
Hari ini adalah hari terakhir Aldi berada di lampung, karena kerjasama dengan perusahaan tempat kerja Rendi sudah selesai.
"Tidak terasa ya Ren, aku sudah satu tahun setengah kerja bareng kamu. Bagaimana kabar Rendra dan Nabila, apa mereka baik-baik saja?" tanya Aldi.
"Alhamdulillah, kabar istri dan Anakku sangat baik, meski pun saat ini Rendra lagi aktif-aktifnya belajar jalan, sehingga Zahra selalu kewalahan. Oh iya, besok kamu langsung kembali ke luar negeri atau ke Jakarta dulu?" tanya Rendi.
"Aku kayaknya mau ke Jakarta dulu untuk menemui Megan."
"Megan kekasih kamu yang dulu menghasut untuk menjual Nabila kan?" tanya Rendi.
"Iya Ren, dulu aku meninggalkannya dalam keadaan hamil," jawab Aldi.
"Dulu aku pernah berjumpa dengan Megan saat Reuni. Dia mendampingi Andre datang ke acara tersebut, tapi dia mendekati Tuan Ken juga."
"Aku sebenarnya sudah lama mengetahui tentang hubungan Megan dengan Andre, tapi aku selalu menutup mata dan telingaku karena aku terlalu mencintai Megan. Aku menyesal karena dulu sudah dibutakan oleh cinta, padahal aku tau kalau Megan bukan perempuan baik-baik."
"Semoga semuanya menjadi pelajaran untuk kamu Al, supaya tidak mengulanginya di masa mendatang. Apa kamu yakin jika bayi yang Megan kandung adalah Anak kamu Al?"
"Aku tidak yakin, makanya aku berniat untuk melakukan tes DNA, karena jika benar bayi itu Anakku, aku akan bertanggungjawab menafkahinya."
"Kamu memang lelaki sejati," ujar Rendi dengan menepuk bahu Aldi.
Mungkin kamu yang seharusnya mendapat julukan lelaki sejati Ren, karena entah kenapa aku sangat yakin jika Rendra bukanlah Anak kamu, tapi Anak Ken. Jika kenyataannya seperti itu, Nabila beruntung karena kamu sudah tulus mencintainya, serta bersedia menerima Nabila apa adanya, ucap Aldi dalam hati.
"Ren, aku duluan ya, soalnya aku belum beres packing-packing baju. Terimakasih atas kerjasamanya selama ini, semoga di lain kesempatan kita bisa bekerjasama lagi," ujar aldi dengan memeluk tubuh Rendi.
"Sama-sama Al, semoga kamu segera mendapatkan pendamping hidup yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan Zahra, meski pun aku yakin kalau tidak ada perempuan yang lebih baik dari istriku di dunia ini," ujar Rendi dengan terkekeh.
"Kamu benar Ren, tidak ada perempuan yang sebaik Nabila di Dunia ini, dan kamu adalah orang beruntung yang bisa memilikinya. Kalau begitu aku pulang dulu ya," ujar Aldi melangkahkan kaki ke luar dari ruangan Rendi.
Kamu benar Al, aku adalah lelaki paling beruntung karena bisa hidup bersama dengan Zahra, meski pun aku hanya bisa menjaganya, tanpa bisa memilikinya, karena aku masih yakin jika dalam hati kecil Zahra masih ada Tuan Ken, ucap Rendi dalam hati.
......................
Ketika Aldi ke luar dari dalam kantor, Aldi tidak sengaja berpapasan dengan Nabila yang membawa Rendra untuk menunggu Rendi pulang, karena Rendi dan Nabila akan menghadiri Undangan pernikahan rekan kerja Rendi.
__ADS_1
"Mas Aldi, bagaimana kabarnya?" tanya Nabila.
"Alhamdulillah, saya baik, bagaimana kabar Mbak Zahra dan Rendra?"
"Alhamdulillah kami juga baik. Mas Rendi masih belum ke luar ya?" tanya Nabila.
"Mungkin sebentar lagi. Memangnya kalian mau pergi kemana?" tanya Aldi.
"Kami mau ke Undangan rekan kerja Mas Rendi, makanya tadi Mas Rendi menyuruh kami untuk datang ke sini, supaya langsung berangkat menuju tempat acara."
Rendra tiba-tiba menangis karena ingin digendong oleh Aldi, padahal tadinya Aldi ingin segera pergi untuk menghindari Nabila.
"Sayang, Om nya sudah mau pulang, sebentar lagi Ayah juga ke luar, nanti Rendra digendongnya sama Ayah ya," ujar Nabila mencoba menenangkan Anaknya.
"Sini Om gendong dulu sebentar sebelum pulang," ujar Aldi dengan menggendong tubuh Rendra, dan Rendra langsung diam setelah Aldi menggendongnya.
