Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 23 ( Ciuman Pertama )


__ADS_3

Ken memilih diam ketika mendengar perkataan Nabila, karena bagaimanapun juga Nabila saat ini masih dalam proses perceraian, jadi Ken berniat untuk memberikan waktu kepada Nabila, karena Ken tau betul jika tidak akan mudah memulihkan rasa sakit pada hati Nabila setelah semua perlakuan Aldi kepadanya.


Sebaiknya aku memberikan waktu kepada Nabila untuk berpikir, bagaimanapun juga Nabila saat ini masih berstatus istri Aldi, dan aku tau jika Nabila tidak akan mudah memulihkan luka pada hatinya setelah pengkhianatan yang dilakukan oleh Aldi, ucap Ken dalam hati.


Ken dan Nabila larut dalam pikirannya masing-masing, sehingga di dalam mobil hanya ada keheningan yang menemani mereka.


Aku tau jika Tuan Ken sangat baik dan tulus, tapi aku tau diri dan aku merasa tidak pantas untuknya. Aku juga masih trauma dengan sebuah pernikahan. Jadi, biarlah waktu yang akan menjawab semuanya, ucap Nabila dalam hati.


"Ren, sebaiknya kita langsung pulang saja," ujar Ken, padahal tadinya Ken sudah berencana untuk menyatakan perasaannya kepada Nabila, bahkan Ken sudah mempersiapkan tempat yang indah untuk mengutarakan perasaannya.


Rendi yang mendengar Ken menyuruhnya menuju kediaman Airlangga sebenarnya merasa bahagia, karena Ken tidak jadi mengutarakan perasaannya kepada Nabila.


Apa aku jahat jika merasa bahagia ketika Tuan bersedih, ucap Rendi dalam hati.


Setelah sampai kediaman Airlangga, Nenek Puspa saat ini terlihat menunggu kepulangan Nabila dan Ken dengan berjemur di halaman.


"Assalamu'alaikum Nek," ucap Nabila dengan memeluk tubuh Nenek Puspa.


"Wa'alaikumsalam sayang, akhirnya Cucu Nenek yang cantik pulang juga. Nenek kangen sekali sama Nabila."


"Nabila juga kangen sama Nenek. Oh iya Nek, Ibu Panti mengucapkan terimakasih banyak karena Nenek sudah menyumbangkan sebagian harta Nenek untuk Anak-anak di Panti Asuhan. Semoga rezeki semuanya semakin berkah dan lancar ya," ujar Nabila yang di Amini oleh Ken dan Nenek Puspa.


"Apa kamu kangen juga sama aku?" goda Ken, sehingga Nabila salah tingkah, dan mengalihkan topik pembicaraan.


"Nabila hari ini belum memberikan terapy kepada Nenek, tunggu sebentar ya Nek, Nabila simpan tas sama ganti baju dulu."


"Sayang, nanti sore saja terapy nya, kasihan Nabila baru pulang, sebaiknya Nabila dan Ken istirahat saja," ujar Nenek Puspa.


"Ya sudah, kalau begitu kami masuk dulu ya Nek. Bi, tolong jaga Nenek ya," ujar Nabila kepada Asisten rumah tangga yang saat ini sedang menunggu Nenek Puspa berjemur.


Ken terus saja menggandeng Nabila sampai mereka berdua masuk ke dalam kamar, dan setelah mereka berada di dalam kamar, Nabila meminta Ken untuk melepaskannya.

__ADS_1


"Tuan, tolong lepaskan pegangannya, sekarang kita sudah berada di dalam kamar," ucap Nabila, tapi Ken seolah tidak mendengar perkataan Nabila.


"Tuan, haruskah kita bersandiwara juga saat berada di dalam kamar?" tanya Nabila, sehingga membuat Ken tersadar.


"Maaf Nabila, aku tidak bermaksud seperti itu," ucap Ken dengan melepaskan pegangan tangannya kepada Nabila, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar mandi, begitu juga dengan Nabila sampai akhirnya mereka berdua terjepit di pintu masuk.


"Tuan, bagaimana ini, sekarang kita terjepit di pintu kan, bagaimana caranya kita berdua bisa lepas dari pintu ini?" tanya Nabila.


