Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 10 ( Siapa Nabila sebenarnya? )


__ADS_3

Keesokan paginya, Asisten Rendi sudah terdengar mengetuk pintu kamar Nabila, dan Nabila yang sudah bersiap langsung membuka pintu kamarnya.


"Nona, sekarang Tuan sudah menunggu Nona di bawah untuk sarapan," ujar Asisten Rendi.


"Makasih banyak ya Tuan," ucap Nabila.


"Nona, saya mohon jangan panggil saya Tuan, nanti Nenek Puspa bisa curiga dengan sandiwara kita," ujar Asisten Rendi.


"Terus saya harus panggil apa? saya tidak bisa kalau harus manggil nama saja " tanya Nabila yang terlihat bingung.


"Kalau begitu Nona bisa panggil saya Asisten Rendi saja."


"Nanti saya coba," ujar Nabila dengan tersenyum, dan entah kenapa hati Rendi terasa menghangat ketika melihat senyuman Nabila.


Sadar kamu Rendi, dia adalah istri oranglain, apalagi sepertinya Tuan Ken menyukai Nona Nabila, ucap Asisten Rendi dalam hati.


Asisten Rendi mengantar Nabila menuju Restoran hotel, karena saat ini Ken sudah menunggu mereka.


"Selamat pagi istriku," ucap Ken ketika melihat Nabila dan Rendi datang.


"Selamat pagi Tu_ Suamiku," ucap Nabila yang masih merasa canggung dengan sandiwara mereka.


"Aku tau kalau kamu masih belum terbiasa Nabila, semoga saja kamu nanti akan terbiasa, karena aku takut kalau Nenek akan curiga dengan sandiwara yang akan kita lakukan," ujar Ken.


"Saya akan berusaha dengan baik Tuan," ujar Nabila.


"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita makan. Ren, kamu ikut bergabung juga, aku tidak mau kalau nanti Nabila protes akan ada yang ketiga jika kami hanya berdua saja," ujar Ken dengan terkekeh.


"Tapi Tuan, saya tidak bisa satu meja dengan Tuan dan Nona," ujar Asisten Rendi yang merasa tidak enak jika harus ikut bergabung bersama majikannya.


"Asisten Rendi, di sini saya juga bekerja untuk Tuan, jadi Asisten Rendi jangan merasa sungkan. Bukannya dimata Tuhan manusia itu sama?" ujar Nabila, dan Rendi terpaksa ikut sarapan dengan Ken dan Nabila.

__ADS_1


Setelah selesai sarapan, Ken memutuskan untuk membawa Nabila pergi ke salon terlebih dahulu sebelum pulang menuju kediaman Airlangga.


"Tuan, saya lebih enak seperti ini, saya tidak bisa memakai make up," ujar Nabila.


"Nabila, kamu harus membiasakan diri untuk berdandan, karena sekarang status kamu akan berubah menjadi istriku, meski pun kita hanya Suami istri pura-pura, tidak mungkin kan seorang istri Keenan berpenampilan sederhana?"


"Mungkin saja Nenek Puspa lebih suka dengan penampilan seseorang yang sederhana, justru saya takut kalau nanti Nenek tidak suka jika penampilan saya terlalu berlebihan."


Ken nampak berpikir, sampai akhirnya Ken menyetujui usul Nabila, dan Asisten Rendi langsung menyuruh Supir untuk melajukan mobilnya menuju kediaman Airlangga.


Nabila begitu kagum ketika mobil yang ditumpanginya memasuki halaman rumah yang begitu mewah seperti istana.


"Apakah ini adalah istana?" tanya Nabila yang polos.


"Ini adalah rumah kita, dan kita akan tinggal di sini," jawab Keenan.


"Kenapa kita tidak tinggal di rumah yang kecil saja Tuan?" tanya Nabila, sehingga Ken mengerutkan dahinya.


"Bukannya tidak suka, hanya saja rumahnya terlalu besar, dan maaf sekali Tuan, saya pasti tidak akan bisa membersihkan rumahnya meski pun harus bekerja seharian," jawab Nabila dengan tersenyum malu.


"Memangnya siapa yang akan menyuruh kamu membersihkannya? di sini kamu akan hidup sebagai Ratu bukan pembantu, jadi jangan berpikir untuk mengerjakan pekerjaan pembantu, karena aku tidak akan membiarkannya," ujar Ken.


"Ta_ta_pi Tuan_" perkataan Nabila langsung dipotong oleh Ken.


