DI NIKAHI BOS TAMPAN

DI NIKAHI BOS TAMPAN
Bab. 24. Gara-gara Dingin


__ADS_3

Malam pun berlalu dengan sebuah perasaan yang masih belum mereka pahami sepenuhnya. Tak terasa waktu terus bergulir tanpa lelah, sekarang jam sudah menunjuk kan pukul 03:00 pagi. Bunga tersadar dari tidurnya yang terasa ingin sekali buang air kecil ke toilet. Dengan malasnya dia pun bangun. Tiba - tiba saja tangan Rio Xenzhin mencekalnya, dan dia berujar sangat lirih.


"Kamu mau kemana?" tanyanya.


"Ke toilet!" Jawab bunga ketus.


"Aku juga ikut." Bunga pun terkejut mendengar permintaan Rio Xenzhin.


"Yang benar saja kamu pengen ikut, ku rasa itu terlalu lebay." Bunga pun segera menyentak tangannya, namun tenaga Rio Xenzhin lagi-lagi lebih kuat darinya.


"Riooo... Aku sudah tidak tahan ingin buang air kecil." Teriaknya kesal. 


"Apa salahnya jika Aku ingin ikut."


"Ya, cepetan bangun kalau gitu." Akhirnya bunga mengalah juga. Rio tak menjawab, dengan malasnya Rio berusaha bangun dari tidurnya dan mereka pun bersama-sama masuk ke toilet.


"Sekarang apa tujuanmu ke toilet?" tanya bunga datar, setelah mereka sudah sampai.


"Ya, tentu saja sama dengan mu."


"Huff... Kalau begitu duluan." Bunga langsung membalik kan badan. Sementara Rio Xenzhin sedikit tersenyum menatapnya. 'Dasar lelaki aneh, apa menurutnya itu lucu!' Batin bunga kesal


Setelah beberapa detik Rio Xenzhin telah menyelesaikan kegiatannya. Lelaki itu pun mendekati bunga. "Sekarang giliran mu." Dia berbisik di telinga isteri nya. Bunga tak begitu merespon nya, agar Rio Xenzhin segera melangkah keluar meninggalkan nya, namun pria itu malah berdiri di depan washtafel, membasuh wajahnya.


"Hei... tolong tinggalkan Aku sendiri." Bunga bernada mulai kesal. Rio spontan menatapnya.


"Apa yang ingin kamu lakukan, lakukan saja sesuka hati mu dan pastinya Aku tidak akan mengusik mu." Rio menjawab


"Siapa yang bilang bahwa kehadiran mu tidak mengusik ku, pliss... Tinggalkan Aku sendiri Rio." Bunga terus memohon. Namun Pria itu tidak memperdulikan nya sama sekali. Dia malah asyik menikmati kegiatannya.


Beberapa detik kemudian karena di lihatnya wajah bunga sudah nampak manyun sekali, akhirnya Rio meninggalkan nya juga. Rio Xenzhin berjalan dengan perlahan, duduk sejenak di atas sprimbet empuk itu. Dinginya suasana subuh ini membuat Rio merasa sedikit kedinginan, di tambah lagi di luar sana sedang hujan gerimis. Dia pun segera menarik selimut tebal yang masih tergeletak di samping nya itu. Dia hendak membaringkan tubuh nya lagi. Bunga pun datang dia tatap Rio Xenzhin yang telah menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Bunga mendengus kesal, 'apakah dia akan tidur satu selimut dengan pria itu juga?' Bunga tak ambil pusing, dia pun ikut masuk kedalam selimut itu. Suasana menjadi terasa hangat, merasakan hal itu, Rio Xenzhin langsung saja menyingkap selimutnya sedikit dan memperhatikan isteri nya itu.


"Apakah Kamu juga kedinginan?" tanya nya pelan.


"Ya tentu saja, pertanyaan mu itu terlalu konyol." bantah bunga masih kesal. "Memangnya kamu pikir tubuhku memiliki lemak yang cukup untuk melindungi diriku sendiri." Lanjut bunga masih merasa kesal.


"jika begitu Aku bersedia memberi mu kehangatan." Rio menjawab


"Gila... !" maki Bunga datar. Melihat reaksi bunga, Rio semakin senang mengganggu nya.


"Kamu tidak boleh membantah, Aku adalah seorang pria yang telah sah menikahi mu, jadi apa pun kebutuhan ku kamu harus melayani ku dengan senang hati." Rio Xenzhin masih memperhatikan nya. Bunga jadi berpikir dalam hati, 'apakah jika sudah menjadi isteri harus begini?' hatinya terus saja bertanya-tanya. Dia menjadi teringat akan sedikit pesan Mama nya. Seorang isteri memang harus melayani suami dengan baik.

__ADS_1


"Hei.. Kenapa kamu terdiam? bukan kah ucapan ku ini benar?"


"Ya." jawab bunga singkat. Rio tersenyum, senyum itu sangat manis dan menyejukkan mata. Rio Xenzhin benar-benar seorang lelaki yang memiliki wajah tampan sekali. Tiba-tiba saja tangan itu bergerak menyentuh wajah bunga, dia pun membelai nya sangat lembut, merasakan tangan Rio menyentuh pipi nya, wajah bunga pun memerah seketika, serta jantung nya berdetak-detak sangat kencang. Tapi sial nya sentuhan itu dia nikmati saja.


