Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 71 ( Kejutan untuk Nabila )


__ADS_3

Nabila dan ken sudah berada di Singapura selama tiga bulan, dan hari ini Nabila akan melakukan kemoterapi yang ke enam kalinya.


Bobot tubuh Nabila yang sempat turun drastis kini sudah mulai berangsur-angsur naik, dan Nabila sudah tidak merasa pahit lagi saat makan, dan Ken begitu bahagia karena wajah Nabila sudah terlihat berseri-seri kembali.


"Sayang, semoga ini adalah terakhir kali Bunda melakukan kemoterapi ya," ujar Ken yang si Amini oleh Nabila.


"Yah, Bunda ingin secepatnya pulang ke Indonesia, Bunda kangen sama Rendra dan Nenek,"ujar Nabila.


"Apa Bunda juga kangen sama Mas Rendi?" goda Ken.


"Tentu saja, Mas Rendi sudah seperti Kakak untuk Bunda," jawab Nabila, dan Ken terlihat cemberut.


"Makanya jangan suka godain Bunda, Ayah sendiri kan yang cemburu," ujar Nabila, kemudian mencium sekilas bibir Ken, sontak saja semua itu membuat Ken tersenyum kembali.


"Bunda yang sabar ya, hari ini Ayah punya kejutan untuk Bunda," ujar Ken dengan tersenyum.


"Kejutan apa Yah?"


"Namanya bukan kejutan kalau Ayah ngasih tau Bunda sekarang. Kalau begitu sekarang kita berangkat ke Rumah Sakit," ujar Ken dengan menggandeng tubuh Nabila.


Ketika Ken dan Nabila sampai Rumah Sakit, Nabila diam mematung, karena saat ini di hadapannya ada Nenek Puspa. Bukan hanya Nenek Puspa, tapi Rendi dan Zahira yang akan melakukan operasi juga berada di sana.


"Ne_nek," ucap Nabila dengan lirih.


Nabila berlari untuk memeluk Nenek Puspa, kemudian Nabila menangis dalam pelukan Neneknya tersebut.


"Sayang, kenapa Nabila merahasiakan semuanya dari Nenek? kenapa kalian menyembunyikan hal besar seperti ini?" tanya Nenek Puspa dengan menangis.


Ketika Rendi dan Zahira hendak berangkat untuk melakukan operasi pada kaki Zahira, entah kenapa Nenek Puspa ngotot ingin ikut pergi, karena Nenek Puspa merasa ada sesuatu yang tidak beres, sampai akhirnya Rendi menceritakan semuanya kepada Nenek Puspa sebelum berangkat ke Singapura.


Meski pun awalnya Nenek Puspa merasa syok karena takut terjadi sesuatu yang buruk dengan Nabila, tapi akhirnya Nenek Puspa merasa lebih tenang, karena Rendi dan Zahira terus menyemangati Nenek Puspa supaya selalu kuat demi Nabila.

__ADS_1


Ken menitikkan airmata ketika melihat Nenek Puspa dan Nabila yang menangis dengan berpelukan.


"Dasar Anak nakal kamu Ken, kenapa kamu selalu saja menutupi semua hal yang penting dari Nenek? memangnya kamu anggap Nenek ini siapa?"


Ken ikut berhambur memeluk Nenek Puspa, dan Ken meminta maaf karena sudah menutupi sesuatu yang besar dari beliau.


"Nek, maafin Ken, Ken hanya tidak ingin kondisi kesehatan Nenek semakin memburuk jika sampai mengetahui penyakit yang Nabila derita."


"Kamu tidak perlu meminta maaf Nak, Nenek seharusnya berterimakasih kepada Ken karena telah menjaga Nabila dengan Baik."


"Sudah menjadi kewajiban Ken sebagai seorang Suami menjaga dan melindungi istri Ken dengan segenap jiwa dan raga Ken."


"Nenek bangga sama kamu Nak, karena Ken sudah menjadi Suami yang bertanggungjawab. Semoga kalian selalu bahagia ya. Bagaimana sekarang kondisi kesehatan Nabila? apa sudah lebih baik?"


"Nabila sekarang sudah jauh lebih baik Nek, dan hari ini Nabila akan melakukan kemoterapi yang keenam kali. Semoga ini adalah kemoterapi Nabila yang terakhir ya," ucap Nabila yang di Amini oleh semuanya.


"Iya Nak, Nenek akan selalu mendo'akan yang terbaik untuk Nabila. Nenek pangling sekali melihat Nabila yang sekarang memakai jilbab. Nabila terlihat semakin cantik. Semoga selalu istikomah ya Nak."


