Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 47 ( Rendra adalah Anak kandung kamu )


__ADS_3

Setelah membuka pintu mobil untuk Nabila, Ken memberikan Rendra untuk digendong oleh Nabila, kemudian Ken melajukan mobilnya menuju Rumah Sakit.


Nabila mengambil handphonenya di dalam saku celana untuk menghubungi Rendi, dan Nabila me loud speaker handphonenya karena kesusahan jika harus menempelkannya di telinga.


📞"Assalamu'alaikum sayang, tumben telpon? kangen ya?" ucap Rendi di sebrang sana, dan Ken merasakan sesak dalam dadanya.


📞"Mas, barusan Rendra jatuh dari tangga," ujar Nabila dengan menangis.


📞"Sayang, sekarang kamu dimana?" tanya Rendi.


📞"Saat ini kami sedang di perjalanan menuju Rumah Sakit, untung saja ada orang baik yang menolong kami," jawab Nabila.


📞"Sayang, Rendra pasti baik-baik saja, Zahra jangan cemas ya, sebentar lagi Mas ke Rumah Sakit," ujar Rendi, kemudian menutup telponnya.


Ken merasa heran karena Rendi memanggil Nabila dengan sebutan Zahra.


Kenapa Rendi memanggil Nabila dengan sebutan Zahra? apa yang sebenarnya telah terjadi, kenapa Nabila juga tidak mengingatku? apa mungkin kalau Nabila hilang ingatan? batin Ken kini bertanya-tanya.


Ken rasanya ingin sekali menanyakan semua itu kepada Nabila, tapi saat ini situasinya sedang tidak memungkinkan, apalagi Nabila terus saja menangis dengan memeluk tubuh Rendra yang pingsan.


Setelah sampai Rumah Sakit, Ken kembali menggendong Rendra, kemudian berlari membawa Rendra ke dalam ruang IGD.


"Dok tolong selamatkan Anak saya," teriak Ken dengan membaringkan Rendra di atas blangkar.


"Tuan dan Nyonya tenang dulu ya, sebaiknya kalian tunggu di luar, kami akan melakukan yang terbaik untuk Pasien," ujar Dokter.


Ken dan Nabila sudah berada di luar ruang IGD, dan rasanya Ken ingin sekali membawa Nabila ke dalam pelukannya.


"Tuan, terimakasih banyak karena Tuan sudah banyak menolong saya," ucap Nabila tanpa melihat wajah Ken, karena entah kenapa perasaan Nabila terus berdebar ketika berada di dekat Ken.


"Nabila, apa kamu tidak mengenalku?" tanya Ken.


"Maaf Tuan, ingatan saya hilang, dan saya tidak mengingat apa pun tentang masalalu saya," jawab Nabila.


Deg


Jantung Ken berhenti berdetak ketika mendengar semuanya.

__ADS_1


Ternyata benar jika Nabila melupakanku. Sayang aku sangat merindukanmu, maafkan aku yang baru sekarang menemukanmu, tapi saat ini status kita telah berbeda, karena kamu telah menjadi milik Rendi, ucap Ken dalam hati dengan menitikkan air mata.


"Kalau begitu saya akan mengurus administrasi Rendra dulu," ujar Ken yang sudah tidak kuasa menahan airmatanya.


"Maaf saya sudah merepotkan Tuan lagi," ucap Nabila.


Ken melangkahkan kaki meninggalkan Nabila untuk mengurus administrasi Rendra, dan Ken juga ke kantin terlebih dahulu untuk membeli beberapa botol minuman dan roti untuk Nabila.


Ketika Ken kembali ke depan ruang IGD, Ken melihat pemandangan yang menyesakkan dada, karena saat ini Rendi dan Nabila tengah berpelukan, sampai akhirnya Ken menjatuhkan belanjaan yang ia beli.


"Tuan Ken," ucap Rendi.


Ken berniat untuk pergi dari Rumah Sakit karena tidak kuat jika harus melihat Nabila sudah menjadi milik oranglain, tapi ketika Rendi melihatnya, Rendi langsung mengejarnya.


"Tuan Ken tunggu," ucap Rendi.


"Aku bukan Bos kamu lagi Rendi, jadi jangan panggil aku Tuan. Ada apa kamu memanggilku? apa kamu mau memperlihatkan kemesraan kamu dengan istrimu di hadapanku? terimakasih Ren, karena kamu telah mengkhianatiku," ucap Ken.


"Semua ini tidak seperti yang kamu pikirkan," ucap Rendi dengan lirih.


"Dok, bagaimana keadaan Anak saya?" tanya Nabila.


"Putra Ibu sudah kehilangan banyak darah, dan kami membutuhkan golongan darah O, tapi di Rumah Sakit dan di PMI stok darahnya habis," ujar Dokter.


