
Dari tadi pembicaraan Aira dan Daddy Indra telah di dengarkan oleh seseorang yang tidak lain adalah Ibu kandung Aira sendiri.
"Cukup Mas, kenapa kamu selalu mengajarkan Aira sesuatu yang tidak baik?" ujar Mama Risa, dan Daddy Indra langsung saja melayangkan tangannya kepada Mama Risa yang sudah lancang menguping pembicaraannya dengan Aira.
Plak
Tamparan keras kini mendarat pada pipi Mama Risa.
"Lancang sekali kamu menguping pembicaraan kami, kamu itu hanya benalu di rumah ini, jadi kamu tidak perlu ikut campur urusanku. Aira adalah Putri tunggal ku, urus saja Putri kamu yang cacat itu," ujar Daddy Indra.
Sebenarnya Aira terlahir kembar, tapi karena kembaran Aira cacat dari semenjak lahir, Daddy Indra tidak pernah mau mengakui Zahira sebagai putrinya, bahkan Daddy Indra yang tadinya sangat mencintai Mama Risa, berubah seketika pada saat Mama Risa melahirkan Zahira yang cacat, dan Daddy Indra selalu menganggap jika Mama Risa dan Zahira adalah pembawa sial.
Zahira yang saat ini duduk di kursi roda, langsung menghampiri Mama nya yang terjatuh di atas lantai.
"Ma, maafin Zahira, semua yang terjadi kepada Mama penyebabnya adalah Zahira," ucap Zahira dengan menjatuhkan tubuhnya, kemudian memeluk Mama Risa.
Meski pun Zahira tidak mempunyai kaki, karena kedua kakinya hanya sebatas lutut, Mama Risa sangat menyayangi Anaknya tersebut, apalagi di balik kekurangan yang Zahira miliki, Zahira mempunyai banyak kelebihan, sayangnya Papa Indra selalu mengurung Zahira di dalam rumah dan tidak memperbolehkannya untuk ke luar, karena beliau malu mempunyai Anak yang cacat.
"Aku menyesal kenapa dari dulu tidak membuang Anak kamu yang cacat itu, dia tidak berguna dan hanya membuat malu keluarga saja," teriak Daddy Indra.
"Astagfirullah Mas, Anak itu adalah titipan, Anak itu adalah harta yang paling berharga. Jadi, tidak seharusnya Mas berbicara seperti itu tentang Zahira, karena meski pun Zahira cacat fisik, tapi dia tidak cacat hati seperti kalian," ujar Mama Risa, dan semua itu membuat Daddy Indra semakin geram, sehingga kembali melayangkan tangannya untuk menampar Mama Risa, tapi Aira menahan Daddy Indra supaya tidak melakukan semua itu.
"Cukup Dad, bagaimanapun juga Mama adalah perempuan yang telah melahirkan Aira ke dunia ini, dan Mama masih istri Daddy. Bagaimana kalau sampai ada yang melaporkan Daddy karena selama ini sudah melakukan KDRT kepada Mama?" ujar Aira, dan Daddy Indra terlihat merenungkan kata-kata Aira.
__ADS_1
"Aira sayang, sebaiknya kita membicarakan semua ini di ruang kerja Daddy saja supaya tidak ada yang menguping pembicaraan kita, kita tidak usah memperdulikan benalu di rumah ini," ujar Daddy Indra dengan merangkul tubuh Aira menuju ruang kerjanya.
......................
Saat ini Ken telah bersiap untuk berangkat menuju Australia, tapi langkahnya terasa berat untuk meninggalkan tanah air, karena bayang-bayang Nabila selalu terlihat ketika Ken berada di dalam kamarnya.
"Sayang, aku pasti akan segera kembali, dan aku yakin suatu saat nanti kita akan bertemu lagi," ujar Ken dengan memandang fhoto Nabila yang saat ini tengah di pegangnya, kemudian Ken mencium fhoto tersebut sebelum ke luar dari dalam kamarnya.
Nenek Puspa sudah menunggu Ken di meja makan untuk mengajaknya sarapan bersama.
"Ken, kita sarapan dulu Nak," ajak Nenek Puspa, tapi Ken terlihat enggan untuk melakukan sarapan.
