
Suara ledakan terdengar setelah mobil yang ditumpangi oleh Daddy Indra, Zahira dan Mama Risa jatuh ke dalam jurang, dan semua orang yang berada di sekitar tempat kejadian langsung melaporkan kepada pihak berwajib.
Beberapa saat kemudian, Warga berbondong-bondong membantu proses evakuasi korban, dan saat ini hanya Zahira yang berhasil selamat ke luar dari dalam mobil sebelum ledakan terjadi, karena Zahira duduk di jok belakang dan pintu mobil terbuka, sehingga Zahira mudah untuk ke luar, sedangkan Mama Risa dan Daddy Indra meninggal di dalam mobil yang hangus terbakar.
Semua korban dibawa ke Rumah Sakit, dan Polisi memeriksa tas selempang milik Zahira untuk mengetahui identitas korban.
Setelah Polisi mengecek handphone Zahira, Polisi menemukan beberapa panggilan tak terjawab dari nomor Rendi, dan Polisi mencoba menelpon balik Rendi, karena di handphone Zahira tertulis nama Suamiku.
📞"Zahira, Alhamdulillah akhirnya kamu telpon juga, aku khawatir dengan keadaan kamu. Sekarang kamu berada dimana?" tanya Rendi ketika mengangkat telpon dari nomor Zahira.
📞"Mohon maaf, apa benar ini dengan nomor Suami yang memiliki handphone?" tanya Pak Polisi.
📞"Benar Pak, kenapa handphone istri saya ada pada Anda?" tanya Rendi yang merasa heran.
📞"Kami dari pihak berwajib ingin mengabarkan jika saat ini Istri Anda berada di Rumah Sakit, karena mobil yang ditumpanginya mengalami kecelakaan," jawab Pak Polisi.
📞"Bagaimana kondisi istri saya Pak?" tanya Rendi yang merasa cemas dengan kondisi Zahira.
📞"Istri Anda saat ini masih ditangani oleh Dokter, tapi ada dua korban meninggal Dunia di dalam mobil yang ditumpangi oleh istri Anda," jawab Pak Polisi.
📞"Innalillahi waina ilaihi raji'un, itu pasti kedua orangtua istri saya Pak," ujar Rendi.
📞"Kalau begitu kami tunggu kedatangan Anda, dan kami akan mengirimkan lokasi Rumah Sakit tempat istri Anda dirawat," ujar Pak Polisi, kemudian menutup panggilan telpon.
Rendi menghela nafas panjang mencoba menetralkan debaran jantungnya.
"Semoga Zahira baik-baik saja," gumam Rendi, kemudian menghampiri Nenek Puspa yang saat ini sedang menyambut pelayat Aira yang datang ke kediamannya.
"Ren, kamu kenapa terlihat panik seperti itu?" tanya Nenek Puspa ketika melihat wajah Rendi yang pucat.
"Nek, Zahira dan kedua orangtuanya mengalami kecelakaan," jawab Rendi dengan lirih.
__ADS_1
"Terus bagaimana sekarang kondisi mereka?" tanya Nenek Puspa yang terlihat panik, karena bagaimanapun juga Nenek Puspa menyayangi Daddy Indra dan keluarganya, meski pun Daddy Indra sudah sering berbuat jahat bahkan sampai tega mencelakakan mendiang Airlangga dan keluarganya.
"Barusan pihak berwajib bilang kalau saat ini Zahira masih ditangani oleh Dokter, sedangkan dua orang lainnya yang berada di dalam mobil telah meninggal dunia dengan kondisi terbakar. Sepertinya itu adalah Om Indra dan Mama Risa," jawab Rendi
"Inalillahi waina ilaihi raji'un, Nenek tidak mengira jika Indra dan keluarganya akan pergi secepat itu. Kamu yang sabar ya Ren, semoga Zahira tidak sampai kenapa-napa," ujar Nenek Puspa yang di Amini oleh Rendi.
"Kalau begitu Rendi pergi dulu Nek," ujar Rendi dengan mencium punggung tangan Nenek Puspa.
"Hati-hati ya Nak, kamu sebaiknya jangan menyetir sendiri, Nenek takut kalau kamu sampai kenapa-napa, karena saat ini kondisi kamu sedang tidak baik. Kalau ada apa-apa Rendi kasih kabar Nenek ya."
"Iya Nek, Rendi juga akan menyuruh Supir untuk menyetir," ujar Rendi, kemudian mengucap Salam sebelum berangkat.
Sepanjang perjalanan menuju Rumah Sakit, Rendi terus saja melafalkan do'a karena Rendi begitu takut kehilangan Zahira.
"Zahira pasti akan baik-baik saja," gumam Rendi mencoba terus memberikan sugesti positif pada dirinya.
