
Bunga melepaskan pelukannya. Kedua orangtua mereka kemudian menghampiri.
"Kalian....?" Ucap Mami Yuni terheran, karena di lihatnya mereka saling berpelukan layaknya sepasang kekasih. Satria tersenyum tipis serta mengangguk.
"Maaf Mi, Satria ngak pernah cerita sama Mami, kalau sebenarnya Satria udah punya pacar. Kita baru jadian 5 bulan yang lalu Mi." Jelas Satria pelan.
"Ya ampun, kebetulan banget, jadi kita ngak perlu repot-repot memaksa kalian untuk menikah tanpa cinta." Jawab Mami Yuni bersyukur, setelah itu dia pandangi wajah Bunga yang sejak tadi cuma menunduk. Dan Mami Yuni langsung berkata.
"Maafin tante ya Bung, tante ngak bermaksud buat kamu sedih, karena selama ini, tante sudah menyembunyikan perjodohan kalian, itu semua tante dan mama kamu lakukan. Biar kalian fokus belajar dulu. Tante ngak nyangka ternyata kalian sudah menjalin hubungan special ini selama beberapa bulan yang lalu." Mami satria mendekatinya, kemudian memeluknya dengan hati yang menyesal.
"Ngak apa-apa Tante Bunga ngerti kok Karena semua orang tua pasti menginginkan yang terbaik buat masa depan anaknya." Bunga membalas pelukan itu dengan perasaan yang bercampur aduk. Wajahnya terlihat sangat cantik dan sederhana. Itulah yang membuat satria jatuh hati padanya dan rasa itu di mulai saat pandangan pertama.
"kamu memang gadis yang baik, seperti Mama mu, Tapi, Kenapa satria ngak pernah jujur kalau gadis inilah yang sangat membuatnya gelisah." Ujarnya lagi, kali ini sambil mengelus elus kepala gadis yang dipeluknya. Perasaan Bunga sedikit aneh dia merasakan dekapan itu seperti dekapan hangat dari Papa tersayangnya.
Tentu, karena wanita itu memakai hati Papanya.
Setelah beberapa detik mami satria melepaskannya.
"Satria Mami yakin Bunga bisa menjadi pendamping hidup kamu yang paling setia dan penuh perhatian." Dia menatap putra di sampingnya yang sejak tadi masih membisu.
"Tentu Mi, Satria ngak salah pilih pendampingkan." Jawabnya kecil. Hal itu membuat perasaan bunga malu.
"Dan satu hal lagi, kalian tak akan berpisah terkecuali kematian yang memisahkan kalian, Satria, tante percaya sama kamu, sayangi Bunga seperti kamu menyayangi diri kamu sendiri." Sambung mama Tia lirih.
"Satria janji tante." Satria menatap kalem ke arah Mama Bunga. Akan tetapi bisakah, Dia memenuhi permintaan dari kedua wanita itu? di sisa hidupnya dengan penyakit yang sedang menggerogoti tubuhnya ini. Waktu itu pun berlalu.
Kini malam datang menyapa dan Mereka akan memulai mimpi mereka masing-masing.
Bunga dan Mama Tia sudah berada di rumah. Rindunya sudah terobati meski dia tahu kondisi tubuh satria sekarang sedang tidak baik akan tetapi Dia sangat berharap Satria bisa melewati cobaan ini.
Ceklek
__ADS_1
Terdengar pintu kamar Bunga di buka. Muncullah wajah cantik yang di miliki Mama Tia.
"Sayang kok belum tidur?" Tanya mama nya pelan. Ketika melihat anak gadisnya masih gelisah.
"Iya ma belum bisa tidur!" Jawab Bunga sambil memiringkan tubuh nya.
"Kenapa? masih kepikiran satria? ngak usah terlalu banyak di pikir Kamu yakin aja kalau dia pasti akan baik-baik sayang, Mama janji Insya Allah Mama akan jadi dokter terbaik buat dia. Mama akan usahain supaya dia bisa pulih lagi!"
"Mama bersungguh-sungguh?" tanyanya penuh harap.
Mama Tia mengangguk. Tentu saja mamanya berjanji karena Mama Tia adalah seorang dokter yang banyak memiliki prestasi. Kemampuannya dalam menangani pasien tidak di ragukan lagi. Bisa di bilang seorang dokter handal.
