Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 53 ( Mengulur waktu )


__ADS_3

Ken diam-diam mengintip dari balik pintu ketika Nabila mengantar Rendi ke luar, saking cemburunya melihat Nabila memeluk tubuh Rendi, Ken langsung meninju pintu.


Brugh


"Aww sakit," gumam Ken.


Rendi dan Nabila hanya tertawa mendengar Ken yang meringis kesakitan.


"Kamu jail banget sih ngerjain calon Suami sendiri," bisik Rendi dengan mencubit hidung Nabila.


"Biarin sesekali harus dikasih pelajaran biar kapok," bisik Nabila.


"Ya sudah, kalau begitu Mas pulang dulu ya," ujar Rendi yang sengaja mencium kening Nabila, karena melihat Ken yang masih mengintip dari balik belakang pintu.


"Hati-hati ya Mas," ucap Nabila dengan melambaikan tangannya.


Saat Nabila masuk, ken bergegas membaringkan tubuhnya di atas sofa dengan memejamkan matanya supaya tidak ketahuan oleh Nabila kalau dirinya sudah mengintip.


"Gak usah pura-pura tidur, memangnya kamu pikir aku tidak tau kalau tadi kamu mengintip. Jangan suka ngintip Ken, nanti mata kamu bintitan," sindir Nabila.


Ken langsung saja membuka matanya, kemudian duduk di samping Nabila, karena percuma pura-pura tidur jika Nabila sudah mengetahuinya.


"Nabila," ucap Ken yang merasa ragu untuk bicara.


"Apa?" tanya Nabila yang pura-pura sibuk dengan handphonenya.


"Apa kamu bisa membatalkan pernikahannya?' tanya Ken.


Nabila menyimpan handphonenya, kemudian membalikan badannya menghadap Ken.


"Maaf Ken, aku tidak bisa membatalkan pernikahannya, karena aku sangat mencintai calon Suamiku," ujar Nabila.


"Lalu bagaimana denganku?" tanya Ken dengan memegang kedua tangan Nabila.


"Aku yakin sebentar lagi kamu akan menemukan kebahagian," ujar Nabila, kemudian berdiri karena berniat untuk tidur di samping Rendra, tapi tiba-tiba Ken menarik tangan Nabila, kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


"Tapi kebahagiaanku adalah kamu dan Rendra," ujar aken.


"Ken, jangan seperti ini," ujar Nabila.


"Biarkan seperti ini, karena setelah kamu menikah dengan Rendi, aku tidak akan mungkin bisa melakukannya lagi."


Nabila mencoba menahan untuk tidak mengatakan semuanya kepada Ken, karena Nabila ingin memberikan kejutan.

__ADS_1


Sabar Ken, sebentar lagi kita pasti akan hidup bersama menjalani suka dan duka, ucap Nabila dalam hati.


"Sebaiknya sekarang kita tidur, ini sudah malam," ujar Nabila yang mencoba untuk mencari alasan supaya bisa terlepas dari pelukan Ken.


Ken membaringkan tubuhnya dengan terus mendekap erat Nabila, ketika Nabila hendak berbicara, Ken buru-buru angkat suara.


"Gak usah protes, dan gak usah banyak gerak kalau kamu tidak mau membangunkan sesuatu di bawah sana," ujar Ken, sontak saja membuat Nabila diam tidak berkutik.


......................


Keesokan paginya, Nabila bangun ketika mendengar suara Adzan Subuh, dan benar saja sepanjang malam Ken tidak melepaskan pelukannya terhadap Nabila.


"Ken, lepasin pelukannya, aku mau Shalat dulu," ujar Nabila, tapi Ken malah mengeratkan pelukannya.


"Ken, Rendra nangis," ujar Nabila, dan Ken langsung melepaskan pelukannya kepada Nabila, kemudian bergegas menghampiri Rendra yang ternyata masih tidur.


"Nabila, kamu ngerjain aku ya?"


"Kamu sih udah Adzan Subuh juga masih saja tidur, aku titip Rendra ya, aku mau Shalat dulu," ujar Nabila dengan melangkahkan kaki menuju kamar mandi.


Setelah Nabila Shalat, gantian Ken yang Shalat, dan setelah selesai, Ken memutuskan untuk mencari sarapan.


"Nabila, aku mau cari sarapan dulu buat kita, kamu mau sarapan apa?" tanya Ken.


"Kalau begitu aku ke luar dulu ya, kamu kunci aja pintunya, kalau bukan Perawat atau Dokter, ingat kuncinya jangan dibuka."


"Iya iya, bawel banget sih."


"Aku bukan bawel sayang, tapi aku khawatir sama kamu dan Anak kita."


Ken ke luar dari dalam kamar perawatan Rendra, dan Nabila langsung mengunci pintunya.


