
Rendi dan Zahira begitu bahagia karena Bu Fatimah dan Pak Udin bersedia untuk ikut mereka ke Jakarta.
"Bu, Pak, terimakasih ya, kami bahagia karena Ibu bersedia untuk ikut kami ke Jakarta," ujar Zahira.
"Nak, harusnya kami yang mengucapkan terimakasih, karena akhirnya Ibu dan Bapak bisa selalu dekat dengan Rendi dan Zahira. Kalau begitu sekarang semuanya istirahat dulu, kasihan pasti pada kecapean," ujar Bu Fatimah.
Nabila dan Ken merasa bahagia, karena Rendra tidak melupakan mereka, dan Rendra terus saja menempel pada kedua orangtuanya.
"Rendra sini bobo siang sama Nenek," ujar Bu Fatimah dengan merentangkan kedua tangannya, tapi Rendra menggelengkan kepalanya.
"Sekarang mentang-mentang ada Ayah dan Bunda, Rendra jadi gak mau sama Kakek dan Nenek," ujar Pak Udin dengan tersenyum.
"Mungkin Rendra takut ditinggalkan lagi sama Ayah dan Bunda ya," ujar Bu Fatimah.
"Ayah dan Bunda tidak akan meninggalkan Rendra lagi, jadi Rendra jangan sedih ya," ujar Nabila dengan menciumi wajah Rendra.
Rendi yang juga kangen dengan Rendra mencoba untuk menggendongnya.
"Rendra, sini Ayah Rendi gendong dulu," ujar Rendra, dan akhirnya Rendra mau digendong oleh Rendi.
"Rendra sayang, ini Bunda Zahira, Bunda Zahira juga Mamanya Rendra," ujar Rendi dengan mencium wajah Rendra.
"Rendra lucu ya Mas," ujar Zahira yang merasa gemas kepada Rendra.
"Iya sayang, nanti kita bakalan saingan sama Ken bikin Adik untuk Rendra," celetuk Rendi.
"Hedeuh, siang-siang begini kalian selalu saja membuat Nenek hareudang. Sebaiknya Nenek ke kamar saja, daripada mendengar kalian dua pasangan bucin yang berlomba-lomba membuat Adik untuk Rendra," ujar Nenek Puspa dengan tertawa, kemudian melangkahkan kaki menuju kamar, begitu juga dengan Pak Udin dan Bu Fatimah yang pamit untuk pulang ke rumah mereka supaya bisa membereskan baju, meski pun Rendi dan Zahira sudah mengatakan jika mereka tidak perlu membawa apa pun.
Ken sudah tidak merasa cemburu lagi kepada Rendi, meski pun Rendra lebih dekat dengan Rendi, karena bagaimanapun juga, selama ini Rendi yang sudah menjadi Ayah untuk Rendra, bahkan sejak Rendra berada di dalam kandungan Nabila.
"Nabila, tumben pawang kamu diam saja," sindir Rendi.
"Mas, jangan bangunin singa lagi tidur," sindir Nabila, dan Ken hanya nyengir kuda mendengar sindiran Rendi dan Nabila.
__ADS_1
Rendi kembali memberikan Rendra kepada Nabila dan Ken, karena Rendi dan Zahira juga akan beristirahat.
"Sayang, sama Bunda dulu ya, Ayah mau bikin Adik dulu buat Rendra," celetuk Rendi, dan Zahira langsung mencubit pinggang Rendi.
"Sayang, kenapa pinggang Mas dicubit?"
"Mas, di depan Anak kecil jangan bicara macam-macam," ujar Zahira yang merasa gemas terhadap Rendi.
"Mas tidak macam-macam, Mas hanya satu macam aja kok. Nabila, Ken, kami masuk dulu ya," ujar Rendi dengan menggandeng Zahira menuju kamar mereka di lantai atas, begitu juga dengan Nabila dan Ken, tapi mereka lebih memilih tidur di kamar bawah, apalagi setelah kejadian Rendra yang terjatuh dari tangga.
"Sayang, Ayah bahagia sekali karena akhirnya kita bisa berkumpul dengan Rendra."
"Bunda juga sangat sangat sangat bahagia Yah, karena akhirnya kita berhasil melewati masa-masa sulit kita, dan semua itu karena Ayah selalu berada di samping Bunda.
