
Nabila dan Ken tidak percaya jika mereka berdua menjadi pasangan terbaik pada acara Reuni tersebut, senyum merekah terus mengembang pada bibir keduanya saat naik ke atas panggung untuk menerima piala, dan tanpa sadar mereka saling berpelukan di hadapan semua orang, sampai akhirnya terdengar suara tepuk tangan sehingga menyadarkan keduanya.
"Maaf," ucap Ken dan Nabila secara bersamaan, dan mereka akhirnya turun dari panggung untuk mengikuti serangkaian acara yang akan kembali digelar.
"Nabila sebaiknya kita makan dulu, sepertinya kamu sudah lapar," bisik Ken.
"Bukannya Tuan yang sudah kelaparan, tadi saja saya mendengar suara perut Tuan yang berbunyi," bisik Nabila, sehingga membuat Ken tersenyum malu.
Ken mengajak Nabila untuk duduk di meja yang sebelumnya sudah disiapkan oleh Rendi.
"Asisten Rendi, sebaiknya ikut makan juga," ajak Nabila, dan Rendi melihat wajah Ken karena takut Ken akan marah.
"Ren, kamu itu sudah aku anggap sebagai saudara, jadi kamu tidak perlu sungkan," ujar Ken, dan mereka bertiga terlihat menikmati hidangan pada acara Reuni tersebut.
Sebelumnya Daddy Indra sudah menyuruh orang untuk mencampurkan sesuatu pada minuman Ken, karena Ayah Aira tersebut berencana untuk menjebak Ken supaya tidur dengan Aira, tapi Daddy Indra tidak mengira jika Aira malah pergi meninggalkan acara karena Ken mengancamnya.
"Ren, kamu sudah siapkan kamar untuk kami kan?" tanya Ken, dan entah kenapa saat ini kepala Ken sedikit terasa pusing.
"Tuan baik-baik saja kan?" tanya Rendi yang melihat wajah Ken terlihat memerah seperti menahan sesuatu.
"Sepertinya aku mengantuk. Nabila, sebaiknya kita ke kamar, tidak mungkin kan kita tidur terpisah, bisa-bisa semua orang akan curiga," ujar Ken dengan terus menggandeng Nabila sampai ke dalam kamar.
Kenapa perasaanku menjadi tidak enak ya, sepertinya ada yang tidak beres dengan Tuan, ucap Rendi dalam hati saat Ken menutup pintu kamarnya.
"Tidak seharusnya aku seperti ini, mungkin aku terlalu berlebihan menghawatirkan Nona Nabila," gumam Rendi, kemudian melangkahkan kaki masuk ke dalam kamarnya yang bersebelahan dengan kamar Ken.
__ADS_1
Setelah Ken dan Nabila berada di dalam kamar, Ken merasa kepanasan, sehingga Ken bergegas membuka pakaiannya.
"Apa Tuan sakit? kenapa wajah Tuan terlihat memerah? dahi Tuan juga panas," tanya Nabila dengan memegang dahi Ken.
"Nabila, tolong aku, aku tidak tau kenapa dengan tubuhku saat ini, aku merasa kepanasan," ujar Ken dengan terus mengipasi tubuhnya menggunakan tangan.
Nabila hendak memanggil Asisten Rendi untuk memberitahukan tentang keadaan Ken saat ini, tapi ketika Nabila hendak melangkahkan kaki untuk ke luar dari dalam kamar, Ken mencekal pergelangan tangan Nabila dan menariknya hingga terjatuh menimpa tubuhnya, sontak saja semua itu membuat hasrat Ken semakin menggelora.
"Nabila, jangan tinggalkan aku, aku sangat mencintaimu Nabila," ujar Ken dengan memeluk tubuh Nabila.
"Tuan, saya mohon lepaskan saya, Tuan sudah berjanji tidak akan menyentuh saya," ujar Nabila dengan menangis, karena saat ini Ken sudah mengungkung tubuhnya, bahkan Ken sudah merobek baju yang dikenakan oleh Nabila.
"Nabila, maafkan aku, tapi aku tidak bisa menahan semuanya, aku pasti akan bertanggungjawab, aku akan menikahimu," ujar Ken dengan mencium rakus bibir Nabila.
