Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 72 ( Permintaan maaf Zahira )


__ADS_3

Nenek Puspa, Rendi dan Zahira, saat ini tengah berada di dalam ruangan Dokter untuk melakukan konsultasi.


Setelah Dokter memeriksa kondisi Nenek Puspa dan Zahira, Rendi menanyakan hasilnya.


"Dok, bagaimana kondisi Nenek dan istri saya?"


"Nenek Anda memerlukan terapi untuk bisa berjalan, apalagi saya lihat sebelumnya sudah ada yang memberikan terapi akupuntur, jadi besar kemungkinan Nenek Anda akan bisa berjalan kembali setelah beberapa kali melakukan terapi. Dan untuk istri Anda, besok istri Anda bisa langsung melakukan operasi pemasangan kaki palsu, karena teknologi saat ini sudah semakin canggih, jadi istri Anda akan bisa berjalan dengan normal setelah melakukan pemasangan kaki palsu," jawab Dokter, dan semuanya terlihat bahagia mendengar berita baik tersebut.


"Alhamdulillah, semoga semuanya berjalan dengan lancar," ucap Rendi yang di Amini oleh semuanya.


Setelah selesai berkonsultasi dengan Dokter, Nenek Puspa, Rendi dan Zahira memutuskan untuk menghampiri Nabila dan Ken di ruang Kemoterapi.


Ken sengaja memesan kamar khusus tempat kemoterapi yang memiliki fasilitas seperti hotel bintang lima, dan saat ini Ken terus menghujani Nabila dengan ciuman tanpa menyadari ada yang masuk ke dalam ruangannya.


"Ekhem," Nenek Puspa berdehem, dan Ken terlonjak kaget mendengarnya.


"Astagfirullah Nek, kenapa sih Nenek bikin Ken jantungan saja."


"Nenek sengaja, bisa-bisanya kamu berbuat seperti itu di Rumah Sakit," sindir Nenek puspa.


"Memangnya Ken berbuat apa? Ken hanya mencium istri Ken, dan Ken tidak mungkin melakukan lebih dari itu. Nenek tidak tau saja Ken sudah puasa selama tiga bulan," ujar Ken, dan Nabila yang mendengarnya langsung mencubit pinggang Ken.


"Sayang, kenapa sih Bunda cubit pinggang Ayah?"


"Ayah habisnya kalau ngomong suka terus terang."


"Bunda sayang, tanyakan saja sama Nenek kalau bohong itu dosa," ujar Ken dengan cengengesan.


Nenek Puspa sampai menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ken yang begitu bucin terhadap Nabila, tapi Nenek Puspa bahagia karena Ken sangat mencintai Nabila.


Semoga Ken selalu membuat Nabila tersenyum, kasihan Nabila, sejak dia bayi, Nabila sudah hidup menderita, bahkan tidak mengetahui wajah kedua orangtuanya, dan sekarang Nabila masih saja diberikan cobaan yang berat. Semoga Nabila cepat sembuh seperti sediakala, ucap Nenek Puspa dalam hati.


Setelah Nabila selesai kemoterapi, Ken mengajak semuanya untuk pulang ke apartemen, karena Dokter akan melihat hasil kemoterapi Nabila minggu depan.


"Selamat datang di apartemen kami, silahkan duduk semuanya," ucap Ken dengan membukakan pintu.


Setelah Ken membantu Nabila untuk duduk, Ken bergegas ke dapur untum menyiapkan minuman, dan beberapa saat kemudian Ken kembali dengan membawa beberapa gelas minuman dan juga beberapa toples cemilan.

__ADS_1


"Ren, kamu malah diem aja bukannya bantuin," sindir Ken.


"Kapan lagi aku dilayani oleh Bos," ujar Rendi dengan terkekeh.


"Sekarang aku bukan Bos lagi, tapi aku adalah Pelayan dari Ratu Nabila," ujar Ken dengan mendudukkan bokongnya di samping Nabila.


"Tapi bagi Nabila, seorang Ken adalah Raja di hatiku," ujar Nabila dengan memeluk tubuh Ken.


"Hadeuh dasar pasangan bucin," sindir Rendi.


"Kamu juga sama saja Rendi, bucin juga kan sama Zahira," sindir Nenek Puspa, dan Rendi terkekeh mendengarnya.


"Kasihan nasib Nenek yang harus melihat pasangan bucin seperti kalian, karena Nenek gak ada pasangan," gumam Nenek Puspa.


"Jadi Nenek ingin punya pasangan juga? kebetulan tetangga di sini ada yang jomblo dan sudah Kakek-kakek, nanti Ken bisa jodohin sama Nenek," celetuk Ken.


"Keenan," teriak Nenek Puspa.


"Iya, iya Nenekku yang cantik, Ken hanya bercanda."


"Tentu saja kami lapar, apalagi dari tadi harus melihat kalian yang terus saja memeluk pasangan masing-masing," jawab Nenek Puspa dengan memutar malas bola matanya.


"Sayang, Ayah masak dulu ya, ingat Bunda jangan kemana-mana."


"Yah, sekarang kan ada Nenek dan yang lainnya, jadi Ayah tidak perlu mengkhawatirkan Bunda."


"Rendi, ikut aku," ujar Ken.


"Kemana Bos?" tanya Rendi.