"Ya sudah kalau begitu sekarang kita tidur siang dulu, atau Bunda mau kita melakukan sesuatu sebelum tidur?" goda Ken dengan menaik turunkan alisnya dan Nabila meletakkan Rendra yang saat ini sudah tertidur di tengah-tengah dirinya dan Ken supaya Ken tidak macam-macam.
"Udah, jangan macam-macam, kasihan Rendra nanti tidurnya terganggu.
......................
"Ren, kami titip Nenek ya, oh iya, ini black card yang aku janjikan supaya kamu bisa mengurus semua keperluan resepsi pernikahan kita," ujar Ken dengan memberikan black card miliknya.
"Oke siap Bos, semoga pekerjaannya cepat selesai supaya kalian bisa segera kembali ke Indonesia," ujar Rendi dengan mencium wajah Rendra.
"Sayang, jaga diri kalian baik-baik ya, Nenek pasti akan merindukan kalian," ujar Nenek Puspa dengan memeluk Nabila dan keluarga kecilnya.
"Nenek juga jaga diri baik-baik ya, do'akan supaya semuanya cepat selesai, dan kita bisa berkumpul kembali."
"Pasti Nak, do'a Nenek akan selalu menyertai Nabila dan keluarga."
Ken dan Nabila naik ke dalam Pesawat yang akan membawa mereka ke Australia, sedangkan Nenek Puspa, Rendi dan juga keluarganya naik menuju pesawat yang akan membawa mereka menuju Jakarta.
Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya Ken dan keluarga kecilnya sampai juga di Australia.
__ADS_1
Ken menggendong Rendra dengan sebelah tangannya menggandeng Nabila. Ken dan Nabila tidak pernah menduga karena saat ini bukan hanya Reva yang menjemput mereka di Bandara, tapi Mama Sari, Papa Bram dan juga Aldi datang untuk menemui Nabila dan keluarga kecilnya.
"Ma_ma," ucap Nabila dengan lirih, kemudian berhambur ke dalam pelukan Mama Sari.
"Nabila sayang, Alhamdulillah akhirnya kita bisa bertemu kembali Nak. Mama kangen sekali sama Nabila."
"Nabila juga kangen sekali sama Mama. Apa perempuan cantik ini adalah Reva Menantu Mama?" tanya Nabila ketika melihat Reva yang berdiri di sebelah Aldi.
"Iya sayang, ini adalah Reva Menantu Mama, dan Reva, kenalin, ini adalah Nabila Putri kami," ujar Mama Sari.
"Ternyata Nabila sangat cantik ya, pantas saja Mas Aldi susah untuk melupakan sosok seorang Nabila."
"Tapi Reva lebih cantik kok," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Reva.
"Sayang, kamu sedang tidak cemburu kan?" ujar Aldi dengan memeluk tubuh Reva.
"Jika Nabila belum memiliki Suami dan Anak, aku pasti akan cemburu Mas, tapi sekarang Nabila sudah mempunyai Suami, apalagi Suaminya sangat mencintai Nabila, bahkan sikapnya seperti kulkas dua pintu kepada setiap perempuan," sindir Reva.
"Sekarang kamu sudah berani mengatai Bos kamu sendiri Reva," sindir Ken.
"Sebentar lagi aku harus mengajukan surat pengunduran diri Bos, karena saat ini aku sedang hamil muda, jadi tidak bisa melakukan pekerjaan.
"Sayang sekali, padahal kamu adalah Karyawan terbaik yang aku miliki. Tapi selamat atas pernikahan serta kehamilan kamu."
"Apa Big Bos hanya akan memberikan ucapan selamat saja kepada kami?"
"Baiklah nanti kamu sebutkan saja kado yang kamu mau," ujar Ken.
"Aku pasti tidak akan sungkan untuk meminta kado yang sangat mahal."
"Katakan saja apa yang kamu mau, itung-itung sebagai ucapan terimakasihku karena Suami kamu yang sudah mengatakan keberadaan Nabila, jadi sekarang kami sudah bisa berkumpul kembali, dan semua itu tidak ternilai harganya," ujar Ken.
"Ya sudah, sebaiknya kita melanjutkan ngobrolnya di rumah. Sayang, Nabila dan keluarga mau ya ikut ke rumah kami dulu, Mama kangen sekali sama Nabila, dan Mama sudah masak makanan kesukaan Nabila."
__ADS_1
Nabila melirik kepada Ken untuk meminta persetujuan, dan Ken menganggukkan kepalanya sebagai tanda setuju, sehingga semuanya melanjutkan perjalanan menuju kediaman Bramantyo.