DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 58 . Kedatangan Oma Naomi


__ADS_3

PAGI yang dingin, jarum jam menunjukkan pukul 05:30. Rio tampak menuruni tangga putar dari kamarnya, penampilannya sudah rapi. Setelan yang ia pakai adalah ala rumahan saja cukup simple namun keren, ia berjalan melangkahkan kedua kakinya tanpa ragu-ragu menuju dapur.


Beberapa pelayan yang berada di situ merasa terkejut, karena tak seperti biasa, Tuan tampan nya pergi ke dapur sepagi ini.


"Selamat pagi Tuan." Sapa mereka berbarengan.


"Pagi."


"Apa yang Anda butuhkan Tuan, kami akan segera membantu."


"Aku hanya ingin masak."


"Hah."


Mereka semua terkejut dan saling berpandangan dengan berbagai pertanyaan tak mendasar. Mereka hanya tak mengerti apa yang sebenarnya ingin Rio masak.


"Kenapa kalian menatapku seperti itu? Apa ini aneh?" Tanya nya lagi, sambil membuka lemari pendingin.


Dan di situ telah tersedia berbagai macam sayur-sayuran. Rio tersenyum tipis, memandangi layar ponselnya. Beberapa menit yang lalu dia telah mencari resep gado-gado di google.


"Tidak ada apa-apa Tuan, maafkan kami." Salah satu Pelayan menjawab.


Mereka was-was apakah pekerjaan mereka ada yang tidak beres sehingga menimbulkan keinginan Tuan mereka untuk memantau keadaan di dapur serta berkeinginan masak sendiri.


"Baiklah, lakukan pekerjaan kalian seperti biasa."


"Baik Tuan." Jawab Para pelayan dengan serempak dan kemudian mereka kembali pada pekerjaan masing-masing. Tak ada yang berani berbisik-bisik. Suasana sepi serta hening sesekali yang terdengar hanyalah aktifitas memasak.


10 menit berlalu.


"Aaahh, akhirnya Aku berhasil." Ucap Rio tiba-tiba.


Para pelayanpun spontan mencuri-curi pandang, kearah Tuan mudanya yang tengah bergembira itu. Mereka pun penasaran makanan apa yang Tuan Rio nya masak. Namun keseganan mereka, akhirnya mereka hanya mendelus menahan rasa penasaran. Karena merasa sudah beres Rio langsung bergegas jalan menuju ke kamar untuk menemui sang isteri.


"Bagaimana mungkin, kamu bisa begitu mudah memberi kepercayaan dan kekuasaan padanya untuk mengelola perusahaan yang telah suami mu dirikan selama bertahun-tahun itu."


"Bu, Kami hanya belum mempercayai Briyan untuk menggantikan nya. Prestasi yang di miliki Briyan masih jauh dari sukses, lagi pula dia hanya menggantikan posisi suamiku karena suamiku sakit beberapa tahun yang lalu. Apa itu salah?"


"Oh... Kau ini seorang ibu seperti apa? dengan putramu sendiri saja kau hilang kepercayaan. Apa kau lupa bahwa anak tertuamu itu hanyalah anak adopsi!"


Langkah kaki Rio mendadak terhenti ketika mendengar percakapan di antara dua orang wanita dari dalam ruang tengah. Ia kenal betul suara itu, ya suara Oma Naomi dan Mommy Kazumi. Apa yang sebenarnya mereka berdua bicarakan? Apakah mereka sedang membicarakan Aku? batin nya pelan. Rio menjadi sedikit penasaran dan ingin tahu.

__ADS_1


"Bu, rendahkanlah suaramu, Aku takut orang lain mendengarnya."


"Sampai kapan kau menutupinya Kazumi. Harusnya kau segera menyerahkan kekuasaan itu pada Briyan putra mu, Bukan Rio anak adopsi itu!"


"Bu, tolong mengertilah."


"Apa karena kamu sangat menyayangi anak itu? Kamu sungguh ibu yang tidak adil."


"Ya, Aku sangat menyayangi anak itu dan Aku sudah membedakan perasaanku pada mereka berdua, Briyan terlahir pun berkat dia."


"Jujur saja jika begitu."


"Aku belum bisa Bu." Ucap Mommy Kazumi terdengar lirih. beberapa detik kemudian suasana menghening.


Rio baru memberanikan langkahnya untuk melewati ruang tengah.


"Selamat pagi Oma." Sapa nya datar. Kedua wanita itu terkejut dan menoleh.


"Oh Rio, apa kabar?" Oma Naomi buru-buru menyapa.


"Sangat baik Oma." Rio tersenyum sambil membungkukkan badannya sebagian.


Rio kini berjalan mendekati mereka berdua, sementara di dalam hati nyonya Kazumi ia merasa gelisah, was-was Rio mendengar percakapan nya barusan. Dia duduk di samping seorang wanita tua dengan pakaian klasik. Kira-kira umurnya sekitar 50 tahunan.