Nabila kembali menitikkan airmata, ketika kesuciannya telah berhasil direnggut oleh Ken, meski pun Nabila berusaha sekuat tenaga melepaskan diri dari dekapan Ken dengan terus mendorong dada serta mencakar punggung Ken, tapi semua itu hanya membuat dirinya merasa lemas tak berdaya, sampai akhirnya tangan Nabila turun dan meremas sprei untuk menyalurkan rasa sakit yang saat ini tengah ia rasakan.
bukan hanya tubuhnya yang sakit, tapi hatinya lebih sakit, karena Ken sudah mengingkari janjinya.
"Maafkan aku Nabila, maafkan aku," hanya itu yang bisa Ken ucapkan, meski pun hatinya merasa kasihan kepada Nabila yang terus saja menangis, tapi tubuhnya berkata lain, sampai akhirnya Ken ambruk di atas tubuh Nabila setelah menyelesaikan permainannya, dan sesaat kemudian terdengar suara nafas teratur yang menandakan jika Ken sudah terlelap.
Nabila secara perlahan mencoba bangkit dari bawah tubuh Ken, saat ini Nabila merasakan sakit pada sekujur tubuhnya, bercampur sedih, benci dan malu, dan Nabila mencoba melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam kamar mandi.
"Sekarang aku sudah kotor, sekarang aku sudah kotor, kenapa Tuan Ken tega melakukan semuanya? kenapa Tuan Ken mengingkari janjinya? semua lelaki di Dunia ini ternyata sama saja, semuanya jahat," ujar Nabila dengan menangis di bawah guyuran air shower.
Setelah Nabila merasa lebih tenang, Nabila ke luar dari dalam kamar mandi, kemudian memunguti satu persatu pakaiannya.
__ADS_1
Nabila memutuskan memakai kemeja milik Ken untuk menutupi baju yang telah dirobek oleh Ken.
"Sebaiknya aku pergi dari sini, aku tidak bisa terus bersama dengan lelaki yang sudah merendahkan harga diriku," gumam Nabila, kemudian melangkahkan kaki untuk ke luar dari kamar, meninggalkan Ken yang saat ini tengah tertidur.
Rendi yang tidak bisa tidur, kembali ke luar dari dalam kamarnya untuk mencari angin, tapi saat Rendi melangkahkan kaki menuju lip, Rendi melihat Nabila yang sudah masuk terlebih dahulu ke dalam lip, tapi saat Rendi hendak mengejarnya, lip sudah tertutup.
"Bukannya itu Nona Nabila, kenapa dia pergi tanpa Tuan Ken? aku harus segera mengejarnya," gumam Rendi, kemudian bergegas mengejar Nabila yang sudah ke luar dari Hotel.
Nabila melangkahkan kaki tanpa arah dan tujuan, karena saat ini hidupnya telah hancur, dan Rendi berusaha untuk mengejar Nabila yang hendak menyebrangi jalan raya.
Rendi semakin panik ketika melihat sebuah mobil yang melaju dengan kencang hendak menabrak Nabila.
"Nona Nabila awas," teriak Rendi, tapi Rendi terlambat karena saat ini Nabila telah tertabrak oleh mobil tersebut.
Brugh
Tubuh Nabila terpental dan kepalanya saat ini terbentur oleh aspal.
Rendi sempat melihat orang yang berada dalam mobil yang menabrak Nabila, dan ternyata orang tersebut adalah Aira.
"Ternyata semua itu adalah perbuatan Aira. Lihat saja Aira, aku akan membalas semua perbuatanmu," gumam Rendi, kemudian bergegas menghampiri Nabila yang sudah tergeletak di tengah jalan.
Rendi langsung meminta bantuan kepada pengendara mobil yang lewat supaya bisa menumpang menuju rumah sakit, dan Rendi terus saja menangis dengan memeluk tubuh Nabila yang sudah berlumuran dengan darah.
"Nabila, kamu harus kuat, kamu pasti akan baik-baik saja. Mulai sekarang aku akan selalu melindungimu dan membawamu pergi jauh dari sini, karena saat ini terlalu berbahaya untukmu jika terus berada di sisi Tuan Ken," gumam Rendi.
__ADS_1