja mengancamku!" Jawab Bunga sangat kesal.
Briyan terdiam.
Sementara Reza bingung di buatnya, dia masih tak mengerti apa yang sedang mereka bicarakan.
"Bunga." Panggil Reza pelan, mencoba menengahi keadaan yang terdengar memanas, Bunga pun menoleh.
"Aku akan mengantarmu pulang."
"Iya Rez dan kamu Briyan lepaskan tanganku! Jangan terus memaksaku untuk pulang dengan mu!"
"Pulanglah bersama lelaki sialan itu, tapi jangan pernah menyesal untuk menerima kehancuran mu."
"Heii.... kenapa kamu terus memaksanya, kamu sudah membuatnya ketakutan bahkan sikapmu sudah kelewatan. Jika Pak Rio tahu, sudah pasti dia akan membunuhmu. Kamu bukan hanya brengsek akan tetapi benar-benar pengecut!" Bentak Reza pada Briyan.
"Kamu pikir, kamu siapa? jaga bicara mu baik-baik tuan, karena mungkin kamu akan celaka karena aku."
"Kerjaan mu selalu saja mengancam apa kamu tak punya topik lain, selain mengancam, mengancam dan mengancam orang lain."
"Udah-udah Kenapa kalian jadi bertengkar!" Kedua lelaki itu akhirnya terdiam sambil menundukan pandangan mereka.
"Lepaskan tanganku!" Perintah Bunga lagi. Mereka langsung melepaskan tangan Bunga.
"Rez, Aku pulang dulu, makasih atas bantuanmu," ucap Bunga pada akhirnya, sambil menatap Reza.
"Tapi Bung dia pasti akan mengulangi perbuatan nya lagi."
"Apa mau mu Tuan. Bunga adalah kakak iparku, dan Aku memiliki hak untuk membawanya pulang bersamaku, tidak mungkin Aku membiarkannya pulang bersama Pria gila seperti kamu. Walaupun mungkin kalian adalah teman atau apalah, Jangan terus menghalangiku!" Briyan menyela pembicaraan.
"Oh ya, apakah kamu pernah sekolah?"
"Tentu saja pernah, pertanyaanmu itu terlalu bodoh!" Briyan tersenyum tipis dan kedua tangan nya sambil bersila di dada bidang miliknya.
__ADS_1
"Belajarlah untuk berbicara yang baik jangan memaki!"
Briyan tersenyum.
"Apakah kamu mulai berlagak sebagai seorang pria bersih tanpa salah. Aku tak percaya."
Reza tak menjawab, dia hanya terdiam. Memandangi langkah kaki Bunga yang sedang memasuki mobil, Briyan menyusulnya. Setelah beberapa detik mobil pun berjalan, perlahan-lahan meninggalkan Reza sendiri. Reza terpaku untuk waktu yang sedikit lama, Angin berhembus lembut seolah menampar kulitnya pelan Daun-daun kering jatuh berguguran. Entahlah sampai kapan ia pendam perasaan ini, atau mungkin saja selama nya dia tidak akan pernah menyatu dengan wanita itu.
Sudah hampir 4 tahun berlalu namun cinta seorang Reza tidak pernah berubah. Dia tetap menyimpan rapat-rapat nama Bunga di hatinya bahkan sampai kini statusnya telah menduda. Cintanya tetap untuk Bunga, tak ada wanita lain. Dia memilih berpisah dengan Angel, hanya karena dia tak pernah mencintai wanita yang telah memberikannya satu anugerah terindah yaitu Tasya. Anak mungil berumur 2 tahun.
Bahkan Reza rela kehilangan pekerjaan, hanya demi bisa berada di dekat Bunga. Reza tak pernah bisa melupakan kenangan manis saat bersama bunga, sewaktu mereka masih sama-sama sekolah. Bunga memberi warna pada hidupnya yang hampa, Bunga juga membangunkan dari keterpurukan yang panjang, setelah ibu kandungnya berselingkuh dan meninggalkan Ayahnya serta dia. Untuk saat itu pun dia merasa kecewa pada manusia bernama perempuan. Tapi setelah bertemu Bunga, pandangannya berbeda, Reza menemukan kembali cinta nya yang pernah mati. Reza melangkah pelan, mendekati motor lalu naik, menghidupkan stater dan pergi.
Sementara di jalan lain...
Bunga tertunduk sedih, sejak tadi ia berusaha menyembunyikan air mata nya yang terus menetes. Tak ada suara, mereka berdua tenggelam dalam kesunyian.
