
Setelah sampai rumahnya, Daddy Indra menyeret Aira ke dalam kamar.
"Mulai saat ini Daddy tidak akan membiarkan kamu ke luar dari dalam kamar ini," teriak Daddy Indra.
"Tidak, Aira tidak terima karena Daddy sudah memperlakukan Aira dengan tidak adil."
"Dari dulu Daddy sudah berkali-kali membantu kamu untuk mendapatkan Ken, bahkan kemarin-kemarin Daddy membantu kamu untuk mendapatkan Rendi, tapi kamu selalu saja gagal. Sedangkan Zahira, meski pun dia cacat, tapi dengan mudah Zahira bisa mendapatkan Rendi."
"Dad berikan Aira kesempatan sekali lagi, Aira janji akan membuat Rendi bertekuk lutut di hadapan Aira. Memangnya Daddy mau jika semua orang mengetahui kalau Daddy mempunyai Anak yang cacat?"
"Sudah cukup Daddy memberikan kesempatan untuk kamu Aira. Asal kamu tau, bahwa Rendi akan membawa Zahira ke luar negeri untuk melakukan pemasangan kaki palsu pada Zahira. Saat ini teknologi sudah semakin canggih, dan nanti Zahira akan bisa berjalan dengan normal tanpa menggunakan kursi roda."
Aira semakin murka mendengar semuanya, apalagi saat ini Daddy Indra mengurung dirinya di dalam kamar.
"Aku harus mencari cara untuk menggagalkan pernikahan Zahira dan Rendi. Jika aku tidak bisa menikah dengan Rendi, aku juga tidak akan membiarkan Zahira hidup bahagia bersama Rendi," ujar Aira dengan mengepalkan kedua tangannya.
Daddy Indra meminta tolong kepada Nenek Puspa supaya untuk sementara waktu Zahira tinggal di kediaman Airlangga, karena Daddy Indra takut jika Aira akan menyakiti Zahira, sampai akhirnya Rendi memutuskan untuk menikahi Zahira besok, supaya Rendi bisa membawa Zahira berobat ke luar negeri, apalagi Rendi terus teringat kepada Nabila, sehingga Rendi sekalian ingin melihat kondisi Nabila di Singapura.
"Bagaimana ini, aku tidak mungkin bisa mencari bukti kejahatan Daddy jika aku tetap tinggal di rumah Tante Puspa. Sebaiknya aku telpon Mama untuk membantuku mencari semua bukti itu, supaya aku dan Mama bisa selamanya terbebas dari kekejaman Daddy," gumam Zahira.
Zahira menelpon Mama Risa untuk meminta tolong supaya mencari bukti kejahatan Daddy Indra, dan Zahira sudah mengatakan jika dirinya akan menikah dengan Rendi.
Meski pun pada awalnya Mama Risa merasa terkejut dan mengira jika Rendi hanya memanfaatkan Zahira, tapi Mama Risa bahagia ketika mendengar Rendi akan membawa Zahira untuk melakukan operasi pemasangan kaki palsu ke luar negeri setelah mereka menikah secara agama pada esok hari.
Beberapa saat kemudian, Rendi mengetuk pintu kamar Zahira untuk membicarakan rencana mereka.
"Zahira, apa kamu sudah memberitahu Tante Risa jika besok kita akan menikah?" tanya Rendi.
"Sudah Mas, aku juga sudah meminta bantuan kepada Mama supaya membantu kita untuk mencari bukti kejahatan Daddy."
"Jika memang bukti itu tidak ada, kamu bisa meminta Mama kamu merekam percakapan Om Indra dengan Aira yang mengatakan jika Om Indra yang sudah menyebabkan kedua orangtuaku kecelakaan," ujar Rendi.
"Baik Mas, nanti Zahira akan memberitahu Mama, apalagi sebelumnya Aira dan Daddy sudah saling mengancam, jika Daddy sampai menikahkan kita, Aira akan memberitahukan semua kejahatan Daddy kepada Tante Puspa dan Mas Rendi, tapi mungkin saat ini Aira dikurung oleh Daddy di dalam kamar.
"Kalau begitu kamu bilang saja sama Mama Risa supaya beliau melepaskan Aira, dan kita lihat apa yang akan Aira lakukan."
__ADS_1
Zahira kembali menelpon Mama Risa untuk meminta tolong supaya membebaskan Aira, dan tentu saja Mama Risa menyetujuinya setelah Zahira mengatakan alasannya.
"Makasih banyak Zahira, kalau begitu sekarang kamu istirahat, karena besok kita akan menikah."
"Mas, atas nama Daddy, Zahira meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena Daddy telah melakukan kejahatan besar sampai menyebabkan kedua orangtua Mas Rendi meninggal."
"Zahira, kamu tidak perlu meminta maaf atas kejahatan yang tidak kamu lakukan, apalagi besok kamu akan menjadi istri aku."
Zahira termenung mendengar perkataan Rendi, karena Zahira masih belum percaya jika Rendi akan menikahinya.
"Kenapa kamu melamun terus?" tanya Rendi yang melihat Zahira diam saja.
"Mas, Zahira takut kalau Mas Rendi akan menyesal menikahi Zahira. Apa tidak sebaiknya Mas Rendi kembali memikirkan keputusan Mas Rendi?"
