Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 52 ( Terimakasih atas semuanya )


__ADS_3

Rendi memutuskan untuk kembali ke Rumah Sakit setelah menyelesaikan persiapan pernikahan Nabila dan Ken yang akan di adakan secara sederhana saja, karena Nabila tidak ingin acara pernikahan yang terlalu mewah, tapi ketika Rendi membuka pintu kamar perawatan Rendra, Rendi melihat pemandangan yang menyesakkan dadanya, karena saat ini Nabila dan Ken tertidur di atas sofa dengan berpelukan.


Kamu harus terbiasa melihat pemandangan seperti ini Rendi. Kamu pasti bisa mengikhlaskan Nabila untuk lelaki yang Nabila cintai, bukannya selama ini kebahagiaan Nabila yang kamu inginkan, ucap Rendi dalam hati, kemudian membaringkan tubuhnya di samping Rendra.


Beberapa saat kemudian, Ken membuka matanya, dan Ken langsung tersenyum ketika melihat Nabila yang tidur dengan memeluknya, tapi Ken begitu terkejut ketika melihat Rendi yang sudah berada di kamar perawatan Rendra.


"Ren, maaf, kami tidak sengaja melakukan semua ini," ucap Ken.


"Tidak apa-apa Ken, anggap saja itu sebagai pelukan seorang Kakak kepada Adiknya, sekarang kamu adalah Kakak Nabila, jadi aku tidak seharusnya cemburu melihat kedekatan kalian," ujar Rendi.


Nabila yang saat ini masih tertidur mengira jika Ken adalah guling, sehingga Nabila mengeratkan pelukannya kepada Ken, bahkan Nabila beberapa kali mencium Ken.


"Ren, kamu lihat sendiri kan bukan aku yang melakukannya, tapi Nabila yang tidak mau melepaskanku," ujar Ken yang takut jika Rendi marah.


"Aku baik-baik saja Ken, kamu jangan banyak bicara, kasihan Nabila kalau sampai terbangun, dia pasti kecapean," ujar Rendi.


Nabila beruntung karena memiliki Rendi yang begitu menyayanginya dan Rendra, bahkan Rendi bersedia melakukan apa pun untuk kebahagiaan mereka. Apa sekarang sudah saatnya aku melepaskan Nabila untuk bahagia dengan lelaki yang dicintainya? tapi, apa aku bisa melakukan semua itu? ucap ken dalam hati, dan saat ini dirinya berada dalam dilema.


Nabila terbangun karena merasakan ingin buang air kecil, tapi Nabila langsung terkejut ketika melihat Ken yang saat ini tidur di sampingnya.


"Ken, apa yang kamu lakukan?" tanya Nabila.


"Memangnya apa yang bisa aku lakukan, dari tadi aku tidak bisa pergi kemana-mana karena kamu terus memeluk tubuhku, bahkan kamu juga menciumku. Apa aku begitu imut seperti boneka makanya kamu merasa gemas?"


"Mana mungkin seperti itu? yang ada kamu kan yang mencari kesempatan untuk memeluk serta menciumku ketika aku tertidur?" ujar Nabila.


"Kamu lihat sendiri wajahku, pasti banyak tanda lipstik kamu yang menempel."


Nabila melihat wajah Ken dengan seksama dan benar saja kalau di wajah Ken banyak sekali noda lipstiknya.


"Tapi aku tidak mungkin memelukmu kan, pasti tadi kamu yang sudah mencari kesempatan dalam kesempitan," ujar Nabila.

__ADS_1


"Hey Nona, kamu bilang aku yang memelukmu? apa kamu tidak sadar jika sekarang tangan kamu melingkar di pinggangku? dan Rendi yang menjadi saksinya," ujar Ken.


Nabila terkejut ketika mendengar Rendi berada di sana, karena Rendi pasti sakit hati melihat semua itu. Meski pun Rendi berkata sudah ikhlas, tapi tetap saja Nabila harus menjaga perasaan Rendi.


Nabila langsung melepas pelukannya dari tubuh Ken, tapi Ken menahannya karena takut Nabila terjatuh dari sofa.


"Ken lepasin," ujar Nabila.


"Kalau aku lepasin kamu, kamu akan terjatuh," ujar Ken, tapi Nabila malah menarik tubuh Ken, sampai akhirnya mereka berdua jatuh di lantai dengan posisi Ken di bawah Nabila dan bibir mereka berdua yang menempel.


