
Saat ini Nabila hanya diam mematung, kemudian matanya terlihat berkaca-kaca.
Ken yang melihat reaksi Nabila, langsung saja memeluk tubuh Nabila, begitu juga dengan Rendi yang memeluk tubuh Zahira yang masih menangis, dan akhirnya tangisan Nabila pecah dalam pelukan Ken.
"Jadi ternyata selama ini Mama dan Papa meninggal bulan murni kecelakaan?" gumam Nabila dengan terus menangis.
"Sayang ikhlaskan semuanya, saat ini Mama dan Papa sudah bahagia di alam sana," ucap Ken dengan mengusap pundak Nabila, begitu juga dengan Nenek Puspa yang ikut memeluk tubuh Nabila.
"Nak, semua ini sudah takdir Mama dan Papa kamu. Nenek juga merasa sakit hati dengan semua kenyataan ini, tapi kita tidak bisa mengubah takdir."
"Nabila, aku benar-benar meminta maaf, apalagi mendiang Aira juga telah menabrak kamu sehingga menyebabkan Nabila menderita penyakit kanker otak," ucap Zahira yang terus saja merasa bersalah.
"Tidak Zahira_" ucap Nabila sehingga membuat semuanya terkejut. Nabila menarik nafas dalam-dalam karena saat ini dadanya terasa sesak.
"Zahira tidak perlu meminta maaf atas semua kejahatan yang tidak Zahira lakukan, semuanya bukan kesalahan Zahira, karena Zahira juga adalah salah satu korban dari kekejaman mendiang Om Indra," lanjut Nabila sehingga membuat semuanya bernafas lega.
"Makasih banyak Nabila, padahal aku sudah mengira jika kamu akan marah dan membenciku jika mengetahui bahwa aku adalah Anak dari pembunuh kedua orangtuamu."
"Semua ini tidak ada sangkut pautnya dengan kamu, jadi Nabila tidak berhak marah dengan Zahira apalagi membenci Zahira. Kita adalah saudara yang sudah seharusnya saling menyayangi. Mulai sekarang kita lupakan masalalu dan membuka lembaran baru," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Zahira, dan semuanya tersenyum bahagia.
"Ngomong-ngomong, apa masakannya sudah matang? rasanya perut Nabila sudah meminta diisi," celetuk Nabila, dan Ken mencubit hidung Nabila karena merasa gemas dengan istrinya tersebut.
"Ya sudah, kalau begitu sekarang kita makan, masakannya juga sudah matang, dan Bunda harus makan yang banyak supaya cepat sembuh," ujar Ken dengan menggandeng tubuh Nabila dan membantunya duduk di meja makan, begitu juga dengan Rendi yang membantu Zahira kemudian Rendi dan Ken ikut duduk dan melupakan Nenek Puspa yang masih duduk di kursi.
"Kalian ini benar-benar Cucu gak ada akhlak, apa kalian anggap Nenek ini patung yang tidak ingin makan juga," sindir Nenek Puspa, sehingga membuat Ken dan Rendi bergegas menghampiri Nenek Puspa, kemudian mengangkat tubuh Nenek Puspa, dan membawanya menuju meja makan.
__ADS_1
Nabila dan Zahira tertawa melihat Ken dan Rendi yang terlihat ketakutan terhadap Nenek Puspa.
"Mentang mentang sudah punya istri, kalian berdua sampai melupakan Nenek," ujar Nenek Puspa.
"Maaf Nek, Ken tidak bermaksud seperti itu."
"Iya Nek, Rendi juga tidak bermaksud melupakan Nenek."
"Kalian berdua sama saja, selalu ngeles kayak bajai," ujar Nenek Puspa dengan cemberut.
Ken membujuk Nenek Puspa dengan mengisi nasi pada piring kosong Nenek Puspa, begitu juga dengan Rendi yang mengisi lauknya.
"Ken, Rendi, Nenek hanya bercanda, sudah seharusnya kalian mementingkan Istri kalian dibandingkan keluarga yang lainnya, karena istri merupakan tanggung jawab di Dunia dan Akhirat. Suatu saat nanti hanya seorang istri yang akan menemani Suaminya hingga maut yang memisahkan, bukan Anak atau pun orangtua, karena Anak kita pun akan menikah dan mempunyai kehidupan masing-masing. Jadi, kalian harus selalu berusaha membahagiakan istri kalian selagi kalian memiliki kesempatan," ujar Nenek Puspa dengan airmata yang menetes, begitu juga dengan yang lainnya.
