
Rendi mencoba untuk berdiri ketika Perawat memberitahukan bahwa Nabila sudah sadar dari pingsannya.
"Aku harus kuat demi Nabila, dan aku harus segera memberitahukan semua ini kepada Tuan Ken, karena aku ingin melihat Nabila bahagia di sisa hidupnya," gumam Rendi, kemudian masuk ke dalam ruang IGD.
Langkah kaki Rendi terasa berat untuk menghampiri Nabila, dan hatinya terasa sakit ketika melihat perempuan yang dicintainya terbaring di atas ranjang pesakitan.
"Mas Rendi nangis ya? Maaf ya Mas, kalau Zahra sudah membuat Mas Rendi merasa khawatir," ujar Nabila dengan tersenyum.
Rendi langsung saja memeluk tubuh Nabila, dan kembali menumpahkan airmatanya dalam pelukan Nabila.
"Mas Rendi kenapa menangis? Zahra baik-baik saja kok. Oh iya, Rendra mana Mas?"
"Rendra di luar, dijaga oleh Aldi," ujar Rendi.
"Kita harus segera mengambil Rendra Mas, Zahra takut kalau Mas Aldi sampai menjual Rendra," ujar Nabila yang terlihat panik.
"Sayang, kamu tenang dulu, Rendra baik-baik saja. Kenapa Zahra sampai mempunyai pemikiran seperti itu?"
"Zahra juga tidak tau Mas, tapi Zahra mengingat tentang Mas Aldi yang menjual seseorang."
Nabila pasti mengingat dirinya yang dulu dijual oleh Aldi, ucap Rendi dalam hati.
"Sayang, mana mungkin seperti itu, Zahra tenang dulu ya, Mas juga sudah memberitahu Ibu dan Bapak, dan mereka akan segera ke sini, jadi Rendra pasti baik-baik saja."
"Tidak Mas, sekarang juga Zahra ingin pulang, Zahra takut ada yang menculik Rendra dari kita."
Rendi terlihat bingung, sampai akhirnya Dokter kembali masuk ke dalam ruang IGD.
"Dok, Istri saya meminta pulang sekarang, apa boleh?" tanya Rendi.
"Boleh Pak, tapi istri Anda harus melakukan rawat jalan supaya kami bisa memantau terus penyakit yang saat ini dideritanya," jawab Dokter.
"Memangnya Zahra terkena penyakit apa Mas?" tanya Nabila.
__ADS_1
"Sayang, kamu baik-baik saja, hanya saja kita harus sering mengecek keadaan kepala kamu, apalagi sekarang ingatan Zahra sudah mulai pulih," ujar Rendi yang masih belum siap untuk menyampaikan penyakit kanker otak yang diderita oleh Nabila, untung saja Dokter mengerti ketika Rendi memberikan kode.
"Sayang, Mas mau mengurus Administrasi dulu ya, Zahra tunggu di sini sebentar," ujar Rendi yang sebenarnya ingin menemui Aldi.
Ternyata Paman dan Bibi Aldi sudah datang, dan saat ini mereka sedang mengajak main Rendra.
"Bu, Pak, teman Rendi yang tadi menjaga Rendra pergi kemana ya?" tanya Rendi yang tidak melihat keberadaan Aldi di sana.
"Tadi Nak Aldi pamit pulang duluan, katanya belum beres packing baju," jawab Bu Fatimah.
Bagus deh kalau Aldi sudah pergi, aku takut kalau Nabila akan kembali mengingat sesuatu jika bertemu dengan Aldi, ucap Rendi dalam hati.
Aldi sebenarnya masih belum pulang, dan diam-diam Aldi mengawasi dari kejauhan.
"Aku takut jika Nabila sudah mengingat sesuatu tentang masalalu kami, jadi sebaiknya aku segera pergi dari sini sebelum mereka melihatku. Maafkan aku Nabila, semoga kamu baik-baik saja," gumam Aldi, kemudian menghentikan Taksi untuk pulang ke apartemennya.
......................
Setelah selesai mengurus Administrasi, Rendi menggandeng Nabila untuk ke luar dari Rumah Sakit, dan Nabila begitu bahagia ketika melihat Rendra sudah dijaga oleh Paman dan Bibinya Rendi.
"Nak, Zahra jangan terlalu banyak pikiran ya, kami pasti akan membantu menjaga Rendra,"
"Makasih banyak ya Bu, Pak. Mas maaf ya, karena Zahra pingsan, kita tidak jadi berangkat ke Undangan pernikahan rekan kerja Mas Rendi."
"Tidak apa-apa sayang, tadi Mas sudah mengirim pesan dan meminta maaf kalau kita tidak bisa hadir, Mas juga sudah menyuruh kurir untuk mengantarkan kado pernikahannya. Sebaiknya kita pulang sekarang saja, kasihan Rendra pasti kedinginan kalau terlalu lama di luar," ujar Rendi dengan membuka pintu mobil untuk Nabila beserta Paman dan Bibinya masuk.