Jantung keduanya berdetak kencang dengan wajah yang memerah seperti udang rebus, sampai akhirnya terdengar suara deheman Rendi yang menyadarkan mereka.


"Ekhem, kalian ini anggap aku apa? apa di sini aku hanya obat nyamuk?" sindir Rendi.


Nabila dan Ken merasa tidak enak kepada Rendi, apalagi Ken mengira jika Rendi lah yang akan menikah dengan Nabila.


Nabila langsung berlari ke dalam toilet karena merasa malu, terlebih lagi Nabila ingin buang air kecil.


"Ren, maaf," ucap Ken dengan lirih.


"Kenapa bukan kamu saja, kamu kan calon Suaminya?" tanya Ken.


"Kamu lihat sendiri, sekarang Rendra tidur di atas tanganku, kalau aku bergerak, pasti Rendra akan terbangun."


Ken mengetuk pintu kamar mandi untuk memastikan jika Nabila baik-baik saja.


"Nabila, kamu baik-baik saja kan?" tanya Ken.


Nabila mencoba menetralkan debaran jantungnya, dan setelah merasa lebih baik Nabila ke luar dari dalam kamar mandi.


"Nabila, kenapa wajah kamu merah? apa ada yang sakit?" tanya Ken dengan memegang dahi Nabila.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja," jawab Nabila, kemudian melangkahkan kaki dan kembali duduk di sofa.


"Sayang, persiapan Pernikahan kita sudah selesai, semoga kamu suka dengan semua hiasan dan pakaian yang aku pilih," ujar Rendi, dan Ken terbakar api cemburu mendengarnya.


"Makasih banyak ya Mas, Mas Rendi emang paling mengerti aku, aku sudah tidak sabar menunggu hari itu tiba," ujar Nabila, dengan menahan tawa ketika melihat wajah Ken yang cemberut.


"Oh iya, tadi Ibu nitip makanan, sebaiknya segera dimakan mungpung masih hangat," ujar Rendi.


Nabila yang memang sudah lapar langsung membuka kotak makanan yang dibawa oleh Rendi, tapi ternyata hanya ada satu kotak dan satu sendok saja di dalamnya.


"Mas, kok kotak makanan sama sendoknya cuma satu sih? kita kan berdua," ujar Nabila.


"Maaf sayang, tadi Mas lupa kalau ada Ken juga, tapi nasi sama lauknya banyak kan, kenapa kalian tidak makan berdua saja," ujar Rendi yang sengaja ingin melihat Nabila bahagia karena bisa selalu dekat dengan Ken, meski pun Rendi akan menahan sesak dalam dadanya ketika melihat perempuan yang dia cintai dekat dengan lelaki lain.


Ken yang merasa tidak enak kepada Rendi jika harus berbagi makanan dengan Nabila, apalagi menggunakan sendok yang sama akhirnya angkat suara juga.


"Nabila, kamu makan sendiri saja, biar aku cari makan di luar," ujar Ken yang hendak berdiri, tapi tiba-tiba Nabila memegang pergelangan tangan Ken supaya kembali duduk.


"Kita makan berdua saja, sayang nasi sama lauknya banyak, Mas Rendi juga gak bakalan cemburu, sekarang kita kan sudah menjadi saudara," ujar Nabila, kemudian mulai makan dengan menyuapi Ken.


Meski pun kamu hanya menganggapku sebagai saudara, tapi aku bahagia karena masih bisa berada di dekatmu Nabila. Terimakasih atas semuanya, ucap Ken dalam hati.


Saat ini waktu sudah menunjukan pukul sembilan malam, dan Rendi memutuskan untuk pulang supaya tidak mengganggu Nabila dan Ken.


"Sayang, Mas pulang dulu ya," ucap Rendi.


"Mas gak mau nginep di sini?" tanya Nabila.


"Besok Mas harus kerja, dan tadi gak sempat bawa pakaian ganti. Ken aku titip Nabila dan Rendra ya," ujar Rendi.


"Kamu tenang aja Ren, aku pasti akan menjaga mereka dengan baik," ujar Ken.

__ADS_1


Nabila mengantar Rendi sampai depan pintu kamar perawatan Rendra, tiba-tiba Nabila memeluk tubuh Rendi dan mengucapkan terimakasih.


"Terimakasih atas semuanya Mas."


__ADS_2