"Singkirkan tanganmu, sebelum tangan itu masuk rumah sakit!" Sentak Bunga tegas.


"Galak sekali! sudah ku bilang Aku tidak tertarik denganmu, kenapa kamu percaya diri sekali sih." Rio tersenyum sinis


"Lalu?"


"Ada nyamuk di pipimu!"


"Bohong."


"Kamu tidak percaya?"


"Tentu saja."


Rio pun terkekeh. "Seperti nya Aku harus mengirimmu kesuatu tempat, Aku ingin sekali menghukummu."


Bunga terdiam dia merasa bahwa saat ini Rio telah menjadi Satria, tentu saja dia sangat merindukan sosok itu. Bunga berusaha untuk tidak akan membantah. Apa pun yang di perintahkan Rio kepada diri nya, dia akan menuruti, tapi itu sulit baginya. Ya dia merasakan aneh yang luar biasa, sebab dia belum mengenal seorang Rio Xenzhin sepenuhnya sehingga dia pun menjadi canggung.


***


Kringg... Kringg...


Sebuah telpon genggam milik Rio Xenzhin, tiba-tiba saja berbunyi sangat nyaring, sepertinya tadi malam ia benar-benar lupa untuk mematikan telpon genggam nya. Untung nya saja tidak ada yang berani mengganggu nya, Rio atau pun bunga terbangun.


"Ooh... Sialnya, siapa yang menelpon pagi - pagi begini! Apakah dia tidak pernah tahu, bahwa ini adalah hari pertamaku menikah." Maki Rio kesal, namun dia raih juga ponsel yang berada di atas meja lampu itu.


Rio mengangkat.


"Selamat pagi tuan. Maaf jika telpon dari saya menganggu tidur lelap Anda tuan."


Sapa Benikno Asisten pribadinya, di sebrang sana.


"Ya... Itu adalah kebiasaan mu, apa yang membuatmu menelpon ku?"


"Tuan... Ayah Anda..."


"Apa yang terjadi pada Ayahku.

__ADS_1


Rio baru terlihat serius."


"Ayah Anda masuk rumah sakit Tuan, dan Tuan harus segera datang."


"Ya.. Sudah jika begitu, kirimkan alamat rumah sakitnya lewat pesan Whatsapp ku."


"Baik Tuan..."


"......."


Telpon pun terputus.


Rio bangkit dari posisi nya saat itu. Dia kembali menatap Bunga di sampingnya.


Dan tentu saja wanita yang telah resmi menjadi teman tidurnya, ikut menatap.


"Kamu di sini saja, Aku akan pergi ke rumah sakit sebentar. Jangan kemana-mana tanpa seizin ku."


Ucapnya pada Bunga. Bunga tak menjawab dia hanya mengangguk pelan, Rio berdiri menuju toilet untuk membersihkan diri.


10 menit kemudian...


Rio telah rapi dengan pakaiannya. Dia akan segera pergi kerumah sakit, sepertinya penyakit Ayahnya kambuh. Karena memang akhir-akhir ini kesehatan sang Ayah tidak lah sepenuhnya stabil. Padahal berbagai macam obat dan terapi sudah di berikan, dengan pelayanan yang terbaik dari dokter pribadi keluarga Xenzhin, namun lagi-lagi takdir itu ada yang mengaturnya, manusia hanya berusaha.


"Rio... Apa kamu akan ninggalin Aku dalam keadaan begini?" Bunga masih memperhatikan lelaki bertubuh tinggi itu.


"Maksud kamu apa?"


"Aku lapar." Bunga menjawab dengan jujur.


Rio tersenyum.


"Bagaimana mungkin Aku akan tega meninggalkan mu dalam keadaan kelaparan begini, setelah mandi pergi lah ke restoran yang ada di hotel ini, pesanlah makanan sesuka hati mu, mereka semua pun tahu bahwa kamu adalah Nona dari pemilik hotel ini dan tentu nya saja kamu tidak akan di mintai bayaran sepeser pun." Rio Xenzhin menjelaskan, sambil mendekati isteri muda nya itu dan meninggalkan kecupan singkat pada bibirnya. "Apakah Kamu sudah paham dengan penjelasanku?" Tanya Rio lagi.


"Ya." Jawab Bunga singkat.


"Ya sudah Aku pergi." Lelaki itu pun, segera berjalan membuka pintu lalu menghilang dari pandangan Bunga.


1 jam kemudian...


Bunga telah menyelesaikan aktifitasnya seperti biasa, karena dari tadi perutnya sudah lapar sekali dia segera mencari restoran yang berada di hotel ini, sesuai dengan penjelasan Rio tadi. Tak butuh waktu lama Bunga menemukannya, sebuah restoran yang berada di lantai dua, dengan posisi strategis, restoran itu memiliki desain unik, berjendela kan kaca, di luar sana langsung menampakan suasana pegunungan yang sangat menyejukan mata bila melihatnya. Tentu saja ini adalah hasil kerja keras Rio Xenzhin sebagai pembisnis yang terbilang gigih.

__ADS_1


Bunga memandang kesekeliling restoran, masih sedikit pengunjung. Tanpa di duga, tiba-tiba saja mata bening nya menangkap seorang lelaki berbaju hijau dan dia sangat mengenalnya. 


__ADS_2