
Tubuh Mama Risa dan Zahira gemetar ketakutan ketika mendengar Daddy Indra menyuruh mereka untuk ke luar, karena mereka pikir Daddy Indra mengusir Mama Risa dan Zahira dari rumah tersebut.
"Mas, tolong jangan usir kami, kalau kami di usir dari rumah ini, kami tidak tau harus pergi kemana," ujar Mama Risa, dan Daddy Indra mengerutkan dahinya ketika mendengar perkataan Mama Risa.
"Memangnya siapa yang akan mengusir kalian? aku menyuruh kalian ke luar dari sini karena aku sudah menyiapkan kamar yang bagus untuk kalian," ujar Daddy Indra, dan semua itu membuat Mama Risa dan Zahira terkejut.
"A_apa kami tidak salah dengar? jadi Mas menyuruh kami ke luar supaya pindah dari kamar ini?" tanya Mama Risa yang mencoba memastikan perkataan Daddy Indra.
"Iya Risa, sebentar lagi Zahira akan menjadi Menantu Airlangga, jadi aku harus memperlakukan tambang emas milikku dengan baik," jawab Daddy Indra dengan tersenyum licik.
Tadinya Mama Risa dan Zahira merasa bahagia ketika Daddy Indra menyuruh pindah dari kamar tersebut, karena mereka mengira jika Daddy Indra sudah berubah, tapi setelah mereka mendengar alasan Daddy Indra yang mengatakan jika Zahira adalah tambang emas untuknya, hati Zahira terasa sakit, karena ternyata Daddy Indra tidak benar-benar menyayanginya sebagai seorang Anak.
"Dad, kenapa Daddy tidak pernah menyayangi Zahira? bukannya Zahira juga Anak kandung Daddy?" tanya Zahira dengan buliran bening yang lolos begitu saja dari kedua matanya.
"Zahira, apa pentingnya rasa sayang jika dibandingkan dengan uang? bagiku uang adalah segala-galanya. Sudahlah kalian jangan banyak tingkah, seandainya kamu tidak dekat dengan Rendi, aku juga tidak akan sudi memindahkan kalian dari kamar ini," teriak Daddy Indra.
"Daddy memang tidak punya hati, yang Daddy pikirkan hanyalah uang, uang dan uang. Dad, harta yang kita miliki tidak akan pernah kita bawa mati, hanya amal ibadah yang akan menyelamatkan kita di akhirat nanti. Apalagi jika Daddy mendapatkan uang dengan cara yang salah, selain dosa, uang yang Daddy dapatkan tidak akan berkah dan hanya akan membawa Daddy masuk ke dalam jurang kehancuran."
"Tutup mulut kamu Zahira, jangan berani-beraninya kamu menceramahiku, kamu hanya Anak kecil yang tidak tahu apa pun, asal kamu tau jika kita memiliki uang yang banyak, kita bisa membeli semua yang kita mau, orang-orang akan menghormati kita, dan kita akan hidup bahagia," ujar Daddy Indra.
"Daddy salah, karena cinta, kasih sayang, dan kebahagiaan tidak akan pernah bisa dibeli dengan uang. Daddy sudah dibutakan oleh harta, jangan sampai Daddy menyesal di kemudian hari."
"Sekarang kamu sudah berani menentangku Anak cacat? jika saja aku tidak membutuhkanmu untuk mendekati Rendi, sudah aku buang kamu jauh-jauh, bahkan aku tidak akan segan-segan melenyapkanmu dari Dunia ini. Selama ini kalian berdua hanya beban untukku, jadi sekarang sudah saatnya kamu berguna untukku Anak cacat."
"Ternyata Daddy membutuhkan Zahira yang cacat ini, tapi sayangnya Zahira bukanlah Aira yang mau dijadikan boneka."
Plak
__ADS_1
Satu tamparan keras mendarat pada pipi Mama Risa.
"Tega sekali Daddy menampar Mama? kenapa bukan Zahira saja yang Daddy tampar?"
"Aku tidak mungkin menyakiti tambang emas ku, itu adalah hukuman karena kamu sudah berani melawanku. Sekali lagi kamu menentang semua keinginanku, lihat saja apa yang bisa aku lakukan kepada Mama tercintamu ini, karena aku tidak akan segan-segan menyakitinya. Sekarang juga kalian pindah dari kamar ini, kalau tidak, aku akan melakukan sesuatu yang akan kamu sesali dalam seumur hidup kamu Anak cacat," ancam Daddy Indra kemudian ke luar dari kamar Zahira dan Mama Risa.
Zahira dan Mama Risa hanya bisa menangis menerima perlakuan kejam Daddy Indra, karena mereka tidak akan mungkin bisa melawannya.
"Ma, maafin Zahira, semuanya karena Zahira, Daddy jadi menampar Mama," ujar Zahira dengan memeluk tubuh Mama Risa.