"Maaf ya Mas, udah ngerepotin," ujar Nabila yang merasa tidak enak kepada Aldi.
"Tidak apa-apa kok, malah aku seneng bisa menggendong Rendra sebelum aku kembali ke luar negeri."
"Jadi Mas Aldi mau pulang?"
Aldi terus saja menatap wajah Rendra yang semakin mirip dengan wajah Ken.
Seandainya dulu aku tidak melakukan kesalahan, mungkin aku dan Nabila sudah hidup bahagia serta memiliki Anak. Ikhlaskan semuanya Aldi, relakan Nabila bahagia dengan lelaki lain yang lebih baik segala-galanya dibandingkan dengan kamu, karena kamu hanya bisa menyakitinya, ucap Aldi dalam hati.
Rendi yang baru ke luar dari dalam kantor, langsung menghampiri Nabila yang saat ini masih mengobrol dengan Aldi.
"Sayang, kamu udah sampai? kenapa gak langsung telpon? kasihan kan kalian harus lama menunggu Ayah," ujar Rendi.
"Zahra baru sampai kok Mas, tadinya mau telpon, tapi Rendra minta digendong sama Mas Aldi."
"Maaf ya Al, Rendra udah ngerepotin, sini sama Ayah digendongnya Nak, Om Aldi mau pulang dulu," ujar Rendi dengan mengambil Rendra dari gendongan Aldi.
"Kalau begitu, aku duluan ya," ujar Aldi.
__ADS_1
"Hati-hati Mas, semoga selamat sampai tujuan, Salam untuk Mama dan Papa," ujar Nabila yang tiba-tiba mengingat kedua orangtua Aldi.
"Nabila, apa kamu mengingat Mama dan Papa?" tanya Aldi yang merasa heran.
"Tentu saja, mereka sudah aku anggap sebagai orangtuaku sendiri," jawab Nabila.
Aldi dan Rendi saling berpandangan, karena tiba-tiba Nabila mengingat orangtua Aldi.
"Sayang, apa kamu sudah mengingat semuanya?" tanya Rendi.
Nabila tiba-tiba merasakan sakit pada kepalanya ketika sebagian ingatannya kembali.
"Mas, kepala Zahra sakit sekali, Zahra tidak tau kenapa tiba-tiba terlintas wajah Mama Sari dan Papa Bramantyo," ujar Nabila, kemudian pingsan, untung saja Aldi langsung menangkap tubuh Nabila.
"Al, tolong bantu bawa Nabila ke Rumah Sakit," ujar Rendi.
Rendi masuk terlebih dahulu ke dalam mobil, kemudian Rendi memangku kepala Nabila pada pahanya, sedangkan Rendra di gendong oleh Aldi dan duduk di jok sebelah Supir.
Setelah sampai Rumah Sakit, Aldi langsung memanggil Perawat supaya membantunya membawa Nabila, dan Nabila langsung dibawa ke ruang IGD.
Rendi terus saja mondar-mandir karena merasa khawatir dengan keadaan Nabila, sedangkan Aldi menunggu di luar, karena harus menjaga Rendra.
Beberapa saat kemudian, Dokter ke luar dari ruang IGD, dan Rendi bergegas menghampirinya.
"Dok bagaimana keadaan istri saya?" tanya Rendi.
"Setelah kami melakukan CT scan, ternyata pada kepala istri Anda terdapat gumpalan darah beku yang sudah berubah menjadi sel kanker pada otak, sehingga merusak saraf Pasien, dan sewaktu-waktu istri Anda bisa mengalami kebutaan."
"Bagaimana cara pengobatannya Dok?" tanya Rendi yang sudah merasa lemas ketika mendengar semuanya.
"Seharusnya Pasien melakukan operasi, tapi kami tidak dapat menjamin hasilnya, karena kemungkinan untuk kembali normal hanya lima puluh persen saja."
"Dok, apa tidak ada cara lain untuk mengobati istri saya?"
"Mungkin dengan kemoterapi akan sedikit membantu, tapi sebaiknya Tuan bicarakan dulu semuanya dengan istri Anda, karena semua itu akan ada efek sampingnya. Tuan yang sabar ya, dampingi terus istri Anda di sisa hidupnya, karena kemungkinan usianya tidak akan lama lagi," jelas Dokter, kemudian berlalu meninggalkan Rendi yang masih terlihat syok.
__ADS_1
Rendi langsung menjatuhkan tubuhnya karena tidak sanggup menerima kenyataan pahit yang menimpa Nabila.
"Kenapa, kenapa harus Nabila? kenapa bukan aku saja yang mengalami semua itu Tuhan," ujar Rendi dengan menangis.