
Bunga terus menatapnya.
"Apa kamu juga akan memakan nya untuk dirimu sendiri?" Bunga masih di selimuti rasa penasaran.
"Tentu saja Aku akan memakan nya hingga habis. Tanpa sisa, dengar itu baik-baik!"
Bunga langsung mengerutkan dahinya, suasana malam yang dingin atau pun ac di dalam mobil tidak membuatnya terpengaruh sama sekali dengan keringat yang tiba -tiba membasahi pelipisnya. Itu adalah keringat berlebihan, akibat ketakutan yang bunga rasakan saat sekarang.
Rio menatapnya kembali.
"Apa kamu takut...?"
"Je...Jelas sekali kamu membuatku takut."
"Jika begitu bersiaplah menghadapi kematianmu sekarang. Benikno cepat kemudikan mobil ini menuju tempat yang kosong Aku akan segera mengeksekusikan perempuan pembangkak ini...!" Ujar Rio Xen Zhin tegas.
"Siap Tuan...! jawab Benikno tak kalah tegas. Dia sedikit tersenyum tipis, sambil menolehkan wajahnya ke lain sisi. Tentu saja Bos nya tidak betulan.
"Ap... Ap? Seketika mata Bunga membesar layaknya telur ayam. "Kau serius? Ampuni aku, Aku berjanji tidak akan membantahmu lagi Rio..." Rengeknya datar.
"Apa kamu bisa menepati janji mu, aah... Mana Aku percaya."
"Ku mohon jangan belah dadaku, Aku masih ingin hidup Rio."
Rio tersenyum sinis mendengarnya.
"Aku tidak perduli, Aku akan segera membelah dada mu."
"Turunkan Aku di sini, kau benar - benar membuatku ketakutan Rio. Ayolah... Atau Aku akan berteriak...!" Ancam Bunga masih dengan raut ketakutan nya.
"Lakukan jika kamu bisa...!"
"Baik Aku akan melakukan nya... Tolooooong.... Tolongggg......! Teriak Bunga lantang.
Rio terkejut.
"Bunga, apa - apaan kamu ini." Ujarnya setengah panik. Rio segera membekap mulutnya. Dan perempuan itu pun memberontak, berharap tangan Rio bisa dengan mudahnya Bunga singkirkan. "Jika kamu berteriak lebih keras lagi orang-orang akan mendengarnya, lalu mengira Aku menculikmu, dasar perempuan bodoh...!" Omel Rio tak habis pikir.
Bunga terdiam, nafas nya naik turun.
"Apa ini jelas...!" ucap Rio lagi. Bunga mengangguk berusaha untuk menenangkan diri. "Huff...." Desah Rio Xen Zhin kesal. "Apa yang ada di pikiran mu itu, selain pikiran negatif. Bagaimana mungkin Aku akan serius membunuhmu, Kamu adalah perempuan yang baru saja ku nikahi."
__ADS_1
"Kamu selalu mengancamku...!" Bunga membantah. Kedua mata bening nya berkaca-kaca. Rio bisa melihatnya walaupun samar-samar.
"Ya Tuhan Kamu menangis?" Tanya Rio lirih. Rasa emosi yang sempat meluap tadi berubah menjadi kelembutan. "Aku cuma bercanda Bunga... Aku tidak serius. Maafkan Aku." Jelas nya kemudian. Sambil melepaskan bekapan dari mulut mungil Bunga.
Bunga tak langsung menjawab, dia pun menangis sekencang-kencangnya. 'Aah... Kenapa sifatnya sangat kekanak-kanakan. Jika begini terus Aku bisa grazy so grazy.' Gumam Rio masih menampakan kekesalannya.
Dengan sigap dia tarik gadis itu kedalam pelukan nya. "Huss... Diam... Diam. Kamu sangat merepotkan!" umpat Rio tegang.
Namun tiba-tiba saja Benikno tertawa dan suara nya itu terdengar jelas.
"Benikno, kenapa engkau tertawa? Bukan nya ini tidak lucu sama sekali."
"Hehe.. Maaf tuan Aku benar-benar tidak bisa mengontrol rasa geliku, sejak tadi bibirku ini serasa di gelitiki. Nona muda lucu sekali." Ungkap Benikno sangat jujur.