"Sekarang, Kamu harus tidur." Perintah Mama Tia
"Oke, makasih ma." Ucap Bunga pelan sambil memperbaiki posisi selimut tebalnya. Kemudian Mama Tia bergerak untuk mengecup keningnya dan mengucapkan selamat malam.
***
Sepertinya keadaan Satria banyak berubah, semakin hari semakin membaik, bukankah itu kabar yang menyenangkan. Tentu saja, mungkin di karenakan pengaruh suasana yang sedang baik di hati Satria, jadi semangat juang pada penyakitnya ini terus bertambah dan membuat kondisi tubuhnya berangsur pulih. Ya dia harus semangat demi gadis yang di cintainya, Bungapun lebih sering menjengguknya.
Di rumah Satria.
Lelaki tampan itu tengah duduk di taman belakang rumahnya, sambil meminum jus melon buatan Bi Inah selaku asisten di rumahnya. Tatapan mata dan wajahnya seolah memberikan harapan yang lebih baik. Dia tidak sendiri di situ, ada Bunga yang sebentar lagi akan Dia nikahi.
Tangan halus Satria tampak mengenggam erat jari jemari Bunga. Dan mereka sangat menikmati pemandangan di situ.
"Sayang... Aku sangat bahagia sekarang. Apa kamu juga bahagia?" Tanya Satria lembut.
Bunga menjawab. "Tentu saja Sayang."
"Berjanjilah." Ucap Satria lagi, Kali ini dia rebahkan kepala Bunga di bagian sebelah dadanya.
__ADS_1
"Aku harus berjanji apa Sayang?" Bunga merasa sandaran itu sangat hangat. dia juga mendengar gerak jantung yang ada di dada Satria. Detakan penuh rasa gemetar serta cinta.
"Berjanji akan memeluk dan menciumku saat Aku tertidur nanti."
"Ya, pasti akan Aku lakukan setelah kita menikah nanti." Bunga masih terus terlena dalam dekapan kecil Satria, kepalanya semakin ia benamkan.
Lelaki itu, berlanjut mengelus elus rambut panjang Bunga. Tercium wangi harum dari rambut gadisnya.
"Kamu juga harus berjanji, tidak akan meninggalkan Aku lagi." Nada Bunga terdengar manja.
"Tentu saja sayang, bila perlu akan ku ikat tubuhmu pada tubuhku, agar kita selalu bersama kemana pun." Satria tersenyum
"Ah... Kamu itu terlalu berlebihan sayang."
"Ya... Ya hanya perumpamaan Sayangku. I love you. Cuup." Terlihat Satria mendaratkan ciuman manis pada kening Bunga.
"Heumm.... Aku selalu memikirkan mu sepanjang waktu. Terima kasih atas ciuman kasih sayangnya. Aku suka." Respon Bunga datar, ketika mendapatkan ciuman kecil dari Satria.
"Apa Kamu pikir Aku juga tak memikirkanmu di setiap waktuku? Kamu salah sayang, hanya kamulah yang selalu mengganggu di setiap detik. Bahkan Aku sampai tak bisa tertidur dengan nyenyak karena selalu memikirkan senyum manis yang kamu punya." Satria mengakuinya, bahwa bunga adalah segalanya.
Sepasang kekasih itu tersenyum penuh ketenangan. Mereka telah mengungkapkan apa yang telah mereka rasakan.
"Bukankah setelah ini, Kamu akan melanjutkan Study kamu sayang?" Tanya Bunga lagi.
"Iya, Aku akan kuliah demi menjamin masa depan kamu Sayang. Dan kamu sendiri bagaimana? kamu sudah mendaftar di fakultas impianmu kan?"
"Iya, Aku sudah mendaftar, akan tetapi sayang Aku tidak diterima sayang."
"Bagaimana mungkin gadis secerdas ini, di tolak, fakultas mana yang merusak mimpi indahnya."
"Itu karena kamu Sayang."
"Aku?"
"Betul sekali, selama ujian seleksi Aku selalu tidak mengfokuskan diriku, karena aku sangat mengkhawatirkan keadaan kamu."
__ADS_1
"Ooh... Malangnya, baiklah akan ku tebus kesalahan itu, Aku berjanji." Satria masih tersenyum menatapnya. Entahlah yang mereka rasakan adalah sebuah kebahagiaan, mereka berharap ini akan selamanya.