"Tidak apa-apa Nak, seharusnya Mama yang meminta maaf karena Mama tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu Zahira. Selama ini Zahira sudah menderita, apa kita pergi saja dari rumah ini? Mama tidak mau kalau sampai Zahira dijadikan alat untuk berbuat jahat, Mama tidak mau kalau Zahira sampai kenapa-napa."
"Sebaiknya sekarang kita menuruti perintah Daddy, Zahira tidak mau kalau Daddy sampai menyakiti Mama. Zahira pasti akan baik-baik saja Ma."
Zahira yang takut jika Daddy Indra akan menyakiti Mama Risa, terpaksa mengikuti semua keinginan Daddy Indra, dan saat ini Mama Risa dan Zahira bergegas pindah ke kamar yang sudah Daddy Indra persiapkan, sebelum Daddy Indra kembali memarahi mereka.
......................
Hari ini Nabila akan mulai melakukan kemoterapi, dan Nabila sudah merasa takut dengan efek samping yang akan ia rasakan, apalagi Nabila tidak mau merepotkan Ken jika sampai nanti Nabila tidak bisa melakukan aktifitas seperti biasanya.
"Bunda harus selalu semangat ya, apa pun yang terjadi, Ayah akan selalu mendampingi Bunda," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila.
"Yah, maaf ya kalau Bunda sudah merepotkan."
"Tidak sayang, Bunda sama sekali tidak merepotkan Ayah, yang penting Bunda selalu kuat dan semangat demi orang-orang yang menyayangi Bunda," ujar Ken dengan terus menggenggam erat tangan Nabila selama melakukan kemoterapi.
"Yah, Bunda ingin sekali bertemu dengan Rendra, padahal baru beberapa hari kita berpisah, tapi Bunda sudah merindukan Rendra."
__ADS_1
"Ayah juga sangat merindukan Anak kita, kalau begitu Ayah akan mencoba melakukan panggilan video kepada Bu Fatimah.
Ken melakukan panggilan Video kepada Bu Fatimah supaya sedikit mengobati rasa kangen mereka terhadap Rendra, dan Nabila bisa tersenyum juga merasa lega setelah melihat wajah Rendra dari layar handphone.
"Rendra sayang, Bunda kangen Nak," ucap Nabila dengan airmata yang terus mengalir pada pipinya.
"Semangat terus ya Nak, Rendra di sini baik-baik saja, jadi kalian tidak perlu mengkhawatirkannya. Semoga Nabila bisa cepat sembuh ya, supaya kita bisa berkumpul kembali," ucap Bu Fatimah yang di Amini oleh Ken dan Nabila.
Nabila mencoba untuk terus semangat, meski pun dalam hati kecil Nabila, Nabila sangat takut jika pengobatannya akan gagal, karena Nabila merasa berat jika harus meninggalkan Anaknya yang masih membutuhkan kasih sayang darinya.
Ampuni hamba Ya Allah, hamba tau kalau umur tidak ada yang tau, tapi hamba mohon berikan hamba umur yang panjang, berikan hamba kesempatan untuk hidup lebih lama dengan Suami yang hamba cintai, berikan kesembuhan supaya hamba bisa kembali berkumpul kembali dengan keluarga hamba, hamba ingin bisa merawat Anak hamba yang masih kecil, dan masih membutuhkan kasih sayang dari hamba, ucap Nabila dalam hati.
Setelah selesai melakukan kemoterapi pertama, tubuh Nabila merasa lemas, dan Ken menggendongnya ke luar dari Rumah Sakit, meski pun Nabila minta naik kursi roda saja.
"Yah, kasihan kalau Ayah gendong Bunda, Bunda kan berat, sebaiknya pakai kursi roda saja ya."
"Tidak perlu sayang, Bunda gak berat sama sekali kok."
"Tapi malu sama oranglain Yah."
"Kalau malu, Bunda tinggal tutup mata saja," ujar Ken yang selalu merasa ketakutan jika sewaktu-waktu Nabila akan meninggalkannya, sehingga Ken ingin terus berada dekat dengan Nabila.
Setiap hari Ken selalu berusaha untuk membahagiakan Nabila, bahkan Ken selalu merasa berat meninggalkan Nabila walau pun hanya sebentar saja.
Ketika Nabila menyisir rambutnya, rambut Nabila sudah mulai rontok, dan Ken mencoba menghibur Nabila yang merasa sedih.
"Bunda tetap cantik meski pun tanpa rambut, jadi sebaiknya rambut Bunda Ayah potong saja ya, supaya Bunda tidak merasa takut jika melihat banyak rambut yang rontok saat disisir," ujar Ken, dan Nabila menganggukan kepalanya sebagai jawaban.
__ADS_1
Ken diam-diam selalu menangis karena tidak kuat melihat kondisi Nabila saat ini, tapi Ken berusaha untuk tegar di depan Nabila.