Beberapa jam kemudian, Rendi sampai di Rumah Sakit, dan Rendi langsung menjatuhkan tubuhnya ketika melihat mayat yang ditutupi oleh kain ke luar dari dalam ruang IGD.
"Maaf, apa Anda adalah Suami Pasien korban kecelakaan yang bernama Zahira?" tanya Polisi yang berada di belakang Rendi.
"Iya Pak, saya adalah Suaminya mendiang Zahira," jawab Rendi.
"Maaf Pak, Istri Anda masih hidup, dan barusan sudah dipindahkan ke ruang perawatan. Mohon maaf jika saya baru memberitahukannya," ujar Pak Polisi, dan Rendi yang mendengarnya langsung bangun, kemudian berlari untuk menemui Zahira.
Rendi celingukan dan baru sadar jika dirinya belum menanyakan Zahira dipindahkan ke ruangan mana, dan Pak Polisi yang mengikutinya memberitahukan nama dan nomor kamar perawatan Zahira.
Rendi langsung memeluk tubuh Zahira yang saat ini masih pingsan, dan Rendi begitu bersyukur karena Zahira masih hidup, meski pun saat ini banyak luka pada tubuh Zahira.
"Alhamdulillah Ya Allah, karena ternyata Zahira masih hidup," ucap Rendi dengan mengeratkan pelukannya.
Zahira secara perlahan terbangun ketika merasakan airmata Rendi yang menetes pada pipinya.
__ADS_1
"Mas Rendi," ucap Zahira dengan lirih.
"Alhamdulillah kamu akhirnya sadar juga. Kenapa kamu membuat aku takut Zahira? aku kira kita tidak akan bertemu lagi, aku takut kehilangan kamu," ucap Rendi dan Zahira mengelap airmata yang terus menetes pada pipi Rendi.
"Maaf ya jika Zahira sudah membuat Mas cemas. Mas, bagaimana kondisi Mama dan Daddy? karena tadi Zahira kecelakaan bersama mereka," tanya Zahira, karena saat Zahira berhasil ke luar dari dalam mobil, Zahira langsung pingsan, sehingga tidak mengetahui keadaan kedua orangtuanya.
Polisi yang sudah berada di dalam kamar perawatan Zahira mengembalikan barang-barang Zahira yang mereka temukan.
"Maaf Nona, ini semua barang-barang Nona, dan apa benar bahwa Anda mengalami kecelakaan dengan kedua orangtua Anda?" tanya Pak Polisi.
"Benar Pak. Bagaimana keadaan orangtua saya sekarang? mereka baik-baik saja kan?" tanya Zahira.
"Mohon maaf Nona, hanya Anda yang berhasil selamat dari kecelakaan, karena mobil yang Anda dan kedua orangtua Anda tumpangi hangus terbakar api, sehingga menyebabkan kedua orangtua Anda meninggal dunia," jawab Pak Polisi.
Zahira langsung menangis histeris ketika mendengar jika kedua orangtuanya meninggal dunia, karena ia tidak pernah menyangka bisa kehilangan keluarganya dalam waktu satu hari secara bersamaan.
"Tidak mungkin Daddy dan Mama ninggalin Zahira, pdahal kami sudah kehilangan Aira, kenapa mereka juga meninggalkan Zahira sendirian? Mas, sekarang Zahira sudah hidup sebatang kara."
"Sayang, kamu tidak sendirian, kamu sudah memiliki aku, dan aku akan selalu melindungi kamu dengan segenap jiwa dan ragaku," ujar Rendi dengan memeluk tubuh Zahira, dan saat ini Zahira menumpahkan tangisannya dalam pelukan Rendi.
"Saya turut berduka cita atas musibah yang terjadi pada keluarga Anda, kalau begitu saya permisi dulu," ucap Pak Polisi.
"Terimakasih banyak atas bantuannya Pak," ucap Rendi.
"Sama-sama Pak," ucap Pak Polisi, kemudian pamit dari dalam kamar perawatan Zahira.
Rendi memberikan segelas air putih kepada Zahira supaya Zahira merasa lebih tenang.
"Sekarang Zahira minum dulu ya, Zahira harus kuat, dan kita akan bersama-sama melewati suka dan duka dalam hidup ini," ujar Rendi.
"Makasih banyak Mas_" ucapan Zahira terpotong karena tiba-tiba Rendi membungkamnya dengan ciuman, dan Zahira membulatkan matanya karena itu adalah ciuman pertamanya.
__ADS_1
"Jangan bilang terimakasih terus, karena saat ini Zahira adalah tanggung jawabnya Mas Rendi. Sekarang Zahira mau makan apa?" tanya Rendi, dan Zahira hanya diam karena masih berusaha untuk menetralkan debaran jantungnya, apalagi saat ini pipinya begitu merah seperti udang rebus.