"Mas, kita harus bagaimana? golongan darahku A, jadi aku tidak bisa mendonorkan darahku untuk Rendra. Mas Rendi golongan darahnya pasti sama dengan Rendra, karena Mas Rendi adalah Ayah kandung Rendra. Cepat selamatkan Anak kita Mas," ujar Nabila dengan menangis.


Rendi tidak menjawab pertanyaan Nabila, karena golongan darah Rendi B, sampai akhirnya Rendi memohon kepada Ken.


"Ken, bisakah kamu mendonorkan darah untuk Rendra?" ujar Rendi.


"Kenapa harus aku? bukankah kamu adalah Ayah kandung Rendra? jadi golongan darah kalian pasti sama," ujar Ken.


"Karena Rendra adalah Anak kandung kamu," ujar Rendi dengan meneteskan airmata.


Degg


Jantung Ken berdetak dengan kencang, begitu juga dengan Nabila.

__ADS_1


"Ke_kenapa bisa seperti itu?" tanya Ken yang begitu terkejut mendengar perkataan Rendi.


"Nanti aku akan menjelaskan semuanya, tapi sekarang selamatkan Anak kamu terlebih dahulu, karena aku memiliki golongan darah B, jadi aku tidak bisa menyelamatkan Rendra," ujar Rendi.


Ken langsung di bawa oleh Dokter masuk ke dalam ruang IGD, karena Dokter akan langsung menyalurkan darah Ken ke dalam tubuh Rendra supaya proses transfusi bisa lebih cepat.


Ken menatap lekat wajah Anak laki-laki yang saat ini terbaring di sampingnya.


Maafkan Ayah Nak, karena selama ini Ayah tidak mengetahui keberadaan Rendra. Pantas saja tadi aku merasakan kehangatan saat memeluk tubuh Rendra, ternyata dia adalah Putra kandungku, berarti dugaan aku dan Nenek selama ini benar adanya tentang aku yang merasakan ngidam saat Nabila hamil, bahkan aku ikut merasakan sakit ketika Nabila akan melahirkan. Wajah Rendra mirip sekali denganku, kenapa aku baru menyadarinya sekarang, ucap Ken dalam hati dengan senyuman yang terus mengembang pada bibirnya.


......................


Nabila tidak percaya dengan semua yang dia dengar, dan saat ini Nabila menjatuhkan tubuhnya di atas lantai.


"Bagaimana semuanya bisa seperti itu Mas? kenapa bisa aku menikah dengan Mas Rendi, tapi memiliki Anak dari lelaki lain?" tanya Nabila dengan lirih.


"Maafkan aku Nabila, aku tidak bermaksud untuk membohongimu," ujar Rendi yang ikut menjatuhkan tubuhnya juga, dan saat ini Rendi juga ikut menangis, karena yang selama ini dia khawatirkan akhirnya terjadi juga.


Ken yang telah selesai melakukan transfusi darah terlihat heran karena Nabila dan Rendi terlihat menangis dengan duduk di atas lantai.


"Kebohongan apa lagi yang sudah kamu tutupi dariku Mas? katakan sekarang, bagaimana bisa aku memiliki Anak dari laki-laki yang bukan Suamiku?" tanya Nabila yang masih terlihat bingung memikirkan semuanya.


"Maafkan aku Nabila, selama ini aku telah berbohong dengan mengatakan jika aku adalah Suami kamu, padahal kenyataannya kita belum menikah, makanya aku tidak pernah menyentuhmu dengan alasan kalau aku impoten," jawab Rendi.


Ken merasa bahagia ketika mendengar Rendi bukan Suami Nabila, bahkan selama ini Rendi tidak pernah menyentuh Nabila.


"Ren, apa kamu membawa Nabila pergi karena kamu mengetahui jika Aira yang telah menabrak Nabila?" tanya Ken.


"Iya Ken, aku tidak mau jika Aira sampai mencelakakan Nabila lagi, makanya aku membawa Nabila pergi jauh dari Jakarta, karena aku takut jika mereka akan kembali menyakiti Nabila jika dia terus berada di sampingmu," jawab Rendi.


Ken yang mendengar perkataan Rendi langsung memeluk tubuh Rendi.


"Makasih banyak Ren, kamu memang saudara terbaik ku," ucap Ken dengan tersenyum bahagia.


Nabila mencoba menatap wajah Ken dengan seksama, tapi tiba-tiba kepala Nabila terasa sakit karena Nabila mengingat kejadian sebelum dirinya kecelakaan.


"Keenan," ucap Nabila dengan lirih sebelum akhirnya Nabila pingsan.

__ADS_1


__ADS_2