Di Ujung Penantianku

Di Ujung Penantianku
Bab 30 ( Kebohongan Rendi )


__ADS_3

Rendi terlihat malu saat mendengar pertanyaan Nabila, sehingga Rendi hanya menjawabnya dengan senyuman.


"Dari dulu Rendi orangnya pendiam dan pemalu, makanya kami gak nyangka tiba-tiba Rendi mengatakan jika dia sudah menikah. Oh iya, mana fhoto pernikahan kalian, Ibu pengen lihat?" tanya Bu Fatimah.


Rendi memikirkan alasan yang tepat supaya Paman dan Bibinya tidak merasa curiga.


"Sebenarnya album fhoto dan surat nikah kami kebawa arus banjir Bu, dan Rendi belum sempat mengurusnya kembali, bahkan handphone kami juga rusak, jadi kami gak punya kenang-kenangan saat pernikahan."


"Kasihan sekali kalian, udah gitu Zahra sampai tertabrak mobil. Kalau begitu nanti kita bikin acara ngunduh mantu saja di sini Pak, sekalian Rendi mengucap lagi ijab kabul supaya ada kenang-kenangan untuk kalian saat menikah, Zahra juga kasihan kan hilang ingatan, jadi pasti dia tidak mengingat tentang momen pernikahan kalian," usul Bu Fatimah.


Bagaimana ini, kalau aku mengucap ijab kabul pernikahan, sama saja aku menikahi Nabila, dan aku tidak mau jika sampai nanti ingatannya kembali, aku dituduh memanfaatkan keadaan, dan pastinya Nabila akan membenciku, ucap Rendi dalam hati.


"Nanti saja kita bicarakan lagi setelah Zahra benar-benar pulih Bu," ujar Rendi.


"Ya sudah, kalau begitu kami pulang dulu. Nak, semoga Zahra betah ya tinggal di sini, besok kalian jangan lupa main ke rumah kami," ujar Bu Fatimah.


"Insyaallah Zahra akan betah tinggal dimana pun juga, yang penting Zahra bersama dengan Mas Rendi," ujar Nabila dengan tersenyum malu.


Paman dan Bibi Rendi akhirnya pulang setelah mengucapkan Salam.


Rendi saat ini terlihat bingung karena dia tidak mungkin satu kamar dengan Nabila, apalagi mereka bukan muhrim, tapi Rendi tidak memiliki alasan yang tepat supaya Nabila tidak curiga kenapa Rendi tidak mau satu kamar dengannya.


"Sayang, sebaiknya sekarang kamu tidur, kamu harus banyak istirahat supaya bisa segera sembuh," ujar Rendi dengan menggandeng Nabila menuju kamar.


Setelah Nabila berbaring, Rendi menyelimutinya, kemudian Rendi hendak melangkahkan kaki menuju ke luar kamar.

__ADS_1


"Mas Rendi mau pergi kemana?" tanya Nabila dengan memegang pergelangan tangan Rendi.


"Mas tidur di kamar sebelah saja ya supaya Zahra tidak merasa terganggu. Mas kalau tidur ngoroknya keras, jadi Mas takut ganggu istirahat Zahra."


"Mas Rendi tidur di sini saja, aku takut kalau tidur sendirian," ujar Nabila.


Bagaimanapun juga aku lelaki normal, aku takut khilaf kalau terlalu dekat dengan perempuan, apalagi perempuan yang aku cintai. Sebaiknya nanti aku pindah saja setelah Nabila tidur, ucap Rendi dalam hati.


Rendi berbaring di samping Nabila, kemudian mengelus lembut kepala Nabila sampai akhirnya Nabila tertidur.


Setelah mendengar dengkuran halus Nabila, Rendi memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah, tapi tiba-tiba Nabila mengigau dengan memeluk tubuh Rendi.


"Tuan Ken jahat, kenapa Tuan Ken melanggar janji? aku benci Tuan Ken, tapi aku juga sangat mencintai Tuan Ken," ucap Nabila dengan memukul kemudian memeluk tubuh Rendi.


Saat masih tidur saja hanya nama Tuan Ken yang kamu panggil Nabila, sepertinya kamu sangat mencintainya sehingga kamu terus mengingatnya meski pun saat ini kamu hilang ingatan, ucap Rendi dalam hati.


