
Ken terus memeluk pinggang Nabila dengan posesif sepanjang perjalanan menuju tempat parkir Rumah Sakit dengan sebelah tangan yang mendorong kursi roda Nenek Puspa.
"Ken, kamu itu benar-benar nakal. Nenek tau kalau kamu sangat mencintai Nabila, tapi kamu tidak perlu bertingkah seperti Anak kecil."
"Nek, kita harus mencegah daripada mengobati."
"Kamu itu ada-ada aja. Perselingkuhan itu akan terjadi jika keduanya saling menginginkan, jadi kamu tidak perlu khawatir, karena Nenek sangat yakin bahwa Nabila tidak akan berpaling kepada lelaki mana pun."
"Sudahlah Nek, Nenek tidak ada gunanya berbicara dengan Tuan Ken, karena Tuan Ken selalu ingin menang sendiri," sindir Nabila.
"Sayang, aku hanya tidak ingin kehilangan kamu."
"Apa Ayah lupa kalau sekarang kita sudah punya Rendra, dan mungkin sebentar lagi kita akan memberikan Adik untuk Rendra, jadi Ayah jangan pernah berpikir macam-macam."
"Ngomong-ngomong tentang Adik Rendra, Ayah jadi ingin segera sampai apartemen," ujar Ken dengan cekikikan, dan Nabila memutar malas bola matanya, sedangkan Nenek Puspa hanya menggelengkan kepalanya mendengar perkataan Ken.
Setelah sampai Apartemen, Nabila dan Ken mengantar Nenek Puspa masuk ke dalam kamar, karena Nenek Puspa merasa kecapean.
"Nek, kalau ada apa-apa, Nenek panggil kami saja ya," ujar Nabila.
"Iya sayang, terimakasih banyak. Kalian sekarang istirahat juga, apalagi Ken sepertinya sudah tidak sabar ingin membuat Adik untuk Rendra," goda Nenek Puspa, dan Nabila hanya tersenyum malu menanggapinya.
"Makasih karena Nenek begitu pengertian," celetuk Ken.
"Dasar tidak tahu malu," sindir Nabila dan Nenek Puspa secara bersamaan.
"Tega sekali kalian menyerangku secara bersamaan," gerutu Ken.
"Nek kalau begitu kami ke luar dulu," ujar Nabila dengan melangkahkan kaki terlebih dahulu, dan tentu saja Ken langsung mengejarnya.
Setelah sampai kamar, Nabila langsung mengambil handuk, dan berniat untuk bergegas masuk ke dalam kamar mandi, tapi ternyata Ken lebih dulu berdiri di depan pintu kamar mandi.
"Jangan harap Bunda bisa melarikan diri dari Ayah," ujar Ken dengan mendekatkan tubuhnya kepada Nabila, dan Nabila hanya diam tidak berkutik, karena saat ini dirinya seperti kelinci di hadapan Singa yang sedang kelaparan.
......................
Nenek Puspa sudah melakukan terapi selama satu minggu, dan selama mengantar Nenek Puspa terapi, Nabila selalu memakai masker supaya Ken tidak merasa cemburu terhadap Dokter Irfan yang selalu terpesona dengan kecantikan yang dimiliki oleh Nabila.
"Alhamdulillah ya Nek, sekarang Nenek sudah bisa berjalan meski pun harus pelan-pelan," ujar Nabila.
"Makasih banyak ya sayang, karena kalian selalu mendukung Nenek."
"Sudah seharusnya kami melakukan semua itu," ujar Nabila dan Ken dengan merangkul tubuh Nenek Puspa yang sudah tidak memakai kursi roda lagi.
__ADS_1
Rendi dan Zahira menyusul ke Rumah Sakit setelah selama beberapa hari mereka pergi berbulan madu, karena sekarang Zahira sudah bisa berjalan dengan normal menggunakan kaki palsunya.
"Nek, bagaimana terapinya?" tanya Zahira dan Rendi yang saat ini melihat Nenek Puspa, Ken dan Nabila ke luar dari ruangan Dokter.
"Alhamdulillah terapinya berjalan dengan lancar. Bagaimana bulan madu kalian? apa Rendi terus mengurung kamu di dalam kamar?" goda Nenek Puspa, dan Zahira hanya tersenyum malu menanggapinya.
Saat ini semuanya mengantar Nabila masuk ke dalam ruangan Dokter untuk mendengar Dokter membacakan hasil pengobatan penyakit kankernya. Meski pun Perawat hanya memperbolehkan satu orang saja yang masuk untuk mengantar Nabila, tapi semuanya memaksa karena ingin memberi dukungan kepada Nabila.
Semuanya sudah harap-harap cemas ketika melihat Dokter membuka hasil CT-scan Nabila, sampai akhirnya Dokter angkat suara.
"Selamat Nona Nabila, kemoterapi Anda berhasil, dan saat ini Anda sudah bersih dari sel kanker," ucap Dokter, dan semuanya tersenyum bahagia dengan saling berpelukan.
"Alhamdulillah Ya Allah," ucap semuanya dengan menangis bahagia.
"Sayang, selamat ya, Alhamdulillah akhirnya Bunda sembuh juga," ucap Ken dengan menghujani Nabila ciuman.
"Makasih banyak Yah, semuanya berkat dukungan Ayah dan semuanya," ucap Nabila dengan menangis terharu dalam pelukan Ken.
"Nenek sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Rendra. Ken, sebaiknya kamu telpon Anak buah kamu supaya mempersiapkan Jet Pribadi untuk kita pergi ke Lampung menjemput Rendra," ujar Nenek Puspa, dan Ken langsung saja menelpon Anak buahnya, karena hari ini juga mereka akan menjemput Rendra dan kedua orangtua angkat Rendi untuk tinggal di Jakarta, karena Rendi harus mengurus perusahaan yang ditinggalkan oleh mendiang Daddy Indra.