CIITTTT!!
Mobil berhenti di halaman rumah mewah milik Tuan Xen Zhin. Briyan turun lebih dulu serta membuka kan pintu untuk kakak iparnya. Bunga kini turun tanpa menoleh sedikitpun kearah Briyan.
Lelaki itu hanya tersenyum kecut, sebelum dia membawakan semua barang-barang milik Bunga.
Pelayan di rumah Tuan Xen Zhin sudah berdiri membukakan pintu untuk nona mereka. Tak ada senyum yang terlihat di wajah Bunga.
"Selamat datang Nona." Sapa pelayan.
"Hem."
Sesampai nya di ruang tengah.
"Sayang, Kamu sudah datang?" tanya Rio pelan, yang entah sejak kapan Rio pulang dari kantornya dan Bunga pun tak melihat mobil putih milik Rio terparkir di halaman lelaki itu terlihat khawatir. Bunga memaksa bibirnya untuk tersenyum di hadapan suami tercinta.
"Iya." Jawabnya singkat.
Rio mendekat kemudian merangkul mesra pundak Bunga.
"Apa kamu lelah?" tanyanya lagi.
"Hanya sedikit." Bunga seperti tak punya semangat menjawab setiap pertanyaan yang di lontarkan Rio. Rio membawa nya ke sofa empuk untuk duduk, dia tersenyum.
"Aku sangat khawatir padamu, karena nomor ponsel mu tidak aktif."
"Eemm."
"Kak, ini barang-barang belanjaanmu, Aku harus meletakannya di mana?" tiba-tiba saja Briyan datang. Mengalihkan pembicaraan mereka.
"Letakan saja di situ."
__ADS_1
"Oke." Briyan menjawab dan segera berlalu.
Rio mengambil tangan Bunga untuk ia genggam. Memperhatikan nya penuh cinta.
"Sayang, ada apa dengan lehermu?" tanya Rio heran. Bunga merabai lehernya yang sedikit terdapat tanda merah.
"Ada apa memangnya?"
Rio terdiam sejenak. 'Apakah itu bekas ciumanku semalam? tapi Aku tak melihatnya tadi pagi.' bertanya di dalam batin.
"Kamu melihat apa Rio?" Bunga penasaran di buatnya.
"Tidak ada, mungkin itu bekas ciumanku tadi malam." Nada Rio terdengar kecewa. Bunga bisa merasakan nya.
"Ya sudah, Aku ingin kembali ke kamar, apa pekerjaanmu sudah selesai?"
"Belum."
"Lalu, kenapa kamu pulang?"
"Aku mengkhawatirkan mu. Kamu belum menjawab pertanyaan ku tadi."
"Apa?"
"Ponselmu."
"Maaf, semalam Aku lupa mengisi baterainya."
"Lain kali, jangan membuatku sangat khawatir, Aku hampir-hampir gila mencarimu dan satu hal lagi aku tak akan mengizinkanmu pergi bersama Briyan lagi, cukup ini yang terakhir."
"Bukan nya kamu sendiri yang mengizinkannya sendiri."
"Ya, Aku tak bisa menolak keinginan Mommy. Maafkan Aku, Aku terlalu sibuk. Sekarang istirahatlah, Aku akan kembali ke kantor dan jangan lupa untuk selalu mengunci pintu kamar." Pesan Rio panjang.
Bunga mengangguk, Rio lalu tersenyum sambil mendaratkan kecupan singkat di pucuk kepala sang isteri.
"I love you." Bisiknya singkat.
Bunga hanya memandangi nya saja.
'Kenapa kamu memandangiku begitu tajam? Kamu tahu bahwa tatapanmu itu seperti racun yang memabuk kan. Heem Aku sudah kecanduan.' Rio menangkup kedua belah pipi merah itu.
'Rio maafkan Aku, Aku tak bisa menjaga bibir yang hanya milikmu, Briyan si jahat telah mengambilnya.' Bunga membatin dengan intonasi kecewa.
"Kenapa terdiam? ada yang salah pada ucapanku ya? Heumm." Rio mengelus pipi bunga lagi.
Aliran darahnya mendadak kencang. Jantungnya pun sejak tadi berdetak sangat hebat. Rio perlahan menyatukan bibir mereka dan menciumnya dengan manis.
__ADS_1
PRANNGGG!!
Sesuatu seperti kaca tiba-tiba terjatuh ke lantai.