"Sudah-sudah, kapan mulai makannya kalau kita malah menangis," ujar Nenek Puspa dengan menghapus airmata yang menetes pada pipinya, kemudian mereka mulai makan siang dengan lahap.
"Ini juga masakan Rendi, Nek. bahkan dulu Rendi hampir tiap hari memasak untuk Nabila, ya kan sa_yang," ucap Rendi dengan lirih, karena saat ini Rendi menjadi pusat perhatian semuanya, dan Rendi teringat masalalunya dengan Nabila, sampai-sampai Rendi keceplosan menyebut Nabila dengan panggilan sayang.
"Rendi, apa kamu mau cari gara-gara denganku?" sindir Ken.
"Sepertinya Rendi nanti malam minta tidur di luar," celetuk Nenek Puspa.
Rendi langsung memeluk tubuh Zahira, karena Rendi takut Zahira ikutan marah.
"Sayang, aku tadi hanya keceplosan, kamu jangan marah ya, aku dan Nabila selama tinggal bersama gak pernah ngapa-ngapain kok. Ya kan Nabila," ujar Rendi, tapi Nabila sengaja mengerjai Rendi, katena hari ini adalah hari ulang tahun Rendi.
__ADS_1
"Tapi tiap malam Mas Rendi selalu meluk aku kalau tidur, Mas Rendi juga sering cium aku," ujar Nabila.
"Nabila, kenapa kamu mengatakan semua itu? aku kan hanya mencium kening dan pipi kamu saja bukan yang lainnya, apalagi aku berbohong sama kamu kalau aku lemah syah*wat. Apa kamu sengaja ingin membuat Ken dan istriku salah paham terhadap kita," ujar Rendi yang sudah terlihat ketakutan, apalagi Ken dan Zahira diam tanpa mengeluarkan sepatah kata pun.
Setelah wajah Rendi terlihat ingin menangis, semuanya tiba-tiba mengucapkan Selamat ulang tahun kepada Rendi.
"Selamat Ulang Tahun," ucap Semuanya, dan sekarang giliran Rendi yang diam mematung.
Sesaat kemudian terdengar suara bel Apartemen Ken berbunyi, dan ternyata itu adalah seorang kurir yang datang untuk mengantarkan kue Ulang tahun yang sudah Ken pesan.
Setelah Ken memberikan tips kepada kurir, Ken membawa kue Ulang tahun untuk Rendi.
Rendi menangis terharu dengan memeluk tubuh Zahira, karena dirinya tidak mengira akan mendapatkan kejutan ulang tahun dari semuanya, bahkan Rendi sama sekali tidak ingat jika hati ini adalah hari ulang tahunnya.
"Selamat ulang tahun ya Suamiku sayang, semoga panjang umur, sehat selalu, banyak rezeki, dan selalu menjadi Suami yang baik untuk Zahira."
"Sayang, jadi kalian sengaja ingin membuat aku menangis karena merasa bersalah? kalian benar-benat tega sekali padaku," ujar Rendi.
"Maaf ya, kami memang sengaja Kakakku sayang. Kapan lagi bisa ngerjain Mas Rendi. Selamat Ulang Tahun ya, do'a terbaik untuk Mas Rendi dari Adik Mas Rendi yang cantik ini," ujar Nabila yang hendak memeluk tubuh Rendi, tapi Ken bergegas menghalanginya, sehingga Nabila jadi memeluk tubuh Ken.
"Pokoknya tidak ada peluk-pelukan, kayak Teletubies aja," ujar Ken.
"Sayang, masa satu tahun sekali saja tidak boleh? bagi Bunda Mas Rendi adalah seorang Kakak."
"Bunda sayang, memangnya Bunda masih belum puas selama dua tahun tinggal bersama Rendi? bahkan pernikahan kita saja baru menginjak bulan ke empat, dan sebelum Bunda diculik Rendi, kita baru tinggal bersama selama satu bulan, jadi kalau di total kita baru lima bulan saja tinggal bersama," jelas Ken.
__ADS_1
"Ken, kamu itu hitungan banget sih, aku juga bawa kabur Nabila demi kebaikannya. Kalau aku dan Nabila tidak boleh pelukan, aku sekarang bakalan peluk kamu sepuasnya," ujar Rendi dengan memeluk tubuh Ken, dan semuanya menertawakan Ken yang terlihat risih sehingga terus saja berusaha mendorong tubuh Rendi.