Semuanya sudah bersiap untuk pulang ke tanah air dengan perasaan gembira karena akhirnya haru yang mereka tunggu-tunggu tiba juga, apalagi Nabila dan Ken sudah hampir empat bulan tidak bertemu dengan Rendra.
Beberapa jam kemudian mereka sampai juga di Lampung, dan Anak buah Ken sudah menunggu di Bandara dengan membawa mobil yang berukuran besar dan mewah supaya muat untuk semuanya.
"Ayah juga sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Anak kita, semoga saja Rendra masih mengenal kita."
Saat ini mobil yang mereka tumpangi telah sampai di halaman pekarangan rumah Rendi, dan di teras rumah sudah terlihat Bu Fatimah, Rendra dan Pak Udin yang sedang menunggu kedatangan mereka, karena sebelumnya Rendi sudah mengabarkan tentang kepulangannya kepada kedua orangtua angkatnya tersebut.
Nabila dan Ken langsung berlari menghampiri buah hati mereka, dan keduanya berhambur memeluk tubuh Rendra.
Semuanya sampai menitikkan airmata karena merasa terharu melihat keluarga kecil Nabila berkumpul kembali, apalagi setelah perjuangan yang harus Nabila lewati untuk melawan penyakitnya.
"Rendra sayang, Bunda dan Ayah kangen sekali sama Rendra."
"Bunda, Ayah," ucap Rendra yang saat ini selalu mengikuti apa yang di ucapkan oleh oranglain.
"Rendra pintar sekali sudah bisa bicara," ujar Nabila dengan menghujani Rendra ciuman.
Rendi yang melihat kebersamaan keluarga kecil tersebut mengabadikannya dengan mengambil beberapa fhoto.
"Bu, Pak, bagaimana kabarnya sehat?" tanya Rendi dengan memeluk tubuh Bu Fatimah dan Pak Udin.
"Alhamdulillah Nak. Nak, apa ini Menantu kami?" tanya Bu Fatimah ketika melihat Zahira berdiri di samping Rendi.
__ADS_1
"Iya Bu, ini Zahira Menantu Ibu dan Bapak," jawab Rendi.
"Rendi memang pintar memilih istri, Zahira cantik sekali," puji Bu Fatimah dengan memeluk tubuh Zahira.
"Makasih banyak Bu," ucap Zahira, kemudian mencium punggung tangan Pak Udin.
"Ren, tapi Zahira bukan istri pura-pura kamu lagi kan?" celetuk Pak Udin, sehingga membuat semuanya tertawa.
"Bukan Pak, kapan Rendi punya Anaknya kalau bawa istri pura-pura terus," ujar Rendi dengan terkekeh.
"Ya sudah, sebaiknya sekarang kita masuk, Ibu sudah masak yang banyak untuk menyambut semuanya."
"Maaf ya Bu, kami selalu ngerepotin, dan terimakasih banyak karena Ibu sudah merawat Rendra dengan sangat baik," ucap Nabila dengan memeluk tubuh Bu Fatimah.
"Sayang, kalian kan keluarga Ibu juga, dan Ibu tidak merasa direpotkan sama sekali, apalagi Rendra sudah Ibu anggap sebagai Cucu kandung Ibu sendiri," ujar Bu Fatimah.
"Rendra sayang, Nenek buyut ingin sekali mencoba menggendong Rendra. Ken kasih dulu Rendra nya sebentar sama Nenek."
"Memangnya Nenek kuat?" tanya Ken.
"Kamu itu terlalu meremehkan Nenek, kamu tidak tau saja kalau Nenek ini seorang Atlet."
"Atlet olahraga apa Nek? kenapa Ken tidak mengetahuinya."
"Nenek pemenang olahraga menganyam bulu mata di atas kasur," celetuk Nenek Puspa.
"Ha..ha..Nenek ada-ada saja," ujar Ken, dan semuanya saat ini tertawa bahagia.
Semuanya makan sambil berbincang, dan Rendi mengutarakan keinginannya untuk memboyong kedua orangtuanya pindah ke Jakarta.
"Bu, Rendi harap Ibu dan Bapak bersedia untuk ikut kami ke Jakarta, apalagi Rendi nanti bakalan susah untuk pulang ke sini karena harus mengurus perusahaan peninggalan keluarga Zahira."
Pak Udin dan Bu Fatimah terlihat berpikir, karena selama ini mereka berdua tidak pernah meninggalkan kampung halamannya.
"Nak, apa kami tidak akan merepotkan jika kami ikut tinggal bersama kalian?" tanya Pak Udin yang takut akan merepotkan Rendi dan Zahira.
"Pak, Bu, dulu Rendi yang sudah Bapak dan Ibu besarkan, dan sekarang giliran kami yang merawat Ibu dan Bapak."
"Iya Pak, Bu, apalagi sekarang Zahira hidup sebatang kara, dan Zahira pasti akan kesepian jika Mas Rendi berangkat kerja."
"Baiklah kalau memang itu sudah menjadi keputusan kalian, Ibu dan Bapak akan ikut ke Jakarta supaya di usia kami yang sudah tua ini, kami bisa bermain dengan Cucu-cucu kami," ujar Bu Fatimah yang sudah sangat mengharapkan Cucu dari Rendi dan Zahira.
"Semoga secepatnya kami diberikan momongan," ucap Rendi yang di Amini oleh semuanya.
__ADS_1