"Ken, kamu harus semangat demi Nabila dan Anak kalian, kamu juga harus selalu menjaga kesehatan saat berada di sana," ujar Nenek Puspa dengan mengelus punggung tangan Ken.
"Nek, apa Nabila akan memaafkan semua kesalahan yang telah Ken lakukan kepadanya? Nabila pasti masih belum memaafkan Ken, makanya Nabila tidak mau kembali lagi ke rumah ini."
"Ken, belum tentu apa yang kita pikirkan itu benar adanya, bagaimana kalau Nabila mengalami kejadian yang membuat dia melupakan kita, Bisa saja kan Nabila hilang ingatan?" ujar Nenek Puspa.
Kenapa aku tidak kepikiran sampai sana? padahal saat Nabila mengalami kecelakaan, aku melihat sendiri di CCTV jika kepalanya terbentur aspal. Apa mungkin dugaan Nenek benar jika saat ini Nabila hilang ingatan, ucap Ken dalam hati.
Setelah selesai sarapan, dengan berat hati, Ken melangkahkan kakinya meninggalkan kediaman Airlangga, dan Ken menitikkan airmata ketika melihat bayang-bayang Nabila yang selalu melambaikan tangan ketika dia hendak berangkat kerja.
"Semangat Ken, kamu pasti bisa melewati semua ini demi Nabila dan Anak kalian," gumam Ken yang menyemangati dirinya sendiri.
__ADS_1
......................
Rendi sangat bahagia dengan kelahiran Rendra, dan saat ini dirinya begitu menikmati hari-hari sebagai seorang Ayah baru, meski pun setiap malam Rendi harus begadang menemani Nabila, karena Rendra selalu terbangun pada malam hari.
"Mas, sebaiknya Mas tidur saja, kasihan kalau tiap malam begadang terus, besok kan Mas harus kerja," ujar Nabila.
"Sayang, Mas tidak tega kalau Zahra harus begadang sendirian nungguin Rendra, lagian Mas ingin selalu melihat Anak kita, saat siang hari kan Ayah tidak bisa lihat Rendra," ujar Rendi dengan terus menciumi wajah Rendra, dan Nabila tersenyum melihat Rendi yang begitu menyayangi Rendra, meski pun saat ini masih ada yang mengganjal pada hati Nabila, karena setiap orang yang melihat Rendra akan mengatakan jika Rendra tidak mirip dengan Rendi pun atau pun Nabila.
"Sayang, kenapa Zahra melamun terus?" tanya Rendi kepada Nabila.
"Mas, kenapa ya setiap orang yang melihat Rendra pasti akan selalu mengatakan jika Rendra tidak mirip dengan Mas Rendi atau pun Zahra, padahal jelas-jelas Rendra Anak kandung kita," ujar Nabila.
Maafkan aku Nabila, karena aku belum bisa jujur bahwa Rendra bukanlah Anakku. Suatu saat nanti ketika ingatanmu kembali, kamu juga akan ingat jika Rendra bukanlah Anakku, tapi Anak Tuan Ken, bahkan wajah mereka berdua begitu mirip, ucap Rendi dalam hati.
"Sayang, yang namanya bayi kan wajahnya masih berubah-ubah, nanti juga Rendra bakalan mirip sama Ayahnya," ujar Rendi yang mencoba menghilangkan keraguan pada hati Nabila.
"Iya juga sih Mas, Bapak sama Ibu juga bilangnya begitu. Kalau begitu sekarang Mas Rendi cepetan tidur, mungpung Rendra udah tidur juga," ujar Nabila yang saat ini menidurkan Rendra di dalam box bayi, dan ternyata ketika Nabila berbalik, Rendi sudah tertidur juga.
Nabila menatap lekat wajah Rendi dan Rendra secara bergantian, dan sesaat kemudian Nabila merasakan kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit.
Kenapa wajah lelaki yang bernama Ken selalu saja terbayang dalam ingatanku, apalagi saat aku melihat wajah Rendra? batin Nabila kini bertanya-tanya.
"Tidak, ini semua tidak mungkin, kenapa wajah Rendra begitu mirip dengan wajah lelaki yang bernama Ken?" gumam Nabila yang semakin merasakan sakit pada kepalanya.
__ADS_1