"Bantuin masak," ujar Ken dengan menyeret tubuh Rendi menuju dapur.


Ken dan Rendi saat ini berjibaku dengan bahan-bahan masakan, dan mereka sudah terlihat ahli dalam mengolah makanan.


"Nabila sayang, apa setiap hari Ken memasak untuk Nabila?" tanya Nenek Puspa, karena sebelumnya Ken tidak pernah masuk ke dapur selama tinggal di kediaman Airlangga.


"Iya Nek, semenjak Dokter melarang Nabila memakan makanan dari luar karena takutnya tidak higienis, Ken mulai belajar memasak, meski pun pada awalnya Ken merasa kesulitan, tapi lama kelamaan, Ken semakin ahli, bahkan rasa masakannya tidak kalah dengan restoran bintang lima," jawab Nabila dengan terus mengembangkan senyuman, karena Nabila kembali teringat dengan perjuangan Ken yang berusaha untuk belajar memasak. Pada waktu itu bukan hanya tangan Ken yang berdarah karena terkena pisau, bahkan tangan Ken beberapa kali terkena cipratan minyak panas.

__ADS_1


"Nabila sepertinya bahagia setelah menikah dengan Ken?" tanya Nenek Puspa.


"Nabila bukan hanya bahagia, tapi Nabila sangat bahagia. Apalagi Ken selalu sabar mengurus Nabila, karena pada awal Nabila melakukan kemoterapi, Nabila sering pingsan dan muntah, tapi Ken tidak pernah beranjak sedikit pun dari samping Nabila."


"Maafin Nenek Nak, karena Nenek tidak ada saat Nabila membutuhkan, Nenek tidak tau kalau kalian telah melewati masa-masa yang sulit," ucap Nenek Puspa dengan menangis memeluk tubuh Nabila.


"Nenek tidak perlu meminta maaf, karena kami tidak ingin Nenek merasa cemas jika mengetahui kondisi Nabila. Yang penting sekarang kondisi kesehatan Nabila sudah mulai membaik, dan Nabila ingin segera bertemu dengan Rendra."


"Nenek juga sering melakukan panggilan video dengan Cicit Nenek yang semakin hari semakin lucu, Nenek jadi tidak sabar ingin segera berkumpul dengan kalian."


"Nabila juga ingin sekali segera berkumpul dengan semuanya, tapi setelah nanti Nabila selesai melakukan pengobatan, Nabila dan Ken akan membawa Rendra ke Australia terlebih dahulu, karena Ken masih belum menyelesaikan pekerjaannya di sana."


"Kalian pasti ingin sekalian berbulan madu juga kan?" goda Nenek Puspa.


"Tentu saja Nek, Ken harus membuat Cicit yang banyak untuk Nenek," ujar Ken yang datang dengan membawa makanan yang sudah matang, lalu menatanya di meja makan.


Nabila menghampiri Zahira dan duduk di sampingnya.


"Zahira, aku turut berduka cita ya atas musibah yang menimpa keluarga kamu. Semoga amal ibadah mendiang kedua orangtua kamu dan Aira diterima oleh Allah SWT," ucap Nabila dengan memeluk tubuh Zahira.


"Amin, terimakasih banyak atas do'anya," ucap Zahira.


"Zahira jangan sedih ya, Zahira tidak sendirian, karena selain memiliki Mas Rendi, Zahira masih memiliki kami, karena kami adalah keluarga Zahira juga," ujar Nabila.


Zahira tiba-tiba menangis, karena Zahira merasa berdosa terhadap Nabila, sebab yang telah membuat kedua orangtua Nabila meninggal adalah Ayah kandungnya sendiri.


Apa Nabila akan tetap baik terhadapku setelah mengetahui jika aku adalah Anak dari pembunuh kedua orangtuanya? ucap Zahira dalam hati.


"Zahira jangan menangis ya, Nabila tau bagaimana rasanya kehilangan kedua orangtua, bahkan Nabila tidak mengingat wajah kedua orangtua Nabila yang sudah meninggal dari semenjak Nabila bayi."


"Nabila maaf," ucap Zahira dengan lirih.


Semuanya sudah terlihat tegang ketika melihat Zahira yang hendak mengatakan sebuah kebenaran tentang kematian kedua orangtua Nabila, tapi bagaimanapun juga Nabila berhak tau, sehingga tidak ada yang berusaha untuk mencegah Zahira mengatakan semua itu.


"Kenapa Zahira meminta maaf? Zahira tidak melakukan kesalahan apa pun kepada Nabila."


"Atas nama mendiang keluarga Zahira, Zahira meminta maaf yang sebesar-besarnya, karena sebenarnya mendiang Daddy yang sudah membuat mobil yang ditumpangi oleh Nabila dan juga kedua orangtua Nabila mengalami kecelakaan, dan kami baru mengetahuinya sebelum Daddy meninggal dunia," ucap Zahira dengan lirih, dan Nabila begitu terkejut mendengar kebenaran yang telah terjadi, karena selama ini Nabila mengira jika kecelakaan yang terjadi pada kedua orangtuanya adalah murni kecelakaan, tapi ternyata kecelakaan tersebut sengaja dilakukan oleh mendiang Daddy Indra.

__ADS_1


__ADS_2