"Kapan Oma datang? Kenapa Aku baru melihat sekarang?" Tanya Rio pelan.


Sebelum menjawab wanita tua itu tersenyum.


"Aku tiba pukul 23:08 Tadi malam. Ku lihat juga sepertinya kamarmu sudah sepi, Aku memang terlambat sampai di sini, masalahnya penerbangan di tunda selama beberapa jam, akhirnya Aku tidak bisa menghadiri pernikahan Briyan tepat waktu." Jelasnya.


Rio tak menjawab. Perasaan nya memang sedikit aneh jika berhadapan dengan wanita ini, panggil saja dia Oma Naomi, perempuan halus berhati bengis, sejak kecil dia tak pernah memiliki rasa kasihan pada Rio. Rio tahu itu namun dia mengabaikan nya. Akan tetapi sekarang dia sudah tahu jawaban, kenapa sewaktu kecil Oma Naomi tak pernah menyukainya. Apa lagi jika bukan karena Oma Naomi tidak pernah menghendaki dia berada di tengah-tengah keluarga Xen Zhin. Ternyata dia hanya ada malang yang di adopsi.


"Oh iya Aku hampir lupa bukankah sebulan yang lalu kau telah menikah? Aku juga tidak bisa menghadiri pesta pernikahan mu, aah aku jadi merasa menjadi Nenek yang tak berguna," ucapnya sedih. Dia pikir Rio akan kecewa.


"Tidak masalah Oma, kami semua tahu bahwa Oma kemaren sakit." Rio baru berucap setelah beberapa detik ia terdiam, setelah mendengarkan kata-kata penuh kedustaan itu. "Apakah sekarang keadaan tubuh Oma sudah membaik?"


"Ya, seperti yang kau lihat." Jawabnya sambil memperbaiki posisi kaca matanya. "Di mana isterimu Aku ingin melihatnya, bukan kah dia gadis keturunan indonesia. Tak ku sangka pertemuan mu terlalu singkat dengan nya."


"Isteriku sedang di kamar. Baiklah Aku akan memanggilnya untuk Oma."


Rio langsung beranjak bangun dari tempat duduk dan Rio pun melangkah sangat cepat menaiki tangga putar menuju kamarnya.

__ADS_1


CEKLEK.


Terdengar bunyi pintu terbuka, di lihatnya Bunga isterinya sedang berdiri di depan lemari pakaian. Rio tersenyum, melangkah mendekat serta merentangkan kedua tangan nya untuk memeluk isterinya dari belakang.


"Hei, Aku mencintaimu perempuan pendek." Ujarnya pelan sambil memeluknya dengan erat.


"Sayang apa yang kamu lakukan, kamu membuatku terkejut." Kilah Bunga setengah cemberut.


"Benarkah kamu terkejut, maafkan Aku sayang. Aku tidak tahu jika gerakan ku ini mengejutkan mu, Aku ingin mengatakan tidak ada wanita yang ku cintai di dunia ini selain engkau." Jawabnya lirih.


Rio mencium tengkuk Bunga pelan. Sehingga membuat bulu kuduk Bunga meremang.


"Gombal! menyingkirlah dariku sayang Aku akan mengganti baju." Tandasnya kesal. "Apa bercinta tadi malam tidak membuatmu puas?"


"Kamusku berkata bahwa nafsu nakalku akan selalu naik jika melihatmu." Rio masih terus menempelkan tubuhnya. "Coba rasakan di bawah sana, si junior sudah tegang." Bisiknya di telinga Bunga.


"Hentikan godaan konyolmu itu, uuuh telingaku sakit mendengarnya."


"Bohong, Kamu pasti menyukainya jugakan?"


"Minggir, Kalau tidak Aku gigit lenganmu ya." Bunga mulai mengancam.


"Gigit saja, Aku tidak akan melepaskan nya."


"Dasar keras kepala!" Bunga langsung mendaratkan gigitannya ke lengan Rio.


"Aaagghh iya iya Aku akan menyingkir!" Ringgisnya berteriak. "Aah Kamu ini tega sekali."


"Salahmu sendiri kenapa tidak mendengarkan Aku." Jawab Bunga santai. Lelaki itu pun spontan memutar langkahnya dan menatapnya tajam.


"Ya sudah Aku kalah." Rio berujar pasrah.


Bunga pun tersenyum mendengar. "Apakah gado-gado yang ku minta sudah jadi sayang?"


"Sudah, Aku kesini untuk mengajakmu turun. Di bawah juga ada Oma."


"Nenekmu maksudnya?!" Bunga terkejut.


"Ya, kenapa sepertinya kau terkejut?"


"Tidak mengapa." Jawab Bunga pelan sembari tersenyum dan mulai mengenakan bajunya. Rio hanya menunduk

__ADS_1


__ADS_2