Rendi mendorong kursi roda Zahira untuk menghampiri Nabila dan Ken.


"Ternyata Nabila cantik sekali ya, pantas saja Mas Rendi sampai jatuh cinta terhadap Nabila," ujar Zahira.


Ken yang mendengarnya langsung saja berdehem.


"Tapi sekarang kamu sudah benar-benar move on dari istriku kan Ren?" tanya Ken dengan tatapan tajam.


"Sayang, kenapa kamu berbicara seperti itu sih, Ken kan jadi salah paham sama Mas," ujar Rendi yang terlihat ketakutan.


Ken tiba-tiba merangkul tubuh Rendi, dan mengucapkan terimakasih juga selamat atas pernikahannya.


"Terimakasih ya Ren, selama aku tidak ada, kamu sudah menjaga Nenek, kamu juga sudah menghandle semua pekerjaanku, dan selamat atas pernikahan kalian, aku turut bahagia, karena akhirnya tidak akan ada lagi pengagum istriku," ujar Ken.

__ADS_1


Nabila dan Rendi memutar malas bola mata mereka.


"Kenapa kalian selalu kompak sekali?" sindir Ken.


"Kami ini Adik Kakak, jadi harus selalu kompak," ujar Nabila dan Rendi secara bersamaan.


"Kalau kalian berdua sudah bertemu, pasti kalian menyerang aku secara bersamaan. Nek, apa Nenek tidak berniat untuk membantu Ken," rengek Ken kepada Nenek Puspa.


"Ken, kamu itu sudah besar, bahkan sudah menjadi Suami dan Ayah, tapi kamu selalu saja berlindung di bawah ketiak Nenek."


"Kalau begitu Ken akan berlindung di bawah ketiak istri Ken saja," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila.


"Dasar Bucin, kamu itu selalu tidak tau tempat," sindir Nenek Puspa.


"Sayang, sebaiknya kita ke ruang kemoterapi sekarang. Nek, sebaiknya Nenek sekalian berobat juga ya, Nenek sebentar lagi harus sudah bisa berjalan, karena setelah Nabila sembuh, kami akan segera memberikan Cicit yang banyak untuk Nenek."


"Baiklah kalau begitu Nenek akan ikut dengan Rendi dan Zahira supaya berkonsultasi terlebih dahulu dengan Dokter," ujar Nenek Puspa.


"Kalau begitu kami duluan ya Nek, nanti setelah selesai, kita pulang ke Apartemen kami," ujar Ken, kemudian mengantar Nabila ke ruang kemoterapi.


Nabila melakukan kemoterapi selama tiga jam, dan Ken tidak sedetik pun beranjak dari samping Nabila.


"Sayang, nanti setelah kamu sembuh, kita jemput Rendra ya, terus kita ajak Rendra pergi bulan madu bersama kita. Kamu ingin bulan madu kemana?" tanya Ken dengan terus memeluk tubuh Nabila.


"Yah, bukannya pekerjaan Ayah di Australia masih belum selesai? bagaimana kalau kita ke sana sekalian bulan madu?"


"Bunda ngajak ke sana bukan karena ingin bertemu dengan Aldi kan?"


"Kenapa sih Suamiku yang tampan ini selalu saja cemburuan? bukannya sekarang Mas Aldi dan Reva sudah menikah? jadi tidak ada alasan lagi untuk Ayah cemburu sama Mas Aldi, karena kita sudah mempunyai kehidupan masing-masing. Tapi Bunda ingin sekali bertemu dengan Mama Sari dan Papa Bram, karena mereka sudah Bunda anggap sebagai orangtua kandung Bunda sendiri. Apa Ayah juga akan keberatan?"


"Tidak sayang, Ayah akan selalu mengantar Bunda kemana pun Bunda ingin pergi, karena sekarang misi Ayah adalah membahagiakan Bunda dan Rendra, juga memproduksi Cicit yang banyak untuk Nenek."

__ADS_1


"Memangnya barang di produksi?" sindir Nabila dengan tertawa, dan Ken sangat bahagia karena bisa melihat perempuan yang dicintainya kembali tersenyum bahkan sudah bisa tertawa.


Terimakasih Tuhan, karena masih memberikanku kesempatan untuk melihat perempuan yang aku cintai tertawa bahagia, ijinkan aku membahagiakannya hingga napas terakhirku, ucap Ken dalam hati.


__ADS_2