......................
Keesokan paginya, Aldi sudah bersiap menuju Jakarta, dan Aldi sudah memantapkan hatinya untuk menemui Megan.
Tidak membutuhkan waktu lama untuk Aldi sampai di Jakarta, karena kebetulan Aldi ikut temannya yang membawa jet pribadi.
Aldi memutuskan akan langsung menuju apartemen Andre, karena dirinya sangat yakin jika Megan berada di sana.
__ADS_1
"Apa pun yang terjadi, aku harus menemui Megan, dan aku harus bertanggungjawab terhadap Anaknya jika benar Anak tersebut adalah darah dagingku, dan aku juga yakin jika Reva bisa menerima aku apa adanya," gumam Aldi, kemudian menekan bel apartemen Andre.
Sesaat kemudian, pintu apartemen terbuka, tapi Aldi tidak mengenal gadis berhijab yang saat ini duduk di atas kursi roda.
"Mas Aldi," ucap Megan dengan lirih.
"Me_gan," ujar Aldi dengan terbata, sesaat kemudian, Megan hendak menutup kembali pintu apartemen, karena dirinya merasa malu untuk bertemu dengan Aldi dalam keadaan cacat seperti sekarang ini.
"Megan, tunggu, aku ingin berbicara sebentar dengan kamu," ujar Aldi dengan menahan pintu apartemen.
"Jika kamu datang ke sini untuk menertawakan nasibku, silahkan Mas, aku sekarang sudah kebal," ujar Megan.
"Megan, kenapa kamu berkata seperti itu? aku tidak ada niat sedikit pun untuk tertawa di atas penderitaan oranglain. Dan aku sengaja datang ke sini untuk bertemu dengan bayi yang dulu kamu kandung. Jika memang bayi tersebut adalah Anakku, aku akan bertanggung jawab, dan aku akan memberikan nafkah untuknya."
Megan beberapa kali mengembuskan nafas secara kasar ketika mendengar perkataan Aldi.
"Bayi itu sudah tidak ada Mas, jadi kamu tidak perlu bertanggung jawab apa pun terhadapnya."
"Apa maksud kamu tidak ada?" tanya Aldi yang masih belum mengerti apa yang dikatakan oleh Megan.
"Bayi yang dulu aku kandung, telah meninggal dunia saat aku mengalami kecelakaan. Pada saat itu aku bukan hanya kehilangan bayi, tapi aku juga kehilangan sebelah kaki ku."
"Innalillahi waina ilaihi raji'un, aku turut berduka cita atas musibah yang menimpa kamu Megan, semoga kamu selalu sabar dalam menghadapi semuanya," ucap Aldi dengan tulus.
"Amin, makasih banyak do'anya. Mas Aldi juga sebenarnya tidak perlu bertanggungjawab, karena aku sendiri tidak yakin jika itu adalah Anak Mas Aldi. Maaf, jika sebenarnya aku sengaja memanfaatkan bayi yang aku kandung supaya Mas Aldi menikahiku."
"Apa sekarang kamu dan Andre sudah menikah?" tanya Aldi.
"Setelah kepergian Mas Aldi ke luar negeri, aku di usir dari rumah, karena aku telah hamil di luar nikah, dan Mas Andre bersedia untuk menikahiku, bahkan Mas Andre bersedia menerima bayi yang ada dalam kandunganku meski pun sampai saat ini kami tidak mengetahui bayi siapa yang sebenarnya dulu aku kandung, tapi aku yakin jika itu adalah bayi Mas Andre, bahkan bayi itu begitu mirip dengannya. Aku beruntung karena Mas Andre sangat mencintaiku, bahkan ketika keadaanku sudah cacat, padahal dulu aku selalu menjadi istri durhaka, dan mungkin semua ini adalah karma untuk semua perbuatan yang telah aku lakukan."
"Sekali lagi aku turut berduka cita atas musibah yang terjadi, semoga kamu selalu sabar dalam menghadapi ujian ini ya, aku bahagia melihat kamu yang sekarang Megan," ujar Aldi.
"Aku ingin bertaubat sebelum semuanya terlambat Mas, aku sudah banyak sekali melakukan dosa, apalagi terhadap Nabila. Semoga saja Nabila mau memaafkanku, meski pun sampai saat ini kami tidak mengetahui keberadaan Nabila di mana."
__ADS_1
Kenapa bisa seperti itu? jadi Nabila sebenarnya sudah hilang tanpa jejak? padahal aku kira dia pindah ke Lampung karena menikah dengan Rendi, batin Aldi kini bertanya-tanya.