"Salah sendiri, kenapa kamu mau ikutan masuk ke dalam kamar mandi," ujar Ken yang sengaja menahan pintu supaya bisa terus berdekatan dengan Nabila.


"Maaf Tuan, saya tidak tau kalau Tuan hendak masuk ke dalam kamar mandi juga," ujar Nabila.


"Sepertinya aku mempunyai ide supaya kita bisa terlepas dari pintu," ujar Ken


"Bagaimana caranya Tuan?"


"Kamu secara perlahan menghadap ke arahku, dan aku juga akan menghadap ke arahmu," ujar Ken.


"Apa kamu masih ingin terus memeluk tubuhku?" tanya Ken.


"Iya," ucap Nabila yang sudah keceplosan.


"Eh maksud saya tidak Tuan, maaf saya sudah lancang," ucap Nabila yang langsung melepaskan pelukannya dari Ken.


"Silahkan Tuan duluan," ucap Nabila mempersilahkan Ken masuk ke dalam kamar mandi, dan Nabila memutuskan untuk menunggu Ken dengan duduk di sofa.


"Tunggu Nabila," ucap Ken dengan menahan pergelangan tangan Nabila.


"Ada apa Tuan?" tanya Nabila dengan kembali membalikan tubuhnya.


Ken melangkahkan kaki untuk mendekati Nabila, tapi kaki Ken tersandung oleh keset sampai akhirnya mereka berdua terjatuh di atas kasur dengan posisi Nabila di bawah Ken dan bibir mereka yang menempel.

__ADS_1


Saat ini kedua netra Ken dan Nabila saling memandang, dan mereka seakan terhipnotis dengan situasi saat ini sehingga Ken enggan melepaskan bibirnya dari bibir Nabila.


Nabila yang sadar dengan kesalahan yang telah ia dan Ken lakukan, akhirnya mendorong tubuh Ken.


"Maaf Nabila, aku tidak sengaja. Tadinya aku mau menyuruh kamu supaya masuk duluan ke dalam kamar mandi, tapi kaki ku terpeleset," ucap Ken, dan Nabila yang terkejut karena itu adalah ciuman pertamanya, langsung saja berlari menuju kamar mandi.


"Apa seperti itu rasanya berciuman? ternyata sangat manis," gumam Ken dengan tersenyum dan terus memegang bibirnya, karena itu juga merupakan ciuman pertama Ken.


Nabila masih mengatur jantungnya yang berpacu dengan cepat, sehingga ia terus saja mengatur napas.


Astagfirullah, kenapa bisa seperti itu? mau ditaruh dimana muka ku jika bertemu dengan Tuan Ken, tapi itu kan bukan kesalahanku. Jadi seperti itu rasanya berciuman? sadar kamu Nabila, kalian telah melakukan dosa besar, ucap Nabila dalam hati.


Setelah Nabila selesai membersihkan diri, Nabila terlihat ragu untuk ke luar dari dalam kamar mandi, sampai akhirnya terdengar suara Ken yang mengetuk pintu kamar mandi.


"Nabila, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ken yang merasa khawatir, karena Nabila sudah cukup lama berada di dalam kamar mandi.


Setelah beberapa kali mengembuskan napas secara kasar, Nabila memberanikan diri untuk ke luar dari dalam kamar mandi.


"Nabila, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ken.


"Saya baik-baik saja Tuan," jawab Nabila, tapi Nabila enggan menatap wajah Ken, sehingga ia terus saja menundukkan kepalanya.


Ken yang melihat Nabila bersikap seperti itu kepadanya, terus mengekori Nabila.


"Nabila, apa kamu masih marah? aku benar-benar tidak sengaja," ujar Ken.


"Saya tidak marah Tuan, hanya saja saya merasa terkejut, karena itu yang pertama untuk saya," jawab Nabila dengan kepala yang masih tertunduk.


"Apanya yang pertama?" tanya Ken pura-pura tidak mengerti.


"Bukan apa-apa, sebaiknya Tuan lupakan saja perkataan saya barusan."

__ADS_1


"Apa kamu pikir itu bukan ciuman pertama ku juga?" ujar Ken, kemudian berlari menuju kamar mandi.


__ADS_2