Nabila baru juga membalikan tubuhnya, Ken sudah kembali mengetuk pintu.


"Nabila, buka pintunya," ujar Ken.


"Lho, kok kamu udah balik lagi?" tanya Nabila dengan heran.


"Aku nyuruh OB aja buat beliin, aku gak mau ninggalin kamu lama-lama, aku takut ada orang yang berusaha untuk mencelakai kalian lagi," ujar Ken dengan tertunduk sedih.


"Kami pasti akan baik-baik saja selama ada Ayahnya Rendra di samping kami," ujar Nabila dengan tersenyum.


"Maksud kamu?" tanya Ken dengan mendekatkan wajahnya kepada Nabila, tapi beberapa saat kemudian ada suara ketukan pintu, dan Ken terpaksa mengurungkan niatnya.

__ADS_1


"Maaf Tuan, Nyonya jika kami mengganggu, Dokter akan melakukan pemeriksaan kepada Pasien," ujar Perawat yang melihat wajah Nabila dan Ken bersemu merah.


"Silahkan Dok," ujar Nabila.


Dokter memeriksa kondisi Rendra secara seksama.


"Dok, bagaimana keadaan Anak kami?" tanya Nabila.


"Luka pada tubuh Pasien sudah membaik karena tidak ada luka yang serius, untung saja pasien segera mendapatkan donor darah," jawab Dokter.


"Dok, kapan Anak kami bisa pulang?" tanya Nabila lagi.


"Hari ini juga Pasien sudah bisa pulang," jawab Dokter, tapi Ken yang tidak ingin Nabila segera menikah dengan Rendi langsung saja angkat suara.


"Dok, bisa tidak kalau Anak kami dirawat di sini selama satu bulan lagi?" tanya Ken yang mencoba untuk mengulur waktu supaya bisa lebih lama bersama dengan Nabila dan Rendra, sehingga membuat Dokter dan Perawat terlihat bingung.


"Maaf Dok, Suami saya cuma bercanda," ujar Nabila yang melihat wajah Dokter yang kebingungan karena baru kali ini Dokter mendengar ada orangtua Pasien yang malah menolak untuk pulang.


"Sayang, aku tidak bercanda, aku ingin kondisi Anak kita benar-benar sembuh. Dok, bagaimana kalau satu minggu lagi saja?" tanya Ken.


"Kami tau kalau Tuan pasti merasa khawatir dengan kondisi Pasien. Tuan tenang saja, karena kondisi Pasien saat ini sudah pulih, tapi jika memang Tuan masih ingin memastikan kondisi Pasien, Pasien bisa menginap selama satu malam lagi. Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Dokter kemudian ke luar dari kamar perawatan Rendra.


Nabila menatap wajah Ken dengan menyilangkan tangannya di depan dada, sehingga Ken menjadi salah tingkah.


"Aduh, bakalan di interogasi nih," gumam Ken.


"Sekarang jelaskan apa alasan kamu sebenarnya meminta Rendra dirawat lebih lama lagi?" tanya Nabila.


"A_aku hanya ingin Rendra benar-benar sembuh saja," ujar Ken dengan tergagap.


"Ken, yang ada Rendra akan semakin sakit jika lama-lama berada di Rumah Sakit, kasihan Rendra tidak bisa menghirup udara segar jika terus berada di sini," ujar Nabila.


"Maaf, aku tidak bermaksud seperti itu, hanya saja aku ingin lebih lama bersama kalian," ujar Ken dengan tertunduk sedih, dan Nabila yang tidak tega melihat Ken seperti itu, langsung saja memeluknya.


"Ken, meski pun kita sudah ke luar dari Rumah Sakit, tapi kita akan terus bersama meski pun dengan status yang berbeda," ujar Nabila.


"Biarkan aku memiliki kalian selama satu malam lagi saja, sebelum aku benar-benar melepas kalian untuk hidup bersama Rendi," ujar Ken dengan buliran airmata yang terus menetes pada pipinya.


Nabila akhirnya menyetujui permintaan Ken.


"Udah gak usah nangis, emangnya gak malu sama Rendra?" ujar Nabila dengan mengelap airmata yang menetes pada pipi Ken.


"Kenapa sih kamu gak ada sedih-sedihnya, padahal kita bakalan berpisah? kamu pasti bahagia kan karena akan segera menikah dengan lelaki yang kamu cintai?" tanya Ken.

__ADS_1


"Tentu saja aku bahagia, karena sebentar lagi aku akan menikah dengan lelaki yang aku cintai, dan kamu akan menyesal karena meminta untuk menginap satu malam lagi," karena lelaki yang akan menikah denganku adalah kamu Ken, lanjut Nabila dalam hati.


__ADS_2