"Keputusanku sudah bulat Zahira, insyaallah aku tidak akan pernah menyesal, dan aku akan belajar untuk mencintaimu serta berusaha untuk membahagiakanmu," ujar Rendi dengan memegang kedua bahu Zahira, dan mata Zahira terlihat berkaca-kaca mendengar perkataan Rendi.
"Sekarang, kamu istirahat ya, semoga besok semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rendi yang di Amini oleh Zahira.
Rendi ke luar dari dalam kamar Zahira menuju kamarnya, dan Rendi menelpon Paman dan Bibinya untuk memberitahukan jika besok Rendi akan menikahi Zahira.
Pak Udin dan Bu Fatimah sangat berharap Rendi akan melupakan Nabila dan membuka lembaran baru dengan Zahira meski pun semua itu mungkin akan sulit untuk Rendi lakukan, tapi Rendi sudah bertekad untuk menjadi Suami dan imam yang baik untuk Zahira.
Setelah menelpon kedua orangtua angkatnya, Rendi menelpon Ken, tapi Ken tidak mengangkatnya, karena saat ini Ken sedang membawa Nabila menuju Rumah Sakit, setelah Nabila pingsan selama berjam-jam dan Nabila tidak kunjung sadarkan diri juga.
Saking paniknya, Ken sampai lupa tidak membawa handphonenya, dan sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Ken terus saja menangisi Nabila.
Saat ini Ken membawa Nabila ke ruang IGD, dan Dokter bergegas menangani Nabila.
"Sebaiknya Tuan tenang dulu, kami akan melakukan yang terbaik untuk Nyonya," ujar Dokter.
Ken terus saja mondar mandir di depan ruang IGD, sampai akhirnya Dokter ke luar dari dalam ruang IGD.
"Dok, bagaimana keadaaan istri saya?" tanya Ken yang terlihat panik.
"Sebaiknya istri Anda dirawat di Rumah Sakit, supaya kami bisa terus memantau kondisinya, apalagi saat ini kondisi Pasien tengah kritis," jawab Dokter.
__ADS_1
Ken langsung menjatuhkan tubuhnya di atas lantai, karena Ken begitu terpukul mendengar perkataan Dokter, dan Ken takut kehilangan Nabila.
"Kami akan melakukan yang terbaik untuk istri Tuan, jadi kami mohon bantu do'anya," ujar Dokter, kemudian meninggalkan Ken di depan ruang IGD.
Beberapa saat kemudian, Nabila dipindahkan menuju ruang ICU, karena saat ini kondisi Nabila masih kritis.
Ken terus menangis dengan memegang tangan Nabila.
"Bunda harus kuat, Ayah akan selalu ada di sini menunggu Bunda," ujar Ken.
Dengan berat hati Ken melepaskan pegangan tangannya terhadap Nabila, karena Nabila dibawa masuk ke dalam ruang ICU, dan Ken hanya bisa melihat Nabila dari kaca depan ruang ICU.
Meski pun saat ini kita terhalang dinding pembatas, tapi Bunda akan selalu ada di hati Ayah, begitu juga dengan Ayah yang akan selalu ada di dalam hati Bunda. Bunda harus kuat demi kami, ucap Ken dari balik kaca dengan buliran bening yang terus mengalir pada pipinya, apalagi saat ini Nabila dipasang berbagai macam alat pada tubuhnya supaya bisa bertahan hidup.
......................
Keesokan paginya, semuanya telah bersiap untuk menghadiri acara pernikahan Rendi dan Zahira yang akan dilakukan secara Agama di kediaman Airlangga.
Selain Penghulu dan para Saksi, Pernikahan Rendi dan Zahira hanya dihadiri oleh kedua orangtua Zahira, dan Nenek Puspa saja.
Saat ini Rendi sudah berada di depan Penghulu untuk mengucapkan janji suci pernikahan, dan beberapa saat kemudian, Zahira yang sudah selesai didandani, dibantu oleh Mama Risa yang mendorong kursi roda Zahira untuk datang ke tempat acara akan dilangsungkan.
Rendi begitu terpesona melihat kecantikan Zahira, sampai-sampai Rendi tidak mengedipkan matanya.
"Bagaimana Tuan muda, apa Anda sudah siap untuk mengucap ijab kabul?" tanya Penghulu.
"Insyaallah saya sudah siap Pak," jawab Rendi dengan mantap.
Rendi menjabat tangan Daddy Indra yang akan menjadi Wali nikah untuk Zahira, kemudian Rendi mengucap ijab kabul pernikahan dengan lantang.
Setelah para saksi menyatakan Pernikahan Rendi dan Zahira Sah, Daddy Indra tersenyum licik, karena impiannya untuk menguasai harta keluarga Airlangga akan segera terwujud.
Selamat tinggal Nabila, mulai sekarang, aku akan membuka lembaran baru dengan Zahira yang sudah resmi menjadi istriku, ucap Rendi dalam hati.
Zahira mencium punggung tangan Rendi, kemudian Rendi mengecup kening Zahira, tapi beberapa saat kemudian, mereka mendengar suara teriakan seorang perempuan yang tidak lain adalah Aira.
__ADS_1
"Hentikan Pernikahan ini !!"