Sementara Rio mendengus kesal. Bunga tak lagi menangis, dia merasa sedikit tenang berada di dalam dekapan maut sang suami. Aiih, tentu saja sejak tadi dia mencium aroma maskulin yang tersembunyi dari balik jas milik Rio. Rio Xen Zhin sangat menjaga kebersihan diri dan penampilan nya, tidak heran jika wanita banyak yang melirik kepada nya. Bunga bisa di katakan satu-satu nya perempuan beruntung, karena bisa menikah dengan pria setampan dan sekaya Rio Xen Zhin.
Semua wanita sangat mendambakan bisa tidur di dalam pelukan hangat dari sang pemilik dada bidang Rio. Sebagian wanita pasti iri serta dengki.
Tak terasa mobil kini sampai di halaman rumah Bunga. Benikno segera membuka kan pintu untuk tuan dan Nona mudanya. Mereka sudah turun.
"Ben, terima kasih kau telah mengantarku, sekarang beristirahatlah."
"Baiklah... Sama-sama Tuan." jawabnya penuh hormat." Lelaki berperawakan tinggi jangkung serta memiliki kumis yang sedikit tipis lalu menegak kan kepalanya dan masuk kembali ke dalam mobil. Benikno kembali ke kamar hotel, untuk mengistirahat kan badan nya yang sepertinya letih.
Namun Bunga masih berdiri, mematung.
"Ada apa? Ayo kita masuk." Ucap Rio datar.
"Masuklah dulu?"
"Kenapa? di luar dingin, tidak bagus juga buat kesehatan mu." Bunga hanya menggeleng.
"Apa kamu masih marah terhadapku? Aku hanya bercanda lagian Aku sudah meminta maafkan?" Rio masih terus membujuknya.
Dan Bunga tetap pada pendirian nya. Wajah imut nya tidak menampakan kebahagian di situ. Sehingga menimbulkan tanda tanya di dalam benak Rio Xen Zhin. Sejauh ini dia belum bisa memahami perasaan perempuan sepenuh nya. Rio Xen Zhin tersenyum.
"Kamu tak ingin bergerak, ya sudah jika begitu." Rio Xen Zhin akhirnya harus bertindak seperti ini.
Di angkatnya Tubuh Bunga.
"Hai.... Apa yang kau lakukan Rio, lepaskan...! Aku bisa berjalan sendiri." ujar Bunga memberontak.
__ADS_1
Tapi itu tidak menggoyah kan pertahanan Rio Xen Zhin untuk menurunkan Bunga begitu saja.
Dengan jari jemari yang lihai, Rio memencet tombol bel di samping pintu.
TING TUNG TING TUNG
"Rio... ! Kamu sangat kurang ajar lepaskan Aku." Bunga meronta - ronta, sambil memukul punggung Rio dengan kedua tangan nya. Rio tetap tidak memperdulikan nya. Beberapa detik kemudian.. Pintu pun di buka oleh Bi inah.
"Tuan Rio apa yang terjadi pada Nona Bunga, apakah Nona sakit?" Tanya terlihat panik.
"Tidak Bi, Nona hanya ingin bergaya romantis." Jawab Rio beralasan.
Pembantu itu langsung tersenyum, menampakan gigi nya yang masih rapi dan putih.
"Wah... Udah kayak di sinetron saja sih Tuan." Ujar Bi inah mencandai mereka.
"Iya nih Bi, tolongin Bunga Bi.....!"
"Kok malah nolak sih Non... Bukan nya itu sangat menyenangkan Non."
"Ah... Apa sih kata Bi inah ni. Yang ada malahan sakit Bi." jawab Bunga kesal, suara nya semakin jauh, karena Rio terus saja berjalan.
Bi Inah geleng-geleng kepala melihat kelakuan kedua majikan nya itu.
"Duh romantis banget sih;Non Bunga sama Den Rio. Hehe jadi keinget masa muda dulu." Ucap Bi inah lirih. Sambil kembali menutup pintu.
DI KAMAR.
Rio menurunkan tubuh Bunga ke atas sprimbed, dan menghirup oksigen yang serasa mau habis.
Apa kau lega sekarang? Tanya Rio setelah tenaga nya terkumpul.
"Ya, Aku lega sekali, terimakasih udah gendong Aku sampai kamar." Jawab Bunga datar. Namun wajah nya terlihat manyun. "Oh iya, Aku masih penasaran soal kamu tahu keberadaanku di caffe itu, siapa yang sudah memberitahumu?
"Tidak ada." Rio mengangkat sebelah alisnya.
"Lalu?"
"Tanyakan sendiri pada dirimu."
"Maksud mu apa Rio?"
__ADS_1