Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 50 ( Sandiwara Rendi dan Nabila )


__ADS_3

Nabila dan Rendi mulai menjalankan rencananya untuk mengerjai Ken.


Pada saat Rendi dan Nabila masuk kembali ke dalam kamar perawatan Rendra, mereka sengaja berjalan dengan bergandengan tangan, dan tentu saja semua itu membuat Ken merasa cemburu.


"Ken, aku dan Nabila sudah memutuskan akan menikah setelah nanti Rendra ke luar dari Rumah Sakit," ujar Rendi.


Degg


Lagi-lagi jantung Ken rasanya berhenti berdetak mendengar semua itu, hatinya terasa sakit bagai tertusuk ribuan duri.


"Selamat ya, semoga kalian selalu bahagia, meski pun hatiku terluka," ucap Ken dengan tertunduk sedih.


"Semoga kamu mendapatkan pendamping hidup yang lebih segala-galanya dibandingkan denganku Ken. Meski pun kita tidak ditakdirkan menjadi Suami istri, tapi kita bisa menjadi saudara," ujar Nabila yang sebenarnya sedang menahan tawa, karena melihat wajah Ken yang pucat pasi.


Apa ini adalah akhir dari kisah cinta kita Nabila? meski pun cinta tidak harus saling memiliki, tapi rasanya aku belum ikhlas melepaskanmu untuk lelaki lain, ucap Ken dalam hati.


Ken terus saja memeluk tubuh Rendra dan mengelus kepalanya dengan sayang, sampai akhirnya Rendra kembali tertidur.


"Nabila, apa aku masih boleh menemui Rendra jika kamu sudah menikah dengan Rendi?" tanya Ken.


"Tentu saja Ken, bagaimanapun juga kamu adalah Ayah kandungnya, dan aku tidak akan menghalangi kamu untuk menemui Anak kamu sendiri."


"Nabila, apa kamu bahagia akan menikah dengan Rendi?" tanya Ken lagi.


"Aku bukan hanya bahagia, tapi sangat-sangat bahagia, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan lelaki yang aku cintai," jawab Nabila dengan tersenyum.


Jadi ternyata Nabila juga mencintai Rendi? semua itu pasti terjadi karena Nabila dan Rendi sudah tinggal bersama selama dua tahun. Mungkin selama ini, aku saja yang terlalu naif karena mengira jika lelaki yang Nabila cintai adalah aku, ucap Ken dalam hati.


Rendi mendekati Ken untuk mengajaknya berbicara.


"Ken, aku mau minta kado pernikahan dari kamu," ujar Rendi.


"Tentu saja, apa pun akan aku berikan untuk kalian. Memangnya kamu mau minta kado apa dariku?" tanya Ken.


"Aku ingin semua biaya pernikahan aku dan Nabila, kamu yang tanggung, begitu juga dengan maharnya," jawab Rendi.

__ADS_1


"Sejak kapan seorang Rendi menjadi matre begini? padahal dari dulu kamu selalu menolak pemberian dariku," ujar Ken yang merasa heran.


"Ken, sebentar lagi kamu akan menjadi Kakak iparku, jadi kamu harus berbaik hati memberikan semua itu kepada kami," ujar Rendi.


"Kalau begitu kamu pakai saja ini sesuka hatimu," ujar Ken dengan memberikan black card miliknya kepada Rendi.


"Terimakasih Ken, kamu memang calon Kakak ipar yang baik. Aku tidak menyangka kamu memberikan ini padaku," ujar Rendi dengan tersenyum.


"Semua yang aku punya adalah milik Nabila, karena selama ini aku hanyalah pengganti, jadi sudah seharusnya aku mengembalikan semuanya kepada pemilik aslinya," ujar Ken, dan Nabila merasa terharu mendengar semua perkataan Ken.


"Ken, berapa mahar yang pantas untuk Nabila?" tanya Rendi.


"Yang mau menikah kamu Ren, kenapa kamu meminta pendapatku?" tanya Ken.


"Ini semua kan uangmu, jadi aku harus meminta pendapatmu, bagaimana kalau nanti aku terlalu banyak mengeluarkan uang, apa kamu tidak akan marah?"


"Meski pun semua uang nya habis juga aku gak bakalan marah, aku kan sudah bilang kalau semua itu uang Nabila. Tapi kalau untuk mahar, semua harta yang aku punya sekali pun tidak akan cukup, karena Nabila adalah perempuan spesial."