"Maafkan aku Nabila, tidak seharusnya aku egois, karena dari awal yang kamu cintai adalah Tuan Ken," gumam Rendi dengan mengelap airmata yang menetes pada pipi Nabila, kemudian mendekap erat tubuh perempuan yang dicintainya.


......................


Dua bulan sudah Nabila dan Rendi hilang tanpa jejak, tapi Ken tidak menyerah dan terus mencari keberadaan Nabila.


"Dimana kamu saat ini sayang? aku sangat merindukanmu," gumam Ken dengan mencium fhoto Nabila.


Nenek Puspa terlihat sedih melihat Ken yang begitu terpuruk setelah kepergian Nabila, tapi Ken tidak mengatakan kepada Nenek Puspa jika Rendi yang membawanya, karena Ken tau betul sifat Rendi, dan Ken yakin jika Rendi mempunyai alasan kenapa dia menyembunyikan Nabila.

__ADS_1


"Ken, Nenek tau kalau kamu sangat merindukan Nabila, begitu juga dengan Nenek, apalagi Nenek sudah mengetahui jika Nabila adalah Cucu kandung Nenek. Kita jangan pernah menyerah ya, Nenek akan terus semangat demi Nabila, karena Nenek yakin jika kita akan kembali berkumpul dengan Nabila."


"Iya Nek, Ken pasti akan menemukan Nabila, dan Ken akan menikahinya karena Ken sangat mencintai Nabila."


Ken sudah menceritakan tentang awal pertemuannya dengan Nabila kepada Nenek Puspa, dan Nenek Puspa begitu prihatin mendengar kisah hidup Nabila yang malang karena telah dijual oleh Suaminya sendiri, dan Nenek Puspa sangat mendukung Ken untuk menikahi Nabila jika Ken sudah menemukannya, apalagi sampai saat ini penyakit Ken masih belum sembuh, dan Ken hanya bisa menyentuh Nabila saja.


......................


Selama dua bulan tinggal bersama Nabila, Rendi tidak pernah berbuat macam-macam kepada Nabila, sampai akhirnya Rendi memberi alasan jika dia impoten setelah malam pertama mereka, sehingga saat ini Rendi tidak bisa memberikan nafkah batin kepada Nabila, dan Nabila tidak mempermasalahkan tentang semua itu.


Pagi ini Nabila terbangun dengan kepala pusing serta merasakan perutnya yang bergejolak hebat, sampai akhirnya Nabila berlari ke dalam kamar mandi untuk mengeluarkan isi perutnya.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Rendi dengan memijit tengkuk leher Nabila.


"Tidak tau Mas, tiba-tiba kepalaku pusing, dan aku juga merasa mual," jawab Nabila dengan terus mengeluarkan isi perutnya, sehingga membuat Rendi merasa khawatir.


"Sebaiknya sekarang kita pergi ke Dokter untuk memeriksakan keadaanmu, Mas takut jika sampai kamu sakit."


"Tapi sebentar lagi Mas harus berangkat kerja," ujar Nabila, karena saat ini Rendi bekerja di salah satu perusahaan minyak sawit dengan posisi sebagai General manager.


Banyak yang iri dengan posisi Rendi saat ini, karena Rendi belum dua bulan bekerja, tapi sudah mendapatkan posisi yang bagus. Akan tetapi, Rendi tidak ambil pusing dengan semua itu, karena semua itu adalah keputusan perusahaan yang melihat kinerja Rendi yang sangat bagus.


"Tidak apa-apa sayang, yang penting kita memeriksakan kondisi kamu dulu, nanti Mas bisa minta ijin sama bagian HRD kalau bakalan datang terlambat, atau mungkin hari ini Mas gak usah masuk saja supaya bisa menjaga kamu," ujar Rendi dengan membopong tubuh Nabila menuju Klinik terdekat. Untung saja Rendi sudah diberikan mobil sebagai fasilitas dari perusahaan.


Rendi dan Nabila saat ini sudah berada di dalam ruangan Dokter dengan harap-harap cemas, apalagi saat ini wajah Nabila terlihat pucat sehingga membuat Rendi semakin khawatir.

__ADS_1


Setelah selesai memeriksa Nabila, Dokter duduk untuk menyampaikan hasil pemeriksaannya.


"Dok, sebenarnya kenapa dengan istri saya?" tanya Rendi dengan raut wajah yang sudah terlihat tegang.


__ADS_2