"Tidak ada tapi tapian, harus berapa kali aku jelaskan kalau di sini kamu akan berpura-pura menjadi seorang istri, jadi bersikaplah sebagai seorang istri yang baik," ujar Ken, kemudian Ken dan Nabila turun setelah Asisten Rendi membukakan pintu untuk mereka berdua.


"Terimakasih Asisten Rendi," ucap Nabila dengan tulus.


Sebelum masuk ke dalam rumah, Ken terlebih dahulu meminta ijin kepada Nabila untuk memegang tangannya.


"Nabila, maaf, tapi aku harus melakukan semua ini supaya Nenek percaya kalau kita adalah Suami istri," ujar Ken, dan Nabila hanya menganggukan kepalanya sebagai tanda setuju.

__ADS_1


Ketika Ken dan Nabila masuk ke dalam rumah, seperti biasa Nenek Puspa terlihat marah kepada pembantu, apalagi saat ini kondisi kesehatan beliau sedang tidak baik, karena Nenek Puspa mengalami stroke setelah mengetahui jika Anak tunggalnya meninggal dunia karena mengalami kecelakaan bersama istri dan Cucunya.


"Aku sudah bilang kalau aku tidak mau makan. Aku hanya ingin Anak dan cucuku kembali," ujar Nenek Puspa dengan menangis, kemudian membanting piring makanan yang saat ini sedang dipegang oleh pembantu.


Ken yang melihat Nenek Puspa menangis, langsung saja menghampiri beliau, begitu juga dengan Nabila yang mengucapkan Salam ketika menghampiri Nenek Puspa.


Mata Nenek Puspa membulat sempurna ketika melihat wajah Nabila yang begitu mirip dengan mendiang Menantunya.


"Airin, akhirnya kamu pulang Nak. Kamu ternyata masih hidup. Mana Airlangga dan Cucuku?" tanya Nenek Puspa dengan memeluk tubuh Nabila.


Nabila langsung berjongkok di depan Nenek Puspa yang saat ini duduk di kursi roda.


"Nek, nama saya Nabila, bukan Airin, dan saya adalah istri dari Keenan," ucap Nabila.


Nenek Puspa melihat Keenan, dan Keenan langsung menganggukan kepalanya untuk membenarkan perkataan Nabila.


Kenapa namanya sama dengan Cucuku yang hilang pada kecelakaan maut yang telah membuat Anak dan Menantuku meninggal dunia? Siapa Nabila sebenarnya? kenapa Nabila juga mempunyai wajah yang sangat mirip dengan Airin? batin Nenek Puspa kini bertanya-tanya.


"Sekarang, Nenek makan ya, biar Nabila yang akan menyuapi Nenek," ujar Nabila, kemudian mengambil makanan dari meja makan.


Keenan dan semua yang berada di sana merasa heran karena Nenek Puspa sama sekali tidak menolak Nabila yang saat ini menyuapinya, padahal biasanya Nenek Puspa susah sekali untuk dibujuk.


Nabila memang spesial, padahal Nenek dan Nabila baru pertama kali bertemu, tapi Nenek langsung nurut kepada Nabila. Ternyata aku sangat beruntung karena bisa bertemu dengan seorang Bidadari tak bersayap. Aldi pasti sangat menyesali semuanya, tapi maaf Aldi karena aku tidak akan pernah melepaskan Nabila. Eh kenapa aku berkata seperti itu? tidak mungkin kan aku mudah sekali jatuh cinta, padahal sudah bertahun-tahun aku menutup hatiku untuk seorang perempuan, ucap Ken dalam hati.


Setelah Nenek Puspa selesai sarapan, Nabila mendorong kursi roda Nenek Puspa menuju taman yang berada di halaman rumahnya, dan Ken terus saja mengikuti langkah Nabila.


"Nek, sekarang kita berjemur dulu ya, cahaya Matahari pagi sangat bagus untuk kesehatan," ujar Nabila dengan duduk di bangku yang berada di samping kursi roda Nenek Puspa.


"Apa Nabila masih memiliki orangtua?" tanya Nenek Puspa.


"Nabila Anak Yatim Piatu Nek, dan Nabila tidak mengetahui siapa kedua orangtua Nabila, karena Nabila ditemukan pada kecelakaan mobil yang telah menewaskan kedua orang tua Nabila."

__ADS_1


Apa mungkin Nabila adalah Cucuku yang hilang? batin Nenek Puspa saat ini bertanya-tanya.


__ADS_2