
Reza tengah duduk antusias di depan layar laptop. Sudah hampir 2 tahun dia tidak pernah membuka akun facebooknya, rasa rindu terhadap teman-temannya di SMA kini mulai ia rasakan.
Walau pun sudah terbilang lama, namun syukurnya Reza tidak pernah lupa kata sandinya. Dia buka perlahan namun pasti. Seketika dahinya mengkerut.
SELAMAT JALAN VELLI SEMOGA ARWAHMU TENANG DI SANA.
Baca nya dalam hati. Dia menemukan pemberitahuan itu di beranda miliknya, yang sengaja di tag oleh salah satu sahabatnya yaitu kelvin.
"Innalillahi wa innaillahirojiun. Ternyata Veli udah meninggal, bagaimana ceritanya?" Reza terdiam untuk sejenak, perasaannya lalu bercampur aduk. Rasa penasaran mulai menghinggapi dirinya.
"Uuh... Aku musti tanya ke siapa ya? Facebook kelvin juga terakhir aktif 1 tahun yang lalu, kan udah lama banget Kelvin ngak aktifin facebooknya, Aku juga udah bener-bener ngak pernah kontakan sama si Kelvin. Di mana kelvin sekarang?"
Pikiran Reza mulai menerawang jauh, dan berharap bisa mengingat sesuatu.
"Ataukah Aku tanya sama Bunga ya? Duh ngak mungkin, lagian si Bunga sekarang udah miliknya Pak Rio. Dan pastinya juga Pak Rio ngak mungkin kasi kebebasan buat Bunga untuk bertemu Aku. Tapi kali ini Aku bener-bener penasaran tentang Veli. Ya udah beraniin diri chat bunga lewat facebook dia aja." Reza segera mempercepat tangan nya untuk mencari facebook Bunga.
...Dan kebetulan facebook Bunga lagi aktif....
...Reza mengetikan pesan....
...Hai... Bung selamat malam....
...Hai Reza....
...Lagi ngapain Bung?...
...maaf ya kalau chat Aku ganggu....
...Biasa aja Rez, Aku lagi tiduran....
...Bung, ada yang pengen aku tanyain. Dan ini tentang Veli....
...Ya Rez silahkan....
...Bener Veli udah meninggal? ...
...Bener Rez....
...Bisa, kamu ceritain?...
__ADS_1
...Bisa kita ketemuan sekarang....
...Di mana?...
...Caffe bloe...
Bunga tak lagi menjawab. Dan Reza langsung tersenyum sambil mematikan laptop bersampul ungu. Dia meraih jacket di depan pintu kamar Apartemen, lalu mengambil kunci motor. Kini langkah tegap Reza sudah berjalan di tempat parkir, dia menaiki motor KLX kesayangan nya. melaju menerobos hawa dingin di malam itu.
BRUMMMMM......
Reza menambah kilometer KLX nya. Menaung-naung bunyi mesin hingga terdengar sangat bising. Setelah beberapa menit Reza memarkir motornya, turun serta memasuki Caffe Bloe yang telah dijanjikan Bunga tadi.
Reza menyisir rambut belah tengahnya dengan jari, nampak jelaslah ketampanan seorang Reza. Wanita mana pun akan sedikit naksir jika melihat tampang tegap Reza. Mata hitam Reza menelusuri setiap sudut di caffe Bloe, namun Belum juga nampak sosok bunga di situ. Ya jelaslah emang nya superman. beberapa detik udah sampe, secaralah superman kan punya sayap yang bisa di pakai buat terbang, tentu ada proses kan. Akhirnya Reza menemukan tempat yang layak untuk mereka menikmati minuman dan makanan di caffe. Reza menduduki kursi paling pojok, terus posisi nya menghadap langsung ke luar. So bisa sambil cuci mata lah, kali - kali aja ada bule lewat.
Reza udah duduk, tak lama kemudian pelayan datang menanyai apa yang akan di pesan Reza.
"Maaf Mas selamat malam? ada yang bisa di pesan Mas?' Tanya nya sopan banget, sambil narik bibirnya supaya terlihat senyum secara alami.
"Ya selamat malam, pesan 1 cangkir kopi aja mbak, makanan nya ntar aja tunggu temen saya datang." Reza menjawab.