Rendi dan Nabila tersenyum melihat Ken yang terlihat sedih sekaligus bingung.


"Jadi selama ini kamu sudah mempersiapkan uang mahar untuk menikahi Nabila? maaf Ken, aku tidak tau tentang semua itu, dan aku malah merebut Nabila dari kamu," ujar Rendi yang pura-pura tertunduk sedih.


"Setelah aku mengetahui jika Nabila adalah Cucu kandung Nenek, aku menabung dari hasil kerja keras ku sendiri, untuk mahar dan juga masa depan Rendra."


"Memangnya sudah berapa yang kamu kumpulkan untuk uang mahar?" tanya Rendi.


"Aku baru dapat seratus miliyar saja Ren, karena aku baru satu tahun mengumpulkannya saat tinggal di Australia kemarin."


"Itu uang yang sangat banyak Ken, uang gaji ku selama satu tahun bekerja tidak sampai lima milyar. Tapi, apa kamu ikhlas memberikannya untuk aku jadikan mahar menikahi Nabila kan?" tanya Rendi.


"Aku sangat ikhlas, karena dari awal aku mengumpulkan semua itu memang untuk Nabila," jawab Ken.


"Terimakasih atas semuanya Ken, semoga Tuhan membalas semua kebaikan kamu," ucap Rendi yang di Amini oleh Ken dan Nabila.


"Sayang, aku pulang dulu ya, aku harus mengatakan semuanya kepada Ibu dan Bapak tentang kebenaran yang selama ini aku sembunyikan, dan aku akan mengatakan tentang rencana pernikahan kita" ujar Rendi dengan memeluk, kemudian mencium kening Nabila, karena Rendi dan Nabila sengaja akan terus memanas-manasi Ken.

__ADS_1


"Hati-hati ya Mas, jangan lama-lama perginya," ucap Nabila dengan tersenyum manis.


"Sekalian aja jangan kembali lagi ke sini," ucap Ken dengan lirih saat Rendi ke luar dari dalam kamar perawatan Rendra.


"Barusan kamu bicara apa Ken?" tanya Nabila yang pura-pura tidak mendengar perkataan Ken.


"Aku gak bicara apa-apa kok, mungkin kamu hanya salah dengar saja," jawab Ken dengan menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Saat ini Nabila dan Ken terlihat canggung karena hanya tinggal berdua saja menunggu Rendra yang sedang tidur, padahal mereka duduk berdampingan di atas sofa, tapi mereka merasa malu untuk saling bicara, sampai akhirnya mereka angkat suara secara bersamaan.


"Nabila."


"Ken."


"Kamu saja duluan," ujar Ken.


"Kamu saja Ken, aku lupa mau bicara apa," ujar Nabila.


"Nabila, apa kamu pernah mencintaiku walau pun hanya sejenak?" tanya Ken.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? bukankah semuanya sudah tidak penting lagi? sebentar lagi aku akan menikah dengan Mas Rendi, walau pun aku mencintai kamu sekali pun, semua itu sudah tidak ada artinya lagi," jawab Nabila, maaf Ken, aku harus mengerjai kamu, kapan lagi aku bisa melakukan semua ini, ucap Nabila dalam hati.


"Jadi, kamu pernah memiliki perasaan cinta juga terhadapku?" tanya Ken dengan mata berbinar.


"Tapi semua itu tidak akan merubah keadaan Ken."


"Setidaknya selama ini cintaku tidak bertepuk sebelah tangan. Makasih ya," ucap Ken.


"Untuk apa?"


"Untuk semuanya. Karena kamu sudah menjaga dan membesarkan Anak kita dengan baik."


"Itu sudah tanggung jawabku sebagai seorang Ibu, jadi kamu tidak perlu mengucapkan terimakasih."


"Sebenarnya aku dan Nenek sudah curiga kalau kamu hamil Anakku, karena hampir empat bulan aku selalu mual muntah seperti orang hamil, bahkan saat kamu akan melahirkan Rendra, perutku juga merasa mulas," ujar Ken, dan Nabila merasa terharu sampai meneteskan airmata mendengar cerita Ken.

__ADS_1


Ternyata cinta kamu begitu besar Ken, ucap Nabila dalam hati.


__ADS_2