"Ya udah Mas di tunggu ya."
Perempuan itu berpenampilan sangat feminim, sejak dulu Bunga tak pernah mengganti fashion nya. Dia sangat menikmati kebiasaan ini, menurut Bunga yang paling mendasar adalah inner beauty atau artinya kecantikan yang terpancar dari dalam. Di kejauhan Bunga tersenyum kearah Reza, lelaki itu tenyata telah melihatnya lebih dulu, dia melambai-lambaikan tangan nya. Bunga mempercepat langkahnya.
"Cepet banget kamu sampai kesini." Ucap Bunga pelan, dia duduk di bangku kosong, posisinya menghadap Reza.
"Iya Bung, Aku ngebut tadi."
"Masa sih? ngak takut emang? belum nikah loh, kan sayang banget. entar rugi ngak bisa ngerasain indahnya pernikahan." ledak Bunga mengguraui nya.
"Ngak apa Bung, lagian Aku udah ngak punya semangat buat hidup Bung."
"Are you serious Reza?"
"Yes, i am serious Bunga, Aku udah patah hati Bunga. Sekarang cintaku kandas." Jawabnya sedih. Bunga tersenyum melihat ekspresi Reza.
"Siapa yang udah bikin kamu patah hati? perempuan seperti apa dia?"
"Seperti kamu Bung."
__ADS_1
"Seperti Aku!" Bunga mendadak galau, heran iya juga. "Ah... Kamu serius Rez."
"Iya sumpah Aku ngak bohong."
Bunga terkekeh mendengar.
"Kok ketawa sih Bung apa nya yang lucu? heum?" Wajah Reza jadi manyun.
Eh Bunga nya malah diam, sambil menatap wajah Reza dengan tatapan menggoda.
"Kenapa sih Bung. Jangan berekspresi gitu dong, bikin Aku gemes tau ngak." Lanjutnya lagi.
Bunga masih tersenyum.
"Sengaja atau gimana sih Bung, inget loh Bung kamu udah jadi isteri orang sekarang." Reza masih nyeloteh.
"Emang salah Rez, Aku berekspresi begini, Aku ngak ada maksud buat goda kamu kok." Bantah Bunga pelan. Tak lama kemudian, Pelayan caffe datang lagi, kali ini sambil membawa pesanan Reza yaitu kopi campur gula.
"Ini Mas kopinya." Ucap Pelayan caffe, meletakan kopi milik Reza.
"Makasih Mbak, kamu mau pesan apa Bung?" Tanya Reza pada Bunga.
"Ngak usah deh Rez, lagian Aku udah kenyang juga." Bunga menolak.
"Cuma minum aja kok Bung, masa sih ngak mau? kamu bisa pilih minuman apa pun yang kamu mau, lagian Aku yang traktir." Reza seakan memaksa.
Bunga malah tersenyum. sebuah senyuman yang bisa membuat Reza 100x memikirkan nya, terlalu sulit untuk di lupakan.
"Ngak apa Rez, makasih Aku ngak bermaksud nolak pemberian kamu, soalnya Aku bener - bener kenyang."
"Oh ya udah deh kalau begitu. Udah mbak ngak ada pesanan lagi." Ujar Reza pada pelayan caffe yang masih berdiri di samping mereka berdua.
"Oke Mas." Pelayan pun pergi. Kini pandangan Reza beralih pada Bunga. Sambil mengambil cangkir yang berisi kopi untuk ia seruput, kopi hitam itu sepertinya nikmat. Matanya terus menatap, banyak hal yang ia pikirkan, tentu saja memikirkan wanita pujaannya saat ini. Perasaan suka dan cinta itu sangat tipis jaraknya. Reza menatap Bunga teduh. Sejak tadi jantung nya serasa ingin sekali copot, tentu saja Reza merasa gugup.
Jika ingin berkata jujur.
BUNGA ADALAH CINTA PERTAMA REZA, Reza masih memegangi secangkir kopi di hadapannya.
"Oh iya Bung, kamu bisa jelasin sekarang, apa yang terjadi sama veli waktu itu. Takutnya kalau kita lama-lama di sini Pak Rio bakalan mergokin kita." Reza tak ingin bertele-tele dan membuat permasalahan baru dengan Bos besarnya.
__ADS_1